Chapter Nineteen
Lima Ratus Juta
POV: Clara
Judul berita itu muncul di layar ponselku pada pagi hari Selasa, di antara notifikasi rapat dan pesan dari vendor:
Floo Catat Omzet Rp500 Juta per Hari di Tahun Kedua, Pendirinya Masih Misterius.
Aku membacanya di lift, dari lantai satu sampai lantai sembilan. Artikelnya pendek. Angka-angka yang membuat dahiku berkerut: dua juta pengguna aktif, empat puluh ribu penulis terdaftar, dua ratus penulis yang penghasilannya di atas lima puluh juta sebulan. Kutipan dari Rosalind Halim, COO, tentang komitmen Floo pada penulis kecil. Satu kalimat di paragraf terakhir:
Hingga kini, kedua pendiri Floo tidak pernah tampil di depan publik. Rosalind hanya mengatakan bahwa salah satu dari mereka “masih makan bekal dari rumah setiap hari, meskipun perusahaannya bernilai ratusan miliar.”
Pintu lift terbuka di lantai sembilan. Aku tidak keluar.
Pintu lift menutup lagi. Lift turun ke lantai satu. Aku masih berdiri di dalamnya, menatap kalimat itu di layar ponsel.
Masih makan bekal dari rumah setiap hari.
Seorang staf keuangan masuk di lantai satu, melihatku, dan langsung berdiri tegak seperti prajurit. “Pagi, Bu Clara.”
“Pagi.”
“Ibu… nggak turun di lantai sembilan tadi?”
“Lupa,” kataku. “Lagi baca.”
Staf keuangan itu menatapku dengan ekspresi seperti melihat kulkas dua pintu tiba-tiba bernyanyi. Ia turun di lantai lima tanpa berkata apa-apa lagi. Di lantai sembilan, aku keluar dari lift, berjalan ke ruanganku, menutup pintu, dan duduk di kursi selama lima menit penuh tanpa membuka laptop.
Banyak orang membawa bekal dari rumah, kataku pada diri sendiri. Ratusan ribu orang di Jakarta membawa bekal dari rumah. Itu hal yang sangat biasa. Hemat. Sehat.
Banyak orang membawa bekal dari rumah.
Dua tahun setelah MT, divisi yang kupimpin di Kusumadewi Retail mencatat pertumbuhan penjualan tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Bukan karena aku jenius. Karena aku belajar membaca struk.
Aku menemukannya di laci meja kerjaku, di minggu pertama sebagai Brand Manager: laporan dari divisi operasional tentang perubahan jadwal pengisian ulang rak sayur di Kusuma Mart cabang stasiun, tiga tahun lalu. Penjualan sayur malam naik dua puluh tiga persen. Di bagian sumber ide, seseorang menulis dengan tulisan tangan: Masukan pelanggan (via Pak Hendro).
Aku membaca laporan itu berkali-kali. Lalu aku mulai melakukan hal yang sama di semua cabang. Aku mengirim staf untuk berdiri di depan rak-rak kosong pada jam-jam aneh. Aku meminta laporan struk, bukan laporan penjualan yang sudah dirangkum. Aku membaca pola. Aku mengubah sistem poin kartu member supaya dihitung per nilai belanja, bukan per transaksi, dan antrean di kasir berkurang setengahnya.
Di rapat direksi, Papa tidak pernah memujiku. Tapi Bram bilang, di rumah, Papa minum anggur lebih sering sekarang.
“Kamu tahu nggak, Clar,” kata Bram suatu malam, di ruang keluarga, sambil mengunyah keripik dan menonton pertandingan bola tanpa suara. “Papa itu kalau bangga sama kamu, dia nggak ngomong. Dia cerita ke orang lain. Kemarin di golf, Om Tanoto bilang Papa ngomongin kamu sembilan belas menit nonstop. Om Tanoto ngitung.”
“Om Tanoto ngitung?”
“Om Tanoto bosen.” Bram tertawa. “Katanya Papa bilang, anak saya bisa baca struk belanja kayak baca novel.”
Aku berhenti mengunyah keripik.
Baca struk belanja. Aku tidak pernah memberi tahu Papa dari mana aku belajar itu. Papa tidak pernah bertanya.
Aku bertanya-tanya apakah Papa tahu. Apakah Papa ingat makan malam itu, empat tahun lalu, di meja empat meter dua puluh, ketika seorang laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru dan sepatu kets abu-abu membaca bisnis Papa dari map plastik berisi struk belanja.
Aku tidak bertanya. Aku tidak sanggup bertanya.
Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh masuk peringkat satu di Floo pada bulan kesepuluh sejak aku memindahkannya.
Lalu tetap di sana. Bulan kesebelas. Kedua belas. Ketiga belas.
Ada artikel tentangnya di portal berita hiburan. Novel Viral ‘Nasi Telur’ Bikin Pembaca Nangis Massal di KRL. Ada video TikTok yang ditonton sembilan juta kali, seorang mahasiswi menangis di kereta terakhir. Ada penerbit besar yang mengirim email ke alamat penulisku, menawarkan kontrak cetak dengan uang muka yang angkanya membuatku tertawa sendiri di kamar tengah malam.
Aku menolak semua tawaran penerbit. Aku belum siap ceritanya keluar dari Floo. Aku tidak tahu kenapa. Rasanya seperti bunga liar yang dicabut dari tempat ia tumbuh.
Penghasilanku di bulan ketiga belas: seratus empat puluh tiga juta rupiah.
Seratus empat puluh tiga juta. Lebih dari gaji Brand Manager-ku setahun.
Aku memindahkan semuanya ke rekening atas namaku sendiri, di bank yang berbeda dengan bank Papa. Aku tidak memakainya. Rekening itu sekarang punya angka yang membuat petugas bank meneleponku untuk menawarkan layanan prioritas. Aku menolak. Aku tidak mau ada yang memperlakukan uang itu dengan istimewa.
Uang itu datang dari ratusan ribu orang yang ingin tahu apa yang terjadi pada Bima dan Laras.
Uang itu datang dari cerita tentang laki-laki yang tidak menoleh.
Ada satu nama yang terus muncul di statistik penulisku.
Floo punya fitur kecil yang sangat Floo: setiap bab menampilkan lencana kecil untuk pembaca yang membuka bab itu pertama kali. Pembaca Pertama. Ada daftar sepuluh pembaca pertama di setiap bab, dengan nama pengguna dan waktu membuka.
Aku tidak pernah memperhatikan daftar itu, sampai suatu malam di bulan kesebelas, ketika aku sedang membaca komentar dan menyadari satu hal yang aneh.
Nama pengguna yang sama ada di urutan pertama. Setiap bab. Sejak bab tiga puluh satu.
s.p.
Dua huruf kecil, dengan titik. Tanpa foto profil. Tanpa biodata. Tanpa satu pun komentar, bintang, atau tanda suka di bab mana pun. Bergabung dengan Floo pada tanggal yang… aku memeriksanya… pada malam yang sama ketika video TikTok mahasiswi di KRL itu viral. Malam ketika, menurut berita, server Floo sempat bermasalah selama beberapa jam.
Dan waktu membukanya selalu sama. Setiap Senin dan Kamis, aku menerbitkan bab baru sekitar pukul sebelas malam. Setiap Senin dan Kamis, s.p. membukanya pukul dua pagi. Bukan pukul dua lewat lima. Bukan pukul satu lima puluh delapan. Pukul dua, dalam rentang satu atau dua menit.
Selama sebelas bulan. Tanpa pernah terlambat sekali pun.
“Mungkin bot,” kata Tasya, ketika aku menunjukkannya di kantin karyawan lantai empat. “Bot yang buka bab otomatis. Buat apa, nggak tahu. Ngumpulin data?”
“Bot nggak bayar koin.”
“Dia bayar?”
“Tiap bab dua puluh lima koin. Dia bayar. Masuk ke penghasilanku.”
Tasya menatap layar ponselku. “Orang yang begadang tiap Senin dan Kamis sampai jam dua cuma buat baca novelmu, terus nggak pernah komentar, nggak pernah kasih bintang, nggak pernah apa-apa.” Ia menyipitkan mata. “Clar. Itu bukan pembaca. Itu penguntit.”
“Penguntit yang bayar dua ribu lima ratus tiap bab?”
“Penguntit yang dermawan.”
Aku tertawa. Tapi malam itu, pukul dua kurang lima menit, aku masih terjaga di kamar, menatap halaman bab yang baru kuterbitkan tiga jam sebelumnya, memperbarui daftar Pembaca Pertama setiap sepuluh detik seperti orang bodoh.
Pukul dua lewat satu menit, nama itu muncul di urutan pertama.
s.p. — 02.01
Aku menatapnya lama.
Siapa kamu?
Aku membuka profilnya. Kosong. Tidak ada apa-apa kecuali dua huruf dan titik, dan daftar bacaan yang hanya berisi satu judul.
Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh.
Hanya satu judul. Dari empat puluh ribu penulis dan ratusan ribu cerita di Floo, akun ini hanya membaca satu cerita. Ceritaku.
Aku menutup aplikasi. Aku mematikan lampu. Aku berbaring dalam gelap, dan aku memikirkan dua huruf kecil itu sampai subuh.
s.p.
Banyak nama yang berinisial S dan P. Ratusan ribu, mungkin. Siti Purnamasari. Santoso Prawiro. Sri Pujiastuti.
Banyak nama.
“Clar,” kata Bram, di ruang keluarga, hari Minggu sore. “Kamu udah baca ini belum?”
Ia mengangkat ponselnya. Di layar, aplikasi Floo. Bab tujuh puluh dua. Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh.
Aku tersedak teh.
“Kenapa?” tanya Bram. “Kamu tahu novel ini?”
“Semua orang tahu,” kataku, sambil mengelap teh dari daguku. “Lagi viral.”
“Gila, ya. Aku nggak pernah baca novel cinta. Klienku yang nyuruh, katanya buat riset tren. Terus aku baca. Terus aku nggak bisa berhenti, Clar. Aku baca sampai jam tiga pagi. Aku nangis di bab telur gosong.” Bram mengusap matanya dengan dramatis. “Itu cuma telur. Kenapa aku nangis gara-gara telur.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak sanggup menjawab.
Bram menggulir layar ponselnya. Lalu ia berhenti. Lalu ia mengerutkan dahi.
“Tapi aneh, ya,” katanya pelan. “Si Bima ini. Anak IT. Yatim piatu. Punya adik kembar. Jualan ikon ke luar negeri. Benerin aplikasi di panggung lomba.” Ia menoleh ke arahku. “Clar, ini kok mirip…”
“Semua anak IT mirip,” kataku cepat.
“Hah?”
“Kamu sendiri yang bilang. Dulu. Anak IT itu spesies lain. Mereka cuma jatuh cinta sama kopi gratis dan Wi-Fi kencang. Semua anak IT mirip, Kak.”
Bram menatapku. Lama. Matanya menyipit, seperti Papa ketika membaca laporan yang angkanya tidak cocok.
Lalu ia mengangkat bahu dan kembali ke ponselnya. “Iya, juga sih. Semua anak IT pakai kemeja kotak-kotak. Mungkin pabriknya sama.”
Aku menghembuskan napas yang tidak sadar kutahan.
“Tapi Clar,” kata Bram, tanpa mengangkat wajah dari ponsel. “Kalau suatu hari kamu ketemu penulisnya, bilangin ke dia, ya.”
“Bilangin apa?”
“Bilangin Bima jangan dibikin sedih terus.” Bram menggulir layar. “Kasihan. Dia udah makan telur gosong. Dia udah benerin bangku pakai sandal jepit. Dia udah nyebut nama si Laras biar HP-nya getar.” Suaranya mengecil. “Orang kayak gitu nggak pantes ditinggalin.”
Aku berdiri dari sofa, berjalan ke dapur, dan menangis di depan kulkas dua pintu yang sungguhan sampai Mama datang dan bertanya kenapa aku membuka kulkas lama sekali.
“Cari puding,” kataku.
“Pudingnya di rak bawah, Nak.”
“Iya. Aku nggak lihat.”
Mama tidak bertanya lagi. Mama mengambil puding dari rak bawah, meletakkannya di tanganku, dan mengusap punggungku dua kali sebelum kembali ke ruang keluarga.
Aku menulis bab terakhir pada malam Kamis di bulan keempat belas.
Bab delapan puluh empat. Judulnya: Aku yang Pergi.
Di bab itu, Laras berdiri di halaman wisuda dengan buket mawar putih yang dibungkus kain organza. Di seberang halaman, Bima berdiri dengan buket sedap malam yang dibungkus kertas koran dan rafia merah, bersama adik-adiknya dan delapan orang lainnya. Mereka saling menatap. Satu detik. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Laras tersenyum ke kamera fotografer profesional. Senyum yang tidak sampai ke mata.
Tidak ada foto berdua.
Di paragraf terakhir, Laras menulis di catatan ponselnya, di bawah semua hal kecil yang ia kumpulkan tentang Bima selama berbulan-bulan:
Dia nggak ninggalin aku. Dia cuma kasih aku jalan pulang karena aku yang minta.
Aku yang pergi.
Aku yang nggak bisa bilang tiga kata itu.
Dan sekarang aku harus hidup dengan tahu bahwa satu-satunya orang yang pernah lihat aku tanpa lihat apa-apa, aku tinggalin di bawah pohon flamboyan, dengan kotak bekal retak dari ibunya, dan laptop yang terbuka tanpa diketik apa-apa.
TAMAT.
Aku menekan tombol Terbitkan pukul sebelas lewat empat belas menit.
Lalu aku menutup laptop, berbaring di lantai kamar, di atas karpet, dan menatap langit-langit sampai pukul dua.
Pukul dua kurang satu menit, aku membuka ponsel.
Pukul dua lewat nol menit, aku memperbarui daftar Pembaca Pertama.
Pukul dua lewat satu menit.
s.p. — 02.01
Aku menatap dua huruf kecil itu. Aku menunggu. Aku menunggu komentar, satu kata, satu bintang, satu tanda suka, apa saja. Sebelas bulan ia membaca tanpa berkata apa-apa. Mungkin, di bab terakhir, mungkin…
Pukul dua lewat lima belas. Tidak ada komentar.
Pukul dua lewat tiga puluh. Tidak ada.
Pukul tiga. Kolom komentar sudah dipenuhi ratusan pembaca lain. KENAPA ENDINGNYA BEGINI. KAK SUDUT TAMAN TEGA. AKU NGGAK TERIMA. SEASON 2 PLIS. BIMA PANTES BAHAGIA.
Tidak ada satu pun dari s.p.
Aku mematikan ponsel dan menangis. Bukan untuk Laras. Bukan untuk Bima. Untuk dua huruf kecil yang membaca semua yang kutulis selama sebelas bulan, pukul dua pagi, setiap Senin dan Kamis, tanpa pernah sekali pun berkata apa-apa.
Seperti seseorang yang duduk lima meter dariku, dulu, di bawah pohon flamboyan.
Seperti seseorang yang tidak pernah menoleh, tapi tahu.
Seminggu kemudian, Papa memanggilku ke ruang kerjanya.
Bukan map biru. Bukan map putih. Sebuah undangan dengan kertas tebal berwarna krem dan tinta emas.
Indonesia Digital Economy Gala.
Malam Penghargaan Industri Digital Nasional.
Kusumadewi Group — Sponsor Utama.
“Bulan depan,” kata Papa. “Kita sponsor utama. Kamu wakili divisi Retail. Duduk di meja sponsor bersama Papa dan Mama.”
Aku membaca undangan itu. Daftar kategori penghargaan di halaman kedua. Startup of the Year. Most Impactful Digital Platform. Digital Inclusion Award. Daftar nominasi di halaman ketiga.
Aku berhenti di satu nama.
Startup of the Year — Nominasi: Floo.
“Kenapa?” tanya Papa. Ia memperhatikan wajahku. Auditor.
“Nggak apa-apa, Pa,” kataku. “Floo. Aplikasi baca-tulis itu. Lagi ramai.”
“Pendirinya katanya akan datang,” kata Papa. “Pertama kali tampil di depan publik. Panitia sudah konfirmasi, kalau Floo menang, pendirinya yang naik panggung.”
Aku menatap undangan itu.
Banyak orang membawa bekal dari rumah, kataku pada diri sendiri.
Banyak nama yang berinisial S dan P.
Semua bunga lima kelopak mirip.
“Iya, Pa,” kataku. “Aku datang.”
Aku keluar dari ruang kerja dengan undangan krem di tangan. Di lorong lantai dua, di depan pintu kayu jati, aku berdiri lama. Lalu aku membuka ponsel, membuka aplikasi Floo, dan menatap logonya.
Bunga lima kelopak. Oranye kemerahan. Satu garis tipis di kelopak kiri bawah.
Aku memperbesar logonya dengan dua jari, sebesar-besarnya, sampai pikselnya terlihat.
Garis itu bisa bayangan. Bisa goresan. Bisa kesalahan desainer yang terburu-buru. Bisa apa saja.
Jepit Nenek juga punya goresan di salah satu kelopaknya, waktu aku berumur dua belas dan menjatuhkannya di tangga sekolah. Aku tidak ingat kelopak yang mana. Sudah bertahun-tahun aku tidak melihatnya. Ingatanku tentang jepit itu sudah mulai kabur di pinggir-pinggirnya, seperti foto lama.
Aku menatap layar sampai pikselnya kabur oleh air mata. Lalu aku mematikan ponsel, menyandarkan punggung ke pintu kayu jati yang dulu tidak pernah berani kuketuk, dan berbisik ke lorong yang kosong:
“Kamu bodoh, Clara. Semua bunga lima kelopak mirip.”
Lorong itu tidak menjawab.
Gala-nya bulan depan.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta reading
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman