← Pria yang Ia Pilih

Chapter Forty

Menantu yang Dulu Dihina

POV: Saka

Om Hendro sudah berdiri di depan pagar rumah Menteng pukul lima kurang sepuluh.

Kemeja batik lengan pendek. Celana bahan cokelat. Sepatu kulit hitam yang sudah lama, tumitnya agak miring. Tas jinjing kecil dari kulit yang warnanya sudah pudar di bagian pegangan. Tidak ada koper. Tidak ada sopir.

Satpam yang lebih tua berdiri di pos, menatap Avanza perak tahun 2014 yang berhenti di depan pagar dengan wajah yang sama seperti lima tahun lalu, ketika ia menghitung jarak dari ban depan motor bebekku sampai lampu belakang. Lalu ia melihat Om Hendro membuka pintu penumpang depan dan masuk sendiri, dan wajah satpam itu berubah menjadi sesuatu yang tidak bisa kubaca.

“Jalan,” kata Om Hendro.

Aku jalan.


Tol Trans Jawa pukul lima pagi kosong. Aku menyetir di lajur kiri, delapan puluh kilo per jam. Batas aman. Bensin lebih irit.

Om Hendro tidak bicara sampai Cikampek.

Ia duduk tegak di kursi penumpang, menatap jalan tol yang lurus dan abu-abu, dengan tangan di atas lutut. Pergelangan tangan kirinya masih kosong. Di lampu-lampu jalan yang lewat, aku melihat garis pucat di kulitnya, tempat arloji itu dulu berada. Garis yang lebih terang dari kulit di sekitarnya, seperti bekas sesuatu yang dipakai terlalu lama.

Di Cikampek, ia bertanya, tanpa menoleh:

“Kamu belajar nyetir dari siapa?”

“Bapak, Om. Pakai motor bebek. Umur dua belas.”

“Mobil?”

“Belajar sendiri. Dari video.”

“Tol luar kota?”

“Pertama kali, Om.”

Om Hendro menoleh. Untuk pertama kalinya sejak Menteng. Ia menatapku seperti menatap orang yang baru mengaku belajar operasi jantung dari video.

“Pertama kali,” ulangnya.

“Iya, Om.”

“Dan kamu nyetir ke Solo.”

“Video-nya bagus, Om.”

Om Hendro menatapku lama. Lalu ia kembali menatap jalan. Tapi aku melihat sesuatu di sudut bibirnya. Satu milimeter. Seperti di warung Bu Tini.


AC Avanza mati di Brebes.

Bukan karena macet. Karena matahari pukul sembilan pagi di jalan tol Pantura terlalu panas untuk AC berumur dua belas tahun. Kipasnya berhenti berputar dengan bunyi seperti batuk. Udara di dalam mobil berubah dari dingin menjadi hangat menjadi panas dalam waktu empat menit.

“Maaf, Om,” kataku. “Saya buka jendela.”

Om Hendro tidak menjawab. Keringat mulai muncul di pelipisnya, di bawah rambut yang disisir rapi. Kemeja batiknya mulai basah di punggung.

Aku membuka jendela. Angin jalan tol masuk, panas dan berdebu, membawa bau aspal dan solar truk.

Om Hendro memejamkan mata. Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Ia membiarkan angin itu menerpa wajahnya.

“Mobil pertama saya,” katanya, dengan mata masih terpejam, “Kijang tahun delapan puluh sembilan. Bekas. Saya beli dari tukang sayur di Pasar Senen. Tiga juta dua ratus. Saya cicil delapan bulan.”

Aku tidak menjawab. Aku menunggu.

“AC-nya mati dari awal,” kata Om Hendro. “Saya nggak pernah benerin. Mahal. Saya buka jendela terus. Lima tahun.” Ia membuka mata dan menatap jalan tol di depan. “Ratna nggak pernah protes. Lima tahun dia duduk di kursi itu, kepanasan, rambutnya berantakan kena angin. Dia nggak pernah protes sekali pun.”

Aku menatap jalan.

Tante Ratna. Kebaya brokat. Lobi Menara Kusumadewi. Tante bukan orang yang berani, Saka. Kadang jadi baik itu artinya diam waktu harusnya bicara.

Lima tahun di Kijang tanpa AC. Tidak pernah protes sekali pun.

Aku tidak tahu apakah itu diam, atau berani.


Di rest area kilometer tiga ratus enam puluh, Om Hendro meminta berhenti.

Ia berjalan ke deretan warung di belakang pom bensin, melewati restoran cepat saji dan kafe dengan kursi berbantal, ke warung pecel paling ujung dengan bangku kayu dan meja plastik dan seorang ibu tua yang mengulek sambal kacang di cobek batu besar.

“Pecel,” kata Om Hendro. “Dua.”

“Lima belas ribu satu porsi, Pak,” kata ibu itu.

Om Hendro menatapnya. “Di Solo sepuluh ribu.”

“Ini bukan Solo, Pak. Ini rest area.”

“Dua belas.”

Ibu itu menatap Om Hendro. Kemeja batik basah keringat. Rambut yang sudah tidak terlalu rapi karena angin jalan tol. Wajah yang tidak ia kenali sebagai wajah Direktur Utama Kusumadewi Group, karena di rest area kilometer tiga ratus enam puluh, tidak ada yang membaca halaman bisnis.

“Tiga belas,” kata ibu itu. “Tambah kerupuk.”

“Deal.”

Aku berdiri di belakang Om Hendro dan tidak bisa bergerak.

Om Hendro membayar dua puluh enam ribu dan duduk di bangku kayu. Aku duduk di seberangnya. Pecel di atas pincuk daun pisang. Sayuran rebus, sambal kacang, peyek teri, dua kerupuk.

Om Hendro makan dengan tangan. Rapi. Cepat. Tidak ada sayuran yang jatuh.

Ia mengangkat wajah dan melihatku belum menyentuh pecelku. Aku masih menatapnya.

“Kenapa?” tanyanya.

“Om nawar.”

“Lima belas ribu buat pecel itu kemahalan.”

“Om nawar dua ribu.”

“Dua ribu kali dua, empat ribu. Empat ribu itu dua bakwan.”

Aku menatapnya. Lama.

Om Hendro menatapku balik. Lalu, pelan-pelan, sesuatu di wajahnya berubah. Ia menyadari apa yang baru saja ia katakan. Ia menyadari dengan siapa ia mengatakannya.

Ia menunduk ke pecelnya.

“Makan,” katanya. “Masih jauh.”


Kami masuk Solo pukul satu siang.

Om Hendro menunjukkan jalan tanpa melihat peta. Belok kiri di sini. Lurus. Belok kanan setelah masjid. Lurus terus sampai pasar. Belok kiri di gang setelah toko kain. Ia menunjuk dengan tangan, tidak dengan dagu, dan suaranya semakin pelan setiap kali belokan.

Gang setelah toko kain terlalu sempit untuk mobil.

Aku memarkir Avanza di depan toko kain, di samping gerobak es dawet. Om Hendro turun dan berjalan masuk ke gang tanpa menunggu.

Aku mengikutinya.

Gang itu lebih sempit dari gang kontrakan kami di dekat stasiun. Lebarnya satu setengah meter. Rumah-rumah di kedua sisinya berdempetan, dinding bata yang dicat ulang berkali-kali dengan warna berbeda, atap genteng yang hampir bersentuhan di atas kepala. Selokan kecil di sisi kiri. Jemuran pakaian di sisi kanan. Seekor kucing tidur di atas pot bunga yang retak. Bau kayu bakar dan bau kain baru dari toko di mulut gang.

Om Hendro berjalan pelan. Sangat pelan. Seperti orang yang berjalan di tempat yang terlalu banyak menyimpan langkah-langkah lama.

Lima puluh meter. Tujuh puluh. Ia berhenti.

Rumah kecil di sisi kanan gang. Satu lantai. Dinding bata yang dicat hijau muda, sudah mengelupas di banyak bagian, memperlihatkan lapisan cat kuning di bawahnya, dan lapisan putih di bawah yang kuning. Pintu kayu dengan dua daun, catnya cokelat tua. Jendela kecil dengan teralis besi yang berkarat.

Di atas pintu, papan kayu kecil yang sudah lapuk. Tulisan tangan dengan cat hitam, hampir hilang dimakan hujan dan matahari:

PENJAHIT WICAKSONO
Permak — Jahit Baru — Pasang Kancing

Om Hendro berdiri di depan pintu itu.

Ia tidak bergerak lama sekali.

Lalu ia mengeluarkan kunci dari saku celananya. Kunci tua, kuningan, dengan gantungan kain batik yang sudah pudar. Ia memasukkannya ke lubang kunci. Tangannya, aku melihatnya, gemetar.

Pintu terbuka dengan bunyi berderit yang panjang.


Di dalam, gelap dan dingin dan bau debu.

Om Hendro membuka jendela kecil dengan teralis besi berkarat. Cahaya siang masuk miring, menerangi debu-debu yang beterbangan di udara.

Ruangan depan, sempit, tidak lebih besar dari ruang depan kontrakan kami. Lantai ubin abu-abu yang retak di beberapa bagian. Dan di tengah ruangan, di bawah jendela, menghadap ke cahaya:

Mesin jahit.

Mesin jahit hitam tua dengan kaki besi tempa dan pedal kaki yang lebar. Tulisan emas di badannya sudah hampir hilang, tapi masih terbaca sebagian. Di sampingnya, kursi kayu kecil tanpa sandaran. Di atas meja mesin, sebuah kaleng.

Kaleng permen bekas. Logam, bulat, catnya sudah pudar sampai gambar di tutupnya tidak bisa dikenali lagi.

Aku berhenti bernapas.

Om Hendro berjalan ke mesin jahit itu. Ia menyentuh badan mesinnya dengan ujung jari. Ia mengusap debu dari tulisan emas yang hampir hilang. Lalu ia mengambil kaleng permen bekas itu dan membukanya.

Kancing-kancing. Puluhan. Kancing kemeja putih. Kancing celana hitam. Kancing jaket cokelat yang besar dan bulat.

Ia menatap kancing-kancing itu lama.

“Bapak saya,” katanya pelan, “jahit di mesin ini empat puluh tahun. Dari umur enam belas sampai meninggal. Permak celana. Pasang kancing. Jahit seragam sekolah anak-anak tetangga. Dua ratus perak satu kancing, waktu saya kecil.” Ia menutup kaleng itu. “Ibu saya kumpulin kancing yang lepas dari baju pelanggan yang nggak diambil-ambil. Katanya sayang dibuang. Katanya nanti pasti ada yang butuh.”

Aku tidak bisa bicara.

Kaleng permen bekas. Kancing-kancing. Rak di atas kompor di kontrakan dua petak. Jepit bunga liar dan kertas kado kuning. Ibu Clara, Tante Ratna. Ibu saya, ibumu. Ternyata kebiasaan keluarga.

Ternyata bukan kebiasaan satu keluarga. Ternyata kebiasaan semua ibu yang tidak pernah punya cukup.


Om Hendro duduk di kursi kayu kecil tanpa sandaran di depan mesin jahit. Punggungnya tidak tegak lagi. Bahunya turun sedikit, seperti seseorang yang sudah lama sekali membawa sesuatu yang berat dan baru saja meletakkannya.

Aku duduk di lantai ubin, bersandar ke dinding, di seberangnya.

“Saya kuliah di Jakarta pakai beasiswa,” katanya. “Ekonomi. Saya tinggal di kos-kosan di Salemba, satu kamar bertiga. Makan sekali sehari. Kadang nasi telur.” Ia menatap kaleng di pangkuannya. “Saya ketemu Ratna di perpustakaan. Semester lima. Dia jatuhin buku, saya pungutin. Saya nggak lihat mukanya. Saya cuma pungut bukunya, taruh di meja, terus pergi.”

Aku menatap Om Hendro.

Ia tidak menatapku. Ia menatap kancing-kancing di dalam kaleng.

“Ratna bilang itu sebabnya dia penasaran,” katanya. “Karena saya nggak lihat mukanya.”

Aku menutup mata.

Kamu satu-satunya orang yang nggak lihat aku kayak barang pajangan.

“Kami pacaran dua tahun,” lanjut Om Hendro. “Diam-diam. Ratna nggak berani bilang ke ayahnya. Ayahnya, Kusumadewi, pendiri grup. Laki-laki di lukisan besar di ruang tamu rumah Menteng. Kamu lihat lukisannya, waktu makan malam dulu.”

“Saya lihat, Om.”

“Waktu saya lulus, saya datang ke rumah itu buat melamar Ratna.” Om Hendro diam sebentar. “Saya pakai kemeja terbaik saya. Celana bahan yang sudah agak pendek di pergelangan kaki. Dan sepatu.”

Ia mengangkat wajah dan menatapku untuk pertama kalinya sejak masuk rumah ini.

“Sepatu kets,” katanya. “Abu-abu. Dari pasar. Sisi kanannya robek. Saya jahit sendiri pakai benang nilon dari mesin Bapak. Dua kali.”

Aku tidak bisa bernapas.

“Ayah Ratna lihat sepatu saya,” kata Om Hendro. “Dia lihat lama sekali. Terus dia bilang ke Ratna, di depan saya, di depan seluruh keluarga, di meja makan yang panjangnya empat meter dua puluh…” Suaranya bergetar. “Ratna, calon suamimu ini jahit sepatunya pakai benang apa? Benang layangan?”

Rumah kecil di gang sempit itu sangat hening.

“Semua orang ketawa,” kata Om Hendro. “Paman-paman Ratna. Bibi-bibinya. Sepupu-sepupunya. Ratna nggak ketawa. Ratna pegang tangan saya di bawah meja.” Ia berhenti. “Tangannya gemetar.”

Aku menunduk. Aku menatap tanganku sendiri di atas lutut.

“Ayah Ratna nolak lamaran saya,” kata Om Hendro. “Dia bilang saya nggak sekufu. Dia bilang anaknya akan menyesal seumur hidup, hidup di kontrakan dengan tukang jahit punya anak. Dia bilang di umur dua puluh, cinta itu indah. Di umur tiga puluh, cinta itu tagihan.”

Tante Wulan. Arisan. Puding mangga. Kalimat yang sama. Tiga puluh tahun kemudian, diucapkan orang lain, di ruang tamu yang sama.

“Saya mau mundur,” kata Om Hendro pelan. “Saya bilang ke Ratna, malam itu, di Kijang yang AC-nya mati. Saya bilang pulang, Ratna. Ayahmu benar. Kamu nggak harus hidup susah karena saya.”

Aku mengangkat wajah.

Om Hendro menatapku. Matanya merah.

“Saya bilang pulang, Saka,” katanya. “Sama persis kayak kamu.”

Aku tidak bisa bicara.

“Ratna nggak mau,” kata Om Hendro. Suaranya pecah di tengah. “Ratna yang dari kecil diajari jadi anak baik, istri baik, ibu baik. Ratna yang nggak pernah bilang tidak ke ayahnya. Malam itu, di Kijang tanpa AC, Ratna bilang ke saya, Hendro, kamu nggak berhak milih buat aku.”

Sesuatu di dadaku runtuh.

Kamu nggak berhak milih buat aku.

Bangku kayu. Bunga flamboyan. Kaus putih dan mata yang bengkak.

“Kami nikah,” kata Om Hendro. “Tanpa restu. Tiga bulan kemudian Ayah Ratna sakit, dan dia butuh orang buat ngurus perusahaan, dan anaknya cuma Ratna. Jadi dia terima saya. Dia kasih saya kerjaan di perusahaannya. Di bagian paling bawah.”

Ia mengambil satu kancing dari kaleng. Kancing jaket cokelat, besar, bulat. Ia memutarnya di antara jari.

“Lima belas tahun,” katanya. “Lima belas tahun dia panggil saya menantu numpang. Di depan direksi. Di depan klien. Di Lebaran, di depan seluruh keluarga. Dia suruh saya duduk di ujung meja, paling jauh dari dia. Dia nggak pernah sebut nama saya. Dia panggil saya suaminya Ratna. Lima belas tahun.” Kancing itu berhenti berputar. “Saya kerja dari jam enam pagi sampai jam sebelas malam. Saya besarkan perusahaannya dua kali lipat. Saya bikin divisi ritel yang sekarang jadi Kusuma Mart. Waktu dia meninggal, dia nggak pernah sekali pun bilang terima kasih.”

Om Hendro meletakkan kancing itu kembali ke kaleng.

“Saya nggak benci dia,” katanya pelan. “Saya cuma… saya cuma nggak mau Clara lihat itu. Saya nggak mau Clara duduk di meja makan, pegang tangan suaminya di bawah meja, tangannya gemetar, sementara ayahnya sendiri ketawa soal benang di sepatu suaminya.”

Ia menatapku.

“Dan saya takut, Saka,” katanya. Suaranya hampir tidak terdengar. “Lima tahun lalu, waktu kamu duduk di meja makan saya, dengan sepatu kets abu-abu dan jahitan benang nilon di sisi kanannya… saya takut yang ketawa itu saya.”


Aku tidak tahu berapa lama kami diam.

Cahaya siang yang masuk dari jendela berteralis bergerak pelan di lantai ubin. Debu-debu beterbangan. Di luar, di gang sempit, seorang anak kecil berlari sambil berteriak, lalu suara ibunya memanggil, lalu sunyi lagi.

Om Hendro mengeluarkan sesuatu dari saku kemeja batiknya.

Arloji. Kecil. Tipis. Tali kulit cokelat yang retak di beberapa bagian. Kaca yang sedikit buram.

Ia meletakkannya di atas meja mesin jahit, di samping kaleng permen bekas.

“Ibu saya,” katanya, “beli ini di Pasar Klewer. Tiga puluh lima ribu. Dicicil tiga kali. Dikasih ke saya di hari pernikahan, di KUA, karena kami nggak bisa bikin resepsi.” Ia menatap arloji itu. “Ibu bilang, Le, ini biar kamu tahu waktumu sendiri. Bukan waktu mereka.”

Bukan waktu mereka.

“Saya pakai tiga puluh tahun,” kata Om Hendro. “Nggak pernah lepas. Mandi, tidur, rapat direksi. Biar saya ingat. Saya bukan menantu numpang. Saya anak tukang jahit dari gang ini. Saya punya waktu saya sendiri.”

Ia diam lama.

“Saya lepas seminggu sebelum gala Floo Writers Award,” katanya. “Waktu saya nonton kamu di forum ekonomi. Waktu kamu bilang saya yang suruh dia pulang, kalau ada yang perlu disalahkan, itu saya.” Ia menatapku. “Saya lepas karena saya sadar sesuatu.”

“Apa, Om?”

“Saya pakai arloji ini tiga puluh tahun biar saya nggak lupa rasanya dihina.” Om Hendro menyentuh tali kulit yang retak. “Tapi saya lupa satu hal. Saya lupa rasanya dipilih.”

Ia menatap kaleng permen bekas.

“Ratna milih saya,” katanya pelan. “Di Kijang tanpa AC. Waktu saya bilang pulang. Dia nggak pulang. Dia milih saya. Dan saya, tiga puluh tahun kemudian, berdiri di ujung meja makan empat meter dua puluh dan bilang ke anak saya sendiri kamu begini karena dia sudah kaya.”

Ia tidak melanjutkan.

Debu bergerak di cahaya miring dari jendela. Di luar, di gang, seseorang menyeret sandal.

Pipi kiri Om Hendro basah. Ia tidak menghapusnya.

“Malam itu,” katanya, “waktu adik-adikmu datang ke rumah saya, waktu Kanya cerita. Saya dengar dari ruang kerja. Pintunya nggak saya tutup. Saya dengar kamu duduk di lantai sampai jam satu. Saya dengar kamu bilang lebih baik aku jadi alasan yang gampang.” Ia menatapku. “Saya nggak tidur sampai subuh. Karena saya ingat Kijang tanpa AC. Saya ingat saya pernah mau jadi alasan yang gampang juga. Dan Ratna nggak ngizinin.”

Ia menarik napas panjang.

“Dan Clara juga nggak ngizinin kamu,” katanya. “Sekali di bangku flamboyan. Sekali lagi di ballroom itu, di depan empat ratus orang.” Ia tersenyum, basah. “Dia anak Ratna. Saya lupa itu. Saya pikir dia anak saya. Ternyata dia anak Ratna.”


Aku berdiri dari lantai ubin.

Lututku kaku. Aku tidak tahu sudah berapa lama aku duduk di sana. Aku berjalan ke depan mesin jahit, ke kursi kayu kecil tanpa sandaran tempat Om Hendro duduk dengan kaleng permen bekas di pangkuan dan arloji di atas meja mesin.

Aku berdiri di depannya. Satu meter. Jarak yang sopan.

Lalu aku berlutut.

Di lantai ubin abu-abu yang retak, di rumah penjahit di gang sempit di Solo, di depan mesin jahit hitam tua dengan tulisan emas yang hampir hilang.

Om Hendro menatapku. Matanya membesar.

“Om,” kataku.

Aku sudah menyusun kalimat ini sejak warung Bu Tini. Sejak taksi biru menghilang di tikungan dan Om Hendro bilang Solo. Sejak tol Trans Jawa dan AC yang mati di Brebes dan pecel yang ditawar dua ribu. Aku sudah menyusunnya ribuan kali di kepala, memeriksanya, mengujinya.

Aku tidak memakai satu pun.

“Lima tahun lalu saya bilang nggak apa-apa, Om,” kataku. “Ke Clara. Ke diri saya sendiri.” Suaraku bergetar. Aku tidak menekannya. “Saya nggak pernah minta apa-apa. Saya pikir kalau saya nggak minta, nggak ada yang perlu nolak.”

Om Hendro tidak bergerak.

“Clara bilang saya nggak pernah bilang apa yang saya butuh,” kataku. “Dia benar.”

Aku menarik napas.

“Apa-apa, Om.”

Om Hendro berkedip.

“Itu bukan nggak apa-apa,” kataku. “Itu apa-apa. Saya mau dia. Saya mau Clara.” Air mataku jatuh. Aku tidak menghapusnya. “Saya nggak datang buat nunggu dia dipilihkan. Saya nggak datang buat bilang pulang lagi. Saya datang buat minta.”

Aku menatap Om Hendro.

“Saya minta izin, Om,” kataku. “Buat melamar anak Om.”


Om Hendro tidak menjawab.

Ia menatapku. Laki-laki dengan kemeja kotak-kotak biru dan sepatu kets abu-abu, berlutut di lantai ubin rumah ayahnya, di depan mesin jahit yang menjahit sepatu kets abu-abunya sendiri tiga puluh tahun lalu.

Lalu bahunya berguncang.

Satu kali. Dua kali.

Om Hendro Wicaksono, Direktur Utama Kusumadewi Group, yang tidak pernah menaikkan suara, yang tidak pernah tertawa, yang tidak pernah pucat kecuali di malam gala ketika aku naik panggung, menutup wajahnya dengan dua tangan, di kursi kayu kecil tanpa sandaran, dan menangis.

Bukan tangis yang keras. Tangis yang pelan, tertahan, seperti tangis yang sudah tiga puluh tahun tidak diizinkan keluar dan tidak tahu lagi caranya.

Aku tidak bergerak. Aku tetap berlutut. Aku menunggu.

Aku selalu menunggu.

Setelah lama sekali, Om Hendro menurunkan tangannya. Wajahnya basah. Matanya merah. Ia menatapku, dan untuk pertama kalinya, matanya bukan mata auditor. Bukan mata yang mengumpulkan data. Mata seorang ayah yang baru saja melihat sesuatu yang sudah lama sekali ia tunggu, dan tidak pernah berani mengakui bahwa ia menunggunya.

Ia mengulurkan tangan. Tangan kanannya. Ke arahku.

Aku menatap tangan itu. Lalu aku meraihnya.

Ia menarikku berdiri. Kuat. Lebih kuat dari yang kuduga.

Lalu ia memelukku.

Kaku. Canggung. Seperti seseorang yang menulis baris kode pertama dalam bahasa yang tidak pernah ia pelajari. Satu tangan di punggungku, menepuk dua kali, terlalu keras.

“Saka,” katanya ke bahuku.

“Iya, Om.”

“Kamu nggak perlu berlutut.”

“Saya mau, Om.”

Om Hendro diam. Lalu ia tertawa. Pendek. Basah. Pertama kalinya aku mendengar Om Hendro tertawa.

“Kamu mirip saya,” katanya. “Itu yang paling saya takutin dari dulu.”

Ia melepas pelukannya. Ia menatapku dari jarak tiga puluh senti. Lalu ia mengambil arloji dari atas meja mesin jahit. Tali kulit cokelat yang retak. Kaca yang buram. Tiga puluh lima ribu, Pasar Klewer, dicicil tiga kali.

Ia memakainya kembali. Di pergelangan tangan kirinya. Di atas garis pucat yang tertinggal.

“Sudah saatnya saya pakai lagi,” katanya. “Bukan buat ingat rasanya dihina.”

Ia mengencangkan talinya.

“Buat ingat rasanya dipilih.”


Ia tidak mengatakan iya.

Om Hendro tidak pernah mengatakan sesuatu secara langsung. Clara bilang begitu. Bram bilang begitu. Kalau Papa bangga, Papa tidak ngomong. Papa cerita ke orang lain.

Om Hendro mengunci pintu rumah penjahit. Ia menyimpan kunci kuningan dengan gantungan kain batik di saku celananya. Ia berjalan keluar dari gang sempit, melewati kucing yang masih tidur di atas pot bunga retak, ke toko kain di mulut gang.

Ia berhenti di depan Avanza perak tahun 2014 yang terparkir di samping gerobak es dawet.

Ia menatap mobil itu lama. Lalu ia menatapku.

“Jepit di rambut Clara,” katanya. “Yang bunga liar.”

“Iya, Om.”

“Ibu saya beli di Pasar Klewer. Tiga ribu. Waktu Clara umur sepuluh.” Ia menatap jalan. “Ibu bilang ke Clara, bunga liar tumbuh di mana aja. Nggak ada yang nanam. Nggak ada yang nyiram. Tapi tetap mekar.”

“Clara cerita, Om.”

“Ibu sebenarnya nggak ngomong soal bunga.” Om Hendro membuka pintu penumpang. “Ibu ngomong soal saya.”

Ia masuk ke mobil. Ia menutup pintu.

Aku berdiri di samping Avanza, di depan toko kain, di bawah matahari pukul empat sore di Solo, lama.

Lalu aku masuk ke kursi pengemudi.

Om Hendro sudah memakai sabuk pengaman. Ia menatap jalan di depan. Lalu, tanpa menoleh, ia berkata:

“AC-nya nggak usah dinyalain. Buka jendela aja.”

“Panas, Om.”

“Nggak apa-apa.” Ia diam sebentar. Lalu ia mengoreksi dirinya sendiri, dengan suara yang sangat pelan. “Bukan. Panas. Tapi saya mau.”

Aku membuka jendela.

Kami menyetir pulang ke Jakarta dengan jendela terbuka, delapan puluh kilo per jam di lajur kiri, disalip semua orang. Om Hendro tidak bicara sampai Semarang. Di Semarang, ia mengeluarkan ponselnya, mengetik sesuatu, dan mengirimnya.

Aku tidak melihat isinya. Aku tidak bertanya.

Tapi lima menit kemudian, ponselku bergetar di dasbor. Satu getar. Pesan masuk.

Clara: Saka.
Clara: Papa barusan nge-chat aku.
Clara: Pertama kali dalam empat minggu.

Lalu satu tangkapan layar.

Dari nomor yang disimpan Clara dengan nama Papa, satu pesan, dikirim pukul enam lewat dua belas sore:

Nak. Papa di Semarang. Sama Saka. Nanti malam Papa sampai rumah. Papa mau ngomong. Soal Kijang tanpa AC.

Di bawahnya, satu pesan lagi, dikirim satu menit kemudian:

Dia berlutut.

Aku menatap layar.

Di kursi penumpang, Om Hendro menatap jalan tol yang lurus dan abu-abu, dengan jendela terbuka dan angin yang mengacak rambutnya yang tidak rapi lagi. Arloji tiga puluh lima ribu di pergelangan kirinya berkilat di bawah matahari sore.

Ia tidak menoleh.

Tapi sudut bibirnya naik. Satu milimeter. Dua. Tiga.

Aku tidak menghitung lebih jauh.