Chapter Thirty Nine
Papa Datang ke Bangku Taman
POV: Saka
Teleponnya masuk hari Selasa, pukul tujuh pagi, ketika aku sedang memecahkan telur ketiga ke wajan.
Nomor yang tidak kusimpan. Kode area Jakarta.
“Saka.” Suara laki-laki. Datar. Kering. Tidak naik, tidak turun. “Ini Hendro.”
Aku mematikan kompor.
“Selamat pagi, Om.”
“Kamu sibuk hari ini?”
Aku memikirkan jadwalku. Rapat dewan Tukang.in pukul sepuluh. Rapat dengan dua pendiri startup pertanian pukul dua. Makan siang dengan Clara pukul dua belas, di Studio Sudut, karena ia baru saja mendapat klien pertama dan ingin merayakan dengan nasi bungkus dari warung di bawah ruko.
“Nggak, Om,” kataku.
“Warung nasi di dekat gerbang belakang kampusmu. Yang di sebelah gerobak gorengan.” Om Hendro diam sebentar. “Jam dua belas.”
“Oke, Om.”
Ia memutus telepon tanpa salam.
Aku berdiri di dapur di ujung lorong, di depan kompor yang sudah mati, dengan telur ketiga setengah matang di wajan. Pinggirannya baru mulai berbuih.
Kinan muncul di ambang pintu dapur dengan jas lab FKG. Ia menatap wajahku. Lalu menatap wajan.
“Siapa?” tanyanya.
“Papanya Clara.”
Kinan diam. Lalu ia berjalan ke kompor, menyalakannya lagi, dan mengambil spatula dari tanganku.
“Aku yang lanjutin,” katanya. “Kakak duduk. Kakak gemeretak lagi. Barusan. Aku dengar dari sini.”
Aku menelepon Clara pukul sembilan.
“Dua belas nggak bisa,” kataku. “Ada rapat.”
“Rapat apa?” Suaranya di telepon ceria, sedikit terengah. Di latar belakang, dangdut koplo dari toko ponsel bekas di bawah ruko. “Rapat Tukang.in? Bukannya Ucup yang pegang sekarang?”
Aku diam satu detik.
“Saka?”
“Rapat lain.”
“Rapat apa?”
Aku tidak berbohong. Aku tidak pernah berbohong.
“Papamu ngajak makan siang,” kataku.
Hening di telepon. Dangdut koplo terus mengalun. Lalu, pelan, aku mendengar suara kursi bergeser, langkah kaki, pintu ditutup. Dangdut koplo menjadi lebih pelan.
“Papa,” kata Clara. Suaranya tidak ceria lagi. “Papa nelpon kamu?”
“Jam tujuh pagi.”
“Papa bilang apa?”
“Warung nasi di gerbang belakang kampus. Jam dua belas.”
Hening lagi. Lama.
“Gerbang belakang,” bisik Clara. “Di sebelah Pak Darto.”
“Iya.”
“Papa tahu Pak Darto?”
“Aku nggak tahu.”
Clara diam lama sekali. Aku menunggu. Aku selalu menunggu.
“Saka,” katanya akhirnya. “Kamu janji. Nanti kita datang ke Papa. Berdua.”
“Aku ingat.”
“Tapi Papa yang manggil kamu duluan. Sendiri.”
“Iya.”
“Kamu mau aku ikut?”
Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku memikirkan suara Om Hendro di telepon. Datar. Kering. Kamu sibuk hari ini? Ia tidak bertanya apakah Clara boleh ikut. Ia tidak menyebut nama Clara sama sekali.
“Papamu manggil aku,” kataku. “Bukan kita.”
“Jadi?”
“Jadi aku datang sendiri. Kali ini.” Aku diam sebentar. “Nanti kita datang berdua. Itu janji yang lain.”
Clara tidak menjawab lama. Lalu aku mendengarnya menarik napas.
“Oke,” katanya. Pelan. Hampir tidak terdengar. “Oke. Tapi Saka.”
“Hm.”
“Jangan bilang nggak apa-apa ke Papa.”
“Oke.”
“Janji?”
“Janji.”
Warung nasi di gerbang belakang kampus bernama Warung Bu Tini.
Aku belum pernah makan di sana. Lima tahun aku membeli bakwan dari Pak Darto di gerobak sebelahnya, setiap Jumat, dan tidak pernah sekali pun masuk ke warung Bu Tini, karena nasi rames di sana tujuh ribu dan nasi telurku dua ribu tiga ratus.
Warungnya kecil. Empat meja kayu panjang dengan bangku tanpa sandaran. Etalase kaca dengan lauk-pauk di dalam baskom: tempe orek, telur balado, sayur lodeh, ikan asin, ayam goreng. Kipas angin di langit-langit yang berputar terlalu pelan. Aroma santan dan sambal.
Pukul dua belas kurang tujuh menit, aku tiba. Om Hendro sudah di sana.
Ia duduk di meja paling ujung, di bangku tanpa sandaran, dengan punggung tegak. Kemeja batik lengan panjang. Rambut beruban di pelipis, disisir rapi ke belakang. Tidak ada sopir. Tidak ada mobil sedan hitam di depan warung. Aku melihat taksi berwarna biru baru saja pergi ketika aku memarkir Avanza.
Pergelangan tangan kirinya kosong.
“Duduk,” katanya.
Aku duduk di seberangnya. Bangku kayu berderit.
Bu Tini, perempuan berumur enam puluhan dengan kerudung cokelat dan celemek bermotif bunga, menghampiri meja kami. Ia menatap Om Hendro dengan sedikit bingung, seperti melihat orang yang terlalu rapi untuk warungnya. Lalu ia menatapku, dan wajahnya berubah.
“Lho, Mas,” katanya. “Mas yang dulu tiap Jumat beli bakwan Pak Darto, kan? Yang bawa bekal biru? Yang sekarang masuk berita?”
“Iya, Bu.”
“Ya ampun.” Bu Tini menepuk dadanya. “Pak Darto cerita terus, Mas. Tiap hari. Pakai bahasa isyarat ke saya, saya nggak ngerti, tapi saya tahu dia cerita soal Mas.” Ia tersenyum. “Pesan apa, Mas?”
Aku menatap Om Hendro.
Om Hendro tidak melihat menu yang ditempel di dinding. Ia menatap etalase kaca.
“Nasi putih,” katanya. “Telur ceplok. Satu.”
Bu Tini berkedip. “Telur ceplok aja, Pak? Nggak pakai lauk lain? Ada rendang hari ini, Pak, enak…”
“Telur ceplok. Pinggirnya garing.”
Bu Tini menatap Om Hendro. Lalu menatapku. Lalu mengangguk dan berjalan ke dapur di belakang warung.
Aku tidak berkata apa-apa.
“Kamu?” tanya Om Hendro.
“Sama, Om.”
Kami makan dalam diam.
Nasi putih di piring seng. Telur ceplok dengan pinggiran garing kecokelatan. Bu Tini tahu cara membuatnya. Sambal terasi di cobek kecil di tengah meja. Dua gelas teh tawar hangat.
Om Hendro tidak memakai sendok.
Aku memperhatikannya. Aku selalu memperhatikan. Ia mencuci tangan kanannya di kobokan, mangkuk plastik berisi air dan irisan jeruk nipis yang diletakkan Bu Tini di samping piring. Lalu ia makan dengan tangan. Jari-jarinya membentuk nasi menjadi kepalan kecil, mencuil sedikit telur, mencocolnya ke sambal, dan memasukkannya ke mulut dengan ibu jari. Satu gerakan. Rapi. Cepat. Tidak ada sebutir nasi pun yang jatuh.
Gerakan orang yang sudah melakukannya ribuan kali. Gerakan orang yang dulu makan seperti ini setiap hari.
Bukan gerakan Direktur Utama Kusumadewi Group, yang di meja makan empat meter dua puluh memakai tiga garpu di sebelah kiri dan dua pisau di sebelah kanan.
Aku mencatatnya di kepala.
Bug kecil di dalam sistem yang rapi. Pasti ada ceritanya.
Om Hendro menghabiskan nasi telurnya dalam sembilan menit. Ia mencuci tangannya di kobokan. Ia mengeringkannya dengan serbet kertas. Ia meminum teh tawarnya separuh gelas.
Lalu ia menatapku.
“Kusumadewi Group,” katanya, “membayar konsultan manajemen empat puluh miliar tahun lalu. Untuk merancang transformasi digital.”
Aku meletakkan tanganku di pangkuan.
“Laporannya tiga ratus halaman,” kata Om Hendro. “Saya sudah baca dua kali. Saya nggak puas.” Ia menatapku tanpa berkedip. “Kalau kamu yang merancang. Apa yang kamu lakukan?”
Aku memikirkan pertanyaan itu.
Lima tahun lalu, di meja makan empat meter dua puluh, ia bertanya rencanaku lima tahun ke depan. Aku menjawab dengan jujur, lalu membaca bisnisnya dari map plastik berisi struk belanja. Ia terdiam.
Hari ini, di warung Bu Tini, di bangku kayu tanpa sandaran, ia bertanya hal yang sama. Dengan cara yang berbeda.
“Saya nggak tahu isi laporan konsultannya, Om,” kataku.
“Saya tahu kamu nggak tahu. Saya nanya kamu.”
Aku menatap piring seng di depanku. Sisa sambal terasi. Satu butir nasi yang jatuh di pinggir piring.
“Kusumadewi punya tiga ratus delapan puluh cabang Kusuma Mart di luar Jawa,” kataku. “Tujuh ratus dua puluh di Jawa. Satu koma satu ribu titik fisik. Kebanyakan buka dua puluh empat jam.”
Om Hendro tidak bergerak.
“Konsultan biasanya bilang hal yang sama ke semua ritel,” lanjutku. “Bikin aplikasi belanja. Bikin layanan antar. Bikin dompet digital sendiri. Saingan sama perusahaan teknologi.” Aku mengangkat wajah. “Itu salah.”
“Kenapa salah?”
“Karena Kusumadewi nggak akan menang saingan sama perusahaan teknologi di aplikasi. Mereka lebih cepat, lebih murah, lebih banyak programmer.” Aku diam sebentar. “Tapi perusahaan teknologi nggak punya satu koma satu ribu titik fisik yang buka dua puluh empat jam. Dengan kasir. Dengan listrik. Dengan Wi-Fi. Dengan orang yang bisa dipercaya pegang uang tunai.”
Om Hendro mencondongkan badan sedikit ke depan. Satu senti.
“Kusuma Mart nggak perlu jadi perusahaan teknologi, Om,” kataku. “Kusuma Mart perlu jadi jalan buat perusahaan teknologi. Titik tarik tunai buat tukang dari Tukang.in. Titik isi ulang koin buat pembaca Floo. Titik ambil paket buat toko daring kecil yang nggak bisa bayar gudang. Titik bayar tagihan buat ibu-ibu yang nggak punya rekening bank.” Aku menatapnya. “Setiap transaksi di kasir buat pihak lain, Kusumadewi dapat komisi. Dan setiap orang yang datang ke kasir buat narik uang atau ambil paket, empat belas persen di antaranya belanja sesuatu sebelum keluar. Data dari kerja sama Tukang.in, tiga bulan terakhir, cabang luar Jawa.”
Om Hendro diam.
“Itu bukan transformasi digital,” kataku. “Itu transformasi jalan. Kusumadewi nggak perlu bikin apa-apa yang baru. Kusumadewi cuma perlu buka pintu yang sudah ada.”
Aku berhenti. Aku menyadari aku sudah bicara terlalu banyak. Clara bilang aku tidak boleh menyebutkan data berikutnya ketika orang sedang diam. Om Hendro sedang diam.
“Maaf, Om,” kataku. “Saya terlalu banyak bicara.”
Om Hendro tidak menjawab.
Ia menatapku lama. Matanya tidak bergerak mengumpulkan data. Ia sudah selesai mengumpulkan data. Ia menatapku seperti orang yang sudah selesai membaca laporan tiga ratus halaman dua kali dan baru saja mendengar sesuatu yang tidak ada di halaman mana pun.
“Empat puluh miliar,” katanya pelan.
“Om?”
“Saya bayar empat puluh miliar.” Ia menyesap sisa teh tawarnya. “Untuk tiga ratus halaman yang bilang saya harus bikin aplikasi.”
Ia meletakkan gelas tehnya. Ia menatap piring seng kosong di depannya. Lalu, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, lima tahun lalu di meja makan empat meter dua puluh, sudut bibir Om Hendro bergerak.
Naik. Satu milimeter. Mungkin dua.
Lalu turun lagi.
Om Hendro membayar.
Aku mencoba membayar. Ia mengangkat tangan, satu kali, dan aku berhenti. Ia membayar empat belas ribu untuk dua porsi nasi telur dan dua gelas teh tawar. Bu Tini menolak kembaliannya karena Om Hendro memberi lima puluh ribu. Om Hendro meletakkan kembaliannya di atas etalase kaca dan berjalan keluar sebelum Bu Tini sempat mengembalikannya.
Di luar warung, di samping gerobak gorengan, Pak Darto sedang menggoreng bakwan.
Rambutnya putih semua. Punggungnya lebih bungkuk dari lima tahun lalu. Ponsel Android murah di saku celemeknya. Lizz 10, versi lama. Aku belum sempat memperbaruinya.
Pak Darto melihatku. Wajahnya menyala. Ia meletakkan penjepit gorengan dan melambaikan tangan, lalu menepuk dadanya dua kali dan menunjuk ke arahku, bahasa isyarat yang tidak pernah kupelajari dengan benar tapi selalu kumengerti.
Anak baik. Anak itu baik.
Lalu ia melihat Om Hendro.
Ia menatap Om Hendro lama. Kemeja batik lengan panjang. Rambut beruban disisir rapi. Wajah yang sering muncul di halaman bisnis surat kabar yang dipakai Pak Darto untuk membungkus gorengan.
Om Hendro berhenti di depan gerobak.
“Bakwannya,” katanya. “Dua.”
Pak Darto membaca bibirnya. Ia mengangguk. Ia membungkus dua bakwan dengan kertas koran dan menyodorkannya.
Om Hendro mengeluarkan dompet. Selembar seratus ribu.
Pak Darto menggeleng. Ia mendorong tangan Om Hendro pelan. Bakwannya dua ribu. Ia tidak punya kembalian seratus ribu.
Om Hendro tidak menarik tangannya. Ia meletakkan uang seratus ribu itu di atas gerobak, di samping baskom adonan bakwan. Lalu ia menatap Pak Darto, lurus, supaya Pak Darto bisa membaca bibirnya dengan jelas.
“Terima kasih,” kata Om Hendro. “Sudah jadi pelanggan pertama anak ini.”
Pak Darto menatapnya. Lalu menatapku. Lalu ia tersenyum, senyum dengan dua gigi seri yang tanggal, dan menepuk dadanya dua kali lagi.
Om Hendro mengangguk. Satu kali. Ia berbalik dan berjalan ke tepi jalan.
Aku berdiri di samping gerobak dengan dua bakwan dalam bungkus koran di tanganku. Om Hendro menyerahkannya kepadaku sebelum berjalan.
Pelanggan pertama.
Lima tahun lalu, di Tech Cup, Ucup menjelaskan Pak Darto di layar raksasa. Pengguna pertama Lizz 10. Video Floo di gala menampilkan wajah Pak Darto. Tapi tidak ada yang pernah menyebut Pak Darto pelanggan pertama. Kecuali satu orang.
Clara. Di bab empat novelnya. Bima membeli dua bakwan dari Pak Darto setiap Jumat. Bukan karena lapar. Karena Pak Darto perlu pembeli yang tidak marah-marah. Pak Darto adalah pelanggan pertama Bima, meskipun yang membayar adalah Bima.
Om Hendro membaca novel itu.
Aku menatap punggungnya di tepi jalan. Kemeja batik lengan panjang. Pergelangan tangan kiri yang kosong.
Ia membaca semuanya.
Taksi biru berhenti di depan warung Bu Tini. Om Hendro membuka pintunya. Lalu ia berhenti, dengan satu tangan di pintu taksi, dan menoleh ke arahku.
“Saka.”
“Iya, Om.”
“Kamu masih pakai mobil Avanza itu?”
“Masih, Om.”
“Tahun berapa?”
“Dua ribu empat belas.”
Om Hendro menatap Avanza perak yang terparkir di seberang jalan, di bawah pohon ketapang. Cat kap depan yang kusam. Lampu belakang yang retak sedikit di sudut.
“AC-nya masih nyala?”
“Kadang mati kalau macet lebih dari dua puluh menit.”
Om Hendro mengangguk pelan, seperti orang yang mendengar data yang sudah ia duga.
“Sabtu,” katanya. “Jam lima pagi. Jemput saya di Menteng. Pakai mobil itu.”
“Ke mana, Om?”
Om Hendro menatapku lama. Matanya, di bawah matahari pukul satu siang, di depan warung nasi di gerbang belakang kampus, tidak bisa kubaca. Atau bisa. Aku sudah belajar membaca mata orang-orang di keluarga ini. Clara mengajariku. Tante Ratna mengajariku. Bram mengajariku.
Mata Om Hendro bukan mata auditor. Mata Om Hendro adalah mata seseorang yang sudah lama sekali menyimpan sesuatu di kaleng permen bekas di rak paling atas, dan baru saja memutuskan untuk menurunkannya.
“Solo,” katanya.
Ia masuk ke taksi. Pintu menutup. Taksi biru berjalan dan menghilang di tikungan.
Aku berdiri di depan warung Bu Tini, dengan dua bakwan dalam bungkus koran di tanganku, lama.
Lalu ponselku bergetar. Satu getar. Pesan.
Clara: Gimana?
Clara: Saka?
Clara: Papa bilang apa?
Clara: Kamu nggak bilang nggak apa-apa kan?
Aku mengetik.
Saka: Nggak.
Saka: Papamu makan nasi telur. Pakai tangan. Nggak ada nasi yang jatuh.
Centang dua. Biru. Tiga detik.
Clara: Papa makan pakai tangan??
Clara: Papa nggak pernah makan pakai tangan. Seumur hidupku. Papa pakai garpu buat makan pisang.
Aku menatap pesan itu. Lalu menatap bungkus koran di tanganku. Dua bakwan. Masih hangat.
Saka: Sabtu aku ke Solo.
Saka: Sama papamu.
Centang dua. Biru.
Lalu, lama sekali, tidak ada balasan.
sedang mengetik…
Berhenti.
sedang mengetik…
Berhenti.
Lalu:
Clara: Solo.
Clara: Rumah Nenek.
Aku tidak membalas. Aku tidak perlu.
Pak Darto menepuk lenganku dari belakang. Aku menoleh. Ia menunjuk bungkus koran di tanganku, lalu menunjuk mulutku, lalu menepuk perutnya.
Makan. Masih hangat.
Aku membuka bungkusnya. Aku memakan satu bakwan di depan gerobak Pak Darto, di gerbang belakang kampus, di bawah matahari pukul satu siang.
Bakwan biasa. Dua ribu.
Rasanya seperti lima tahun lalu, setiap Jumat.
Rasanya juga tidak sama sekali.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman reading
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman