← Pria yang Ia Pilih

Chapter Forty Two

Pulang ke Aku

POV: Clara

Pavingnya sudah rata.

Itu hal pertama yang kulihat hari Sabtu pagi, pukul sembilan lewat lima puluh dua, ketika aku berjalan masuk ke taman FMIPA dari jalan setapak antara gedung Matematika dan gedung Ilmu Komputer.

Blok paving yang dulu menonjol dua senti, yang membuatku tersandung dan menumpahkan es kopi susu gula aren ke sepatu delapan puluh sembilan ribu, sudah tidak ada. Di tempatnya, blok paving baru, abu-abu bersih, rata dengan teman-temannya. Jalan setapak itu sekarang mulus dari ujung ke ujung.

Aku berhenti di tempat itu dan menatap ke bawah lama.

Lalu aku melihatnya.

Di samping bangku beton di bawah flamboyan, di atas rumput, diletakkan seperti batu pijakan: satu blok paving tua. Sudutnya gompal. Permukaannya kusam, penuh goresan dari sepatu-sepatu yang tersandung selama bertahun-tahun.

Di atasnya, plat logam kecil seukuran kartu nama, ditanam di semen. Tulisannya diukir, kecil, rapi, sedikit miring ke kanan.

Di sini, seseorang kesandung. Dilaporkan tiga kali.

Aku menutup mulut dengan tangan dan tertawa sampai mataku basah.


Bangku beton masih putih bersih. Flamboyan di atasnya sudah tidak semerah Desember. Akhir Februari, sebagian besar bunganya sudah gugur, tinggal beberapa yang bertahan di ujung-ujung dahan, dan daun-daun hijau muda mulai tumbuh di antaranya.

Februari.

Enam tahun lalu, di bulan Februari, di bangku ini, aku pindah duduk dari bangku kayu ke bangku beton dan bilang kamu satu-satunya orang yang nggak lihat aku kayak barang pajangan. Jepitku jatuh di rumput. Seseorang memungutnya dan menyimpannya di kotak bekal biru.

Saka duduk di bangku beton.

Kemeja kotak-kotak biru, yang paling bagus. Lengan digulung sampai siku. Sepatu kets abu-abu. Tanpa laptop. Di sebelahnya, kotak bekal biru dengan retakan panjang di sudut tutupnya, tertutup.

Ia tidak menoleh ketika aku datang.

Ia menatap ke depan, ke gedung Ilmu Komputer, dengan dua tangan di atas lutut. Punggungnya terlalu tegak. Seperti Ucup di atas panggung Tech Cup, sebelum Lizz 10 crash.

Aku duduk di sebelahnya. Di bangku beton. Tempatku.

“Pavingnya,” kataku.

“Rektorat balas surat ketiga,” katanya, masih menatap ke depan. “Mereka bilang nggak ada anggaran. Aku bayar.”

“Berapa?”

“Seratus empat puluh ribu. Satu blok paving plus ongkos tukang.”

“Dan platnya?”

Ia diam satu detik. “Delapan puluh lima ribu.”

“Plat logam lebih mahal dari pavingnya.”

“Ukirannya per huruf.”

Aku tertawa lagi. Ia tidak tertawa. Ia masih menatap ke depan. Telinganya sudah merah.

“Saka,” kataku. “Kamu kenapa?”

“Nggak…”

Ia berhenti. Ia menelan kata itu. Aku melihatnya. Jakunnya bergerak.

“Aku gugup,” katanya.

Aku menatapnya. Enam tahun. Enam tahun, dan aku belum pernah mendengarnya mengatakan itu. Tidak di Tech Cup ketika aplikasinya crash di depan dua ribu orang. Tidak di gala ketika lampu sorot menemukannya di sisi panggung. Tidak di ruang komando lantai tiga puluh di depan seluruh direksi.

“Kamu gugup,” ulangku pelan.

“Iya.”

“Kenapa?”

Ia tidak menjawab. Ia mengambil kotak bekal biru dari sebelahnya dan meletakkannya di pangkuan. Tangannya, aku melihatnya, gemetar. Sedikit. Seperti tangan Papa di depan pintu rumah penjahit di Solo, memasukkan kunci kuningan ke lubang kunci.


Dari balik semak kembang sepatu, lima meter di sebelah kiri, terdengar bunyi.

Bersin.

Keras. Tidak tertahan. Diikuti bisikan panik yang terlalu keras untuk disebut bisikan: “Kanya! Kamu bersin!” “Aku alergi serbuk sari, Kinan!” “Kenapa kamu nggak bilang dari tadi?!” “Aku kira semak kembang sepatu nggak ada serbuk sarinya!” “Semua bunga ada serbuk sarinya, itu biologi SMP!”

Saka memejamkan mata.

Aku menoleh ke semak kembang sepatu. Di baliknya, di atas bangku kayu dengan kaki yang masih diganjal penyangga jati dan sol sandal jepit yang menghitam, berdesakan enam orang. Kanya, dengan hidung merah. Kinan, dengan wajah datar dan tangan menutup mulut kembarannya. Ucup, dengan kacamata yang miring dan wajah orang yang sudah menangis sebelum apa pun terjadi. Bu Rosa, dengan kacamata hitam besar. Di dalam ruangan terbuka. Pukul sepuluh pagi. Bram, dengan ponsel yang sudah merekam. Dan Tasya, dengan sekantong keripik kentang.

Bangku kayu itu berderit di bawah beban enam orang. Tidak krek. Penyangga jati masih menahan. Tapi berderit.

“Kalian,” kataku.

Enam kepala menunduk serentak di balik semak.

“Kami nggak ada di sini,” kata Bram dari balik semak.

“Kak Bram, aku lihat ponselmu.”

“Ponselnya juga nggak ada di sini.”

Aku menoleh ke Saka. Ia masih memejamkan mata. Wajahnya datar. Tapi bahunya bergerak sedikit. Satu kali. Dua kali.

Ia tertawa. Tanpa suara.

“Kamu yang undang mereka?” tanyaku.

“Aku nggak undang,” katanya, membuka mata. “Aku bilang ke Kanya aku mau ke sini jam sepuluh. Kanya bilang ke Kinan. Kinan bilang ke Ucup karena Ucup nanya kenapa aku pakai kemeja yang paling bagus hari Sabtu. Ucup bilang ke Bu Rosa karena Ucup nggak bisa nyimpen rahasia. Bu Rosa bilang ke Bram karena Bram nanya ke Bu Rosa soal klien agensinya. Bram bilang ke Tasya.” Ia menghela napas. “Efisiensi informasi.”

“Dan Papa?”

Saka diam.

Lalu ia menunjuk dengan dagu. Ke arah gedung Matematika, ke jalan setapak, ke bangku taman di depan gedung yang menghadap ke flamboyan, tiga puluh meter dari sini.

Di bangku itu, duduk dua orang. Laki-laki dengan kemeja batik lengan pendek dan arloji kecil dengan tali kulit cokelat yang retak di pergelangan kirinya. Perempuan dengan kebaya brokat biru muda, memegang saputangan.

Papa dan Mama.

Mereka tidak bersembunyi. Mereka duduk tegak di bangku taman, di bawah matahari pukul sepuluh, menatap ke arah kami. Mama melambai kecil. Papa tidak melambai. Papa hanya menatap. Tapi ia mengangguk. Satu kali.

“Papamu yang minta datang,” kata Saka. “Dia bilang dia nggak mau nonton dari ambang pintu lagi.”

Aku tidak bisa bicara.


Saka membuka kotak bekal biru.

Klik.

Di dalamnya, nasi putih. Telur ceplok dengan pinggiran garing kecokelatan. Sempurna. Telur yang ia masak sendiri pagi ini pukul empat lewat lima belas, di dapur Sentul, di depan Kinan yang menatapnya dengan wajah datar dan Kanya yang bersin karena gugup.

Dan di atas telur, di tengah kuningnya yang bulat dan utuh, diletakkan sesuatu yang kecil dan berkilat.

Cincin.

Sederhana. Emas putih tipis. Di tengahnya, tidak ada berlian. Ada bunga kecil. Lima kelopak. Sedikit tidak simetris. Dan di kelopak kiri bawah, satu garis halus, hampir tidak terlihat.

Goresan.

Aku menatap cincin itu. Aku tidak bisa bernapas.

“Aku pesan di tukang perak di Kotagede,” kata Saka pelan. “Dua bulan. Aku kirim file desainnya. logo_final_v1.svg.” Ia menatap cincin itu. “Tukangnya nanya garis di kelopak itu salah cetak atau sengaja. Aku bilang sengaja. Dia nanya kenapa. Aku bilang…”

Ia berhenti.

“Kamu bilang apa?”

“Aku bilang itu goresan dari tangga sekolah. Waktu umur dua belas. Temannya nggak sengaja injak.” Ia menatapku. “Tukangnya diam lama. Terus dia bilang, Mas, goresan kayak gitu justru yang bikin barang punya cerita.”

Aku menangis. Tidak keras. Pelan. Pipiku basah, dan aku membiarkannya.

Saka mengambil cincin itu dari atas telur. Ia mengelapnya dengan sapu tangan dari saku kemejanya. Sapu tangan putih, dengan dua huruf kecil disulam di sudutnya, rapi, dengan benang biru.

s.p.

Aku menatap sapu tangan itu. “Itu…”

“Bu Rosa,” katanya. “Hadiah. Dia bilang Ucup bilang inisialku kayak inisial di saputangan bapak-bapak zaman dulu. Jadi dia bikinin beneran.”

Dari balik semak kembang sepatu, Bu Rosa mengeluarkan suara seperti kucing tersedak.


Saka berdiri dari bangku beton.

Ia berdiri di depanku, di atas rumput, di samping blok paving tua dengan plat logam seharga delapan puluh lima ribu. Cincin di tangan kanannya. Kotak bekal biru di bangku, terbuka, dengan nasi dan telur yang sekarang tanpa hiasan.

Ia tidak berlutut.

Aku menatapnya. Ia menatapku. Matanya, di bawah matahari pukul sepuluh yang masuk miring di antara daun-daun flamboyan, masih sama. Masih hidup. Masih melihat sesuatu yang belum ada, dan tahu persis bagaimana membuatnya ada.

“Aku berlutut di Solo,” katanya. “Di depan papamu. Buat minta izin.” Ia diam sebentar. “Di sini aku nggak berlutut. Di sini aku mau berdiri. Di tempat yang sama. Di depan bangku yang sama.”

Aku mengangguk. Aku tidak bisa bicara.

Saka menarik napas.

Aku tahu ia sudah menyusun kalimat ini. Aku tahu, karena aku kenal laki-laki ini. Ia sudah menyusunnya berminggu-minggu, mungkin sejak Solo, mungkin sejak lebih lama. Ia sudah memeriksanya, mengujinya, menghitung jumlah katanya. Kalimatnya sudah lengkap di kepala. Ia hanya perlu mengeluarkannya. Seperti menekan tombol deploy.

“Clara,” katanya.

Di tas kecilku, di pangkuanku, ponselku bergetar. Dua pendek. Satu panjang.

Aku tertawa, basah. Saka menatap tasku, dan telinganya semakin merah.

“Lima tahun lalu,” katanya, “di bangku ini, kamu bilang aku nggak bisa. Dan aku bilang pulang, Clara. Pilih yang nggak bikin kamu capek.”

Air mataku jatuh lagi.

“Aku nggak berhak milih buat kamu,” katanya. Ia menatap cincin di tangannya. “Jadi hari ini aku nggak milih. Aku minta.”

Ia mengangkat wajah.

“Dulu aku bilang pulang,” katanya. “Sekarang…”

Suaranya bergetar. Ia berhenti. Ia menarik napas lagi.

“Sekarang,” katanya, “pulang ke aku, Clara. Kalau kamu mau. Kalau kamu pilih. Aku nggak punya banyak waktu, tapi yang ada…”

“Iya.”

Ia berhenti.

Aku sudah berdiri dari bangku beton. Aku tidak tahu sejak kapan. Aku berdiri di depannya, tiga puluh senti, dengan tas kecil yang masih bergetar dan air mata di pipi kiri dan kanan.

“Iya,” kataku lagi. “Iya, Saka. Iya.”

Ia menatapku. “Aku belum selesai.”

“Aku tahu.”

“Kalimatnya masih ada dua puluh tiga kata lagi.”

“Kamu hitung?”

“Aku latihan empat puluh kali.”

Aku tertawa sambil menangis. “Kamu bisa ngomong sisanya nanti. Di akad. Di malam pertama. Di umur delapan puluh, waktu kita duduk di bangku ini lagi dan kamu udah lupa password laptopmu.”

“Aku nggak akan lupa password.”

“Saka.”

“Iya.”

“Pasangin.”

Ia menatap cincin di tangannya. Lalu menatap tangan kiriku, yang sudah kuulurkan ke arahnya, gemetar. Ia meraih tanganku. Jari-jarinya dingin. Gemetar juga.

Dua tangan yang gemetar. Bukan karena takut.

Ia memasangkan cincin itu di jari manisku. Pelan. Hati-hati. Seperti menyolder komponen kecil di papan sirkuit. Seperti memasang jepit bunga liar di rambutku di bawah pohon mangga.

Pas.

Tentu saja pas. Ia sudah mengukur jariku tiga minggu lalu, diam-diam, ketika aku tertidur di sofa ruang tamu Sentul setelah kelas masak pukul empat lewat lima belas. Kinan yang memberitahuku tadi malam. Kak Saka ngukur jari Kakak pakai benang jahit. Tiga kali. Terus dicatat di HP.

Aku menatap cincin itu di jariku. Bunga lima kelopak. Satu goresan.

Lalu aku menatapnya.

Ia menatapku. Matanya basah. Sudut bibirnya naik, dan naik, dan naik. Aku tidak menghitung berapa milimeter. Aku tidak perlu.

Aku memeluknya.


Dari balik semak kembang sepatu, bangku kayu berderit keras sekali.

Lalu terdengar bunyi krak.

Bukan krek. Krak. Bunyi kayu tua yang akhirnya menyerah.

Enam orang di balik semak kembang sepatu berteriak bersamaan. Bangku kayu itu miring ke kiri, pelan, seperti kapal yang tenggelam di film. Kanya jatuh pertama, ke rumput, sambil bersin. Kinan jatuh kedua, di atas Kanya, dengan wajah datar. Ucup jatuh ketiga, kacamatanya terlempar ke semak. Bram jatuh keempat, tapi ponselnya tetap merekam ke atas, ke langit, ke dahan-dahan flamboyan. Tasya jatuh kelima, keripik kentang berhamburan ke mana-mana. Bu Rosa tidak jatuh. Bu Rosa sudah berdiri sebelum bangku itu miring, dengan kacamata hitam besar dan tangan terlipat, seperti sudah menduga.

Saka melepas pelukannya. Ia menatap bangku kayu yang sekarang miring empat puluh lima derajat, dengan kaki kiri belakang yang akhirnya patah. Penyangga kayu jati masih menempel, bautnya berkarat. Sol sandal jepit biru yang menghitam terlepas dan tergeletak di rumput, di antara keripik kentang.

“Enam tahun,” kata Saka pelan.

“Kamu bilang sembilan sampai dua belas hari.”

“Aku nggak ngitung enam orang.”

Aku tertawa sampai harus berpegangan ke lengannya.

Di rumput, di bawah semak kembang sepatu, Kinan bangun dari atas Kanya dengan wajah datar, merapikan kemejanya, dan berkata dengan suara yang cukup keras untuk terdengar ke seluruh taman:

“Secara struktural, bangku itu sudah melebihi umur pakainya sejak tiga tahun lalu. Kak Saka cuma menunda yang tidak bisa ditunda.”

Kanya, masih di rumput, bersin.

Ucup merangkak di rumput mencari kacamatanya. “Aku nggak bisa lihat. Aku nggak bisa lihat apa-apa. Mbak Clara bilang iya? Mbak Clara bilang iya, kan? Aku denger iya. Aku nggak bisa lihat tapi aku denger iya.”

“Dia bilang iya, Cup,” kata Bu Rosa. Ia melepas kacamata hitamnya. Matanya merah. “Empat kali. Sebelum Saka selesai ngomong.”

Ucup berhenti merangkak. Ia duduk di rumput, tanpa kacamata, dan menangis. Tentu saja Ucup menangis.


Papa dan Mama berjalan ke arah kami dari bangku taman di depan gedung Matematika.

Pelan. Mama menggandeng lengan Papa. Papa berjalan dengan langkah tanpa suara, seperti di lantai marmer rumah Menteng. Tapi di atas rumput taman FMIPA, langkahnya meninggalkan jejak.

Mereka berhenti di depan kami. Di samping blok paving tua dengan plat logam.

Mama menatap cincin di jariku. Ia menutup mulut dengan saputangan. Air matanya jatuh.

Papa menatap blok paving tua di rumput. Ia membaca plat logam itu. Di sini, seseorang kesandung. Dilaporkan tiga kali.

Ia menatapnya lama.

Lalu ia menatap Saka.

“Tiga kali,” katanya.

“Iya, Om.”

“Rektorat nggak balas?”

“Balas yang ketiga, Om. Nggak ada anggaran.”

Papa mengangguk pelan. Seperti orang yang mendengar data yang sudah ia duga. Lalu ia menatap bangku kayu yang patah di balik semak kembang sepatu, dengan enam orang yang masih berusaha bangun dari rumput.

“Bangku itu,” katanya.

“Enam tahun, Om. Saya ganjal pakai sandal jepit.”

“Saya tahu.” Papa menatap Saka. “Clara tulis di bab empat.”

Saka tidak menjawab. Telinganya merah.

Papa diam lama. Lalu ia menoleh ke arahku. Ia menatap jepit bunga liar di rambutku, di sisi kiri. Lalu cincin di jari manisku. Bunga lima kelopak. Satu goresan.

Matanya basah.

“Ibu saya,” katanya pelan, “pasti seneng.”

Ia tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia mengulurkan tangannya ke Saka.

Saka menjabatnya.

Papa tidak melepasnya. Satu detik. Dua. Lima. Lalu ia menarik Saka sedikit lebih dekat, kaku, canggung, dan menepuk bahunya dengan tangan yang satunya. Empat kali.

Lalu satu kali lagi.

Lima.

Saka menatap Papa.

“Yang kelima,” kata Papa, “dari ibu saya.”


Bram yang mengunggahnya. Tentu saja Bram.

Video empat menit dua puluh detik, direkam dari balik semak kembang sepatu, dengan dahan-dahan flamboyan di bagian akhir karena ponselnya terlempar ke atas ketika bangku kayu patah. Ia tidak menambahkan musik. Ia tidak menambahkan teks. Ia hanya menambahkan satu kalimat di keterangan:

Kalimatnya masih ada dua puluh tiga kata lagi. Tapi dia udah bilang iya empat kali.

Satu koma tujuh juta tayangan dalam sehari.

Di kolom komentar bab delapan puluh enam Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh, mahasiswi yang dulu memergoki kami di bangku kayu menulis:

BANGKU KAYUNYA PATAH. AKU DI SANA. AKU LIHAT. BANGKUNYA PATAH PAS LARAS BILANG IYA. INI BUKAN NOVEL INI MUKJIZAT.

Di bawahnya, delapan ribu balasan.

Aku membaca semuanya malam itu, di bangku beton di bawah pohon mangga di Sentul, dengan kepala di bahu Saka dan cincin di jari manisku yang terus kuputar-putar.

Saka tidak membaca. Ia menatap pohon mangga. Lalu, pelan, ia berkata:

“Dua puluh tiga kata.”

“Hm?”

“Sisa kalimatnya. Mau dengar?”

Aku mengangkat kepala dari bahunya dan menatapnya.

“Mau.”

Ia diam sebentar. Lalu ia berkata, pelan, jelas, seperti mengetes mikrofon:

“Aku nggak punya banyak waktu. Tapi yang ada, semuanya buat kamu. Sampai habis. Sampai jam terakhir. Sampai aku nggak bisa ngitung lagi.”

Aku menatapnya.

“Itu dua puluh tiga?”

“Dua puluh dua,” katanya. “Aku salah hitung.”

“Kamu nggak pernah salah hitung.”

“Belakangan sering.” Ia menatap cincin di jariku. “Sejak kamu.”

Aku tidak menjawab. Aku menciumnya. Di bangku beton di bawah pohon mangga, dengan bintang-bintang di atas Sentul dan Kanya yang masih bersin di dalam rumah dan Kinan yang berkata dari jendela dapur, tanpa ekspresi, Kak Saka, Kak Clara, nyamuk demam berdarah aktif jam segini, secara epidemiologis sebaiknya masuk.

Kami tidak masuk.