← Pria yang Ia Pilih

Chapter Forty Six

Pria yang Ia Pilih

POV: Saka

Alarm ponselku berbunyi pukul 04.15, dan aku sudah bangun sejak 04.10.

Lima menit itu milikku. Tiga tahun setelah malam di vila kayu di lereng bukit di Puncak, lima menit itu masih milikku. Bedanya, sekarang aku tidak memakainya untuk menyusun hari seperti menyusun baris kode.

Aku memakainya untuk menatap perempuan yang tidur di sebelahku.

Rambut hitam bergelombang tersebar di bantal. Bekas gigitan di bibir bawah, bagian tengah agak kiri, yang sudah hampir hilang karena kebiasaan itu sekarang hanya muncul seminggu sekali. Cincin bunga lima kelopak di jari manis kirinya, di atas selimut, berkilat samar di cahaya subuh yang menembus tirai.

Di meja kecil di sisinya, jepit bunga liar. Ia melepasnya setiap malam sebelum tidur dan meletakkannya di tempat yang sama. Setiap pagi, aku yang memasangkannya kembali. Pengaitnya setengah milimeter lebih kencang.

Pukul 04.15, aku mematikan alarm sebelum bunyinya membangunkannya, lalu bangkit.


Dapur rumah di Sentul sekarang dapur sungguhan.

Bukan ujung lorong. Bukan meja kayu yang kakinya diganjal sandal jepit. Dapur dengan kompor empat tungku, kulkas dua pintu yang Clara sebut rekan kerja lamaku, dan jendela besar yang menghadap ke pohon mangga.

Tapi di sudut dapur, di samping kompor empat tungku, masih ada meja kayu kecil. Meja dari kontrakan dua petak dekat stasiun. Kaki kirinya masih diganjal sandal jepit. Bukan sandal jepit Bapak. Sandal jepit itu sudah hancur dua tahun lalu. Sandal jepitku sendiri, yang talinya putus.

Di atas meja kayu kecil itu, rice cooker. Bukan panci.

Clara yang membelinya. Hadiah ulang tahun pernikahan pertama kami. Tiga ratus ribu, katanya, menyodorkan kardus besar dengan pita merah di atasnya. Satu bulan uang jajan Kanya dan Kinan, dulu. Sekarang mereka udah nggak butuh uang jajan. Jadi kamu nggak punya alasan lagi.

Aku tidak punya alasan lagi.

Empat butir telur. Minyak secukupnya. Api sedang.

Empat kotak bekal di atas meja makan. Satu biru muda, delapan ribu rupiah, pasar dekat stasiun, milik Clara. Satu hijau, milik Kinan. Satu oranye, milik Kanya, dengan stiker logo panci bermata yang sudah memudar.

Dan satu biru. Plastik baru, tanpa retakan.

Kotak bekal biru yang lama, dengan retakan panjang di sudut tutupnya seperti petir yang membeku, tidak di sini lagi.


Floo Tower berdiri di Mega Kuningan sejak delapan bulan lalu.

Dua puluh lima lantai. Kaca dan beton. Di puncaknya, logo bunga lima kelopak berwarna oranye kemerahan, warna flamboyan di bulan Januari, yang menyala setiap malam dan bisa dilihat dari jalan tol dalam kota. Dengan satu garis tipis di kelopak kiri bawah, karena aku menolak dua puluh delapan kali ketika Dimas, yang sekarang Kepala Desain, meminta menghapusnya untuk versi papan nama gedung.

Aku yang memilih jumlah lantainya. Lantai dua puluh enam ke atas lebih mahal empat belas persen per meter persegi.

Aku jarang ke sana sekarang. Bu Rosa CEO. Ucup CTO Floo dan CEO Tukang.in. Pak Budiman masih membawa martabak ke setiap rapat dan masih bilang ini bukan suap. Aku komisaris. Sebulan sekali aku datang, membaca laporan, dan pulang sebelum makan siang.

Uang yang masuk ke rekeningku setiap bulan, rekening yang sama tempat dulu masuk tujuh dolar untuk dua puluh ikon cuaca, punya terlalu banyak nol. Satu tahun pertama aku tidak tahu harus berbuat apa dengannya.

Lalu Clara bilang, di bangku beton di bawah pohon mangga, sambil makan nasi telur: Uang yang ditabung itu waktu yang dibeli. Kamu sendiri yang bilang. Jadi beli waktu buat orang lain.

Sejak itu ada beasiswa kuliah untuk anak yatim piatu yang menghidupi adik-adiknya. Empat ratus dua puluh anak. Tidak ada syarat IPK. Tidak ada syarat apa pun selain surat kematian orang tua dan foto adik-adik mereka.

Kanya yang menamainya. Beasiswa Telur Tiga.

Aku tidak protes.


Lobi Floo Tower punya dua hal yang tidak ada di lobi gedung mana pun di Mega Kuningan.

Yang pertama, di dinding utama, di belakang meja resepsionis, huruf-huruf kuningan besar setinggi satu meter, dipasang di atas marmer putih:

PENGGUNA PERTAMA YANG BAYAR: KANYA PRADANA

Kanya menangis empat puluh menit di hari peresmian gedung, masih dengan celemek hitam KANYA WEDDING & CATERING dari acara klien. Lalu ia menoleh ke kembarannya.

“Kinan,” bisiknya. “Kinan. Gede. Di lobi.”

Kinan, dengan jas putih bertuliskan drg. Kinan Pradana yang baru ia dapat tiga bulan sebelumnya, menatap huruf-huruf itu dengan wajah datar.

“Itu kuningan,” katanya. “Bukan kertas karton.”

“Visi, Kinan!”

“Iya.” Kinan menatap huruf-huruf itu lama. Lalu, pelan, sudut bibirnya naik. “Visi.”

Yang kedua, di sudut lobi, di dekat jendela besar yang menghadap ke jalan, kotak kaca setinggi pinggang di atas alas marmer.

Di dalamnya, kotak bekal biru. Plastik. Delapan ribu rupiah, pasar pagi, lebih dari empat belas tahun lalu. Tutupnya retak panjang di sudut, dari satu sisi ke sisi lain, seperti petir kecil yang membeku di plastik biru.

Di bawahnya, plat logam kecil seukuran kartu nama. Tulisannya diukir, kecil, rapi, sedikit miring ke kanan.

Ibu beli kotak ini di pasar pagi. Delapan ribu. Retak. Masih bisa dipakai.

Aku tidak pernah berdiri di depan kotak kaca itu lebih dari tiga detik. Tapi setiap kali lewat, aku menyentuh kacanya. Di atas retakan. Dengan ujung jari.

Seperti mengukur.


Klinik gigi Kinan ada di ruko dua lantai di jalan utama Sentul. Papan namanya putih dengan huruf hijau, warna kotak bekal SD-nya dulu.

Pasien pertamanya Papa. Ia datang pukul tujuh pagi, sebelum klinik buka, dan duduk di kursi plastik di depan pintu ruko dengan sepatu kets abu-abu dan arloji tiga puluh lima ribu.

“Om pasien pertama,” katanya, ketika Kinan datang membuka pintu. “Om bayar. Itu bukan pertanyaan.”

Kinan menatapnya lama. Lalu ia membuka pintu. “Silakan, Pak Hendro. Kursi nomor satu.”

Kinan mencatat semuanya di buku kecil bertuliskan Rekam Medis Pasien Bandel Vol. 4.

Pasien keduanya Pak Darto. Dua gigi seri atas yang sudah bertahun-tahun tanggal, sekarang utuh. Gratis. Pak Darto menatap cermin, menepuk dadanya dua kali, dan menunjuk Kinan.

Kinan mencatat itu juga.


Hari Sabtu, kami menyetir ke Purwokerto.

Avanza perak tahun 2014. Masih. AC-nya sudah diperbaiki. Papa yang membayar, sebagai hadiah ulang tahunku yang kedua puluh sembilan. Anak saya nggak boleh kepanasan di jalan tol. Itu bukan pertanyaan.

Di belakang kami, sepanjang tol Trans Jawa, sebuah truk boks putih menempel di lajur kiri. Di pintunya, huruf merah besar: KAK SAKA 1. Kanya menyetir. Kinan di sebelahnya, dengan termos teh dan rute yang sudah ia cetak, meskipun ada GPS.

Aku yang minta mereka ikut. Tiga hari lalu, di meja makan. Kanya menjatuhkan sendoknya. Kinan tidak menjatuhkan apa-apa. Ia hanya bertanya, Jam berapa berangkat?, dan malam itu aku mendengarnya menangis di kamar mandi dengan keran yang dibuka penuh.

Tol pukul lima pagi kosong. Aku menyetir delapan puluh kilo per jam. Clara di kursi penumpang, dengan kaki di atas dasbor dan laptop di pangkuan, mengetik bab terakhir novel ketiganya.

Setiap kali jarak kami lebih dari seratus meter, Kanya membunyikan klakson. Dua pendek, satu panjang.

Pria yang Ia Pilih tamat tahun lalu. Empat puluh enam bab dan satu epilog. Hak adaptasinya dibeli rumah produksi, dengan klausul yang Bu Rosa pastikan ada di setiap kontrak Floo: penulis wajib dilibatkan dalam penulisan naskah.

“Bab terakhir tentang apa?” tanyaku, di Cirebon.

“Rahasia.”

“Aku pembaca pertama.”

“Nanti. Jam dua.” Clara menutup laptopnya. “Penulis harus dibayar.”

“Aku selalu bayar.”

“Aku tahu.” Ia tersenyum. “Itu sebabnya aku masih nulis.”


Makam Bapak dan Ibu ada di pemakaman umum desa, di bukit kecil di pinggiran Purwokerto.

Dua nisan berdampingan. Batu sederhana, dicat putih, nama dan tanggal yang ditulis dengan cat hitam. Rumput yang dipotong pendek. Pohon kamboja tua di sudut, dengan bunga putih yang berguguran di atas tanah merah.

Empat belas tahun lalu, aku berdiri di sini dengan dua anak berseragam putih merah di kiri dan kananku. Tangan mereka di tanganku. Orang-orang bilang kami harus dipisah. Aku bilang tidak.

Aku tidak kembali ke sini sejak itu.

Bukan karena tidak mau. Karena tidak ada waktu. Empat belas tahun, setiap jam sudah ada pemiliknya. Kanya dan Kinan. Dua toko di marketplace luar negeri. Lizz 10. Sembilan kuburan. Floo. Server yang tenggelam. Flash sale. Tukang.in. Clara.

Aku selalu bilang nanti.

Hari ini, aku tidak bilang nanti.

Truk boks putih berhenti di belakang Avanza, di jalan tanah di kaki bukit. Kanya turun lebih dulu. Ia berjalan setengah lari, lalu berhenti di gerbang pemakaman, lalu berjalan pelan sekali, seperti orang yang takut membangunkan seseorang. Kinan di belakangnya, membawa ember kecil berisi air dan dua kain lap. Satu untuk tiap nisan. Ia sudah memikirkannya sejak Sentul.

Clara berjongkok di depan nisan Ibu. Ia membersihkan daun kering dari atasnya dengan tangan. Ia meletakkan bunga yang kami beli di pasar Purwokerto. Bukan mawar. Bukan melati. Bunga kamboja putih, yang dijual murah di depan pemakaman, karena kata penjualnya, bunga kamboja itu bunga yang paling setia, Mbak, tumbuh di kuburan, nemenin yang udah pergi.

Kinan mengelap nisan Bapak. Pelan, dari atas ke bawah, lalu huruf demi huruf, dengan ujung kain yang dilipat kecil. Kanya berdiri di belakangnya dan tidak bergerak.

Aku berdiri di depan nisan Bapak.

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Kepalaku, yang biasanya penuh, kosong. Tidak ada baris pertama. Tidak ada urutan. Seperti layar editor yang baru dibuka, kursornya berkedip, dan aku tidak tahu bahasa apa yang dipakai di sini.

Aku mengeluarkan sesuatu dari tas. Kotak bekal. Plastik biru, yang baru, tanpa retakan.

Aku membukanya. Klik.

Nasi putih. Telur ceplok dengan pinggiran garing kecokelatan. Aku memasaknya tadi pagi, pukul empat lewat lima belas, di dapur Sentul, di atas kompor empat tungku. Satu porsi. Dua ribu tiga ratus rupiah, dulu. Sekarang telur tiga puluh delapan ribu sekilo. Aku sudah memperbarui spreadsheet.

Aku meletakkan kotak bekal itu di antara dua nisan. Terbuka.

Lalu aku berjongkok.

“Pak,” kataku. “Bu.”

Angin bertiup. Bunga kamboja gugur dari pohon tua di sudut pemakaman. Satu mendarat di atas kotak bekal biru. Di dekat telur ceplok.

Aku tidak menyingkirkannya.

“Kanya sekarang punya wedding organizer,” kataku. “Seratus dua puluh karyawan. Empat ratus pernikahan.”

“Empat ratus tujuh belas,” kata Kinan, tanpa berhenti mengelap.

“Empat ratus tujuh belas. Truknya tujuh. Semua dinamain Kak Saka.” Aku diam sebentar. “Kinan dokter gigi. Punya klinik sendiri. Pasien pertamanya mertua saya.”

“Gerahamnya bandel,” kata Kinan. Suaranya datar. Kainnya berhenti di huruf terakhir nama Bapak, dan tidak bergerak lagi.

Clara, di sebelahku, menyentuh bahuku. Pelan.

“Saya nikah, Pak, Bu,” kataku. “Namanya Clara. Dia numpahin kopi gula aren ke sepatu saya. Yang delapan puluh sembilan ribu, dari pasar. Bu ingat sepatu itu. Bu yang bilang jangan beli yang mahal, nanti sayang dipakai.” Suaraku mulai bergetar. Aku tidak menekannya. “Saya pakai sampai sobek. Saya jahit pakai benang nilon dari kotak perkakas Bapak. Tiga lapis.”

Aku menatap dua nisan itu.

“Mertua saya dulu juga diketawain gara-gara sepatu jahitan kayak gitu,” kataku. “Saya juga. Tapi perempuan yang numpahin kopi ke sepatu saya nggak ikut ketawa. Dia minta maaf ke sepatunya.”

Angin. Bunga kamboja. Tanah merah.

“Saya nggak pernah bilang apa-apa ke Bapak sama Ibu,” kataku. “Empat belas tahun. Saya selalu bilang nanti. Saya pikir kalau saya ke sini, saya harus bawa sesuatu. Sesuatu yang cukup. Sesuatu yang bikin Bapak sama Ibu nggak khawatir lagi.”

Air mataku jatuh. Satu. Ke tanah merah di depan nisan Ibu.

“Saya udah sampai, Pak,” kataku. “Bu. Saya udah sampai.”


Di belakangku, Kanya menangis.

Keras. Seperti sirene, seperti di setiap pernikahan yang ia urus dan di setiap hal yang ia pura-pura tidak pedulikan. Lalu, tiba-tiba, diam. Diam yang belum pernah kudengar dari Kanya. Hanya napas yang tersendat-sendat, dan rumput yang bergerak ketika ia berlutut di sebelah kiriku.

Kinan meletakkan kain lapnya di tepi ember. Rapi. Terlipat dua. Lalu ia berlutut di sebelah kananku.

Dua tangan mengambil tanganku. Satu di kiri. Satu di kanan.

Empat belas tahun lalu, di tanah merah yang sama, aku yang memegang tangan mereka. Tangan kecil, lengket, dingin, di ujung lengan seragam putih merah. Aku memegangnya erat sekali karena orang-orang dewasa di sekeliling kami sedang membicarakan siapa yang akan membawa siapa.

Sekarang tangan itu yang memegangku. Tangan Kanya kasar di telapak, bekas mengangkat panci dan tenda. Tangan Kinan dingin dan bersih, bau sabun klinik.

Clara di belakangku. Telapak tangannya di punggungku, di antara dua tulang belikat, tidak menekan. Hanya ada.

Kami berlutut di sana lama. Aku tidak menghitung.

Lalu Kanya melepas tanganku untuk mengusap hidungnya dengan lengan kemeja, dan aku mengeluarkan ponsel. Aplikasi catatan. Satu catatan tanpa judul yang kubuat empat belas tahun lalu, sehari setelah berdiri di tempat ini dengan dua anak berseragam putih merah.

Baris pertama: Mereka sama saya.

Baris kedua, ditulis sembilan tahun lalu, setelah wisuda, setelah bangku beton: Sudah benar.

Aku menatap dua baris itu lama.

Lalu aku menghapus baris kedua.

Clara melihatnya. Ia tidak bertanya. Kinan, dari sebelah kananku, membaca layar itu juga. Ia tidak bertanya. Ia hanya meremas tanganku satu kali, singkat, seperti dokter yang memeriksa denyut.

Aku mengetik baris baru. Di bawah baris pertama.

Sudah sampai.

Aku menyimpan catatan itu. Aku memasukkan ponsel ke saku.

Lalu aku menutup kotak bekal biru di antara dua nisan. Klik. Bunga kamboja yang mendarat di atasnya tadi, aku memungutnya, dan menyelipkannya di rambut Clara. Di sisi kanan. Di seberang jepit bunga liar.

Clara menatapku. Matanya basah.

“Bapak sama Ibu,” katanya pelan, ke dua nisan di depan kami, “makasih. Udah ngajarin dia masak telur.”

Bunga kamboja gugur lagi dari pohon tua di sudut. Dua. Tiga.

Aku tidak menghitung.


Malam itu, di Sentul, di bangku beton di bawah pohon mangga, Clara menyandarkan kepalanya di bahuku.

Pukul sebelas. Lampu-lampu kecil di dahan pohon mangga, yang dulu dipasang Kanya untuk resepsi dan tidak pernah dicopot, berkelip. Di dalam rumah, Kanya sedang menelepon klien, suaranya terdengar sampai ke taman. Pak, kalau Bapak telat bayar DP lagi, saya blokir nomor Bapak. Saya serius. Saya pernah blokir kakak saya sendiri. Kinan sedang membaca jurnal kedokteran gigi di sofa ruang tamu, dengan kacamata berbingkai tipis dan wajah datar.

“Saka,” kata Clara.

“Hm.”

“Kamu inget, lima tahun… bukan. Sembilan tahun lalu. Di bangku beton. Waktu kamu bilang pulang, Clara.”

“Inget.”

“Ada tiga kata di tenggorokanku. Waktu itu.”

“Aku tahu.”

“Aku udah bilang di depan empat ratus orang.” Ia mengangkat kepala dari bahuku dan menatapku. “Tapi aku belum pernah bilang di bangku beton.”

Aku menatapnya.

Barang yang tidak cocok. Bug kecil di dalam sistem yang rapi.

Perempuan yang sepuluh tahun lalu menumpahkan kopi gula aren ke sepatu delapan puluh sembilan ribu, yang menjatuhkan pulpen dengan sengaja, yang menelepon ibunya soal croissant pistachio dengan suara pembawa berita. Yang pindah duduk lima meter dari bangku kayu ke bangku beton dan bilang kamu satu-satunya yang nggak lihat aku kayak barang pajangan. Yang memakan setengah telurku dan menangis. Yang memasak telur gosong dan aku memakannya habis. Yang bilang aku nggak bisa, dan pulang, dan menulis delapan puluh enam bab tentang aku, dan kembali dengan presentasi dua belas slide dengan font undangan sunatan.

Yang memilihku.

Di depan empat ratus orang. Di depan ayahnya. Di depan seluruh Indonesia.

“Aku pilih kamu,” kata Clara.

Pelan. Di bangku beton. Di bawah pohon mangga. Tidak di depan siapa pun.

Hanya aku.

Aku menatapnya. Sudut bibirku naik. Aku tidak menghitung berapa milimeter.

Aku sudah belajar meminta. Di bangku beton, waktu ia bilang aku tidak berhak memilih untuknya. Di lantai ubin di Solo, di depan mesin jahit. Aku sudah bilang aku mau dia. Aku sudah bilang pulang ke aku.

Tapi meminta bukan memilih. Sembilan tahun aku menunggu dipilih, dan tidak pernah sekali pun mengucapkan kalimat itu sendiri. Seolah-olah kalimat itu milik orang yang punya hak lebih dulu.

Clara yang selalu mengucapkannya duluan.

“Aku juga pilih kamu,” kataku.

Clara berhenti bernapas.

Ia menatapku lama. Matanya basah. Lalu ia tertawa. Pelan. Basah. Seperti hari Senin pagi di bangku kayu, sepuluh tahun lalu, ketika ia menemukan sandal jepit di kaki bangku.

“Kamu nggak pernah bilang itu,” bisiknya.

“Aku tahu.”

“Sembilan tahun.”

“Aku tahu.”

“Kenapa sekarang?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

“Karena kalimat terakhirnya,” kataku, “harus bener.”

Clara menatapku. Lalu ia menyandarkan kepalanya lagi di bahuku. Di bawah pohon mangga. Di bangku beton yang bentuknya sama dengan bangku beton di bawah flamboyan, di taman FMIPA, di kampus tempat semuanya dimulai.

Kami diam. Lampu-lampu kecil berkelip. Seekor cicak berbunyi dari dinding dapur, tiga kali, lalu berhenti, seperti tahu diri.

Di dalam rumah, suara Kanya di telepon sudah lama berhenti.

Lalu jendela ruang tamu terbuka dengan bunyi keras, dan Kanya berteriak, KINAN, KAK SAKA BILANG AKU JUGA PILIH KAMU, AKU DENGER DARI JENDELA. Kinan menjawab dengan datar, Aku juga dengar. Volume suaramu enam puluh delapan desibel. Seluruh Sentul dengar.

Clara tertawa ke bahuku.

Aku tidak menoleh ke jendela. Aku menatap pohon mangga, dan lampu-lampu kecil yang berkelip di dahannya, dan langit Sentul di atasnya.

Aku tidak menghitung bintang.

Aku sudah tidak perlu menghitung apa-apa lagi.