← Pria yang Ia Pilih

Chapter Thirty Two

Yang Melepas Duluan

POV: Saka

Aku tiba di taman FMIPA pukul sembilan lewat empat puluh tujuh menit.

Tiga belas menit lebih awal. Aku tidak pernah datang lebih awal untuk apa pun. Datang lebih awal itu tidak efisien. Tiga belas menit yang bisa dipakai untuk membaca dokumentasi sistem, membalas email, memeriksa dasbor pemantauan.

Pagi ini aku memakai tiga belas menit itu untuk berdiri di depan paving yang menonjol dua senti.

Masih ada. Lima tahun. Blok paving yang sama, di jalan setapak yang sama, di antara gedung Matematika dan gedung Ilmu Komputer. Masih menonjol dua senti lebih tinggi dari teman-temannya. Sudutnya sekarang sedikit gompal, mungkin karena terlalu sering disandung orang.

Aku sudah melaporkannya dua kali ke bagian sarpras. Lima tahun lalu.

Aku mengeluarkan ponsel, membuka aplikasi catatan, dan menulis satu baris di daftar pekerjaan hari ini: Kirim surat ke rektorat soal paving. Ketiga kalinya. Kalau perlu, bayar sendiri.

Lalu aku berjalan ke pohon flamboyan.


Bulan Desember, flamboyan sedang mekar.

Bukan mekar seperti bulan Januari lima tahun lalu, ketika bunganya berguguran seperti confetti di atas sepatu kets abu-abu yang basah oleh kopi gula aren. Lebih lebat. Seluruh dahannya merah oranye, dari ujung ke ujung, sampai daunnya hampir tidak terlihat. Di bawahnya, di atas paving dan rumput, bunga-bunga yang gugur membentuk karpet merah yang tidak rata.

Bangku beton masih ada. Catnya sudah diganti, putih bersih, tidak lagi mengelupas. Colokan listrik di batang pohon sudah tidak ada; bekas lubangnya ditambal semen.

Dan lima meter di sebelah kirinya, setengah tersembunyi di balik semak kembang sepatu yang sekarang lebih tinggi dari dulu, bangku kayu.

Aku berjalan ke sana.

Bangku kayu yang sama. Catnya sudah pudar, kayunya mulai lapuk di beberapa bagian. Aku berjongkok dan melihat ke bawah, ke kaki kiri belakang.

Penyangga kayu jati yang kubautkan lima tahun lalu masih di sana. Bautnya sudah berkarat. Dan di celah antara penyangga dan rangka bangku, potongan sol sandal jepit biru, sudah menghitam karena lumpur dan hujan, sudah mengeras dan retak, tapi masih menahan.

Masih menahan.

Aku menatapnya lama. Lalu aku berdiri dan duduk di bangku kayu itu, dan menggoyangkan badan ke kiri dan ke kanan.

Bangku itu tidak berbunyi krek.


Pukul sembilan lewat lima puluh lima, aku mendengar langkah kaki di jalan setapak.

Bukan langkahnya. Langkah yang lebih ringan, lebih cepat. Seorang mahasiswi, mungkin semester dua atau tiga, dengan ransel di punggung dan ponsel di tangan. Ia berjalan melintasi taman dengan mata yang terpaku pada layar ponsel, tidak melihat jalan, dan tersandung paving yang menonjol dua senti.

Ia tidak jatuh. Ia menyeimbangkan diri, menggerutu sesuatu, dan terus berjalan, matanya masih di layar ponsel.

Ia berjalan ke bangku beton dan duduk di sana. Di tempatku, dulu. Ia tidak melihatku di bangku kayu, lima meter di sebelah kirinya, setengah tersembunyi di balik semak kembang sepatu.

Ia membaca. Bahunya bergetar sedikit. Ia mengusap matanya dengan punggung tangan.

Aku tidak perlu melihat layarnya. Dari sini aku bisa melihat warna antarmuka aplikasinya: putih, dengan aksen oranye kemerahan di bagian atas. Dan logo kecil di pojok kiri atas, bunga lima kelopak.

Aku tidak tahu ia membaca apa. Ada empat puluh ribu penulis di Floo dan ratusan ribu cerita.

Tapi ia menangis di bangku beton di bawah flamboyan, di taman FMIPA, di kampus ini, dan aku tidak bisa berhenti menatapnya.


Pukul sepuluh lewat nol menit, Clara datang.

Bukan dari jalan setapak depan. Dari arah gerbang belakang. Dari jalan yang dulu kulewati setiap Jumat untuk membeli bakwan.

Ia memakai kaus putih polos, celana jins, sepatu kets putih. Rambutnya diikat ke belakang, asal-asalan, beberapa helai lepas di sisi wajah. Tanpa jepit perak berbentuk daun. Tanpa riasan. Matanya bengkak, kelopak bawahnya sedikit merah. Kinan akan bilang itu bukan karena begadang.

Di tangannya, sebungkus kertas berminyak. Bentuknya bulat pipih. Dua.

Bakwan.

Ia berhenti di tengah taman ketika melihat mahasiswi di bangku beton. Ia menatap mahasiswi itu, menatap ponsel di tangannya, menatap bahunya yang bergetar. Lalu matanya bergerak ke kiri. Lima meter. Ke bangku kayu di balik semak kembang sepatu.

Ke aku.

Ia tidak tersenyum. Ia berjalan ke bangku kayu, pelan, melangkahi bunga-bunga flamboyan yang gugur, dan berhenti di depanku.

“Kamu duduk di tempatku,” katanya.

“Bangku beton ada orangnya.”

Clara menoleh ke mahasiswi itu. Lalu kembali menatapku. “Pak Darto masih jualan,” katanya. “Gerbang belakang. Rambutnya putih semua sekarang. HP-nya masih Lizz sepuluh, versi lama. Dia nolak uangku.” Ia menyodorkan bungkus kertas berminyak itu. “Dia kasih dua. Satu buat kamu.”

Aku mengambil satu bakwan. Masih hangat.

Clara duduk di sebelahku di bangku kayu. Bangku itu tidak berbunyi. Ia menatap ke bawah, ke kaki kiri belakang. Ke penyangga kayu jati dan potongan sol sandal jepit biru yang menghitam.

“Masih ada,” bisiknya.

“Masih menahan.”

Ia menatap sandal jepit itu lama. Lalu ia menutup mata, dan rahangnya mengeras, dan aku tahu ia sedang menahan sesuatu.

“Saka,” katanya, tanpa membuka mata.

“Hm.”

“Kamu nggak berhak.”

Aku tidak menjawab.

Ia membuka mata dan menatapku. Matanya merah. Basah. Tapi rahangnya masih keras, dan suaranya, ketika ia bicara lagi, tidak bergetar.

“Kamu nggak berhak milih buat aku.”


Di bangku beton, lima meter dari kami, mahasiswi itu masih membaca. Ia tidak menoleh. Ia tidak mendengar.

“Lima tahun lalu,” kata Clara, “di bangku itu…” Ia menunjuk bangku beton dengan dagu. “Aku bilang aku nggak bisa. Aku nggak bilang aku mau pergi. Aku nggak bilang aku milih Papa. Aku bilang aku nggak bisa.” Suaranya naik sedikit. “Dan kamu yang ngartiin. Kamu yang mutusin aku nggak bisa itu artinya aku harus pergi. Kamu yang bilang pulang. Kamu yang bilang pilih yang nggak bikin kamu capek.”

“Kamu capek.”

“Aku tahu aku capek!” Ia menarik napas. Suaranya turun. “Aku tahu aku capek, Saka. Aku capek banget. Tapi itu capekku. Itu bebanku. Itu urusanku sama Papa.” Air matanya jatuh. Ia tidak menghapusnya. “Kamu ambil itu dari aku. Kamu ambil keputusannya. Kamu pikul sendiri, lima tahun, dan kamu biarin aku percaya aku yang ninggalin kamu.”

“Itu supaya kamu…”

“Supaya aku nggak ngerasa bersalah?” Clara tertawa. Pecah. “Saka. Lima tahun aku ngerasa bersalah. Lima tahun. Aku nulis delapan puluh empat bab tentang rasa bersalah itu. Kamu baca semuanya. Pukul dua pagi. Kamu tahu aku ngerasa bersalah. Dan kamu tetap diam.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kamu pikir kamu nyelamatin aku dari patah,” katanya. “Kamu cuma milih cara patah yang lain buat aku.”

Kalimat itu menghantam sesuatu di dadaku. Seperti satu baris log yang tiba-tiba menjelaskan semua error yang selama ini tidak bisa kutemukan penyebabnya.

Aku menatap bakwan di tanganku. Masih hangat. Minyaknya meresap ke kertas.

“Aku lihat tanganmu,” kataku.

Suaraku keluar lebih pelan dari yang kumaksud.

“Di bawah meja makan papamu. Gemetar. Di samping motor. Gemetar. Di bangku beton, waktu kamu bilang Papa ngasih map biru. Gemetar.” Aku tidak menatapnya. Aku menatap bakwan. “Aku hitung. Aku selalu hitung. Dan aku lihat muka papamu waktu dia nanya rencanaku. Waktu dia lihat sepatuku.” Aku menarik napas. “Aku nggak tahu kenapa, tapi aku tahu dia takut. Bukan marah. Takut. Dan aku tahu kalau kamu milih aku, kamu bakal berdiri di antara dua orang yang kamu sayang, dan dua-duanya bakal narik kamu, dan kamu bakal sobek di tengah.”

Clara diam.

“Aku nggak mau kamu sobek,” kataku. “Jadi aku lepasin satu tangan.”

“Tanganmu,” kata Clara pelan.

“Tanganku.”

“Biar aku cuma ditarik satu arah.”

“Iya.”

“Dan kamu?”

Aku tidak menjawab.

“Saka. Dan kamu?”

“Nggak apa-apa.”

“Berhenti bilang nggak apa-apa!”

Ia berteriak. Keras. Cukup keras untuk membuat seekor burung gereja terbang dari dahan flamboyan, dan bunga-bunga merah oranye gugur di sekitar kami. Cukup keras untuk membuat mahasiswi di bangku beton menoleh, menatap kami lama, dengan mata yang membesar.

Clara tidak peduli. Ia memutar badannya di bangku kayu sampai ia menghadapku sepenuhnya, dan ia meraih kedua tanganku, dengan bakwan dan semuanya, dan menggenggamnya.

“Kamu duduk di lantai sampai jam satu,” katanya. Suaranya pecah. “Kanya cerita. Kamu duduk di lantai, di sebelah kompor, nggak buka laptop, nunggu aku bales sudah. Kamu masak telur tiga lagi besoknya. Kamu makan telur gosong Kinan. Kamu simpan…” Ia berhenti. “Kamu baca novelku tiap Senin sama Kamis jam dua pagi. Kamu bayar pakai rekeningmu sendiri. Kamu namain…”

Ia berhenti lagi. Matanya bergerak, seperti hampir mengatakan sesuatu, lalu memutuskan tidak.

“Itu bukan nggak apa-apa, Saka,” bisiknya. “Itu apa-apa. Itu apa-apa banget.”

Aku menatap tangannya yang menggenggam tanganku. Kukunya tidak dicat. Jari-jarinya dingin. Gemetar.

Tapi bukan gemetar yang sama.

Aku tidak bisa bicara.

Aku sudah dua puluh enam tahun hidup dengan kalimat yang lengkap di kepala sebelum keluar dari mulut. Aku menyusunnya, memeriksanya, menekan tombol deploy. Tapi pagi ini, di bangku kayu dengan kaki yang masih diganjal sandal jepitku sendiri, di bawah flamboyan yang mekar sampai daunnya tidak terlihat, tidak ada kalimat yang lengkap.

Hanya satu hal yang lewat di kepala, berulang-ulang, seperti log yang macet di baris yang sama.

Lima tahun.

Aku menunduk. Aku menatap tangan kami. Lalu, pelan, sesuatu jatuh dari mataku ke punggung tangannya.

Clara berhenti bernapas.

Aku tidak menghapusnya. Aku tidak tahu caranya. Aku tidak pernah menangis di depan siapa pun sejak dua liang lahat di Purwokerto, sembilan tahun lalu. Tidak di depan Kanya dan Kinan. Tidak di depan Ucup. Tidak di depan siapa pun.

Satu lagi jatuh. Lalu satu lagi.

“Aku capek juga,” kataku.

Suaraku tidak seperti suaraku. Lebih pelan, lebih serak, seperti suara orang lain yang meminjam mulutku.

“Lima tahun. Aku capek juga, Clara.”

Aku menarik napas. Napasnya tidak sampai ke bawah.

“Kamu benar,” kataku. “Aku nggak berhak.”

Hening. Satu bunga flamboyan jatuh ke bangku, di antara kami. Tidak ada yang menyingkirkannya.


Ia tidak berkata apa-apa.

Ia melepas tanganku. Ia mengambil bakwan dari tanganku dan meletakkannya di atas bungkus kertas berminyak di bangku. Lalu ia menarik kepalaku ke bahunya.

Bahunya kecil. Kaus putihnya bau sabun cuci dan sampo stroberi. Aku tidak pernah menyandarkan kepala ke bahu siapa pun. Kanya dan Kinan yang menyandarkan kepala ke bahuku. Ucup yang menangis ke bahu kemejaku. Clara yang menyandarkan kepala ke bahuku di bangku beton, lima tahun lalu, ketika spanduk rektorat dipasang di gerbang utama.

Tidak pernah sebaliknya.

Aku membiarkannya.

Clara mengusap rambutku. Pelan. Seperti Ibu dulu, ketika aku demam dan Bapak sedang di bengkel. Seperti Tante Ratna mengusap rambut Clara di lorong lantai dua.

“Mulai sekarang,” bisik Clara ke rambutku. “Aku yang milih.”

Aku tidak bergerak.

“Aku yang milih, Saka. Bukan Papa. Bukan kamu. Aku.” Tangannya di rambutku berhenti. “Dan aku nggak akan kasih kamu kesempatan buat ngelepas aku lagi. Nggak satu tangan. Nggak dua tangan. Nggak pakai pulang, nggak pakai jangan dulu, nggak pakai nggak apa-apa.” Suaranya bergetar.

Aku tidak menjawab. Napasnya di rambutku. Tangannya kembali bergerak, pelan. Lama sekali tidak ada yang bicara.

“Kalau kamu coba,” katanya akhirnya, “aku lapor Kanya.”

Aku tertawa. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tertawa. Tawanya keluar basah, teredam di bahunya, dan ia ikut tertawa, dan kami tertawa di bangku kayu di balik semak kembang sepatu, di bawah flamboyan, dengan bunga-bunga merah oranye yang gugur di atas kepala kami.

“Ada tiga kata,” kata Clara, setelah tawa kami mereda. Kepalaku masih di bahunya. “Yang lima tahun lalu nggak bisa aku bilang. Yang nyangkut di tenggorokan kayak duri ikan.”

“Aku tahu.”

“Kamu tahu?”

“Bab dua belas. Pulang, Clara. Paragraf terakhir.” Aku mengangkat kepala dari bahunya. “Tiga kata yang sudah ada di tenggorokanku sejak Januari. Kamu nggak pernah tulis tiga kata apa. Delapan puluh empat bab, kamu nggak pernah tulis.”

Clara menatapku. Matanya merah, bengkak, basah. Dan, untuk pertama kalinya pagi itu, ia tersenyum.

“Aku belum mau bilang di sini,” katanya.

“Kenapa?”

“Karena lima tahun lalu aku nggak bilang di sini.” Ia menatap bangku beton, tempat mahasiswi itu masih duduk, sekarang dengan ponsel di pangkuan dan mata yang menatap kami terang-terangan. “Lima tahun lalu aku diam di depan Papa. Di depan tante-tante arisan. Di depan semua orang yang bilang aku turun kelas.” Ia kembali menatapku. “Tiga kata itu nggak cuma buat kamu. Tiga kata itu juga buat mereka. Aku mau bilang di tempat yang bener. Di depan semua orang yang pernah bilang aku salah.”

Aku menatapnya.

Barang yang tidak cocok. Bug kecil di dalam sistem yang rapi.

Perempuan yang lima tahun lalu tidak bisa bilang tidak pada ayahnya, sekarang duduk di bangku kayu dengan mata bengkak dan kaus putih dan sepatu kets yang sama dengan sepatuku, dan bilang ia akan mengucapkan tiga kata di depan semua orang yang pernah bilang ia salah.

“Kapan?” tanyaku.

“Belum tahu.” Ia tersenyum lebih lebar. “Tapi aku kerjain.”

Slide sebelas. Mitigasi: saya akan bicara dengan Papa. Kapan? Belum tahu. Tapi aku kerjain.

Aku tidak bisa menahan sudut bibirku. Aku tidak mencoba.


Mahasiswi di bangku beton berdiri.

Ia berjalan ke arah kami, pelan, ragu-ragu, dengan ponsel di tangan. Ia berhenti tiga meter dari bangku kayu. Ia menatap Clara. Lalu menatapku. Lalu menatap layar ponselnya. Lalu menatap kami lagi.

“Maaf,” katanya. Suaranya kecil. “Kak. Maaf ganggu. Tapi… Kakak… Kakak yang di bangku beton tadi teriak berhenti bilang nggak apa-apa…”

Clara memerah sampai ke telinga.

“Itu… itu kalimat di novel yang lagi saya baca,” kata mahasiswi itu. Ia membalik ponselnya dan menunjukkan layarnya. Antarmuka putih dengan aksen oranye kemerahan. Logo bunga lima kelopak. Dan judul di atas halaman:

Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh.

Bab 85 (Ekstra) — Untuk s.p.

“Saya baru beli bab ekstranya,” kata mahasiswi itu. “Mahal banget. Lima ratus koin. Saya nabung dua minggu.” Ia menatap Clara. “Kakak… Kakak mirip Laras. Banget. Di bangku flamboyan. Di FMIPA. Kampus ini.” Ia menatapku. “Dan Kakak…”

Ia berhenti. Matanya membesar. Ia menatap wajahku. Lalu ia menatap bungkus kertas berminyak di bangku kayu. Dua bakwan, satu sudah digigit.

“Bakwan Pak Darto,” bisiknya.

Clara menutup wajahnya dengan dua tangan.

Mahasiswi itu menatap kami berdua. Lalu menatap bangku kayu. Lalu, pelan, ia membungkuk dan melihat ke bawah bangku. Ke kaki kiri belakang. Ke penyangga kayu jati dan potongan sol sandal jepit biru yang menghitam.

Ia menegakkan badan. Wajahnya pucat. Matanya berkaca-kaca.

“Ini nyata,” bisiknya. “Ya Allah. Ini nyata.”

Ia mundur selangkah. Lalu dua. Lalu ia membungkuk dalam-dalam ke arah kami, seperti di depan guru, dan berbalik, dan berlari melintasi taman, melewati paving yang menonjol dua senti tanpa tersandung kali ini, sambil mengetik sesuatu di ponselnya dengan sangat cepat.

Clara menurunkan tangannya dari wajah. Ia menatap punggung mahasiswi itu yang menghilang di balik gedung Matematika.

“Saka,” katanya pelan. “Dia lagi ngetik apa?”

Aku tidak tahu. Tapi aku bisa menebak. Dan tebakanku biasanya benar.

“Komentar,” kataku. “Di bab delapan puluh lima.”

Clara menutup wajahnya lagi.

Aku mengambil bakwan yang sudah kugigit dari bungkus kertas berminyak. Sudah dingin. Aku memakannya. Lalu aku mengambil bakwan yang satunya lagi, yang belum digigit, dan menyodorkannya ke Clara.

“Kamu belum sarapan,” kataku. “Matamu bengkak, suaramu serak dari kalimat pertama. Kalau kamu nangis sebelum sarapan, biasanya…”

“Saka.”

“Makan.”

Clara menatap bakwan itu. Lalu menatapku. Lalu ia mengambilnya, menggigitnya, dan mengunyah pelan, dengan mata yang basah lagi.

“Ini enak banget,” katanya.

“Bakwan biasa. Pak Darto. Dua ribu.”

Ia tertawa sambil menangis. Aku tidak menghitung berapa milimeter sudut bibirku naik.

Di atas kami, flamboyan terus menggugurkan bunganya, satu per satu, seperti confetti. Ke rambut Clara. Ke bungkus kertas berminyak. Ke bangku yang tidak lagi berbunyi krek.

Aku tidak menyingkirkannya.

Mungkin aku memang sudah tidak perlu menghitung.