Chapter Thirteen
Wisuda Tanpa Foto Berdua
POV: Saka
Kanya membeli bunga untuk wisudaku di pasar bunga Rawa Belong, pukul lima pagi, dengan uang jajannya sendiri.
Aku tahu karena aku melihatnya pulang membawa buket sedap malam sebesar tong sampah, dibungkus kertas koran dan plastik bening, diikat dengan rafia merah. Tingginya hampir sama dengan Kinan.
“Lima belas ribu,” katanya bangga, meletakkannya di atas tikar. “Tawar dari empat puluh. Kak, aku jago.”
“Itu bunga buat orang meninggal,” kata Kinan.
“Nggak! Ini sedap malam! Wangi!”
“Sedap malam biasanya buat karangan bunga duka. Dan buat sesajen.”
Kanya menatap buket itu. Lalu menatapku. Lalu menatap Kinan dengan tatapan yang bisa membuat susu basi. “Kinan. Kamu bisa nggak sekali aja dalam hidupmu nggak ngomong fakta?”
“Nggak bisa. Itu nggak sehat secara psikologis.”
Aku mengambil buket itu. Berat. Wanginya memenuhi kontrakan dua petak dalam hitungan detik, manis dan pekat, seperti malam yang terlalu panjang.
“Bagus,” kataku. “Wangi.”
Kanya menatapku dengan curiga. “Kakak beneran suka?”
“Beneran.”
“Kakak nggak cuma bilang bagus biar aku nggak ngambek?”
“Kakak nggak pernah bilang bagus buat sesuatu yang nggak bagus.”
Itu benar. Dan Kanya tahu itu benar. Wajahnya pelan-pelan melunak, dan ia memeluk pinggangku dari samping, sebentar, seperti dulu waktu ia masih kelas tiga SD dan takut petir.
Sudah tiga minggu Kanya memelukku lebih sering. Sejak malam itu.
Toga yang kusewa dari koperasi kampus terlalu panjang. Ujungnya menyapu lantai aula dan membuatku harus berjalan dengan langkah pendek-pendek seperti pengantin. Ucup, yang toganya terlalu pendek sampai memperlihatkan kaus kaki motif dinosaurus, bilang kami seperti iklan sebelum dan sesudah diet.
Ibunya Ucup menangis sejak di parkiran. Ucup menangis lebih keras dari ibunya. Mereka berpelukan di depan pintu aula sambil menangis berdua, dan orang-orang yang lewat memberi jalan dengan wajah khawatir, seperti melihat keluarga yang baru mendengar kabar duka.
“Cup,” kataku. “Ini wisuda.”
“Aku tahu!” isak Ucup. “Aku tahu ini wisuda! Itu sebabnya aku nangis! Aku nggak nyangka aku lulus, Ka! Semester tiga aku hampir DO karena Kalkulus! Ibu udah siapin warung buat aku kalau DO!”
“Warungnya udah dibeli,” isak ibunya. “Udah ada etalasenya.”
“Bu, jual!”
“Nggak bisa! Udah dicat!”
Pak Darto dan Bu Darto datang dengan membawa dua kantong gorengan, lagi, yang lagi-lagi tidak mau dibayar. Pak Budiman datang dengan kemeja batik baru dan, tentu saja, sekotak martabak manis. Ia menepuk bahuku empat kali, lalu berkata, “Ini bukan suap. Saya cuma suka martabak.”
Kanya dan Kinan duduk di tribun keluarga, di barisan atas, dengan buket sedap malam yang menghalangi pandangan tiga orang di belakang mereka.
Aku duduk di barisan wisudawan Fakultas MIPA, di antara Ucup yang masih sesenggukan dan seorang mahasiswi Kimia yang sibuk merapikan eyeliner di cermin kecil.
Aula itu besar. Lebih besar dari aula Tech Cup. Tiga ribu wisudawan dari sebelas fakultas, ditambah keluarga mereka. Di sisi kanan aula, barisan wisudawan FEB, toga hitam dengan kerah kuning.
Aku tidak mencarinya.
Aku tidak perlu mencarinya. Mataku memang begitu: menangkap satu hal yang tidak cocok di antara ribuan hal yang cocok. Satu bug di antara seribu baris kode.
Barisan ketujuh dari depan, kursi keempat dari lorong tengah. Rambut hitam bergelombang yang disanggul di bawah topi toga. Tanpa jepit.
Aku tidak menatapnya. Aku menatap panggung.
Tapi aku tahu di mana ia duduk, sepanjang acara, seperti aku tahu letak empat lubang di gang kontrakan dalam gelap.
“Lulusan terbaik Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,” kata pembawa acara, “dengan Indeks Prestasi Kumulatif tiga koma sembilan puluh enam, sekaligus Runner-Up Nusantara Tech Cup, Kategori Teknologi untuk Inklusi Sosial…”
Ucup berhenti menangis dan menatapku. Ia tidak tahu. Aku juga tidak tahu sampai dua hari lalu, ketika bagian akademik meneleponku dan memintaku datang setengah jam lebih awal untuk gladi.
“… Saka Pradana, program studi Ilmu Komputer.”
Aku berdiri. Toga yang terlalu panjang menyapu lantai. Aku berjalan ke panggung dengan langkah pendek-pendek.
Dari tribun keluarga, terdengar teriakan yang membuat seluruh aula menoleh.
“KAKAAAAK!”
Kanya, berdiri di atas kursi, mengangkat buket sedap malam tinggi-tinggi seperti piala. Kinan di sebelahnya, juga berdiri, juga berteriak. Kinan, yang menurut Kanya tidak pernah berteriak seumur hidupnya, berteriak untuk kedua kalinya dalam enam bulan.
“KAK SAKA! KAK SAKA LULUSAN TERBAIK!”
Pak Darto, yang tidak bisa mendengar teriakan itu tapi bisa melihat Kanya dan Kinan, ikut berdiri dan mengacungkan dua jempol. Bu Darto bertepuk tangan. Pak Budiman melepas kacamata dan memijat pangkal hidungnya, dan kali ini ia tidak memakainya lagi sampai aku turun dari panggung.
Rektor menjabat tanganku. Memindahkan tali toga dari kiri ke kanan. Memberiku piagam dalam bingkai kayu.
Aku berbalik untuk turun dari panggung.
Dan dari atas panggung, untuk sepersekian detik, mataku menemukan barisan ketujuh di sisi kanan aula. Kursi keempat dari lorong tengah.
Ia berdiri.
Di antara barisan wisudawan FEB yang duduk, satu orang berdiri. Ia tidak berteriak. Ia tidak bertepuk tangan. Ia hanya berdiri, dengan toga hitam berkerah kuning, dan menatapku.
Bahkan dari jarak lima puluh meter, aku bisa melihat bahwa matanya basah.
Di sebelahnya, seorang perempuan berambut cokelat yang di-blow sempurna menarik ujung toganya, menyuruhnya duduk. Sherly. Clara tidak duduk.
Dua baris di belakang mereka, laki-laki dengan rambut basah oleh pomade menatap panggung dengan mulut setengah terbuka. Rio. Ia memegang ponselnya, seolah mau merekam sesuatu, tapi lupa menekan tombolnya. Di sebelahnya, Gilang bertepuk tangan, sendirian, lalu berhenti ketika Rio menoleh dan menatapnya.
Aku menatap Clara. Satu detik. Dua. Tiga.
Lalu aku turun dari panggung, dengan langkah pendek-pendek karena toga yang terlalu panjang, dan kembali ke kursiku di samping Ucup.
Ucup menangis lagi. “Ka. Ka. Lulusan terbaik. Kenapa nggak bilang?”
“Baru tahu dua hari lalu.”
“Kenapa nggak bilang dua hari lalu?”
“Nggak ada yang nanya.”
Ucup menatapku dengan horor yang biasa. Lalu ia memelukku, keras, dan menangis ke bahu toga sewaanku.
Aku tidak menoleh ke barisan ketujuh lagi.
Tapi aku tahu ia duduk kembali di kursinya setelah itu, karena aku menghitung. Aku selalu menghitung.
Setelah acara, halaman depan aula berubah menjadi pasar.
Ribuan wisudawan, keluarga, penjual bunga, penjual balon, fotografer keliling yang menawarkan foto langsung jadi seharga dua puluh ribu. Kanya menarikku ke depan tugu kampus untuk berfoto. Kinan mengatur posisi dengan presisi seorang ahli ortodonti. Ucup dan ibunya ikut berfoto. Pak Darto dan Bu Darto ikut berfoto. Pak Budiman ikut berfoto sambil memegang kotak martabak.
Foto pertama: aku di tengah, buket sedap malam di tanganku, Kanya dan Kinan di kiri-kanan. Fotografer keliling memotret dengan kamera tua.
“Senyum, Mas,” katanya.
Aku tersenyum. Tiga milimeter.
“Lebih lebar, Mas.”
Empat milimeter.
“Mas, ini wisuda, bukan foto KTP.”
Kanya tertawa sampai tersedak. Kinan menyikut pinggangku. “Kak, senyum yang bener. Kalau nggak, nanti aku cerita ke anak-anakmu kalau bapaknya senyum kayak orang nahan kentut.”
Aku tersenyum lebih lebar. Aku tidak tahu berapa milimeter. Aku berhenti menghitung.
Fotografer itu memotret. Cekrek.
Lalu, di belakang fotografer, di seberang halaman, di depan gedung FEB, aku melihatnya.
Clara berdiri bersama keluarganya. Om Hendro dengan setelan jas gelap. Tante Ratna dengan kebaya brokat. Bram dengan kemeja batik, memotret semuanya dari tiga sudut. Seorang fotografer profesional dengan kamera besar dan asisten yang membawa reflektor. Buket mawar putih di tangan Clara, besar, rapi, dibungkus kain organza.
Ia tidak sedang berfoto. Fotografernya sedang mengatur reflektor. Ia berdiri diam dengan buket mawar putih di tangan, dan ia menatap ke seberang halaman.
Ke arahku. Ke buket sedap malam dari kertas koran dan rafia merah.
Ratusan orang lalu-lalang di antara kami. Balon-balon berwarna terbang di atas kepala. Seorang anak kecil menangis karena es krimnya jatuh. Penjual bunga meneriakkan harga.
Kami saling menatap.
Satu detik. Dua. Tiga. Empat. Lima.
Aku tidak menghitung lebih jauh.
Di sebelahku, Kanya mengikuti arah pandanganku. Tubuhnya menegang. Ia melangkah setengah langkah ke depanku, seperti mau menghalangi sesuatu, dan aku meletakkan tangan di bahunya.
“Nggak apa-apa,” kataku.
Kanya menatapku. Matanya merah. “Kak.”
“Nggak apa-apa, Kanya.”
Di seberang halaman, Tante Ratna menyentuh lengan Clara. Mengatakan sesuatu. Clara mengalihkan pandangan, menatap ibunya, lalu mengangguk. Fotografer profesional mengangkat kamera. Keluarga Kusumadewi berpose di depan gedung FEB: Om Hendro di tengah, Tante Ratna di kanan, Bram di kiri, Clara di depan dengan buket mawar putih.
Sebelum kamera berbunyi, Om Hendro menoleh ke seberang halaman. Ke buket koran dan rafia merah di tanganku, lalu ke kets abu-abu di bawah toga yang terlalu panjang. Lama. Wajah yang sama seperti malam itu di meja makannya. Bukan jijik.
Clara tersenyum ke kamera.
Aku mengenali senyum itu. Itu senyum yang ia pakai di kelas Manajemen Keuangan ketika Rio menyindirnya. Senyum yang ia pakai di meja makan, ketika ia tertawa di tempat-tempat yang tepat sementara tangannya gemetar di bawah meja.
Senyum yang tidak sampai ke mata.
Fotografer keliling di depanku berdeham. “Mas, mau foto lagi? Dua puluh ribu satu.”
Aku mengalihkan pandangan.
“Satu lagi,” kataku. “Sama semuanya.”
Ucup, ibunya, Pak Darto, Bu Darto, Pak Budiman dengan martabak, Kanya, Kinan, dan aku dengan buket sedap malam yang terlalu besar. Kami berdesakan di depan tugu kampus. Fotografer keliling mundur tiga langkah supaya semua masuk ke frame.
“Senyum!”
Semua tersenyum. Ucup dengan mata bengkak. Pak Darto dengan dua gigi seri yang tanggal. Kanya dengan senyum yang dipaksakan. Kinan dengan senyum yang, untuk pertama kalinya, aku tidak bisa membaca.
Cekrek.
Fotonya keluar dari kamera dalam dua menit, masih basah oleh tinta. Aku memegangnya di bawah matahari pukul dua siang.
Delapan orang. Satu buket sedap malam. Satu kotak martabak.
Tidak ada foto berdua.
Malam itu aku tidak membuka laptop.
Itu malam pertama dalam empat tahun aku tidak membuka laptop. Kanya dan Kinan sudah tidur. Kipas angin tua berdecit setiap kali berputar ke kiri. Buket sedap malam berdiri di sudut kontrakan di dalam ember bekas cat, wanginya masih pekat.
Aku duduk di lantai, bersandar ke dinding, dan mengeluarkan kotak bekal biru dari ransel.
Kubuka tutupnya. Klik. Retakannya masih di sudut, panjang, seperti petir yang membeku.
Di sudut kotak, di tempat yang biasanya kosong setelah nasi dan telur habis, ada jepit bunga liar.
Sudah lima bulan jepit itu di sana. Sejak hari di bulan Februari ketika aku memungutnya dari rumput di antara bangku beton dan bangku kayu. Pengaitnya sudah kukencangkan setengah milimeter. Logamnya sudah kubersihkan dengan odol, dua kali. Goresan halus di kelopak kiri bawahnya masih ada.
Di samping jepit itu, terlipat rapi, ada selembar kertas kado kecil bermotif bunga kuning. Kubeli di toko alat tulis dekat stasiun bulan Maret. Dua ribu lima ratus rupiah. Belum pernah dibuka lipatannya.
Empat belas Agustus. Masih lima minggu lagi.
Aku mengeluarkan jepit itu dan memegangnya di bawah lampu neon yang berkedip. Ringan sekali. Bunga lima kelopak. Bunga liar itu tumbuh di mana aja, Nduk. Nggak ada yang nanam, nggak ada yang nyiram, tapi tetap mekar.
Barang yang hilang itu pergi ke orang yang lebih butuh.
Aku memutar jepit itu di antara jari. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
Malam setelah bangku beton, tiga minggu lalu, aku pulang dan bicara pada Kanya dan Kinan. Cukup sekali. Aku tidak akan mengatakannya lagi. Kanya menangis sampai subuh. Kinan tidak menangis, tapi ia tidak tidur, dan pagi harinya ia yang memasak telur, bukan aku. Telurnya gosong di pinggir. Aku memakannya habis.
Sejak malam itu, Kanya tidak pernah menyebut nama Clara tanpa wajahnya berubah. Sejak malam itu, aku memasak telur tiga lagi, bukan empat.
Aku mengambil kaleng permen bekas dari rak di atas kompor, kaleng peninggalan Ibu yang dulu ia pakai untuk menyimpan kancing-kancing baju yang lepas. Isinya masih beberapa kancing. Kancing kemeja Bapak. Kancing seragam SD Kanya dan Kinan. Kancing jaket Ibu, warna cokelat, yang tidak pernah sempat dijahitkan kembali.
Aku meletakkan jepit bunga liar di atas kancing-kancing itu. Lalu kertas kado kuning yang masih terlipat.
Aku menutup kaleng itu dan mengembalikannya ke rak.
Lalu aku membuka ponsel. Aplikasi catatan. Satu catatan tanpa judul yang kubuat lima tahun lalu, sehari setelah pemakaman, dan hanya berisi satu baris: Mereka sama saya.
Di bawahnya, aku mengetik satu baris baru.
Sudah benar.
Aku menatap dua kata itu lama. Kursornya berkedip di ujungnya.
Aku tidak menulis apa-apa lagi.
Empat belas Agustus, pukul dua belas lewat satu menit dini hari, aku terbangun tanpa alarm.
Aku berbaring dalam gelap, menatap langit-langit, mendengarkan kipas angin berdecit ke kiri. Di rak di atas kompor, di dalam kaleng permen bekas, ada jepit bunga liar dan kertas kado kuning yang tidak pernah dibuka lipatannya.
Aku tidak bangun untuk mengambilnya.
Aku berbaring sampai pukul empat lewat sepuluh. Lima menit yang menjadi milikku. Aku memakai lima menit itu untuk menyusun hari di kepala seperti menyusun baris kode.
Masak. Bangunkan Kanya dan Kinan. Antar ke sekolah, kelas dua SMA sekarang. Hari pertama kerja di perusahaan perangkat lunak di Kuningan, pukul delapan. Malam, bertemu Ucup di warung kopi dekat stasiun. Ide aplikasi pertama. Kami belum tahu yang mana. Mungkin butuh beberapa kali gagal.
Sebanyak yang dibutuhkan.
Pukul 04.15, aku mematikan alarm sebelum bunyinya membangunkan adik-adikku, lalu bangkit.
Tiga butir telur. Minyak secukupnya. Api sedang.
Pinggirannya kubiarkan sampai garing kecokelatan. Kinan suka bagian yang garing. Kanya bilang bagian garing itu seperti kerupuk gagal, tapi ia selalu menghabiskannya duluan.
Ada satu orang lagi yang bilang ia suka bagian yang garing.
Aku memecahkan telur ketiga ke wajan dan tidak memikirkannya.
Tiga kotak bekal. Dua kotak hijau. Satu kotak biru dengan retakan panjang di sudut tutupnya.
Masih nutup. Masih bisa dipakai.
Klik.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua reading
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman