← Pria yang Ia Pilih

Chapter Twenty Seven

Investor Bernama Nadia

POV: Saka

Nadia Kartasasmita pertama kali datang ke lantai lima belas dengan dua asisten, satu laptop, dan cek kosong.

Bukan cek kosong sungguhan. Bu Rosa yang menyebutnya begitu, setelah rapat pertama, sambil menuang kopi di pantry. Dia datang bawa cek kosong, Saka. Dia bilang sebut angkanya. Saya sudah dua puluh tahun di dunia ini, saya belum pernah lihat partner VC ngomong sebut angkanya di rapat pertama.

Nadia adalah partner di Sagara Capital, dana modal ventura yang namanya muncul di belakang tiga dari lima startup terbesar di Indonesia. Tiga puluh dua tahun. Lulusan sekolah bisnis di Amerika. Rambut hitam lurus sebahu, setelan jas putih gading, sepatu hak rendah yang tidak berbunyi di lantai. Ia bicara dengan kalimat-kalimat pendek dan angka-angka yang tepat, dan ia tidak pernah tersenyum kecuali ketika angkanya bagus.

Ia tersenyum banyak di rapat pertama.

“Floo nggak butuh investasi,” kataku, setelah ia selesai presentasi. “Kami sudah untung sejak bulan keempat belas.”

“Saya tahu,” kata Nadia. “Itu sebabnya saya mau investasi.”

“Kenapa?”

“Karena perusahaan yang nggak butuh uang biasanya perusahaan yang paling tahu cara pakai uang.” Ia menutup laptopnya. “Saya nggak mau beli Floo, Pak Saka. Saya mau beli tempat duduk di meja Bapak. Saya mau lihat cara Bapak berpikir.”

Aku tidak menjawab.

“Dan,” lanjutnya, sambil berdiri dan merapikan jasnya, “saya mau ajak Bapak lihat satu perusahaan. Bukan Floo. Perusahaan lain yang mau kami investasi. Ronde besar. Empat ratus miliar. Saya pengen dengar pendapat Bapak.”

“Kenapa saya?”

Nadia menatapku. Lama. Lebih dari tiga detik.

“Karena Bapak menyelamatkan sistem flash sale Kusumadewi Retail dalam empat puluh menit,” katanya, “di depan direksi mereka, di malam sebelas-sebelas, dan menolak dibayar.” Ia mengambil tasnya. “Semua orang di industri ini sudah dengar ceritanya. Direktur Teknologi mereka cerita ke direktur teknologi bank. Direktur teknologi bank cerita ke partner saya di lapangan golf.” Ia tersenyum. “Saya mau tahu apa yang Bapak lihat ketika orang lain cuma lihat angka.”


Perusahaan itu bernama Cuanly.

Aplikasi belanja kebutuhan harian dengan pengiriman lima belas menit. Dua tahun berdiri. Kantor di tiga gedung di Jakarta Selatan. Iklan di setiap halte busway. Pendirinya muncul di sampul empat majalah bisnis dalam satu tahun. Semua orang membicarakannya. Semua orang ingin menaruh uang di sana.

Nadia mengirimiku dokumen uji tuntas mereka hari Kamis. Delapan ratus empat puluh halaman. Laporan keuangan, data pengguna, metrik pertumbuhan, proyeksi lima tahun.

Aku membacanya hari Jumat, dari pukul sembilan malam sampai pukul dua pagi.

Lalu aku membacanya lagi dari pukul dua lewat lima menit sampai pukul empat.

Bukan karena aku tidak mengerti. Karena ada satu baris yang tidak cocok.


“Retensi,” kataku.

Hari Senin, pukul tiga sore, di ruang rapat besar lantai lima belas. Nadia di seberang meja dengan dua asistennya dan seorang analis senior Sagara Capital, laki-laki berumur empat puluhan dengan kacamata tebal dan ekspresi yang sangat skeptis.

“Retensi bulan ketiga mereka enam puluh delapan persen,” kataku. “Itu terlalu tinggi untuk aplikasi belanja harian. Rata-rata industri tiga puluh sampai empat puluh. Yang terbaik di dunia lima puluhan.”

“Mereka produknya bagus,” kata analis senior.

“Mungkin.” Aku membuka halaman empat ratus dua belas. “Tapi lihat ini. Definisi pengguna aktif di catatan kaki nomor tujuh. Pengguna dianggap aktif kalau membuka aplikasi dalam tiga puluh hari terakhir. Bukan belanja. Membuka.”

Nadia mencondongkan badan ke depan.

“Halaman empat ratus delapan belas,” lanjutku. “Mereka kirim notifikasi dorong ke semua pengguna. Tiga kali sehari. Promo, diskon, kuis berhadiah. Setiap notifikasi yang diketuk dihitung sebagai membuka aplikasi.” Aku menggeser dokumen ke tengah meja. “Jadi enam puluh delapan persen itu bukan orang yang belanja lagi. Itu orang yang mengetuk notifikasi kuis berhadiah.”

Analis senior membaca halaman itu. Wajahnya tidak berubah.

“Itu bukan penipuan,” katanya. “Itu definisi. Banyak perusahaan pakai definisi yang sama.”

“Iya,” kataku. “Itu bukan penipuan. Tapi kalau dipakai buat menentukan valuasi empat ratus miliar, itu jadi masalah.” Aku membuka halaman lain. “Halaman enam ratus tiga. Data transaksi mentah. Kalau dihitung ulang pakai definisi belanja lagi, retensi bulan ketiganya dua puluh satu persen.”

Ruang rapat hening.

“Dua puluh satu,” ulang Nadia pelan.

“Dua puluh satu. Dan biaya akuisisi pelanggannya dua ratus delapan puluh ribu per orang. Nilai belanja rata-rata enam puluh ribu, margin delapan persen. Pelanggan harus belanja lima puluh delapan kali buat balik modal.” Aku menutup dokumen. “Dengan retensi dua puluh satu persen, mayoritas pelanggan berhenti sebelum belanja kelima.”

Analis senior melepas kacamatanya. Ia tidak memijat pangkal hidungnya. Ia hanya menatapku dengan ekspresi yang sangat, sangat tidak senang.

“Kami punya tim enam orang yang menganalisis dokumen ini selama dua bulan,” katanya.

“Iya, Pak.”

“Dan Bapak menemukan ini dalam satu malam.”

“Dua malam, Pak. Saya baca dua kali.”

Nadia tertawa. Pendek. Tidak tertahan. Lalu ia menutup mulut dengan tangan, menegakkan punggung, dan menatap analis seniornya.

“Verifikasi,” katanya. “Semua angka yang disebut Pak Saka. Hitung ulang dari data mentah.”

“Itu butuh waktu, Bu. Tiga minggu, minimal.”

“Tiga minggu.” Nadia menatapku. “Kalau Bapak salah, saya traktir makan malam. Kalau Bapak benar…” Ia berhenti, dan senyumnya berubah sedikit. Bukan senyum karena angka yang bagus. Senyum yang lain. “Kalau Bapak benar, saya juga traktir makan malam.”

Bu Rosa, yang duduk di sebelahku dan sejak tadi diam, mengeluarkan suara kecil seperti batuk.


Makan malam itu jatuh pada hari Kamis.

Bukan setelah tiga minggu. Nadia bilang ia tidak mau menunggu tiga minggu. Kita makan malam sekarang, bahas Floo. Hasil verifikasi Cuanly nanti, makan malam kedua.

Restorannya di lantai empat puluh sebuah hotel di Sudirman. Dinding kaca dari lantai sampai langit-langit, pemandangan lampu-lampu Jakarta di bawah. Meja-meja dengan taplak putih, lilin kecil di tengah, piano yang dimainkan pelan oleh laki-laki berjas di sudut ruangan. Menunya tidak punya harga. Bu Rosa bilang itu artinya mahal sekali.

Aku memakai kemeja biru tua dari Bu Rosa. Satu-satunya kemeja yang tidak kotak-kotak.

Nadia memakai gaun hitam sederhana, rambut tergerai, anting mutiara kecil. Ia memesan anggur. Aku memesan air putih. Ia memesan steak. Aku memesan nasi goreng, satu-satunya hidangan di menu yang namanya bisa kubaca tanpa menebak.

“Pak Saka,” katanya, setelah pelayan pergi. “Boleh saya panggil Saka saja? Di luar kantor?”

“Boleh.”

“Nadia.” Ia tersenyum. “Saka, saya mau jujur. Saya nggak cuma tertarik sama Floo.”

Aku menatapnya.

“Saya tertarik sama cara kamu berpikir,” katanya. “Dan sama kamu.” Ia mengangkat gelas anggurnya, menatap isinya, lalu menatapku. “Saya tahu itu nggak profesional. Saya biasanya nggak begini. Tapi saya umur tiga puluh dua, saya sudah ketemu ratusan pendiri startup, dan kamu satu-satunya yang baca dokumen delapan ratus halaman dua kali karena ada satu baris yang nggak cocok.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Lalu, dari sudut mataku, aku melihat sesuatu.

Di meja sebelah. Tiga meter dari meja kami, di dekat dinding kaca, dua perempuan duduk berhadapan. Salah satunya memakai kacamata hitam besar. Di dalam restoran. Pukul delapan malam. Topi bucket berwarna krem menutupi sebagian besar rambutnya, tapi tidak cukup untuk menutupi sebagian rambut hitam bergelombang yang jatuh ke bahu.

Perempuan yang satu lagi berambut pendek, memakai blazer kantor, dan sedang berusaha sangat keras untuk tidak tertawa.

Tasya.

Aku tidak menoleh. Aku menatap Nadia.

“Saka?” tanya Nadia. “Kamu nggak apa-apa?”

“Nggak apa-apa.”

Perempuan dengan kacamata hitam di meja sebelah memegang sendok. Sendok sup. Ia memegangnya dengan cara yang aneh, terbalik, diangkat sedikit di atas mangkuk, cekungannya menghadap ke arah meja kami.

Pantulan. Ia memakai cekungan sendok sebagai cermin.

Aku tahu, karena aku bisa melihat pantulan meja kami di sendok itu dari sini. Dan karena aku bisa melihat sendoknya bergerak sedikit setiap kali Nadia bicara, mengikuti arah wajah Nadia.

Aku menunduk ke nasi gorengku. Aku mengambil ponsel dari saku.

“Maaf,” kataku pada Nadia. “Sebentar. Pesan kantor.”

Aku mengetik.

Saka: Meja sebelah. Sendokmu terbalik.

Aku mengirimnya.

Tiga meter dari situ, ponsel di atas meja perempuan berkacamata hitam bergetar. Ia meliriknya. Ia membaca pesannya. Sendok supnya jatuh ke mangkuk dengan bunyi plung yang terdengar sampai ke meja piano.

Tasya menutup wajah dengan serbet. Bahunya berguncang hebat.

Perempuan berkacamata hitam itu menatap ponselnya. Lalu ia mengetik dengan sangat cepat, jari-jarinya menekan layar seperti menekan tombol darurat.

Clara: Aku nggak tahu kamu ngomong apa.
Clara: Siapa ini.
Clara: Salah sambung.

Saka: Kacamata hitam di dalam ruangan bikin mata tegang.
Saka: Kata Kinan.

Clara: SAKA.

Aku memasukkan ponsel ke saku. Aku menatap Nadia lagi.

“Maaf,” kataku. “Tadi sampai mana?”

Nadia menatapku. Lalu, pelan-pelan, ia menoleh ke meja sebelah. Ke perempuan dengan kacamata hitam dan topi bucket yang sekarang menunduk dalam-dalam ke mangkuk sup, wajahnya merah dari leher sampai telinga, dan perempuan berambut pendek yang sudah tidak bisa menahan tawa dan tertawa ke serbetnya.

Nadia menatap mereka lama. Lalu ia kembali menatapku.

“Itu Clara Kusumadewi,” katanya. Bukan pertanyaan. “Yang presentasi Proposal Investasi Hati. Yang bawain nasi telur ke kantor kamu tiap hari jam dua belas.”

Aku tidak menjawab.

“Semua orang di industri ini sudah dengar ceritanya, Saka,” kata Nadia, dengan senyum yang sedikit pahit. “Direktur Teknologi Kusumadewi cerita ke direktur teknologi bank. Bu Rosa cerita ke partner saya di acara amal. Ucup cerita ke setengah Jakarta Selatan.”

Aku tidak tahu Ucup bercerita ke setengah Jakarta Selatan. Aku mencatatnya di kepala untuk dibicarakan besok.

Nadia meletakkan gelas anggurnya. Ia menatap lampu-lampu Jakarta di balik dinding kaca selama beberapa detik. Lalu ia menatapku lagi, dan senyumnya berubah lagi. Tidak pahit. Lebih tenang.

“Kamu nggak perlu jawab apa yang saya bilang tadi,” katanya. “Saya sudah tahu jawabannya. Saya lihat cara kamu ngetik pesan barusan.” Ia tersenyum. “Kamu senyum, Saka. Waktu ngetik. Saya sudah tiga kali rapat sama kamu dan saya belum pernah lihat kamu senyum.”

Aku tidak sadar aku tersenyum.

“Saya tetap mau tempat duduk di meja kamu,” lanjut Nadia. “Sebagai investor. Sebagai partner. Kalau kamu suatu hari mau investasi di startup lain, saya mau ikut. Saya rasa kamu punya mata yang saya nggak punya.” Ia mengangkat gelasnya. “Dan saya nggak mau traktir makan malam ini jadi canggung. Jadi kita bahas Floo. Profesional. Oke?”

“Oke,” kataku.

Kami membahas Floo. Profesional. Ekspansi ke Malaysia. Program beasiswa penulis muda. Kemungkinan Floo membeli hak cetak untuk sepuluh judul terlaris dan menerbitkannya sendiri. Nadia mencatat. Aku menjawab.

Di meja sebelah, perempuan dengan kacamata hitam sudah melepas kacamatanya. Ia sudah melepas topinya. Ia duduk diam dengan dua tangan memeluk gelas air putih, menatap meja kami dengan wajah yang campur aduk antara malu dan sesuatu yang lain.

Sesuatu yang sangat lucu dan sangat tidak elegan.

Aku tidak menoleh ke sana sekali pun selama sisa makan malam.

Tapi aku tahu ia memesan tiga gelas air putih dan tidak menyentuh supnya sama sekali, karena aku menghitung.


Pukul sepuluh lewat tujuh, Nadia pamit lebih dulu. Ia menjabat tanganku di depan lift.

“Tiga minggu,” katanya. “Hasil verifikasi Cuanly. Kalau kamu benar, saya hubungi.”

“Oke.”

Ia masuk ke lift. Sebelum pintunya menutup, ia menahan pintu dengan tangan dan menoleh ke arah restoran. Ke meja di dekat dinding kaca.

“Saka,” katanya. “Satu hal lagi.”

“Iya?”

“Jangan bikin dia nunggu terlalu lama.” Ia tersenyum. “Perempuan yang mau pakai kacamata hitam dan topi bucket di restoran bintang lima demi nguping, itu bukan perempuan yang gampang nyerah. Tapi semua orang punya batas.”

Pintu lift menutup.

Aku berdiri di depan lift lama.

Lalu aku berbalik dan berjalan kembali ke restoran.

Meja di dekat dinding kaca. Tasya sudah tidak ada; aku melihatnya di kejauhan, berjalan cepat ke toilet dengan ponsel di tangan, jelas sekali sedang memberi ruang. Clara duduk sendirian. Kacamata hitam di atas meja. Topi bucket di pangkuan. Tiga gelas air putih kosong. Mangkuk sup yang sudah dingin, dengan sendok yang masih terbalik di dalamnya.

Ia melihatku datang. Wajahnya memerah lagi.

Aku berhenti di samping mejanya. Jarak yang sopan. Satu meter.

“Kamu nggak makan supnya,” kataku.

“Aku nggak lapar.”

“Kamu pesan tiga gelas air putih.”

“Aku haus.”

“Kamu pakai kacamata hitam di dalam ruangan.”

“Silau.” Ia mengangkat dagu, menatap lampu kristal di atas kami dengan sangat serius. “Lampunya silau.”

Aku menatap lampu kristal itu. Lalu menatapnya.

Ia menatapku balik. Dagunya masih terangkat. Matanya basah sedikit di sudut, tapi ia menahannya. Rahangnya keras. Brand Manager termuda dalam sejarah Kusumadewi Retail, yang dua jam lalu menguping makan malam bisnis lewat pantulan sendok sup.

Lucu dan sangat tidak elegan.

“Dia investor,” kataku.

“Aku tahu.”

“Partner di Sagara Capital.”

“Aku tahu. Aku cari di internet tadi sore. Tiga puluh dua tahun. Lulusan sekolah bisnis di Amerika. Cantik.” Ia berhenti. “Dia bilang tertarik sama kamu. Aku lihat dari sendok.”

“Iya.”

“Kamu jawab apa?”

“Aku nggak jawab.”

Clara menatapku. Matanya bergerak, mencari sesuatu di wajahku.

“Kenapa nggak jawab?”

Aku memikirkan pertanyaan itu. Aku memikirkan jawabannya. Jawabannya sudah lengkap di kepala, dan sudah lengkap sejak lama, mungkin sejak lima tahun lalu, mungkin sejak lebih lama dari itu. Aku hanya perlu mengeluarkannya. Seperti menekan tombol deploy.

“Karena aku lagi baca pesan dari meja sebelah,” kataku.

Clara tidak bergerak.

Lalu sudut bibirnya bergetar. Naik. Dua milimeter, tiga, empat. Ia menggigit bibir bawahnya. Lima belas kali, enam belas. Aku menghitung. Ia tidak berhasil menahannya.

Ia tertawa. Tawa yang pecah, basah, di restoran lantai empat puluh dengan piano dan lilin dan lampu kristal yang silau. Pelayan menoleh. Laki-laki di piano salah menekan satu tuts.

“Kamu,” kata Clara di sela tawanya. “Kamu dari tadi lihat aku. Kamu tahu aku di sini dari awal.”

“Dari kamu masuk. Topimu ketinggalan di kursi pertama, kamu balik lagi ambil.”

Ia menutup wajah dengan topi bucket. Dari balik topi itu keluar suara seperti orang yang ingin tenggelam ke dalam lantai.

“Ayo,” kataku.

Ia menurunkan topi. “Ke mana?”

“Pulang. Aku antar sampai parkiran.” Aku melirik mangkuk supnya yang dingin. “Di bawah ada warung nasi goreng. Kamu belum makan.”

Clara menatapku lama. Lalu ia berdiri, memakai topi bucket-nya lagi, dan mengambil kacamata hitam dari meja.

“Kacamatanya ditinggal,” kataku. “Di luar sudah malam.”

“Ini gaya, Saka.”

“Bikin mata tegang.”

“Kata Kinan,” katanya, menirukan pesanku, dan tertawa lagi.

Kami berjalan ke lift. Bersebelahan. Satu meter. Lalu, di dalam lift, ketika pintu menutup dan kami sendirian di antara dinding cermin, delapan puluh senti.

Lalu, di lantai tiga puluh, enam puluh.

Aku tidak menghitung lagi setelah itu.


Tiga minggu kemudian, Nadia meneleponku pukul tujuh pagi.

“Dua puluh satu koma empat,” katanya. Suaranya serak, seperti orang yang belum tidur. “Retensi bulan ketiga Cuanly, dihitung ulang dari data mentah. Dua puluh satu koma empat persen. Tim saya butuh tiga minggu. Kamu butuh dua malam.”

“Iya.”

“Kami batal investasi. Empat ratus miliar.” Ia diam sebentar. “Dua dana lain sudah masuk. Mereka nggak tahu.”

Aku tidak menjawab.

“Saka,” kata Nadia. “Saya utang makan malam kedua.”

“Nggak usah.”

“Saya tahu kamu bakal bilang gitu.” Aku mendengarnya tersenyum di telepon. “Jadi saya ganti. Kalau kamu suatu hari mau investasi di startup lain, apa aja, saya ikut. Tanpa syarat. Tanpa uji tuntas. Cukup kamu bilang ini.”

Aku memikirkannya.

Di laptopku, di folder bernama Nanti, ada sembilan foto papan tulis dari Taman Pemakaman Umum. Dan satu file PDF bernama Proposal_Investasi_Hati_v1.pdf. Dan, sejak Senin kemarin, satu file lagi: Proposal_Investasi_Hati_v2.pdf, dengan slide sembilan yang sudah ada fluktuasinya, slide sepuluh yang sudah ada skalanya, dan font yang bukan undangan sunatan lagi.

Slide sebelas masih bertuliskan Belum. Tapi aku kerjain.

Aku membuka foto papan tulis nomor empat.

TUKANG.IN. Wafat: Bulan ke-12. Epitaf: “Datang terlalu cepat. Dunia belum siap percaya tukang yang datang dari layar.”

“Nadia,” kataku. “Ada satu.”

“Apa?”

“Belum sekarang,” kataku. “Nanti.”