Chapter Twelve
Pulang, Clara
POV: Clara
Ucup ada di bangku beton ketika aku datang.
Ia berdiri dengan kartu identitas berwarna perak tergantung di lehernya, tali lanyard dengan logo perusahaan teknologi global yang direkturnya duduk di meja juri Tech Cup. Ia memegang kartu itu dengan dua tangan dan memamerkannya ke arahku dari jarak sepuluh meter, seperti anak TK yang baru dapat bintang dari guru.
“Mbak Clara! Lihat! Lihat! Kartu akses mentorship! Bisa masuk ke lantai tiga puluh dua!”
“Bagus, Cup.”
“Lantai tiga puluh dua, Mbak! Ada kantinnya! Kopinya gratis!” Ia mencium kartu itu. “Saka nggak mau ambil kopi gratisnya, katanya nanti jadi ketergantungan. Aku ambil enam gelas. Aku sekarang bisa dengar warna.”
Aku tertawa. Tawaku keluar dengan normal, dan itu membuatku takut, karena aku tidak tahu sejak kapan aku bisa tertawa dengan normal sambil merasa seperti ini.
Saka duduk di bangku beton. Laptop di pangkuan, kotak bekal biru di sebelahnya. Ia mengangkat wajah ketika aku datang. Tiga detik. Lalu ia menutup laptopnya.
Ia tidak pernah menutup laptopnya ketika aku datang. Ia selalu tetap mengetik, minimal satu baris, sebelum menoleh.
Hari ini ia menutupnya.
Ucup menatap Saka. Lalu menatapku. Lalu menatap Saka lagi. Kartu perak di tangannya pelan-pelan turun.
“Aku… aku ke kelas, deh,” katanya. “Ada… ada kelas. Kayaknya. Mungkin. Pokoknya aku pergi.” Ia melangkah mundur, tersandung paving yang menonjol dua senti, paving yang sama yang membuatku menumpahkan kopi lima bulan lalu, menyeimbangkan diri, dan menghilang ke gedung Ilmu Komputer tanpa menoleh lagi.
Kami berdua di bawah flamboyan.
Bunganya sudah tidak semerah bulan Januari. Akhir Juni, kemarau mulai datang, dan sebagian besar bunga sudah gugur, tinggal beberapa yang masih bertahan di ujung-ujung dahan. Daunnya mulai menguning. Di atas paving, bunga-bunga yang gugur sudah mengering dan berwarna cokelat, terinjak, terlupakan.
Aku duduk di sebelahnya. Di bangku beton. Tempatku.
“Telurnya dua,” kata Saka, menunjuk kotak bekal. “Satu buat kamu.”
“Aku nggak lapar.”
Ia menatapku. Lebih dari tiga detik. Ia membuka kotak bekal itu, memotong setengah telur dengan sendok, rapi, seperti hari itu di bulan Februari, dan menyodorkannya ke arahku tanpa berkata apa-apa.
Aku menatap telur itu. Pinggirannya garing kecokelatan. Sempurna. Seperti setiap hari selama tiga tahun ditambah lima bulan.
Aku tidak bisa memakannya.
“Saka,” kataku. “Aku…”
Kalimat itu berhenti. Aku sudah menyusunnya semalam. Aku sudah menyusunnya di lantai kamar mandi, di mobil, di sepanjang jalan setapak dari gedung FEB ke FMIPA. Aku menyusunnya puluhan kali dan setiap kali hasilnya berbeda, dan tidak satu pun yang benar.
Saka menunggu. Ia selalu menunggu. Ia meletakkan sendok kembali ke kotak bekal dan menunggu.
“Papa,” kataku akhirnya. “Papa ngasih aku surat MT. Divisi Retail. Mulai September. Harus tanda tangan sebelum akhir bulan.”
“Bagus.”
“Dua tahun.”
“Iya.”
“Papa bilang… Papa bilang aku harus fokus. Dua tahun.” Suaraku bergetar. Aku menekannya. “Papa nggak nyuruh kita putus. Papa nggak pernah nyuruh apa-apa. Papa cuma bilang fokus. Kamu tahu artinya.”
“Aku tahu.”
“Terus ada S2 di London. Setelah MT. Beasiswa yayasan. Papa bilang nggak memaksa, tapi…” Aku tertawa, dan tawanya keluar seperti batuk. “Tapi nggak ada yang pernah bilang nggak ke Papa. Nggak ada. Mama nggak pernah. Kak Bram nggak pernah. Aku…”
Aku berhenti. Aku menatap tanganku sendiri di pangkuan. Kukunya tidak dicat. Sudah tiga minggu aku tidak mengecat kuku. Aku lupa. Aku lupa banyak hal belakangan ini.
“Terus minggu lalu ada makan malam,” kataku pelan. “Sama keluarga Tanoto. Anaknya, Reinhard. Dia baik, Saka. Dia baik banget. Dia nggak ngapa-ngapain. Dia cuma… baik.” Air mataku jatuh, satu, ke punggung tangan. “Dan Papa sama Om Tanoto saling senyum di seberang meja. Dan Mama meremas tanganku. Dan pesanmu masuk jam sembilan, dan aku… aku nggak buka.”
Saka tidak bergerak.
“Aku nggak buka pesanmu, Saka. Aku duduk di sana, senyum sama Reinhard, ngangguk-ngangguk, sementara kamu nanya besok jam sepuluh? kayak tiap malam, dan aku nggak buka.” Aku menutup wajah. “Aku jahat. Aku tahu aku jahat.”
“Kamu nggak jahat.”
“Aku…”
“Clara.”
Aku menurunkan tangan. Saka menatapku. Wajahnya tenang. Datar. Permukaan kolam yang tidak tertiup angin. Tapi tangannya, tangan kanannya, aku melihatnya di atas bangku beton di antara kami, mencengkeram ujung kotak bekal biru. Buku-buku jarinya putih.
“Nggak apa-apa, Clara,” katanya.
Suaranya pelan. Biasa. Seperti orang yang menelan sesuatu tanpa mengunyah.
Buku-buku jarinya tetap putih.
“Kamu capek,” katanya.
Itu bukan pertanyaan.
Aku membuka mulut untuk membantah. Aku tidak bisa. Karena ia benar. Aku capek. Aku capek sejak arisan Mama. Aku capek sejak ruang kerja Papa. Aku capek setiap malam pukul sembilan, setiap kali ponselku bergetar dan aku tidak tahu harus menjawab apa. Aku capek tersenyum di meja makan Tanoto. Aku capek berpura-pura di depan Papa dan berpura-pura di depan Saka, dan aku tidak tahu lagi mana yang pura-pura dan mana yang bukan.
“Aku nggak bisa,” bisikku.
Aku tidak tahu apa yang tidak bisa. Aku tidak bisa bilang tidak ke Papa. Aku tidak bisa memilih. Aku tidak bisa melepaskan Saka. Aku tidak bisa berhenti menjadi anak yang baik. Semuanya. Semuanya sekaligus.
“Aku nggak bisa, Saka.”
Hening.
Angin bertiup. Satu bunga flamboyan terakhir, dari dahan paling ujung, gugur dan melayang turun pelan-pelan, berputar di udara, dan mendarat di atas kotak bekal biru. Di dekat retakan panjang di sudut tutupnya.
Saka menatap bunga itu lama.
Lalu ia mengangkat wajah dan menatapku. Lebih lama dari tiga detik. Lebih lama dari sepuluh. Matanya, aku tidak bisa membaca matanya. Tidak datar, tidak menyala. Sesuatu yang lain. Sesuatu yang bergerak di bawah permukaan kolam, sangat dalam, terlalu dalam untuk kulihat.
“Pulang, Clara,” katanya.
Pelan. Jelas. Seperti ketika ia menyebut namaku di lorong belakang panggung, dan ponselku bergetar dua pendek, satu panjang.
Aku menatapnya.
“Pilih yang nggak bikin kamu capek,” katanya.
Aku menunggu.
Aku menunggu ia mengatakan sesuatu yang lain. Jangan pergi. Atau kita bisa tunggu dua tahun. Atau aku akan bicara sama Papamu. Atau bahkan kamu jahat, apa saja, apa saja yang menunjukkan bahwa ia akan berjuang, bahwa aku tidak sendirian di bangku ini, bahwa kalau aku jatuh, ia akan menarikku.
Ia tidak mengatakan apa-apa lagi.
Ia menyingkirkan bunga flamboyan dari atas kotak bekal dengan ujung jari, hati-hati, seperti hari itu di bulan Februari. Ia menutup kotak bekal. Klik.
Setengah telur itu masih di dalamnya. Setengah yang ia potong untukku. Tidak ia makan. Tidak ia buang. Hanya ditutup.
Lalu ia membuka laptopnya lagi.
Aku menatap layar laptop itu. Layar hitam dengan huruf warna-warni. Ia tidak mengetik apa-apa. Kursornya berkedip di baris kosong.
Ia tidak mengetik apa-apa, tapi ia membuka laptopnya.
Dan aku mengerti. Atau aku pikir aku mengerti. Percakapan sudah selesai. Pintunya sudah ditutup. Dengan sopan, seperti hari pertama di bulan Januari, ketika ia bilang nggak apa-apa, sepatunya memang sudah tua dan kembali ke laptopnya.
Ia melepaskanku semudah itu.
Bukan. Bukan begitu. Aku yang bilang aku nggak bisa. Aku yang tidak membuka pesannya. Aku yang tersenyum pada Reinhard Tanoto di meja makan hotel bintang lima. Ia hanya mendengar apa yang kukatakan dan memberiku jalan keluar. Ia memberiku jalan keluar karena aku memintanya.
Aku yang pergi.
Aku berdiri.
Kakiku gemetar. Aku berdiri di depan bangku beton, di depan laki-laki dengan laptop tua dan kotak bekal retak, dan di tenggorokanku ada tiga kata yang sudah ada di sana sejak Januari. Tiga kata yang belum pernah kuucapkan karena aku pikir tidak perlu diucapkan, karena aku pikir ia sudah tahu, karena aku pikir kami punya waktu.
Aku pilih kamu.
Tiga kata. Aku hanya perlu mengeluarkannya. Seperti menekan tombol deploy.
Aku membuka mulut.
Di kepalaku, aku melihat map biru di laci meja belajar. Ruang kerja Papa dengan lampu baca hijau. Foto di depan menara Eiffel, Papa menggendongku di bahu. Tante Wulan menyendok puding mangga. Sekufu. Di umur tiga puluh, cinta itu tagihan. Rasa malu yang nggak bisa kamu ceritakan ke siapa-siapa.
Tiga kata itu tidak keluar.
Mereka menempel di tenggorokanku seperti duri ikan, dan aku tidak bisa menelannya, dan aku tidak bisa mengeluarkannya, dan aku berdiri di sana dengan mulut terbuka dan air mata yang jatuh dan jatuh dan jatuh.
Saka tidak menatapku. Ia menatap layar laptop. Kursornya berkedip.
“Hati-hati,” katanya. “Pavingnya.”
Aku tertawa. Aku tidak tahu bagaimana aku bisa tertawa. Tawanya pecah di tengah, berubah menjadi isak, dan aku menutup mulut dengan tangan dan berbalik dan berjalan.
Satu langkah. Dua langkah. Lima langkah. Paving yang menonjol dua senti. Aku melangkahinya. Aku tidak tersandung.
Di langkah kesepuluh, aku menoleh.
Saka tidak menatapku. Ia menatap ke bawah. Ke kotak bekal biru di sebelahnya. Tangan kanannya di atas tutupnya, di atas retakan panjang di sudutnya, dan ibu jarinya bergerak pelan, maju mundur, di sepanjang retakan itu. Mengusapnya. Seperti mengukur.
Laptopnya masih terbuka. Kursornya masih berkedip di baris kosong.
Ia tidak menoleh.
Aku berbalik lagi dan berjalan, dan kali ini aku tidak menoleh lagi, karena aku tahu kalau aku menoleh sekali lagi, aku akan berlari kembali ke bangku itu, dan aku tidak tahu apakah aku punya hak untuk melakukannya.
Aku yang pergi.
Aku yang bilang aku nggak bisa.
Aku tidak lewat gerbang depan. Kakiku membawaku ke gerbang belakang, ke jalan yang selalu dilewati Saka setiap Jumat. Hari ini bukan Jumat.
Pak Darto sedang menggoreng di samping gerobaknya. Ia mengangkat wajah ketika aku lewat, melihat mataku, melihat tanganku yang menutup mulut. Ia tidak bisa mendengar isakku. Tapi ia bisa melihatnya.
Ia meletakkan penjepit gorengan. Ia mengambil satu bakwan yang masih panas, membungkusnya dengan kertas, dan menyodorkannya kepadaku. Ketika aku membuka dompet, ia menggeleng dan mendorong tanganku pelan.
Di saku celemeknya, ponsel Android murah bergetar. Tiga getar pendek. Klakson di jalan belakang.
Pak Darto menoleh ke jalan, lalu kembali menatapku. Ia menepuk dadanya sendiri dua kali, lalu menunjuk ke arah FMIPA, ke arah bangku flamboyan yang tidak terlihat dari sini. Aku tidak mengerti bahasa isyarat. Tapi aku mengerti matanya.
Dia baik. Anak itu baik.
Aku mengangguk. Aku memegang bakwan panas itu sampai di mobil, dan aku tidak memakannya, dan aku tidak membuangnya.
Aku menandatangani map biru malam itu.
Di meja belajar, di bawah lampu meja yang terlalu terang, dengan pulpen yang sama yang dulu kujatuhkan di paving FMIPA dan dipungut Saka tanpa menatap wajahku. Tanda tanganku miring. Tanganku gemetar.
Aku membawanya ke ruang kerja Papa. Pintunya terbuka. Papa sedang membaca laporan. Ia mengangkat wajah ketika aku masuk, melihat map biru di tanganku, dan melepas kacamatanya.
Aku meletakkan map itu di mejanya.
Papa tidak membukanya. Ia menatapku. Matanya menyapu wajahku: mataku yang bengkak, hidungku yang merah, rambutku yang berantakan tanpa jepit apa pun.
Ada sesuatu di wajah Papa. Sesuatu yang sangat cepat, seperti satu baris log yang lewat terlalu cepat untuk dibaca. Aku pikir itu kemenangan. Aku pikir itu kepuasan.
Kalau dipikir-pikir lagi bertahun-tahun kemudian, mungkin bukan.
“Terima kasih, Clara,” kata Papa pelan.
Aku tidak menjawab. Aku keluar dari ruang kerja dan menutup pintu kayu jati itu, dan di lorong lantai dua, di depan pintu yang dulu tidak pernah berani kuketuk, aku jatuh terduduk dan menangis sampai Mama datang dan memelukku tanpa berkata apa-apa.
Mama memelukku lama sekali. Ia mengusap rambutku seperti waktu aku kecil dan demam. Ia tidak bilang nggak apa-apa. Ia tidak bilang nanti juga lupa.
Ia hanya berbisik, sekali, sangat pelan, ke rambutku:
“Maafin Mama, Nak.”
Aku tidak tahu Mama minta maaf untuk apa. Untuk tidak membelaku di arisan. Untuk meremas tanganku di meja makan Tanoto. Untuk menikah dengan laki-laki yang tidak pernah bisa ditolak.
Aku tidak bertanya. Aku hanya menangis.
Pukul sembilan lewat sedikit, ponselku bergetar.
Aku menatapnya dari lantai lorong, di pelukan Mama.
Satu getar. Pesan masuk.
Aku tahu dari siapa. Aku tahu isinya. Aku tahu persis, karena setiap malam sejak Januari, pukul sembilan lewat sedikit, pesan yang sama.
Aku tidak sanggup membukanya. Aku menunggu sampai Mama tertidur di sofa lorong dengan kepala bersandar ke dinding. Aku menunggu sampai pukul satu. Lalu aku membukanya di kamar, dalam gelap, dengan selimut menutupi kepala seperti anak kecil yang takut hantu.
Bukan pesan yang sama.
Saka: Sudah sampai rumah?
Itu saja. Tidak ada besok jam sepuluh. Tidak ada aku sedih atau aku kecewa atau jangan pergi. Hanya pertanyaan yang sama yang akan ditanyakan seorang kakak pada adiknya, seorang teman pada temannya, seorang laki-laki yang membawa senter di gang gelap dan menyinari empat lubang meskipun sudah hafal letaknya.
Aku mengetik sudah. Aku menghapusnya. Aku mengetik maaf. Aku menghapusnya. Aku mengetik aku pilih kamu.
Aku menatap tiga kata itu di layar, di bawah selimut, dalam gelap, lama sekali.
Lalu aku menghapusnya juga.
Clara: Sudah.
Centang dua. Biru.
Ia tidak membalas lagi.
Aku memeluk ponsel itu di dada dan memejamkan mata, dan dalam gelap aku mendengar suaranya lagi, datar dan jelas dan pelan, seperti mengetes mikrofon:
Pulang, Clara.
Aku sudah pulang. Aku sudah di rumah. Di kamar tidurku di Menteng, di balik pagar dua meter dan dua satpam.
Lalu kenapa rasanya seperti aku baru saja meninggalkan satu-satunya tempat yang pernah membuatku merasa di rumah?
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara reading
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman