← Pria yang Ia Pilih

Chapter Twenty Two

Malu Tapi Jalan

POV: Clara

Di mobil pulang dari gala, tidak ada yang bicara.

Papa duduk di kursi depan, di sebelah sopir, menatap jalan Sudirman yang berkilau oleh lampu-lampu gedung. Ia tidak membuka tablet. Ia tidak membaca laporan. Ia hanya menatap jalan, dengan tangan di atas lutut, jari-jari yang mengetuk-ngetuk pelan, tidak berirama.

Mama duduk di sebelahku di kursi belakang. Tangannya menggenggam tanganku sejak kami keluar dari ballroom. Tidak meremas. Hanya menggenggam.

Bram duduk di kursi paling belakang. Ia sudah menatap layar ponselnya selama dua puluh menit tanpa menggulir.

Di lampu merah Bundaran HI, Papa berkata satu kalimat, pelan, ke kaca depan:

“Anak itu benar.”

Tidak ada yang bertanya apa maksudnya. Papa tidak menjelaskan.

Lampu hijau. Mobil berjalan lagi. Papa tidak bicara lagi sampai rumah. Ketika kami tiba, ia langsung naik ke lantai dua, ke ruang kerjanya, dan menutup pintu kayu jati itu. Pelan. Tidak dibanting.

Lampu di bawah pintunya masih menyala ketika aku tertidur pukul empat pagi.


“Bima,” kata Bram.

Ia berdiri di ambang pintu kamarku pukul sembilan pagi, masih memakai kaus tidur dan celana pendek, rambut berantakan, ponsel di tangan. Ia tidak mengetuk. Bram tidak pernah mengetuk.

“Kak…”

“Bima, Clar.” Ia masuk dan duduk di ujung kasurku, tempat Tasya biasa duduk. “Aku baca ulang semalam. Dari bab satu. Sampai bab delapan puluh empat. Nggak tidur.” Ia menunjukkan matanya yang merah. “Bima jualan ikon ke luar negeri. Bima punya adik kembar. Bima benerin aplikasi di panggung lomba dalam delapan puluh tujuh detik.” Suaranya naik. “Aku ingat angka itu. Dia ngoreksi aku di meja makan. Delapan puluh tujuh, bukan sembilan puluh.”

Aku tidak menjawab. Aku menarik selimut sampai ke dagu.

“Sudut Taman itu kamu.”

Aku mengangguk di balik selimut.

Bram menatapku lama. Lalu ia menjatuhkan diri ke kasur, telentang, menatap langit-langit, dan mengeluarkan suara yang mirip ban sepeda bocor. Suara yang, aku sadar, sama dengan suara yang pernah dibuat Ucup.

“Clar,” katanya ke langit-langit. “Adikku sendiri. Penulis novel peringkat satu di Floo. Yang bikin aku nangis jam tiga pagi gara-gara telur gosong. Dan novelnya tentang cowok yang semalem naik panggung, ngomong tiga kalimat, terus bikin seribu orang tepuk tangan. Termasuk Papa. Oh, Papa nggak tepuk tangan. Papa pucat.” Ia menoleh ke arahku. “Kamu tahu nggak Papa pucat kenapa?”

“Nggak.”

“Aku juga nggak tahu. Aku belum pernah lihat Papa pucat. Waktu krisis moneter, Papa nggak pucat. Waktu Kakek meninggal, Papa nggak pucat. Waktu aku nabrakin mobil Papa ke pagar tetangga, Papa nggak pucat.” Bram menatap langit-langit lagi. “Semalem Papa pucat.”

Aku memikirkan wajah Papa. Kertas yang dicuci. Buku acara yang kusut di genggamannya.

Anak itu benar.

“Kak,” kataku.

“Hm.”

“Aku dibayar dia.”

Bram mengangkat kepala. “Hah?”

“Royaltiku. Dari Floo.” Aku duduk di kasur. Selimut jatuh ke pangkuan. “Seratus empat puluh tiga juta di bulan ketiga belas. Dari tiap bab yang dibuka orang, tujuh puluh persen masuk ke rekeningku. Dari perusahaannya. Lewat aplikasinya. Dua tahun, Kak. Dua tahun aku dibayar dari perusahaan dia, dan aku nggak tahu.”

Bram duduk juga. Ia menatapku. Pelan-pelan, wajahnya berubah dari kaget menjadi sesuatu yang lebih buruk: kasihan.

“Dan,” lanjutku, suaraku naik, “kalau aku daftar jadi penulis, aku masukin nomor rekening. Atas namaku. Clara Florentina Kusumadewi. Itu ada di sistem mereka. Di basis data. Dia bisa lihat. Dia pendirinya, Kak. Dia bisa lihat siapa Sudut Taman kapan aja dia mau.”

“Mungkin dia nggak lihat.”

“Gimana kalau dia lihat?” Aku menutup wajah dengan dua tangan. “Gimana kalau dia tahu cewek yang ninggalin dia di bawah pohon flamboyan, nulis novel tentang dia, terus dibayar dari perusahaan dia, terus ranking satu? Gimana kalau dia baca? Gimana kalau dia baca bab telur gosong? Bab kotak bekal retak? Bab delapan puluh empat?”

Bram tidak menjawab.

Kami baca. Tiga kata di atas panggung, semalam, setelah ia menatapku tiga detik.

Tidak. Itu kalimat umum. Kalimat untuk empat puluh ribu penulis. Untuk yang menulis tanpa ada yang menoleh, kami baca. Kami. Floo. Platform. Bukan dia.

Lagi pula, aku kenal Saka. Saka tidak akan membuka basis data pengguna untuk urusan pribadi. Saka yang menolak kopi gratis di kantor karena takut ketergantungan. Saka yang membayar bakwan Pak Darto meskipun Pak Darto menolak uangnya. Saka yang mengembalikan pulpenku tanpa menatap wajahku karena itu bukan urusannya.

Ia tidak akan mengintip.

Ia tidak akan tahu.

Aku memikirkannya berulang-ulang sampai aku hampir percaya.


Tasya datang pukul sebelas dengan dua gelas kopi susu gula aren dan sekotak donat.

“Bram cerita,” katanya, sebelum aku sempat bertanya. “Lewat chat. Jam enam pagi. Pakai huruf kapital semua. Ada empat puluh dua tanda seru.” Ia meletakkan kopi dan donat di meja belajarku, lalu duduk di karpet, bersila, menghadapku. “Jadi. Cowok nasi telur. Founder Floo.”

“Iya.”

“Startup of the Year.”

“Iya.”

“Pakai kemeja biru tua.”

Aku menatapnya.

“Bercanda,” kata Tasya. “Mungkin.”

Aku turun dari kasur dan duduk di karpet di depannya. Tasya menyodorkan kopi. Aku menerimanya, memegangnya dengan dua tangan, dan menatap permukaannya yang cokelat.

“Sya,” kataku. “Aku malu.”

“Kenapa?”

“Karena…” Aku tidak tahu harus mulai dari mana. “Karena lima tahun lalu, waktu dia cuma punya kotak bekal retak sama laptop bekas, aku pergi. Aku nggak bisa bilang nggak ke Papa. Aku tanda tangan map biru. Aku makan malam sama Reinhard. Aku nggak buka pesannya.” Suaraku pecah. “Dan sekarang dia punya perusahaan lima ratus juta sehari, menang Startup of the Year, seribu orang tepuk tangan buat dia. Dan kalau sekarang aku datang ke dia, apa bedanya aku sama cewek yang ngejar cowok karena duitnya?”

Tasya tidak menjawab.

“Orang bakal mikir gitu, Sya. Papa bakal mikir gitu. Tante-tante di arisan bakal mikir gitu. Sherly…” Aku tertawa pahit. “Sherly udah mulai, semalem. Minta foto. Minta nomor.”

“Dan dia bilang maaf, siapa ya.”

Aku berhenti. “Kamu tahu?”

“Bram cerita. Empat puluh dua tanda seru, ingat?” Tasya menyesap kopinya. “Bram bilang itu momen paling memuaskan dalam hidupnya. Bram bilang dia mau bikin itu jadi nada dering.”

Aku tertawa. Tertawa sambil menangis. Tasya menyodorkan donat cokelat. Aku menggigitnya.

“Clar,” kata Tasya, setelah aku berhenti tertawa. “Aku mau tanya satu hal. Jawab jujur.”

“Oke.”

“Kalau dia nggak kaya. Kalau semalem dia ternyata beneran IT support, ngurusin layar LED, kayak kata Rio. Kalau dia masih bawa kotak bekal retak, masih naik motor bebek, masih makan nasi telur.” Tasya menatapku. “Kamu masih mau datang ke dia?”

Aku tidak perlu berpikir.

“Iya.”

“Kenapa?”

“Karena matanya masih sama.”

Tasya diam. Lalu ia meletakkan gelas kopinya di karpet dan meraih kedua tanganku.

“Kalau gitu,” katanya pelan, “yang kamu takutin bukan dia kaya. Yang kamu takutin orang lain mikir kamu ngejar dia karena kaya.”

“Sama aja.”

“Beda, Clar.” Tasya meremas tanganku. “Yang pertama itu soal kamu. Yang kedua itu soal orang lain. Dan kamu udah lima tahun hidup buat orang lain. Buat Papa. Buat tante-tante arisan. Buat kulkas dua pintu di lantai sembilan.”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kamu malu?” tanya Tasya. “Oke. Malu. Itu wajar. Aku juga malu kalau jadi kamu. Tapi malu itu nggak bikin kamu diam di tempat, Clar. Malu itu bisa kamu bawa jalan.” Ia tersenyum. “Malu tapi jalan.”

“Malu tapi jalan,” ulangku pelan.

“Malu tapi jalan. Itu motto baru kamu. Aku mau bikin stiker.” Tasya melepaskan tanganku dan mengambil donat. “Nah. Pertanyaan berikutnya. Jalan ke mana?”


Bram bergabung pukul satu siang dengan laptop, proyektor portabel milik agensinya, dan papan tulis putih kecil yang entah ia dapat dari mana.

“Rapat strategi,” katanya, menancapkan proyektor ke dinding kamarku dan menyalakannya. Di dinding krem itu muncul slide pertama, putih dengan tulisan besar berwarna merah: OPERASI BIMA.

“Kak, ini apa?”

“Presentasi.” Bram menekan tombol. Slide kedua. LATAR BELAKANG MASALAH. “Klien kita, Clara Florentina Kusumadewi, dua puluh enam tahun, mau balikan sama target, Saka Pradana, dua puluh enam tahun, founder Floo, Startup of the Year, ganteng dengan cara yang nggak ganteng.”

“Kak!”

“Masalah klien,” lanjut Bram, mengabaikanku. Slide ketiga, dengan diagram berbentuk piramida. “Satu: klien pernah ninggalin target lima tahun lalu. Dua: target sekarang kaya raya, klien takut dikira matre. Tiga: Papa klien pucat. Empat: target nggak ingat nama Sherly, yang mana itu bukan masalah, itu bonus.”

Tasya tertawa sampai tersedak donat.

“Solusi,” kata Bram. Slide keempat. Tulisan besar: TERUS TERANG.

Aku menatap slide itu. “Itu doang?”

“Itu doang.” Bram mematikan proyektor dan duduk di karpet di sebelah Tasya. Wajahnya tiba-tiba serius, sangat jarang untuk Bram. “Clar. Aku bikin kampanye pemasaran buat seratus klien. Kamu tahu kampanye yang paling berhasil itu yang kayak gimana?”

Aku menggeleng.

“Yang jujur.” Bram menatapku. “Bukan yang paling mahal. Bukan yang paling kreatif. Yang paling jujur. Konsumen itu pintar, Clar. Mereka tahu kalau kamu bohong. Mereka tahu kalau kamu pura-pura.” Ia mengangkat bahu. “Dan dari cara cowok itu ngomong semalem, untuk yang menulis tanpa ada yang menoleh, kami baca, aku rasa dia jauh lebih pintar dari konsumen mana pun.”

“Jadi aku harus gimana?”

“Datang ke dia,” kata Bram. “Bilang terus terang. Aku dulu pergi. Aku nyesel. Aku mau kamu lagi. Nggak usah pakai kode. Nggak usah pakai strategi. Nggak usah nunggu dia yang datang.” Ia tersenyum. “Kamu udah nunggu lima tahun, Clar. Gantian.”

“Dan kalau dia nolak?”

“Datang lagi.”

“Kalau dia nolak lagi?”

“Datang lagi.” Bram menyandarkan punggung ke kasur. “Kayak kecoak.”

Tasya tertawa lagi. Aku menatap Bram. Kakakku. Yang memotret steak dari tiga sudut. Yang menabrakkan mobil Papa ke pagar tetangga. Yang membaca novelku sampai pukul tiga pagi dan menangis karena telur gosong.

“Kak,” kataku. “Kenapa Kakak bantu aku?”

Bram tidak langsung menjawab. Ia menatap proyektor yang sudah mati, lalu menatap tangannya sendiri.

“Lima tahun lalu,” katanya pelan, “waktu kamu nangis di lorong lantai dua, di depan ruang kerja Papa, aku denger dari kamarku. Aku nggak keluar. Aku pura-pura tidur.” Ia mengangkat wajah. “Aku juga nggak pernah bisa bilang nggak ke Papa, Clar. Aku kerja di agensi karena Papa bilang aku nggak cocok di perusahaan. Aku nggak pernah nanya kenapa. Aku cuma bilang iya, Pa.” Ia tersenyum, kecil, pahit. “Semalem, waktu aku lihat cowok itu di panggung, aku mikir: dia nggak punya Papa buat bilang iya, Pa. Dia cuma punya dirinya sendiri. Dan lihat dia sekarang.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Aku tim Bima,” kata Bram. Ia mengulurkan kepalan tangan ke arahku. “Dari bab satu. Resmi.”

Aku menatap kepalan tangan itu. Lalu aku membenturkan kepalan tanganku ke kepalan tangannya. Pelan.

Tasya ikut mengulurkan kepalan tangannya. “Aku juga tim Bima. Dari bab satu. Dari sebelum bab satu, malah. Dari bangku maut.”

Tiga kepalan tangan, di karpet kamarku, di antara kotak donat yang sudah kosong dan dua gelas kopi susu gula aren yang sudah dingin.


Malam itu, aku membuka catatan Belanja bulanan di ponselku.

Sudah lima tahun aku tidak menambahkan apa pun. Baris terakhir masih yang kutulis di lantai kamar mandi, sebelas hari sebelum tenggat map biru, lalu kuhapus, lalu kutulis lagi di dalam hati ribuan kali sejak itu.

Aku menggulir ke paling bawah.

Semalem dia naik panggung. Kemeja biru tua. Sepatu kets abu-abu, baru, modelnya sama.
Dia nyapa aku. “Apa kabar, Clara?” Aku nggak bisa jawab.
Dia bilang aku kelihatan baik.
Dia nggak ingat nama Sherly.
Matanya masih sama.

Aku berhenti mengetik.

Lalu aku menulis satu baris lagi. Baris yang tidak pernah bisa kutulis sampai selesai. Baris yang selalu kuhapus sebelum aku sempat membacanya.

Aku pilih kamu.

Aku menatap tiga kata itu di layar.

Aku tidak menghapusnya.

Aku menatapnya sampai mataku panas, sampai layar ponsel meredup sendiri karena terlalu lama tidak disentuh, dan aku menyentuhnya lagi supaya terang, dan menatapnya lagi.

Aku pilih kamu.

Lima tahun lalu, tiga kata itu menempel di tenggorokanku seperti duri ikan. Malam ini mereka ada di layar, di bawah semua hal kecil yang kukumpulkan tentang laki-laki yang tidak menoleh.

Belum kuucapkan. Tapi sudah kutulis.

Laras bukan pengecut. Laras cuma belum. Belum itu beda sama nggak.

Aku menyimpan catatan itu. Lalu aku membuka laptop, membuka aplikasi presentasi, dan membuat slide pertama dengan latar putih dan tulisan besar berwarna oranye kemerahan, warna flamboyan di bulan Januari.

Aku menatap slide itu sampai pukul tiga pagi, mengubah kalimatnya sebelas kali, mengubah warnanya empat kali, mengubah ukuran hurufnya tujuh kali.

Lalu aku tertawa sendiri di kamar, dalam gelap, karena aku sadar aku sedang melakukan hal yang paling bodoh, paling memalukan, paling tidak elegan yang pernah dilakukan Brand Manager termuda dalam sejarah Kusumadewi Retail.

Malu tapi jalan.

Dan kali ini aku tidak akan berhenti. Tidak akan goyah. Tidak akan berbalik di langkah kesepuluh.

Seumur hidup.