Chapter Twenty Eight
Pilihan Papa
POV: Clara
Undangan makan malam keluarga Tanoto datang lewat Mama, di meja sarapan, hari Selasa.
“Sabtu malam,” kata Mama, sambil mengoleskan selai ke roti dengan gerakan yang terlalu hati-hati. “Restoran di hotel Om Tanoto. Keluarga mereka, keluarga kita. Papa yang minta.”
Aku berhenti mengunyah. “Papa yang minta?”
Mama tidak menatapku. “Om Tanoto baru pulang dari Singapura. Ada proyek baru, hotel di Labuan Bajo itu, sudah mau peletakan batu pertama. Papa mau…” Ia berhenti. “Papa mau kita semua datang.”
“Reinhard?”
“Reinhard juga datang.”
Aku meletakkan roti.
Sudah dua tahun Reinhard dan aku berteman. Teman sungguhan. Kami makan siang bersama sebulan sekali, membicarakan pekerjaan, membicarakan Sushi si golden retriever yang baru saja menggigit sepatu kulit ayahnya seharga dua puluh juta. Reinhard sudah punya pacar sekarang, seorang arsitek bernama Gendis yang ia temui di proyek Labuan Bajo. Ia menunjukkan fotonya padaku bulan lalu dengan wajah seperti anak SD yang memamerkan nilai seratus.
Papa tahu kami berteman. Papa tidak tahu soal Gendis.
“Ma,” kataku. “Papa mau apa?”
Mama meletakkan pisau selainya. Ia akhirnya menatapku. Matanya lelah, seperti malam di lobi Menara Kusumadewi ketika ia berdiri di samping Avanza perak dan meminta maaf pada laki-laki yang lima tahun lalu tidak ia bela. Aku tahu soal itu. Bram melihatnya dari jendela lantai dua dan menceritakannya padaku dengan empat puluh tanda seru.
“Papa cuma mau yang terbaik, Nak,” kata Mama pelan.
“Buat siapa?”
Mama tidak menjawab. Ia mengambil rotinya lagi dan menggigitnya, dan aku tahu percakapan sudah selesai.
Sabtu malam, aku memakai gaun hijau tua dan jepit perak berbentuk daun.
Restoran di hotel keluarga Tanoto ada di lantai tiga puluh delapan, dengan dinding kaca yang menghadap ke Bundaran HI. Meja panjang untuk delapan orang di ruang privat. Papa di ujung, Om Tanoto di ujung lain. Mama dan Tante Tanoto di sisi kanan. Bram di sisi kiri, di sebelahku. Reinhard di seberangku.
Reinhard mengedipkan sebelah mata ketika aku duduk. Ia memakai kemeja putih dan jas abu-abu, dan ia kelihatan seperti golden retriever yang dipaksa memakai jas. Ia tahu. Aku mengirim pesan padanya Kamis malam: Papa ngajak makan malam keluarga. Kayaknya mau ngomongin kita. Ia membalas dengan emoji anjing yang menutup mata dengan dua kaki dan satu kalimat: Gendis bilang kalau aku nggak pulang jam sebelas, dia yang jemput ke restoran.
Hidangan pertama. Om Tanoto bercerita tentang Singapura. Hidangan kedua. Om Tanoto bercerita tentang Labuan Bajo. Papa mendengarkan, mengangguk, tidak tersenyum.
Lalu Bram menyenggol kakiku di bawah meja.
Aku menoleh. Bram tidak menatapku. Bram menatap ponselnya di pangkuan, dan ia memiringkannya sedikit ke arahku, cukup untuk aku membacanya.
Chat. Dengan nomor yang namanya disimpan Bram sebagai Bima (Asli).
Bram: Restoran lt 38 hotel Tanoto, Sudirman. Jam 7. Ruang privat. Papa mau jodohin Clara sama Reinhard lagi.
Bram: Aku nggak nyuruh kamu dateng ya.
Bram: Cuma info.
Bram: Barnya di sebelah ruang privat, dinding kaca, bisa lihat ke dalam.
Bram: Cuma info.
Di bawahnya, satu balasan, dikirim pukul tujuh lewat dua belas menit:
Bima (Asli): Oke.
Aku menatap Bram. Bram menatap piringnya dengan wajah orang yang tidak bersalah sama sekali.
Lalu aku menoleh ke dinding kaca ruang privat.
Di baliknya, di bar restoran yang remang-remang dengan lampu kuning dan botol-botol berjejer di rak kayu, di kursi tinggi paling ujung, duduk seorang laki-laki dengan kemeja biru tua.
Di depannya, satu gelas air putih.
Ia tidak sedang melihat ponsel. Ia tidak sedang mengobrol dengan bartender. Ia duduk dengan punggung tegak, dua tangan di atas meja bar, dan menatap lurus ke dalam ruang privat. Ke meja panjang. Ke kursi di seberang Reinhard.
Ke aku.
Wajahnya datar. Tanpa ekspresi. Permukaan kolam yang tidak tertiup angin.
Aku memalingkan wajah ke piringku dengan sangat cepat. Pipiku panas.
“Clara?” tanya Tante Tanoto. “Kamu nggak apa-apa? Mukamu merah.”
“Nggak apa-apa, Tante. AC-nya… kurang dingin.”
Di seberangku, Reinhard mengikuti arah pandangku tadi. Ke dinding kaca. Ke bar. Ke laki-laki dengan kemeja biru tua dan segelas air putih.
Reinhard menatapnya lama. Lalu ia menatapku. Lalu, pelan-pelan, senyumnya melebar sampai hampir menyentuh telinga.
Ia mengangkat gelas anggurnya sedikit, ke arah dinding kaca. Seperti bersulang.
Di bar, Saka tidak bergerak.
Satu jam kemudian, Saka masih di sana.
Aku tahu karena aku tidak bisa berhenti melirik. Setiap kali Om Tanoto bicara, setiap kali Papa mengangguk, setiap kali pelayan mengganti piring, mataku melayang ke dinding kaca. Ia masih di kursi tinggi paling ujung. Gelas air putihnya sudah diganti dua kali. Ia tidak memesan apa-apa lagi. Bartender meliriknya dengan bingung setiap beberapa menit.
Dan ia tidak pernah berhenti menatap ke dalam.
Aku tidak bisa mendengar satu pun kalimat yang diucapkan di meja ini. Om Tanoto bercerita tentang lapangan golf baru. Papa menjawab sesuatu tentang tarif impor. Reinhard bertanya padaku tentang kampanye ulang tahun Kusuma Mart, dan aku menjawab sesuatu yang aku tidak ingat apa, dan Reinhard mengangguk dengan wajah yang sangat menahan tawa.
Lalu Om Tanoto meletakkan garpunya, menyeka bibir dengan serbet, dan tersenyum ke arah Papa.
“Hendro,” katanya. “Kita sudah kenal tiga puluh tahun. Bisnis kita sudah jalan bareng dua puluh tahun. Anak-anak kita sudah berteman dua tahun.” Ia menoleh ke arahku, lalu ke Reinhard. “Saya rasa sudah waktunya kita bicara soal yang lebih serius.”
Meja hening.
Mama meletakkan sendoknya. Bram berhenti mengunyah. Reinhard menatap piringnya dengan ekspresi orang yang sudah tahu ini akan terjadi dan sudah menyiapkan sesuatu.
Papa menatapku dari ujung meja. Matanya bergerak, mengumpulkan data, seperti biasa.
“Clara,” katanya. “Kamu sudah dua puluh enam. Karier kamu sudah bagus. Brand Manager termuda. Divisi kamu tumbuh paling cepat.” Ia berhenti. “Reinhard anak yang baik. Keluarganya keluarga yang baik. Kalian sudah saling kenal. Papa rasa…”
“Nggak, Pa.”
Aku tidak tahu dari mana kata itu datang.
Aku tidak merencanakannya. Aku tidak menyusunnya di kepala. Kata itu keluar sendiri, cepat, sebelum Papa menyelesaikan kalimatnya, seperti seseorang menekan tombol deploy tanpa menunggu tes selesai.
Meja hening. Hening yang berbeda. Hening seperti aula Tech Cup ketika Lizz 10 crash di atas panggung.
Papa menatapku. Tidak berkedip.
“Maaf,” kataku. Suaraku bergetar. Aku menekannya. Aku menekannya dengan seluruh lima tahun yang kulalui sebagai kulkas dua pintu. “Maaf, Om Tanoto. Maaf, Tante. Maaf, Reinhard.” Aku menoleh ke ujung meja. “Maaf, Pa. Aku nggak bisa.”
“Clara…” kata Mama pelan.
“Reinhard teman yang baik,” lanjutku. “Teman yang sangat baik. Dan dia sudah punya pacar. Namanya Gendis. Arsitek. Mereka ketemu di proyek Labuan Bajo.”
Om Tanoto menoleh ke anaknya. “Reinhard?”
“Iya, Pa,” kata Reinhard pelan. “Mau aku kenalin bulan depan.”
Tante Tanoto menutup mulut dengan tangan.
“Dan aku,” kataku, menatap Papa lurus. Tanganku gemetar di bawah meja. Aku membiarkannya gemetar. “Aku sudah milih orang lain.”
Papa tidak bergerak.
“Aku sudah milih orang lain, Pa,” ulangku. “Dari lima tahun lalu. Aku cuma nggak berani bilang.”
Keheningan di meja itu berlangsung sebelas detik. Aku menghitungnya.
Lalu Om Tanoto, yang sudah tiga puluh tahun menjadi mitra bisnis Papa dan sudah tiga puluh tahun tahu kapan harus mundur, meletakkan serbetnya di meja dan berdiri.
“Hendro,” katanya, dengan nada yang sangat ringan, terlalu ringan. “Saya rasa kita perlu cerutu. Di teras. Ayo, Ma.” Ia menarik tangan istrinya. “Reinhard, kamu juga. Ikut Papa. Kita perlu bicara soal arsitek ini.”
Keluarga Tanoto keluar dari ruang privat. Reinhard, di ambang pintu, menoleh ke arahku dan mengangkat jempol. Cepat. Sebelum Om Tanoto menariknya keluar.
Tinggal kami berempat.
Papa. Mama. Bram. Aku.
Papa tidak menatap Mama. Tidak menatap Bram. Ia menatapku dari ujung meja panjang, dan aku melihat sesuatu di wajahnya yang belum pernah kulihat. Bukan marah. Papa tidak pernah marah. Bukan kecewa. Sesuatu yang lebih dalam, lebih gelap, seperti orang yang melihat sesuatu yang paling ia takutkan menjadi nyata.
“Dia,” kata Papa.
Bukan pertanyaan.
“Iya, Pa.”
Papa diam. Tangannya di atas taplak putih. Jari-jarinya mengetuk-ngetuk pelan, tidak berirama, seperti di mobil pulang dari gala.
“Lima tahun lalu,” kata Papa pelan, “kamu nggak memilih dia.”
“Aku nggak berani.”
“Lima tahun lalu dia tinggal di kontrakan dua petak. Bawa bekal nasi telur. Naik motor bebek.” Suara Papa datar. Sangat datar. “Dan kamu tanda tangan map biru.”
“Pa…”
“Sekarang dia punya perusahaan lima ratus juta sehari. Startup of the Year. Menyelamatkan flash sale kita di depan seluruh direksi.” Papa menatapku. Tidak berkedip. “Dan sekarang kamu memilih dia.”
Aku tahu ke mana kalimat itu pergi. Aku tahu, dan aku tidak bisa menghentikannya.
“Kamu begini,” kata Papa, sangat pelan, “karena dia sudah kaya.”
Ruangan berhenti.
Mama memejamkan mata. Bram meletakkan garpunya dengan bunyi tak yang terlalu keras.
Aku tidak bergerak.
Kalimat itu tidak baru. Aku sudah mendengarnya di kepalaku sendiri ribuan kali sejak gala. Di lantai kamar. Di depan Tasya. Di depan Kanya, di dapur di Sentul, dengan nada satpam yang datar. Ibu ke sini karena Kak Saka sekarang kaya. Aku sudah menjawabnya. Aku sudah bilang malu tapi jalan. Aku sudah bilang kalau dia masih di kontrakan dua petak, aku tetap datang.
Tapi mendengarnya dari Papa rasanya lain.
Rasanya seperti seseorang mengambil satu-satunya ketakutan yang paling dalam, yang kusimpan di sudut paling gelap, dan meletakkannya di atas meja di depan semua orang, di bawah lampu gantung kristal, dan berkata: ini kamu.
Aku tidak menangis.
Aku tidak tahu bagaimana aku tidak menangis. Tapi aku tidak menangis. Mataku panas, tenggorokanku sakit, tanganku gemetar di bawah meja sampai kuku-kukuku menancap di telapak tangan. Tapi aku tidak menangis.
Ada satu rekening di bank lain, atas namaku sendiri. Di bulan terbaiknya, saldonya bertambah seratus empat puluh tiga juta. Aku tidak pernah menyentuhnya, kecuali enam puluh dua ribu untuk jepit daun yang sekarang ada di rambutku. Satu lembar mutasi rekening, dan Papa akan tahu aku tidak butuh uang siapa-siapa. Tapi untuk menunjukkannya, aku harus bilang dari mana uang itu datang, dan tidak ada seorang pun di meja ini yang tahu Sudut Taman itu aku.
Satu-satunya bukti yang kupunya adalah bukti yang tidak boleh kutunjukkan.
“Mungkin,” kataku.
Papa berkedip.
“Mungkin Papa benar.” Suaraku keluar pelan, retak di tengah, tapi keluar. “Mungkin orang lain lihat aku kayak gitu. Mungkin aku memang kelihatan kayak gitu. Cewek yang ninggalin cowok waktu dia di bawah, terus balik waktu dia di atas.” Aku menarik napas. “Aku nggak bisa buktiin ke Papa kalau itu nggak benar. Aku nggak punya slide buat itu.”
Papa tidak menjawab.
“Tapi Pa,” kataku. “Aku punya pertanyaan.”
Papa menatapku.
“Lima tahun lalu, kalau aku milih dia. Kalau aku bilang nggak, Pa di ruang kerja Papa. Kalau aku nggak tanda tangan map biru.” Air mataku akhirnya hampir jatuh. Aku menahannya. “Papa bakal bilang apa?”
Papa diam.
“Papa bakal bilang aku bodoh. Papa bakal bilang aku buang masa depan buat cowok yang tinggal di kontrakan dua petak.” Aku tertawa, dan tawanya pecah. “Lima tahun lalu aku salah karena dia miskin. Sekarang aku salah karena dia kaya. Pa, kapan aku boleh milih dia tanpa salah?”
Papa tidak menjawab.
Ia menatapku lama. Matanya, untuk pertama kalinya sejak aku bisa mengingat, tidak bergerak mengumpulkan data. Matanya diam. Seperti malam di ruang komando lantai tiga puluh, ketika ia berdiri dari kursinya dan berjalan ke arah Saka dan menjabat tangannya terlalu lama.
Lalu Papa menunduk. Ke pergelangan tangan kirinya. Ke arloji kecil dengan tali kulit cokelat yang retak di beberapa bagian, yang tidak pernah ia lepas sejak aku bisa mengingat.
Ia tidak berkata apa-apa.
Aku berdiri. Kursiku bergeser di lantai marmer dengan bunyi yang terlalu keras.
“Aku pulang duluan,” kataku.
Mama berdiri juga. “Clara, Nak…”
“Nggak apa-apa, Ma.” Aku mengambil tasku. Aku menatap Bram. Bram menatapku dengan mata merah, dan ia mengangguk pelan, sekali, seperti bilang pergi, aku urus di sini.
Aku keluar dari ruang privat.
Aku tidak menoleh ke bar.
Aku tahu ia masih di sana. Aku tahu, karena aku merasakan tatapannya di punggungku sampai aku masuk lift.
Hujan turun di Sudirman.
Bukan gerimis. Hujan besar, hujan bulan November yang datang tanpa pembuka, seperti hujan bulan Maret lima tahun lalu di parkiran motor dengan atap bocor di tiga tempat. Aku berdiri di lobi hotel, di bawah kanopi, menatap hujan yang menghantam jalan seperti ribuan jarum.
Sopir Papa ada di basemen. Aku tidak mau pulang dengan mobil Papa.
“Clara.”
Aku menoleh. Reinhard, dengan jas abu-abu yang sudah dilepas dan disampirkan di lengan, kunci mobil di tangan.
“Papaku masih ngomel di teras,” katanya. “Soal Gendis. Aku kabur.” Ia tersenyum. “Kamu mau aku antar? Daripada nunggu sopir papamu.”
Aku menatapnya. Reinhard Tanoto. Golden retriever pakai jas. Laki-laki yang dua tahun lalu menawarkan diri menjadi alasan yang gampang, supaya aku tidak perlu menanggung beratnya.
“Gendis nggak marah?”
“Gendis yang nyuruh.” Reinhard menunjukkan ponselnya. Pesan dari Gendis ❤️: Antar Clara pulang. Kasihan. Terus langsung ke sini, aku masak sop buntut. “Dia baca chat-ku tadi. Dia bilang kamu pahlawan karena udah bocorin soal dia ke papaku. Dia udah nunggu enam bulan.”
Aku tertawa. Tertawa yang basah, di lobi hotel bintang lima, dengan hujan yang mengamuk di luar.
Kami berlari ke mobilnya, sedan hitam di depan lobi, dengan jas Reinhard di atas kepalaku sebagai payung. Jasnya tidak berguna sama sekali. Ketika kami masuk ke mobil, rambutku basah, gaunku basah, dan Reinhard tertawa sambil menyalakan pemanas.
Di lobi hotel, di balik pintu kaca, berdiri seseorang.
Kemeja biru tua. Tidak membawa payung. Berdiri diam di bawah kanopi, dengan dua tangan di saku celana, menatap sedan hitam Reinhard.
Menatapku, di kursi penumpang, dengan rambut basah dan jas Reinhard di pangkuanku.
Reinhard melihatnya juga. Ia diam sebentar dengan tangan di persneling.
“Clar,” katanya pelan. “Itu dia, kan? Yang di bar. Air putih. Dua jam.”
“Iya.”
“Mau aku turunin kamu di sini?”
Aku menatap laki-laki di balik pintu kaca. Hujan menghantam kaca mobil di antara kami. Wajahnya tidak bisa kubaca dari sini. Hanya siluet, kemeja biru tua, dua tangan di saku.
“Nggak,” kataku. “Antar aku pulang.”
Reinhard menatapku dengan heran.
“Aku baru aja bilang nggak ke Papa,” kataku. “Pertama kali, Rein. Dua puluh enam tahun. Di depan keluargamu.” Suaraku pecah. “Aku nggak mau lari ke dia malam ini kayak anak kecil yang habis dimarahin. Aku mau… aku mau datang ke dia waktu aku udah bener-bener berdiri sendiri.”
Reinhard menatapku lama. Lalu ia mengangguk.
Ia memasukkan persneling. Mobil bergerak. Di kaca spion, laki-laki di balik pintu kaca semakin kecil, semakin kecil, sampai hilang di balik tirai hujan.
Kami tidak bicara sampai Semanggi.
Di lampu merah Semanggi, Reinhard mematikan radio dan menatap jalan di depan, wiper bergerak cepat menyapu kaca.
“Clara,” katanya. “Boleh aku ngasih satu nasihat? Sebagai golden retriever yang udah dua tahun jadi temanmu?”
“Boleh.”
“Jangan buktiin ke papamu.”
Aku menoleh.
“Kamu nggak akan bisa buktiin ke papamu kalau kamu nggak matre,” kata Reinhard. “Mau kamu bikin slide seribu halaman juga nggak bisa. Karena papamu nggak takut kamu matre. Aku rasa papamu takut hal lain.” Ia mengangkat bahu. “Aku nggak tahu apa. Tapi aku lihat mukanya tadi. Itu bukan muka orang yang marah karena anaknya milih cowok kaya. Itu muka orang yang lagi lihat hantu.”
Lampu hijau. Mobil bergerak.
“Jadi jangan buktiin ke papamu,” lanjut Reinhard. “Buktiin ke dia. Ke cowok di bar itu. Yang minum air putih dua jam, terus berdiri di lobi tanpa payung.” Ia tersenyum. “Papamu nanti nyusul. Papa selalu nyusul. Papaku juga nyusul. Tadi di teras dia ngomel dua puluh menit soal Gendis, terus akhirnya nanya anaknya suka sop buntut nggak.”
Aku tertawa. Lalu aku menangis. Lalu aku tertawa lagi, di kursi penumpang sedan hitam, dengan rambut basah dan jas Reinhard di pangkuan, sampai Reinhard menyodorkan sekotak tisu dari laci dasbor tanpa berkata apa-apa.
Pukul sepuluh lewat empat puluh, mobil Reinhard berhenti di depan pagar rumah kami di Menteng. Hujan sudah reda menjadi gerimis.
Reinhard melirik jam di dasbor. “Turun, Clar. Gendis udah masak sop buntut. Kalau aku telat, aku yang dimasak.”
Aku tertawa sekali lagi, mengembalikan jasnya, dan turun. Sedan hitam itu berbelok di ujung jalan. Aku berdiri di depan pagar, di bawah gerimis.
Ponselku bergetar.
Satu getar. Pesan masuk.
Saka: Sudah sampai rumah?
Aku menatap tiga kata itu di layar.
Lima tahun lalu, aku membalasnya pukul satu pagi, dengan satu kata, setelah empat jam menatap pesannya di bawah selimut dalam gelap.
Clara: Sudah.
Aku mengetik lagi.
Clara: Aku bilang nggak ke Papa. Malam ini. Di depan semua orang.
Clara: Pertama kali.
Centang dua. Biru. Tiga detik.
Kursor berkedip di kolom balasannya. Aku menunggu. Satu menit. Dua. Tiga.
Lalu:
Saka: Aku lihat.
Hanya itu. Dua kata.
Aku menatapnya lama, di depan pagar rumah, dengan gerimis yang turun pelan di layar ponsel.
Lima tahun lalu aku pergi dari bangku beton, dan malamnya ia tetap bertanya apakah aku sudah sampai rumah.
Malam ini aku pergi lagi. Di depan matanya. Di mobil laki-laki lain, dengan jas laki-laki lain di pangkuanku. Dan ia berdiri di lobi tanpa payung sampai mobil itu hilang di balik hujan, lalu tetap bertanya.
Ia tidak bilang akhirnya. Ia tidak bilang terlambat lima tahun.
Aku lihat.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa reading
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman