Chapter Three
Mata yang Hidup
POV: Clara
Aku lewat jalan depan.
Rabu pagi, sesuai janji pada diri sendiri, aku berjalan dari parkiran ke gedung FEB lewat jalan yang sudah selesai dicor. Lurus. Lima menit. Sembilan kepala menoleh di depan koperasi, rekor baru, mungkin karena aku memakai blus kuning yang dibelikan Mama minggu lalu.
Kamis pagi, aku lewat jalan depan lagi.
Jumat pagi, aku berdiri di persimpangan antara jalan depan dan jalan setapak menuju FMIPA selama empat puluh detik, sampai Tasya, yang sudah berjalan sepuluh langkah di depan, berbalik dan menatapku dengan mata menyipit.
“Clar.”
“Apa?”
“Kamu ngapain berdiri di situ kayak patung Selamat Datang?”
“Mikir.”
“Mikir apa?”
“Mikir… sarapan.”
Tasya berjalan kembali ke arahku dengan langkah lambat dan berbahaya, seperti detektif yang mendekati tersangka. Ia berhenti tepat di depanku, lalu melirik jalan setapak ke FMIPA, lalu kembali ke wajahku.
“Sarapan,” ulangnya.
“Iya.”
“Di FMIPA.”
“Aku nggak bilang di FMIPA.”
“Mata kamu yang bilang.” Tasya melipat tangan. “Clara Florentina. Kamu udah tiga hari lewat jalan depan, dan tiap hari kamu nengok ke arah sana kayak anak kucing lihat ikan asin di meja. Aku diam aja karena aku sahabat yang sabar. Tapi ini hari Jumat. Dan aku belum sarapan. Jadi jujur aja, kamu mau ke flamboyan, kan?”
Aku membuka mulut untuk membantah. Lalu menutupnya lagi.
“Cuma lewat,” kataku akhirnya.
“Cuma lewat.”
“Cuma lewat, Sya.”
Tasya mendesah panjang dan mengangkat tangan ke langit, seperti minta saksi. “Ya Allah, hamba sudah mengingatkan. Hamba tidak bertanggung jawab atas apa pun yang terjadi setelah ini.”
Bangku flamboyan kosong.
Aku tidak tahu kenapa dadaku terasa turun sedikit ketika melihatnya. Hanya bangku beton dengan cat mengelupas, beberapa bunga merah oranye yang gugur di atasnya, dan colokan listrik di batang pohon yang entah sejak kapan ada di sana.
“Nah,” kata Tasya. “Kosong. Udah, kan? Ayo.”
“Masih jam sembilan.”
“Terus?”
“Kemarin Selasa dia di sini jam sepuluhan.”
Tasya menatapku. Lama. Lalu ia mengeluarkan ponselnya, membuka sesuatu, dan menyodorkannya ke wajahku.
“Oke,” katanya. “Kalau kamu mau main detektif, mainlah dengan benar. Aku udah dapat namanya.”
Di layar ada tangkapan layar dari grup chat yang tidak kukenal. Seseorang bertanya, cowok bangku flamboyan itu siapa sih namanya, dan seseorang lain menjawab: Saka. Saka Pradana. Ilkom, seangkatan kita. Pendiem. Pinter banget sih katanya, IPK-nya cumlaude, tapi nggak pernah ikut organisasi. Kenapa emang?
Saka.
Aku mengulang nama itu dalam hati. Pendek, tegas, seperti bunyi tombol Enter.
“Dapat dari mana?”
“Temen kosku yang anak Ilkom. Aku bilang ada temenku yang mau minta maaf soal kopi.” Tasya menarik ponselnya kembali. “Itu doang infonya. Dia nggak punya Instagram aktif. Ada satu akun atas nama dia, isinya tiga foto, semuanya foto langit, terakhir diunggah dua tahun lalu. Nggak ada Twitter. Nggak ada TikTok. Nggak ada LinkedIn. Clar, ini cowok kayak hantu digital. Hari gini ada orang umur dua puluh satu yang nggak ninggalin jejak di internet? Ini mencurigakan. Jangan-jangan dia agen rahasia.”
“Atau dia sibuk.”
“Sibuk ngapain? Makan nasi telur?”
Aku tidak menjawab. Karena tepat saat itu, dari arah gedung Ilmu Komputer, dua orang laki-laki berjalan menuju bangku flamboyan.
Yang satu kurus, berkacamata, dengan ransel yang kelihatan terlalu berat untuk punggungnya, bicara tanpa henti sambil menggerak-gerakkan tangan. Yang satu lagi berjalan di sebelahnya dengan langkah tenang, kotak bekal biru di tangan kiri, laptop tua di tangan kanan. Kemeja kotak-kotak lagi, warnanya lain. Sepatu kets abu-abu yang sama. Aku bisa melihat noda samar kecokelatan di ujung kirinya bahkan dari jarak dua puluh meter.
Jantungku melakukan sesuatu yang tidak seharusnya dilakukan jantung manusia sehat.
“Sya,” bisikku. “Ke sana.”
“Ke mana?”
Aku menarik tangan Tasya ke bangku lain, bangku kayu yang terletak sekitar lima meter dari bangku flamboyan, setengah tersembunyi di balik semak kembang sepatu. Kami duduk. Bangku itu langsung miring ke kiri dengan bunyi krek yang mencurigakan.
“Clar,” desis Tasya, berpegangan ke sandaran. “Bangku ini goyang.”
“Ssst.”
“Kakinya patah satu. Kita bisa mati.”
“Kita nggak akan mati dari ketinggian empat puluh senti, Sya.”
“Kamu nggak tahu itu. Ada orang yang mati kesandung karpet.”
Aku tidak mendengarkan. Saka dan temannya sudah duduk di bangku flamboyan. Temannya, yang kurus berkacamata, membuka laptop dan memiringkannya ke arah Saka, menunjuk-nunjuk layar sambil bicara dengan kecepatan tinggi. Aku tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan, hanya potongan-potongan: latensi, model, nggak bakal muat, RAM dua giga.
Saka mendengarkan dengan diam. Ia menyendok nasi dari kotak bekal birunya, mengunyah perlahan, mengangguk sesekali.
Lalu temannya berhenti bicara dan menatapnya, seperti menunggu jawaban.
Dan Saka meletakkan sendoknya.
Aku tidak tahu bagaimana menjelaskan apa yang terjadi selanjutnya. Saka mengambil laptop temannya, memutarnya menghadap dirinya, dan mulai berbicara. Tangannya bergerak di atas papan ketik, lalu di udara, menggambar sesuatu yang tidak bisa kulihat. Ia bicara lebih banyak dari yang kukira bisa ia lakukan, kalimatnya cepat tapi tidak terburu-buru, seperti air yang menemukan jalannya sendiri di antara batu.
Dan matanya.
Tiga hari lalu, ketika ia menatapku setelah aku menumpahkan kopi, matanya datar. Tenang. Seperti permukaan kolam yang tidak tertiup angin.
Sekarang matanya menyala.
Bukan menyala seperti mata laki-laki yang melihat perempuan cantik. Aku kenal nyala itu, nyala yang membuatku ingin memalingkan wajah. Ini lain. Ini nyala orang yang sedang melihat sesuatu yang belum ada, dan tahu persis bagaimana membuatnya ada. Nyala orang yang sedang menggambar jalan di tempat yang semua orang anggap buntu.
Matanya hidup.
Aku tidak pernah melihat mata yang sehidup itu. Tidak di ruang rapat Papa, tidak di pesta-pesta keluarga, tidak di wajah laki-laki mana pun yang pernah mengirimiku bunga. Mata semua orang yang kukenal melihat apa yang sudah ada: mobil, rumah, nilai, wajahku. Mata laki-laki ini melihat apa yang belum ada.
Temannya terdiam. Lalu temannya berteriak, cukup keras sampai aku bisa mendengarnya dari balik semak: “ANJIR. IYA. KENAPA NGGAK KEPIKIRAN!”
Saka mengembalikan laptop, mengambil sendoknya lagi, dan melanjutkan makan, seolah tidak terjadi apa-apa.
Dan nyala di matanya pelan-pelan padam, kembali menjadi permukaan kolam yang tenang.
“Clar,” bisik Tasya di sebelahku. “Clar, kamu kenapa? Kamu kayak orang habis lihat UFO.”
Aku menelan ludah. “Matanya, Sya.”
“Kenapa matanya? Belekan?”
“Matanya hidup.”
Tasya menatapku dengan ekspresi campuran antara khawatir dan ingin tertawa. Lalu bangku kayu di bawah kami berderak lagi dan miring tiga derajat lebih jauh ke kiri, dan Tasya memekik kecil sambil mencengkeram lenganku.
Di bangku flamboyan, Saka tidak menoleh. Temannya yang berkacamata menoleh, melihat kami, membelalak, lalu menyikut Saka dengan panik.
Saka menyendok nasi lagi. Ia tidak menoleh.
Aku kembali hari Senin.
Kali ini tanpa Tasya, yang menolak duduk di “bangku maut” itu lagi dan memilih menungguku di kantin FEB sambil makan bakso. Aku membawa buku Manajemen Strategik, laptopku, dan es teh manis, karena kopi rasanya terlalu berisiko.
Aku duduk di bangku kayu yang goyang. Bangku itu menyambutku dengan bunyi krek yang sudah mulai terasa akrab.
Pukul sepuluh lewat tujuh menit, Saka datang. Sendirian. Kotak bekal biru, laptop tua, sepatu abu-abu. Ia duduk di bangku flamboyan, membuka laptop, membuka kotak bekal, dan mulai mengetik sambil makan.
Aku membuka buku. Aku membaca kalimat pertama di halaman 142 sebelas kali dan tidak memahami satu kata pun.
Ia tidak menoleh.
Pukul sepuluh lewat dua puluh, aku menjatuhkan pulpen. Tidak sengaja, sungguh. Atau setengah sengaja. Pulpen itu menggelinding di atas paving dan berhenti tiga meter dari sepatunya.
Ia tidak menoleh.
Pukul sepuluh lewat tiga puluh lima, ponselku berdering. Mama. Aku mengangkatnya dengan suara sedikit lebih keras dari biasanya, berharap ia mendengar. Aku tidak tahu apa yang kuharapkan ia dengar. Mama bertanya apakah aku mau dibelikan croissant dari toko roti langganan. Aku bilang mau. Mama bilang rasa apa. Aku bilang cokelat. Mama bilang toko itu sekarang punya rasa pistachio. Aku bilang pistachio juga boleh. Ini percakapan yang sangat tidak menarik, dan aku melakukannya dengan suara pembawa berita.
Ia tidak menoleh.
Pukul sebelas tepat, ia menutup laptop, menutup kotak bekal, berdiri, dan berjalan ke gedung Ilmu Komputer. Ketika melewati pulpenku yang masih tergeletak di paving, ia membungkuk, memungutnya, berjalan tiga langkah ke arahku, meletakkannya di ujung bangku kayu tanpa berkata apa-apa, lalu berbalik dan pergi.
Aku menatap pulpen itu.
Ia bahkan tidak menatap wajahku saat mengembalikannya.
“Dia balikin pulpenmu,” ulang Tasya di kantin FEB, sendok bakso berhenti di udara. “Tanpa ngomong apa-apa.”
“Tanpa ngomong apa-apa.”
“Tanpa lihat muka kamu.”
“Tanpa lihat muka aku.”
Tasya meletakkan sendoknya. Bakso di ujungnya menggelinding kembali ke mangkuk dengan bunyi plung yang sangat dramatis.
“Clar,” katanya, dengan nada guru BK yang sedang menangani murid bermasalah. “Aku mau tanya satu hal. Jawab jujur. Selama dua puluh satu tahun hidupmu, pernah nggak ada cowok yang balikin barang kamu tanpa sekalian minta nomor WhatsApp?”
Aku berpikir. Waktu SMA, kakak kelas mengembalikan dompetku yang tertinggal di kantin, lalu mengirimiku pesan setiap malam selama empat bulan. Waktu semester dua, seorang asdos mengembalikan flashdisk-ku, lalu mengundangku ke acara ulang tahunnya. Waktu semester empat, Rio meminjam kalkulatorku dan tidak mengembalikannya sama sekali, yang menurut Tasya adalah strategi supaya ia punya alasan untuk terus mengajakku bicara.
“Nggak pernah,” kataku.
“Nggak pernah,” ulang Tasya, seperti membacakan vonis. “Dan sekarang ada satu spesies langka di FMIPA yang mungut pulpen kamu, naruh di bangku, terus pergi. Kayak petugas kebersihan yang profesional.” Ia mencondongkan badan ke depan. “Kamu tahu artinya apa?”
“Dia sopan?”
“Artinya dia nggak tertarik sama kamu, Clar.” Tasya mengatakannya dengan lembut, seperti dokter yang menyampaikan kabar buruk. “Sama sekali. Nol koma nol persen.”
Aku menunggu dadaku terasa sakit. Itu yang seharusnya terjadi, kan? Ditolak, diabaikan, tidak dianggap.
Dadaku tidak sakit.
“Bagus,” kataku.
Tasya menatapku seperti aku baru tumbuh tanduk. “Bagus?”
“Iya. Bagus.” Aku mengaduk es teh. “Jadi kalau suatu hari dia lihat aku, aku tahu dia lihat aku karena aku. Bukan karena apa yang orang bilang soal aku.”
Tasya membuka mulut, lalu menutupnya. Membuka lagi. Menutup lagi. Lalu ia mengambil sendoknya, menusuk bakso dengan ganas, dan bergumam ke mangkuknya:
“Ya Allah, sahabat hamba sudah gila. Dan yang paling parah, gilanya masuk akal.”
Selasa, aku kembali lagi.
Selasa itu ada perkembangan: seorang laki-laki menghampiri bangku kayuku. Tapi bukan Saka.
“Clara!”
Rio Hartanto. Anak Akuntansi, satu angkatan denganku. Ayahnya punya pabrik plastik di Tangerang dan tiga dealer mobil di Jakarta Barat. Rio punya rambut yang selalu basah oleh pomade, jam tangan yang selalu terlihat dari jarak sepuluh meter, dan kebiasaan menyapaku seperti kami sudah kenal sejak bayi, padahal percakapan terpanjang kami adalah ketika ia meminjam kalkulator dan lupa mengembalikannya selama satu semester.
Di belakangnya ada Gilang, teman satu gengnya, yang selalu tertawa sepersekian detik setelah Rio tertawa, seperti kurang sinyal.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Rio. Ia memandang sekeliling taman FMIPA dengan ekspresi seperti orang yang tersesat di pasar ikan. “Ini kan… FMIPA.”
“Iya,” kataku. “Ini FMIPA.”
“Kamu ada kelas di sini?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Cari tempat sepi buat baca.”
Rio tertawa. Gilang ikut tertawa, sedikit terlambat. “Tempat sepi? Clar, kalau mau tempat sepi, aku punya kartu member lounge di hotel deket sini. Sepi, ber-AC, kopinya enak. Nggak kayak di sini.” Ia menendang kaki bangku kayu dengan ujung sepatunya. Bangku itu berderak. “Bangkunya aja udah mau rubuh.”
Dari sudut mataku, aku melihat Saka di bangku flamboyan. Ia sedang mengetik. Ia tidak menoleh.
“Makasih, Rio,” kataku. “Tapi aku suka di sini.”
“Kok bisa?” Rio memandang sekeliling lagi, dan matanya berhenti di bangku flamboyan. Ia melihat Saka. Ia melihat kotak bekal biru. Ia melihat sepatu abu-abu dengan noda kecokelatan. Bibirnya melengkung, senyum yang membuatku ingin menyiramkan es teh ke kepalanya. “Oh. Ada pemandangan, ya.”
“Rio.”
“Bercanda, bercanda.” Ia mengangkat tangan. “Ya udah, nanti kalau bosen di sini, chat aja. Lounge-nya buka sampai malam.”
Ia pergi. Gilang mengikutinya, menoleh sekali ke arah Saka, lalu berbisik sesuatu ke telinga Rio. Mereka berdua tertawa, kali ini serempak.
Aku menatap punggung mereka sampai hilang di balik gedung Matematika. Lalu aku menoleh ke bangku flamboyan.
Saka masih mengetik. Tapi tangannya berhenti sepersekian detik, sebelum melanjutkan.
Sepersekian detik. Mungkin aku salah lihat. Mungkin ia hanya sedang berpikir.
Atau mungkin ia mendengar semuanya, dan memutuskan bahwa itu juga nggak apa-apa.
Malam itu aku menulis sesuatu di catatan ponsel, sesuatu yang tidak pernah kulakukan sebelumnya.
Namanya Saka. Ilkom. Bangku flamboyan, jam 10 sampai 11. Bekal nasi telur. Laptop tua. Sepatu 89 ribu. Nggak pernah ke kantin. Nggak punya Instagram. Nggak pernah noleh.
Tapi kalau dia lagi ngomongin sesuatu yang dia suka, matanya hidup.
Aku membaca catatan itu dua kali. Lalu aku menambahkan satu baris di bawahnya:
Aku mau lihat mata itu lagi.
Aku menyimpan catatannya dengan judul yang aman. Belanja bulanan. Seandainya Bram mengintip ponselku, ia hanya akan melihat daftar belanja bulanan yang sangat aneh.
Lalu aku berbaring dan menatap langit-langit, dan untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya: kalau mata itu menatapku, menatapku sungguh-sungguh, seperti ia menatap sesuatu yang belum ada, seperti apa rasanya?
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup reading
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman