Chapter Thirty One
Pulang, Clara (Bagian Dua)
POV: Clara
Aku menelepon Kanya dari dalam mobil, di parkiran terbuka di Kuningan, dengan pakaian basah kuyup dan wiper yang bergerak tanpa henti di kaca depan.
Aku tidak tahu kenapa aku menelepon Kanya. Bukan Tasya. Bukan Bram. Kanya, yang tiga minggu lalu menatapku seperti satpam menatap pencuri. Kanya, yang mengajariku memecahkan telur pukul empat lewat lima belas pagi dan bilang lumayan dengan suara yang sedikit retak di ujung.
Mungkin karena Kanya satu-satunya orang di dunia yang tahu rasanya ditinggal laki-laki itu di balik kalimat nggak apa-apa.
“Kak Clara?” Suara Kanya di telepon. Latar belakangnya bunyi minyak mendesis dan suara ibu-ibu mengobrol. “Kenapa? Kok… Kakak nangis?”
Aku tidak bisa menjawab dengan kalimat yang utuh. Aku hanya bisa mengeluarkan potongan-potongan. Hujan. Parkiran. Payung. Aku cium dia. Dia cium aku balik. Terus dia bilang jangan dulu.
Di seberang telepon, bunyi minyak mendesis berhenti. Kanya mematikan kompor.
Hening lama.
“Kakak di mana sekarang?” tanyanya. Suaranya berubah. Bukan suara satpam. Suara yang sangat tenang, terlalu tenang, seperti permukaan kolam sebelum batu dijatuhkan.
“Kuningan. Parkiran kantornya.”
“Pulang,” kata Kanya. “Pulang ke rumah Kakak. Aku ke sana.”
“Kanya, ini hujan, Sentul ke Menteng…”
“Aku ke sana, Kak.” Aku mendengar suara celemek dilepas, kunci diambil dari gantungan. “Kinan! Kinan! Ambil jaket. Kita ke Menteng.”
Dari jauh, suara Kinan yang datar: “Sekarang? Hujan.”
“Sekarang, Kinan. Presto-nya meledak.”
Mereka tiba pukul delapan lewat sepuluh, naik taksi online, basah sampai lutut.
Bram yang membukakan pintu. Ia menatap dua perempuan dengan wajah yang sama, rambut yang menempel di dahi, satu dengan celemek hitam DAPUR KANYA yang lupa dilepas di balik jaket, satu dengan buku tebal bersampul biru bergambar rahang manusia yang dipeluk di dada supaya tidak basah.
“Kalian…” Bram berkedip. “Kalian adiknya Bima.”
“Saka,” kata Kanya.
“Iya, Saka. Bima. Sama aja.” Bram minggir dari pintu. “Clara di kamarnya. Lantai dua. Belum ganti baju dari tadi. Dia nggak mau buka pintu buat aku.”
“Dia bakal buka buat aku,” kata Kanya.
Ia benar.
Kanya duduk di karpet kamarku, bersila, di tempat Tasya biasa duduk. Kinan duduk di kursi meja belajarku, buku rahang manusia di pangkuan, kacamata berbingkai tipis yang berembun. Aku duduk di ujung kasur, masih dengan blazer abu-abu yang basah, rambut yang mulai kering dan kusut.
Bram berdiri di ambang pintu. Kanya menatapnya.
“Mas Bram,” katanya. “Bisa tolong tutup pintunya? Dari luar.”
Bram menatap Kanya. Lalu menatapku. Lalu ia mengangguk dan menutup pintu. Dari luar.
Hening.
Hujan di luar jendela sudah mereda menjadi gerimis. Lampu kamarku menyala redup. Di meja belajarku, laptop yang tertutup. Di sebelahnya, kotak bekal biru muda yang kosong, yang tadi siang tidak sempat kuantar karena rapat, yang isinya kumakan sendiri di mobil sambil menangis.
“Kak Clara,” kata Kanya.
“Iya.”
“Kakak ingat waktu aku bilang Kakak nggak tahu apa-apa? Di rumah. Waktu tasting.”
“Ingat.”
“Kakak nanya maksudku apa. Aku bilang nggak apa-apa.” Kanya menatap karpet. Tangannya meremas ujung celemek hitam yang masih terpasang di balik jaket. “Itu nada Kak Saka. Aku belajar dari dia. Lima tahun aku belajar bilang nggak apa-apa kayak dia. Biar nggak meledak.”
Aku menunggu.
Kanya mengangkat wajah. Matanya merah. Bukan karena hujan.
“Malam itu,” katanya. “Lima tahun lalu. Malam setelah Kakak bilang aku nggak bisa di bangku flamboyan.”
Aku berhenti bernapas.
“Kak Saka pulang jam sembilan,” kata Kanya. “Biasanya jam enam. Dia pulang jam sembilan, nggak bawa apa-apa, nggak buka laptop. Dia duduk di lantai, di tikar, bersandar ke dinding, di sebelah kompor yang kakinya diganjal sandal jepit Bapak.” Suaranya mulai bergetar. “Dia nggak pernah duduk di lantai tanpa ngapa-ngapain, Kak. Nggak pernah. Kak Saka itu selalu ngapa-ngapain. Masak. Ngetik. Nyuci. Ngitung. Malam itu dia cuma duduk.”
“Kanya…”
“Aku tanya kenapa. Dia nggak jawab. Kinan tanya kenapa. Dia nggak jawab. Terus jam sembilan lewat sedikit, dia ambil HP, ngetik sesuatu, kirim, terus taruh HP-nya di lantai.” Kanya menatapku. “Kakak tahu dia ngetik apa?”
Aku tahu. Aku ingat. Aku membacanya pukul satu pagi, di bawah selimut, dalam gelap.
Sudah sampai rumah?
Aku membalasnya dengan satu kata, setelah mengetik tiga kata lain dan menghapusnya. Sudah. Lalu aku memeluk lutut sampai subuh.
“Terus dia nunggu,” kata Kanya. “Dia duduk di lantai, natap HP itu. Jam sepuluh. Jam sebelas. Jam dua belas. Aku sama Kinan nggak tidur. Kami duduk di pintu kamar, ngintip.” Air matanya jatuh. “Jam satu, HP-nya bunyi. Dia baca. Terus dia taruh lagi. Terus dia ngomong.”
Jam satu.
Sudah-ku. Lima tahun aku pikir kata itu jatuh ke ruang kosong. Ternyata ada yang menunggunya. Di lantai. Di sebelah kompor yang kakinya diganjal sandal jepit. Empat jam.
“Ngomong apa?”
Kanya menutup mulutnya dengan tangan.
Kinan yang melanjutkan. Dari kursi meja belajar, dengan suara datar yang sedikit retak, ia mengutip seperti membaca dari buku catatan:
“Kanya. Kinan. Kakak yang lepasin dia.”
Aku tidak bergerak.
“Dia nggak pergi. Kakak yang suruh dia pulang. Dia capek. Tangannya gemetar terus. Di bawah meja makan papanya. Di samping motor. Di bangku. Kakak hitung. Kalau dia harus milih antara Kakak sama keluarganya, dia yang patah. Dia nggak akan bisa milih tanpa patah.”
Kinan berhenti. Ia melepas kacamatanya yang berembun dan mengelapnya dengan ujung kaus, persis seperti Ucup.
“Jadi Kakak yang milih buat dia,” lanjut Kinan pelan. “Kakak bilang pulang. Biar dia bisa pergi dengan ngerasa itu keputusannya sendiri. Biar dia nggak harus ngerasa ninggalin siapa-siapa. Lebih baik Kakak jadi alasan yang gampang.”
Hening.
Di kepalaku, sesuatu berderak. Seperti bangku kayu yang retak di kaki kiri belakang, satu sampai dua milimeter per hari, selama lima tahun, dan malam ini akhirnya patah.
Alasan yang gampang.
Dua tahun lalu, di restoran Jepang di Senopati, Reinhard menawarkan hal yang sama: tanggung jawabnya di aku, kamu nggak perlu jadi yang nolak. Malam itu kalimatnya terasa akrab, dan aku tidak tahu kenapa. Sekarang aku tahu. Seseorang sudah lebih dulu melakukannya untukku, di bangku beton, dengan satu kata: pulang.
Ia tidak melepaskanku semudah itu.
Ia melepaskanku dengan cara yang paling sulit di dunia. Ia melepaskanku dengan membuatku percaya bahwa aku yang pergi.
Aku bangkit dari ujung kasur. Dua langkah ke meja belajar. Tanganku meraih kotak bekal biru muda di sebelah laptop. Kosong. Ringan.
Aku memeluknya di dada dan kembali duduk.
Lalu aku menangis. Tanpa suara. Bahuku berguncang, mulutku terbuka, tapi tidak ada yang keluar. Hanya napas yang patah-patah, dan sudut kotak plastik yang menekan tulang dadaku.
Kanya tidak bergerak. Kinan menunduk ke buku di pangkuannya.
Tidak ada yang menyuruhku berhenti.
“Dan kalian jangan pernah bilang ke dia,” kata Kanya. Suaranya pecah di tengah. Ia menirukan kakaknya, tapi suaranya bukan suara kakaknya. Suaranya suara anak enam belas tahun yang duduk di pintu kamar, di kontrakan dua petak, pukul satu pagi. “Kalau dia tahu, dia bakal ngerasa bersalah seumur hidup. Dia bakal balik karena kasihan. Kakak nggak mau dia balik karena kasihan.”
Kanya menangis sekarang. Keras. Tangis anak enam belas tahun yang lima tahun tidak diizinkan keluar.
“Kakak masak telur tiga lagi besok,” katanya di sela isak. “Itu kalimat terakhirnya. Kakak masak telur tiga lagi besok. Terus dia berdiri, cuci muka, terus buka laptop. Kerja sampai subuh.”
Kinan memejamkan mata. “Paginya aku yang masak. Telurnya gosong. Dia makan semua. Dia nggak bilang apa-apa. Dia cuma makan.”
Aku tidak tahu berapa lama aku duduk di ujung kasur tanpa bergerak.
Hujan di luar sudah berhenti. Jam di meja belajarku menunjukkan pukul sembilan lewat sebelas. Kanya sudah berhenti menangis keras, hanya isak pelan sekarang, dengan kepala di pangkuan Kinan yang sudah pindah duduk di karpet di sebelahnya. Kinan mengusap rambut kembarannya dengan gerakan yang kaku, seperti orang yang tidak terbiasa melakukannya, tapi tetap melakukannya.
Lima tahun.
Lima tahun aku percaya aku yang pergi. Lima tahun aku menulis aku yang pergi di catatan ponsel, di blog, di delapan puluh empat bab novel yang dibaca dua juta orang. Lima tahun aku membenci diriku karena tidak bisa mengucapkan tiga kata, karena tidak bisa bilang tidak pada Papa, karena berbalik di langkah kesepuluh dan tidak kembali.
Dan selama lima tahun itu, ia tahu.
Ia tahu aku bukan yang pergi. Ia tahu ia yang menyuruhku pulang. Ia membaca aku yang pergi di setiap bab, pukul dua pagi, Senin dan Kamis, dan ia tidak pernah berkomentar.
Karena endingnya kamu yang pergi. Aku nggak mau kamu nulis ulang cuma karena tahu aku baca.
Kalimat terakhirnya salah.
Bahkan waktu aku yang pergi.
Aku tidak pergi. Ia yang melepaskanku. Ia yang memilih untuk menanggung semuanya sendirian, lima tahun, supaya aku bisa pergi dengan kepala tegak dan tidak pernah tahu bahwa ada seseorang yang duduk di lantai kontrakan dua petak sampai pukul satu pagi, menunggu satu kata sudah.
Dan malam ini, di parkiran, di bawah hujan, setelah menciumku balik, ia bilang jangan dulu.
Ia melakukannya lagi.
“Dia mau ngelakuin hal yang sama,” kataku. Suaraku keluar sangat pelan. Hampir tidak ada. “Tadi. Di parkiran. Dia bilang jangan berantem sama Papa karena dia. Dia bilang aku nggak harus milih.” Aku menatap tanganku. Gemetar. “Dia mau nyuruh aku pulang lagi.”
Kanya mengangkat kepala dari pangkuan Kinan. Matanya bengkak. “Itu sebabnya aku ke sini, Kak.”
“Kenapa?”
“Karena kalau aku diam lagi, dia bakal berhasil lagi.” Kanya menghapus air matanya dengan ujung celemek hitam. “Lima tahun lalu dia berhasil karena aku sama Kinan diam. Karena dia minta. Karena kami masih kecil dan kami pikir Kak Saka selalu tahu yang terbaik. Kak Saka memang selalu tahu yang terbaik. Buat semua orang.” Ia menatapku. “Kecuali buat dirinya sendiri.”
Aku tidak bisa menjawab.
“Tadi aku chat dia,” lanjut Kanya. “Aku bilang kalau dia nggak jawab dalam lima menit, aku yang jawab buat dia. Ke Kakak. Semuanya.”
“Dia jawab apa?”
Kanya mengeluarkan ponselnya dari saku jaket. Ia menunjukkan layarnya padaku.
Pesan-pesannya ke Saka. Kak. Kak Clara barusan nelpon aku. Nangis. Dia bilang Kakak cium dia terus bilang jangan dulu. KAK. Kakak ngelakuin hal yang sama lagi? Kalau Kakak nggak jawab dalam lima menit, aku yang jawab buat Kakak. Ke dia. Semuanya.
Di bawahnya, tidak ada balasan.
Hanya satu tanda kecil di bawah pesan terakhir: Dibaca 18.33.
Dan di atas kolom obrolan, di bawah nama Kak Saka, tulisan abu-abu kecil yang muncul dan hilang, muncul dan hilang, seperti yang Kanya tangkap layar tiga kali sebelum berangkat:
sedang mengetik…
sedang mengetik…
sedang mengetik…
Lalu tidak ada apa-apa.
“Dia ngetik,” kata Kanya pelan. “Tiga kali. Lima menit. Terus dia hapus semuanya. Dia nggak kirim apa-apa.” Suaranya pecah lagi. “Kak, Kak Saka nggak pernah nggak jadi kirim pesan. Kak Saka itu kalau ngetik, dia kirim. Kalau dia nggak mau ngomong, dia nggak ngetik sama sekali.”
“Jadi?”
Kinan yang menjawab. Dari karpet, dengan suara datar, kacamata masih berembun.
“Jadi kali ini dia nggak nyuruh kami diam,” katanya. “Itu pertama kalinya.”
Kanya dan Kinan pulang pukul sepuluh lewat dua puluh. Bram yang mengantar, dengan mobilnya sendiri, setelah memaksa mereka makan nasi goreng buatan Bi Iyem di dapur. Bi Iyem menatap Kanya lama dan berkata, Oh, ini guru masaknya Non Clara, dan Kanya, dengan mata bengkak dan hidung merah, tertawa untuk pertama kalinya malam itu.
Di depan pintu, sebelum masuk ke mobil Bram, Kanya memelukku.
Keras. Lama. Celemek hitam DAPUR KANYA masih di balik jaketnya, basah dan bau minyak goreng.
“Kak,” bisiknya di bahuku. “Jangan biarin dia nyuruh Kakak pulang lagi.”
“Nggak akan.”
“Janji?”
“Aku janji, Kanya.”
Kinan tidak memelukku. Kinan menepuk lenganku dua kali, kaku, lalu berkata dengan suara datar:
“Kak Clara. Malam ini Kakak pasti nggak bisa tidur. Kalau nggak bisa tidur, jangan gigit bibir terus. Kakak udah gigit dua puluh tiga kali dari tadi. Nanti luka.”
“Kamu ngitung?”
“Kak Saka ngajarin.”
Mobil Bram pergi. Aku berdiri di depan pintu rumah, di bawah lampu teras yang kuning, menatap jalan Menteng yang basah dan berkilau.
Ketika aku berbalik untuk masuk, aku melihat cahaya di lantai dua.
Ruang kerja Papa. Lampu baca hijau. Pintu kayu jati itu tidak tertutup penuh. Terbuka sedikit, mungkin sepuluh senti.
Dan di balik jendela ruang kerja, yang menghadap ke halaman depan, berdiri seseorang. Siluet. Tangan di saku. Menatap ke jalan, ke arah mobil Bram yang baru saja pergi.
Papa.
Kamarku di ujung lorong lantai dua. Ruang kerja Papa di ujung yang lain. Lorongnya panjang, tapi rumah ini sunyi di malam hari, dan pintu kayu jati itu terbuka sepuluh senti, dan Kanya menangis keras, dan Kinan mengutip dengan suara yang jelas.
Aku tidak tahu berapa banyak yang Papa dengar.
Siluet di jendela tidak bergerak. Lalu, pelan, ia mengangkat tangan kirinya dan menatap sesuatu di pergelangannya. Lama.
Lalu lampu baca hijau padam.
Pukul satu pagi, aku duduk di lantai kamar mandi.
Di tempat yang sama, lima tahun lalu, aku duduk dengan ponsel di tangan dan pesan yang belum dibuka. Besok jam sepuluh?
Malam ini, aku duduk dengan ponsel di tangan dan membuka obrolan dengan nomor yang kusimpan dengan nama yang tidak pernah kuganti sejak tiga minggu lalu: Saka.
Pesan terakhirnya: Aku lihat.
Aku mengetik.
Kanya cerita. Semuanya.
Aku menatap kalimat itu. Aku tidak menghapusnya.
Malam itu. Lima tahun lalu. Kamu duduk di lantai sampai jam satu. Kamu bilang ke mereka kamu yang lepasin aku. Biar aku bisa pergi tanpa ngerasa ninggalin siapa-siapa.
Kamu jadiin dirimu alasan yang gampang.
Air mataku jatuh ke layar. Aku menghapusnya dengan ujung jari dan mengetik lagi.
Lima tahun aku nulis aku yang pergi. Delapan puluh empat bab. Dan kamu baca semuanya. Dan kamu tahu itu salah. Dan kamu nggak bilang apa-apa.
Kalimat terakhirnya salah karena aku nggak pergi. Kamu yang nyuruh aku pulang.
Iya, kan?
Aku mengirimnya. Semuanya. Satu per satu.
Centang dua. Satu menit. Dua. Tiga.
Biru.
Kursor berkedip di kolom balasannya.
sedang mengetik…
Berhenti.
sedang mengetik…
Berhenti.
Aku menunggu. Aku menunggu seperti ia menunggu, lima tahun lalu, di lantai kontrakan, di sebelah kompor yang kakinya diganjal sandal jepit.
Pukul satu lewat dua puluh tiga, satu pesan masuk.
Saka: Iya.
Satu kata.
Aku menatapnya sampai layar meredup. Aku menyentuhnya supaya terang lagi. Aku menatapnya lagi.
Iya.
Lima tahun lalu aku bilang sudah. Malam ini dia bilang iya.
Satu kata dibalas satu kata. Lima tahun di antaranya.
Aku mengetik balasan. Bukan tiga kata itu. Belum. Tiga kata itu tidak boleh dikirim lewat ponsel, di lantai kamar mandi, pukul satu pagi. Tiga kata itu sudah lima tahun menunggu. Mereka berhak diucapkan di tempat yang benar.
Clara: Besok. Jam sepuluh.
Clara: Bangku flamboyan. Kampus.
Clara: Jangan telat. Kalau telat, aku yang jemput ke Sentul. Pakai satpam.
Centang dua. Biru. Tiga detik.
Saka: Oke.
Aku meletakkan ponsel di lantai keramik yang dingin. Aku memeluk lututku.
Lima tahun lalu, di lantai yang sama, aku memeluk lutut sampai subuh karena aku pikir aku yang pergi.
Malam ini, aku memeluk lutut sampai subuh karena aku tahu aku tidak pernah pergi sendirian.
Dan besok, untuk pertama kalinya, aku tidak akan membiarkan siapa pun memilih untukku.
Bahkan dia.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua) reading
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman