← Pria yang Ia Pilih

Chapter Forty One

Lizz

POV: Clara

Papa sampai di rumah pukul sebelas malam.

Aku menunggunya di ruang keluarga, di sofa, dengan Mama di sebelahku dan Bram di karpet. Tidak ada yang menyalakan televisi. Tidak ada yang bicara. Jam dinding antik di ujung ruangan berdetak terlalu keras.

Pintu depan terbuka. Langkah kaki di lantai marmer. Tidak tanpa suara seperti biasa. Langkah yang berat, pelan, sedikit terseret, langkah orang yang baru duduk di mobil tanpa AC selama sepuluh jam.

Papa berdiri di ambang ruang keluarga.

Kemeja batik lengan pendek, kusut. Rambut tidak rapi, diacak angin jalan tol. Wajah yang terbakar matahari di satu sisi, sisi yang menghadap jendela mobil. Dan di pergelangan tangan kirinya, arloji kecil dengan tali kulit cokelat yang retak.

Mama berdiri dari sofa. Ia menatap pergelangan tangan Papa. Lalu ia menutup mulut dengan tangan.

Papa tidak berkata apa-apa. Ia berjalan ke sofa, duduk di sebelah Mama, di tempat yang biasanya tidak pernah ia duduki, karena Papa selalu duduk di kursi tunggal di samping lampu baca. Ia menatap lantai.

Lalu ia mulai bicara.


Ia menceritakan semuanya. Gang sempit di Solo. Mesin jahit dengan tulisan emas yang hampir hilang. Kos-kosan di Salemba. Perpustakaan, buku yang jatuh, wajah yang tidak ia lihat.

Sepatu kets abu-abu dengan jahitan benang nilon.

Benang layangan.

Kijang tahun delapan puluh sembilan tanpa AC.

Pulang, Ratna.

Aku tidak bisa bernapas.

Bram, di karpet, menutup wajahnya dengan dua tangan.

Mama tidak menangis. Mama duduk tegak di sebelah Papa, dengan tangan di pangkuan, menatap Papa yang menatap lantai, dan ketika Papa sampai di bagian Kijang tanpa AC, di bagian pulang, Ratna, Mama mengulurkan tangan dan meletakkannya di atas tangan Papa.

“Dan aku bilang apa?” tanya Mama pelan.

Papa mengangkat wajah. Ia menatap Mama.

“Kamu bilang Hendro, kamu nggak berhak milih buat aku,” katanya.

Aku tidak bisa bergerak.

Kalimat itu. Di bangku kayu, di bawah flamboyan, dengan kaus putih dan mata bengkak dan bakwan Pak Darto. Kalimatku. Aku kira itu kalimatku.

Ternyata kalimat Mama. Tiga puluh tahun lalu. Di Kijang tanpa AC.

Mama menoleh ke arahku. Matanya basah sekarang. Tapi ia tersenyum.

“Kamu kira kamu dapat itu dari siapa, Nak?” tanyanya. “Dari Papa?”

Aku tidak bisa menjawab.

“Kamu dapat dari Mama,” kata Mama. “Mama cuma pernah sekali seumur hidup bilang tidak ke ayah Mama. Sekali. Di Kijang tanpa AC. Habis itu Mama diam terus. Tiga puluh tahun. Di arisan, di meja makan, di depan Om Tanoto.” Ia meremas tangan Papa. “Tapi yang sekali itu, Mama nggak pernah nyesel.”


Kami bicara sampai pukul tiga pagi.

Bram menangis paling keras. Bram bilang ia akhirnya mengerti kenapa Papa menyuruhnya kerja di agensi, bukan di perusahaan keluarga. Papa nggak mau kamu jadi menantu numpang di perusahaan keluarga sendiri, kata Papa. Papa mau kamu bikin jalanmu sendiri. Bram bilang ia selama ini mengira Papa menganggapnya tidak cukup pintar. Papa menatap Bram lama, lalu berkata, kamu anak Papa yang paling berani nabrak pagar tetangga, dan Bram tertawa dan menangis sekaligus sampai Mama menyodorkan tisu.

Pukul tiga pagi, Papa berdiri dari sofa. Ia berjalan ke tangga. Di anak tangga pertama, ia berhenti dan menoleh.

“Clara.”

“Iya, Pa.”

“Dia berlutut,” kata Papa. “Di lantai rumah Bapak. Di depan mesin jahit.” Suaranya serak. “Dia bilang apa-apa. Bukan nggak apa-apa. Apa-apa, Om. Saya mau dia.”

Air mataku jatuh.

“Papa nggak pernah berlutut di depan ayah Mama,” kata Papa. “Papa terlalu sombong. Papa pikir berlutut itu kalah.” Ia menatapku. “Ternyata berlutut itu minta. Dan minta itu lebih berani dari bilang pulang.”

Ia naik tangga.

Di lantai dua, pintu kayu jati ruang kerjanya tidak ditutup. Lampu baca hijau tidak dinyalakan.

Malam itu, untuk pertama kalinya sejak aku bisa mengingat, Papa tidur di kamar sebelum subuh.


Lizz 10 diunduh satu koma dua juta kali dalam tiga minggu setelah Floo Writers Award.

Bukan karena aplikasinya sudah diperbarui. Aplikasinya masih versi lama, versi yang dibuat lima tahun lalu di bangku beton di bawah flamboyan, dengan model suara kecil-kecil yang bergantian dimuat ke memori dan getar berpola untuk klakson dan sirene dan nama yang dipanggil. Diunduh karena video potongan dari Bram: ponsel di saku kemeja kotak-kotak biru yang bergetar dua pendek satu panjang ketika aku menyebut nama pemiliknya.

Ribuan orang mengunduh Lizz 10 untuk memasang nama pacar mereka. Ratusan orang mengunggah video ponsel yang bergetar ketika nama mereka dipanggil. Lizz 10 masuk trending dengan tagar yang dibuat entah siapa: #getardualpendeksatupanjang.

Tapi di antara jutaan unduhan itu, Ucup menemukan sesuatu yang lain.

“Tiga puluh delapan ribu,” katanya di ruang rapat kecil nomor dua, lantai lima belas, sambil memutar laptop ke arah kami. Saka, aku, Bu Rosa, Nadia. “Tiga puluh delapan ribu pengguna baru yang aktif pakai Lizz sepuluh tiap hari. Bukan buat nama pacar. Buat yang sebenarnya.” Ia menunjuk grafik. “Teman-teman tunarungu. Mereka nemu aplikasi ini karena viral. Terus mereka pakai. Tiap hari.”

Ruangan hening.

“Ada yang kirim email,” kata Ucup, suaranya mulai bergetar. “Banyak. Aku baca semuanya semalem.” Ia membuka satu email. “Ini dari ibu di Makassar. Anaknya tunarungu, umur sembilan tahun. Dia bilang anaknya nggak pernah bisa dengar kalau dia manggil dari dapur. Sekarang anaknya pakai Lizz sepuluh di ponsel bekas punya kakaknya, dan tiap kali ibunya manggil, Andi, makan, ponselnya getar dua pendek satu panjang, dan Andi lari ke dapur.” Ucup berhenti. Ia melepas kacamatanya. “Ibunya bilang, sembilan tahun saya manggil, Mas. Sembilan tahun. Baru sekarang dia lari ke saya.”

Bu Rosa memijat pangkal hidungnya. Nadia menatap meja.

Saka tidak bergerak. Ia menatap laptop Ucup. Ke grafik tiga puluh delapan ribu pengguna. Ke email dari Makassar.

“Pak Darto,” katanya pelan.

“Apa, Ka?”

“Lima tahun lalu, Pak Darto pengguna pertama.” Saka menatap layar. “Aku bilang ke Pak Budiman, kalau aplikasinya cuma jalan di ponsel mahal, nggak ada gunanya kami bikin.” Ia diam sebentar. “Aku lupa. Lima tahun. Aku bikin Floo, aku bikin Tukang.in, aku benerin flash sale. Aku lupa Lizz sepuluh masih di sana. Versi lama. Nggak pernah diperbarui.”

“Kamu nggak lupa,” kataku.

Saka menoleh ke arahku.

“Kamu nggak lupa,” ulangku. “Kamu pasang Lizz sepuluh di HP-mu sendiri. Pakai namamu. Biar getar kalau aku manggil.”

Telinganya merah.

“Itu bukan lupa, Saka,” kataku. “Itu nunggu.”


Lizz diluncurkan ulang empat bulan kemudian, sebagai perusahaan sosial.

Bukan Lizz 10. Lizz saja. Empat huruf. Saka yang memilih namanya.

“Sepuluh itu dulu buat lomba,” katanya, di rapat pertama, di Kantor Pusat, warung kopi dekat stasiun. “Aplikasi kesepuluh yang kami daftarin ke Nusantara Tech Cup. Sekarang nggak perlu nomor.”

Ucup bertanya kenapa bukan Listen, karena Lizz dulu diambil dari Listen. Saka bilang Listen terlalu panjang untuk diketik di ponsel murah. Ucup bilang itu alasan paling Saka yang pernah ia dengar. Saka bilang terima kasih. Ucup bilang itu bukan pujian.

Pak Budiman, dosen pembimbing mereka di Tech Cup, sudah pensiun tahun lalu. Ia menjadi penasihat Lizz tanpa bayaran. Ia datang ke rapat pertama dengan kemeja batik baru dan sekotak martabak manis, dan ia berkata ini bukan suap sebelum ada yang bertanya, dan Ucup memeluknya sampai kacamatanya miring.

Dananya dari tiga sumber. Saka, pribadi. Nadia, lewat Sagara Capital, sebagai hibah, bukan investasi. Dan Kusumadewi Group.

Aku tidak tahu soal yang terakhir sampai hari peluncuran.


Peluncuran Lizz diadakan di gerbang belakang kampus Universitas Pelita Nusantara.

Bukan di hotel. Bukan di ballroom. Di jalan sempit di gerbang belakang, di samping warung Bu Tini, di depan gerobak gorengan Pak Darto. Panggungnya panggung kayu kecil yang disewa dari tukang tenda di dekat stasiun. Kursinya kursi plastik merah dari warung Bu Tini. Tiga ratus orang berdiri dan duduk di jalan, di trotoar, di tangga gerbang kampus. Mahasiswa, teman-teman tunarungu dari yayasan disabilitas nasional, wartawan, penulis Floo yang datang dari Cirebon dan Pontianak dan Kupang.

Mbak Wening datang dengan suaminya, Pak Darmo, tukang ledeng dari Tukang.in.

Dan di tengah semua itu, di samping panggung kayu, Pak Darto berdiri di depan gerobaknya dengan celemek baru yang bersih, rambut putih yang disisir rapi untuk pertama kalinya, dan ponsel Android baru di saku celemek. Ponsel murah, delapan ratus ribu, dengan Lizz versi baru yang dipasang Saka sendiri pagi tadi.

Aku berdiri di samping panggung, dengan kamera di tangan. Studio Sudut yang menangani identitas visual Lizz. Klien pertama kami yang membayar.

Saka bersikeras membayar harga penuh.

“Harga penuh,” katanya, tiga bulan lalu, di ruko Tebet, di depan papan tulis putih bekas dengan satu bunga lima kelopak di bawah bekas sembilan nisan. “Studio Sudut bukan yayasan.”

“Lizz yang yayasan,” kataku. “Perusahaan sosial. Aku kasih diskon lima puluh persen.”

“Nggak.”

“Tiga puluh persen.”

“Harga penuh.”

“Saka, kamu nawar ke arah yang salah. Pembeli itu harusnya nawar turun.”

“Aku nawar naik.”

Tasya, di meja sebelah, menjatuhkan keripik kentangnya.

Kami akhirnya sepakat di harga penuh ditambah sepuluh persen, karena Saka bilang revisi logonya empat kali dan revisi itu tidak dihitung di harga awal, dan aku bilang revisinya karena ia terus menolak warna oranye kemerahan yang terlalu mirip Floo, dan ia bilang Lizz harus punya warnanya sendiri, dan aku bilang oke, biru, warna kotak bekal, dan ia diam lima detik dan bilang oke.

Logo Lizz biru. Biru kotak bekal. Bentuknya gelombang suara, tiga garis pendek dan satu garis panjang, yang kalau dilihat sekilas mirip ponsel yang bergetar.

Dua pendek. Satu panjang. Ditambah satu, karena Saka bilang klakson tiga pendek dan Lizz harus mengenali semuanya.


Saka naik ke panggung kayu kecil itu pukul sepuluh pagi.

Kemeja kotak-kotak biru. Lengan digulung. Sepatu kets abu-abu. Ia berdiri di depan mikrofon murah yang disewa dari tukang tenda, yang berdengung setiap kali ia bergerak terlalu dekat.

“Lima tahun lalu,” katanya, “di sini, saya beli dua bakwan dari Pak Darto. Tiap Jumat.”

Tiga ratus orang diam. Di depan panggung, juru bahasa isyarat dari yayasan menerjemahkan setiap kata dengan tangannya, untuk puluhan teman tunarungu yang duduk di kursi plastik merah.

“Saya nggak lapar,” kata Saka. “Saya beli karena Pak Darto perlu pembeli yang nggak marah-marah. Karena dia nggak bisa dengar orang manggil dia dari belakang, dan orang-orang ngira dia sombong.”

Ia menatap Pak Darto, di samping gerobak.

“Lizz dibuat buat Pak Darto,” katanya. “Lima tahun lalu. Hari ini, Lizz dibuat buat semua orang yang kayak Pak Darto. Gratis. Selamanya. Jalan di ponsel di bawah sejuta. Nggak butuh internet.”

Tepuk tangan. Teman-teman tunarungu di kursi plastik merah mengangkat kedua tangan dan menggoyangkannya di udara.

“Dan satu hal lagi,” kata Saka.

Ia menoleh ke sisi panggung. Ke arah kursi plastik merah di barisan depan, di sebelah kanan, di mana duduk seorang laki-laki dengan kemeja batik lengan panjang dan rambut beruban yang disisir rapi, dan arloji kecil dengan tali kulit cokelat yang retak di pergelangan kirinya.

Papa.

Aku tidak tahu Papa datang. Aku tidak melihatnya masuk. Mama tidak bilang. Bram tidak bilang.

Papa berdiri dari kursi plastik merah. Ia berjalan ke panggung kayu kecil. Ia naik tangga tiga anak tangga yang berderit. Ia berdiri di samping Saka, di depan mikrofon murah yang berdengung.

“Saya Hendro Wicaksono,” katanya. “Direktur Utama Kusumadewi Group.”

Tiga ratus orang diam lagi. Lebih diam dari tadi.

“Mulai bulan depan,” kata Papa, “seribu seratus Kusuma Mart di seluruh Indonesia akan jadi titik layanan Lizz. Setiap teman tunarungu yang datang ke kasir kami bisa minta Lizz dipasang di ponselnya. Gratis. Oleh kasir yang sudah dilatih.” Ia diam sebentar. “Dan setiap kasir Kusuma Mart akan pakai Lizz di meja kasirnya. Supaya kalau ada pelanggan tunarungu yang pesan sesuatu, kasirnya bisa baca.”

Ruangan meledak. Bukan ruangan. Jalan. Gerbang belakang kampus. Tepuk tangan, teriakan, dan puluhan tangan yang bergoyang di udara di depan kursi plastik merah.

Papa menunggu sampai tepuk tangan reda.

“Ide ini,” katanya, “bukan dari konsultan kami. Kami bayar konsultan empat puluh miliar tahun lalu, dan laporan mereka bilang kami harus bikin aplikasi.” Ia menatap Saka. “Ide ini dari seorang pelanggan Kusuma Mart cabang stasiun. Pelanggan yang dulu belanja tiap Kamis malam, jam delapan, karena ada diskon sayur. Yang menyimpan semua struk belanjanya di map plastik.”

Saka tidak bergerak. Telinganya merah.

“Dia bilang,” kata Papa, “Kusuma Mart nggak perlu jadi perusahaan teknologi. Kusuma Mart perlu jadi jalan.”

Ia mundur dari mikrofon.

Lalu ia melakukan sesuatu yang tidak pernah kulihat ia lakukan seumur hidup. Di depan tiga ratus orang. Di panggung kayu kecil di gerbang belakang kampus. Di samping laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru.

Ia menepuk bahu Saka. Empat kali.

Seperti Pak Budiman. Seperti Pak Teguh. Seperti Bu Rosa.

Lalu ia turun dari panggung.


Aku tidak bisa memotret. Tanganku gemetar terlalu hebat. Bram, yang entah sejak kapan berdiri di sebelahku, mengambil kamera dari tanganku dan memotret dari tiga sudut.

“Clar,” bisiknya. “Papa nepuk bahunya. Papa nepuk bahunya.”

“Aku lihat, Kak.”

“Papa nggak pernah nepuk bahuku.”

“Kakak nabrak pagar tetangga.”

“Itu dua puluh tahun lalu, Clar!”

Di atas panggung, Saka masih berdiri di depan mikrofon. Ia menatap ke bawah, ke Papa yang sudah kembali duduk di kursi plastik merah, ke Mama di sebelahnya yang menangis ke saputangan. Lalu ia menatap ke samping panggung. Ke aku.

Ia tidak tersenyum. Ia tidak menghitung milimeter.

Ia hanya menatapku, dan aku tahu, dari matanya yang basah di bawah matahari pukul sepuluh, bahwa ia sedang memikirkan hal yang sama denganku.

Meja makan empat meter dua puluh. Tiga garpu di sebelah kiri. Struk belanja di map plastik.

Lima tahun.

Saka kembali ke mikrofon.

“Pak Darto,” katanya.

Di samping gerobak, ponsel di saku celemek Pak Darto bergetar. Dua pendek. Satu panjang.

Pak Darto menoleh ke panggung. Ia menatap Saka. Ia mengeluarkan ponselnya, membaca layarnya, dan tersenyum. Senyum dengan dua gigi seri yang tanggal.

Lalu Saka berkata sesuatu yang lain, ke mikrofon. Bukan nama Pak Darto.

“Mbah.”

Ponsel Pak Darto bergetar lagi. Pola yang berbeda. Tiga pendek. Dua panjang.

Pak Darto menatap layar ponselnya lama. Lalu ia menoleh ke kerumunan di depan panggung. Ke seorang anak laki-laki berumur tujuh tahun yang berdiri di samping Bu Darto, dengan seragam SD dan topi merah.

Cucunya.

Anak itu melambai. Ia membuka mulut dan berteriak, cukup keras untuk didengar tiga ratus orang:

“MBAH!”

Ponsel Pak Darto bergetar. Tiga pendek. Dua panjang.

Pak Darto menatap cucunya. Lalu ia menatap ponselnya. Lalu ia meletakkan penjepit gorengan di atas gerobak, berjalan ke cucunya, dan berlutut di jalan, di depan tiga ratus orang, dan memeluk anak itu.

Lima tahun lalu, Saka membuat getar khusus untuk cucu Pak Darto. Fitur yang Pak Darto minta. Versi 1.1. Aku ingat, karena Saka mengatakannya di bangku beton, sehari setelah spanduk rektorat dipasang di gerbang utama. Pak Darto minta fitur baru. Dia mau getar khusus kalau cucunya manggil.

Versi 1.1 tidak pernah dirilis. Saka sibuk. Mentorship, skripsi, sembilan kuburan, Floo.

Pagi ini, Saka memasangnya sendiri. Di ponsel baru Pak Darto. Lima tahun terlambat.

Tapi sampai.


Malam itu, di Studio Sudut, di ruko di Tebet, setelah toko ponsel bekas di bawah tutup dan dangdut koplo berhenti, aku berdiri di depan papan tulis putih bekas.

Di bawah 1. STUDIO SUDUT — Lahir, aku menulis dengan spidol biru:

Klien pertama yang bayar: Lizz. Harga penuh + 10%. Karena dia nawar naik.

Saka, yang duduk di kursi Tasya dengan kotak bekal biru di pangkuan, membaca tulisan itu dari belakangku.

“Itu bukan nawar naik,” katanya. “Itu revisi empat kali.”

“Itu nawar naik, Saka.”

“Revisi.”

Aku berbalik dan menatapnya. Lalu aku berjalan ke kursi Tasya dan duduk di pangkuannya. Kotak bekal biru terjepit di antara kami.

Ia membeku.

“Clara,” katanya. “Ini kantor.”

“Ini kantorku,” kataku. “Aku yang milih.”

Ia menatapku. Tiga detik. Telinganya merah.

Lalu, pelan, tangannya yang tadi memegang kotak bekal naik ke pinggangku.

“Papamu nepuk bahuku,” katanya pelan.

“Empat kali.”

“Kamu hitung?”

“Semua orang hitung, Saka. Bram hitung. Mama hitung. Pak Budiman nangis.”

Ia diam lama.

“Waktu di Solo,” katanya, “papamu nggak bilang iya.”

“Papa nggak pernah bilang apa-apa secara langsung.”

“Aku tahu.” Ia menatapku. “Tapi tadi dia nepuk bahuku empat kali. Di depan tiga ratus orang. Di depan Pak Darto.”

“Itu iya, Saka.”

“Aku tahu.”

Ia menatapku lama. Matanya, di bawah lampu neon ruko Tebet, bergerak pelan, seperti membaca sesuatu di wajahku. Seperti menghitung sesuatu yang tidak bisa dihitung.

Lalu ia mengatakan sesuatu yang membuatku berhenti bernapas.

“Hari Sabtu,” katanya. “Jam sepuluh. Bangku flamboyan.”

“Kenapa?”

Ia tidak menjawab.

Tapi tangannya di pinggangku mengencang sedikit. Dan telinganya, dari ujung sampai pangkal, semerah bunga flamboyan di bulan Desember.