← Pria yang Ia Pilih

Chapter Forty Five

Jam Dua Pagi

POV: Saka

Resepsi sesi kedua di Sentul berakhir pukul sembilan lewat empat belas malam.

Delapan ratus empat puluh tiga tamu, menurut daftar Kanya. Sembilan ratus dua puluh enam, menurut hitunganku, karena banyak tukang dari Tukang.in yang membawa istri dan anak, dan Kanya tidak tega menolak siapa pun di pintu tenda.

Pak Darto datang dengan Bu Darto dan cucunya yang memakai topi merah. Setiap kali ada yang memanggil Mbah, ponsel di saku celemek Pak Darto bergetar tiga pendek dua panjang, dan ia menoleh, dan tersenyum dengan dua gigi seri yang tanggal. Di tenda resepsi yang penuh, banyak sekali yang memanggil Mbah. Pak Darto menoleh empat puluh satu kali. Aku menghitung.

Mbak Wening dan Pak Darmo datang dengan tiga anak mereka. Mbak Wening menangis sejak masuk tenda dan tidak berhenti sampai pulang. Pak Darmo, tukang ledeng dari Cirebon, menjabat tanganku dan berkata Mas, dulu saya bilang istri saya buang-buang listrik. Sekarang saya yang bayar listriknya pakai uang dari aplikasi Mas, dan aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku menepuk bahunya empat kali.

Pak Teguh datang dari Kuningan. Ia menepuk bahuku empat kali dan berkata satu kata: Akhirnya. Lalu ia pergi ke meja prasmanan dan mengambil ayam goreng tiga kali.

Nadia datang dengan gaun putih gading dan seorang laki-laki tinggi yang ia kenalkan sebagai dosen ekonomi dari kampus di Bandung. Ia memeluk Clara dan berbisik sesuatu yang membuat Clara tertawa sampai menangis. Clara tidak mau memberitahuku apa yang dibisikkan. Urusan perempuan yang pernah nguping lewat sendok, katanya.

Reinhard datang dengan Gendis. Gendis hamil empat bulan. Reinhard memakai jas dan senyum seperti golden retriever yang dipaksa memakai jas, dan ia memelukku seperti kami sudah kenal sejak bayi, dan berbisik, Bro. Air putih dua jam. Legendaris.

Ada satu papan bunga di depan pintu tenda yang tidak kuduga.

Papan bunga besar dengan rangkaian krisan kuning. Tulisannya dengan huruf putih di atas latar hijau:

SELAMAT ATAS PERNIKAHAN SAKA & CLARA.
MAAF SOAL KOTAK BEKAL. DULU.
— GILANG

Aku menatap papan bunga itu lama.

Clara berdiri di sebelahku. Ia membaca tulisannya. Ia menoleh ke arahku.

“Kotak bekal?” tanyanya.

“Bab lima,” kataku. “Novelmu. Dia yang nyenggol.”

Clara menatap papan bunga itu. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dan memotretnya.

“Buat apa?” tanyaku.

“Buat bab tiga,” katanya. “Pria yang Ia Pilih.”


Bu Rosa memberi kami hadiah yang tidak bisa kutolak.

Tiga malam di sebuah hotel kecil di daerah Puncak. Vila kayu di lereng bukit dengan pemandangan kebun teh, kolam rendam air panas, dan sarapan yang diantar ke kamar.

Aku memeriksa harganya di ponsel, di dalam tenda resepsi, sementara Clara berfoto dengan sepupu-sepupunya. Aku memeriksanya tiga kali.

“Bu,” kataku, menghampiri Bu Rosa di dekat meja prasmanan. “Ini terlalu mahal.”

“Saya tahu.”

“Saya bisa ganti…”

“Saka.” Bu Rosa menatapku dari balik kacamata berbingkai tebal. “Itu sudah dibayar. Lunas. Tidak bisa dibatalkan. Tidak bisa diuangkan. Kalau kalian tidak datang, uangnya hangus.”

Aku berhenti.

Tidak bisa dibatalkan. Tidak bisa diuangkan. Kalau tidak dipakai, hangus.

Itu kalimat paling efisien yang pernah dikatakan siapa pun kepadaku.

“Oke, Bu,” kataku.

Bu Rosa tersenyum. Lebar. Sampai giginya terlihat semua. “Saya sudah dua puluh tahun jadi konsultan, Saka. Saya tahu cara bicara sama klien yang paling susah.”


Vila kayu di lereng bukit itu dingin.

Pukul sebelas malam, suhu di luar tiga belas derajat. Kabut turun dari kebun teh dan menempel di jendela kaca besar yang menghadap ke lembah. Lampu-lampu desa di bawah berkelip seperti bintang yang jatuh.

Clara berdiri di depan jendela kaca. Ia sudah melepas kebaya gading tiga puluh tahun dan menggantinya dengan gaun tidur sutra berwarna krem dan cardigan rajut longgar yang menutupi bahunya. Rambutnya masih disanggul, tapi rangkaian melatinya sudah dilepas. Di sisi kiri, jepit bunga liar.

Aku berdiri di ambang pintu kamar mandi. Aku sudah melepas beskap dan blangkon dan menggantinya dengan kaus abu-abu dan celana katun. Sepatu kets abu-abu di dekat pintu masuk vila, berdampingan dengan sandal hotel yang tidak kupakai.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Aku sudah dua puluh delapan tahun hidup dengan kalimat yang lengkap di kepala sebelum keluar dari mulut. Aku sudah merancang ulang arsitektur server dalam satu malam, memperbaiki sistem flash sale dalam empat puluh menit, membaca dokumen uji tuntas delapan ratus empat puluh halaman dua kali. Aku sudah berlutut di lantai ubin rumah penjahit di Solo dan mengucapkan ijab kabul dalam satu tarikan napas.

Aku tidak tahu harus berbuat apa.

Clara menoleh dari jendela. Ia menatapku. Lama. Lebih dari tiga detik.

“Kamu gugup,” katanya.

“Iya.”

Ia tersenyum. Pelan. Seperti senyum di bangku kayu, ketika ia menemukan sandal jepit di kaki bangku.

“Aku juga,” katanya.

“Kamu nggak kelihatan gugup.”

“Aku Brand Manager termuda dalam sejarah Kusumadewi Retail, Saka. Aku bisa kelihatan nggak gugup di depan dewan direksi sambil kakiku gemetar di bawah meja.” Ia berjalan dari jendela ke arahku. Pelan. Gaun sutra krem menyapu lantai kayu. “Tapi kakiku gemetar sekarang.”

Ia berhenti di depanku. Tiga puluh senti.

Aku menatapnya. Dari dekat, di bawah lampu kamar yang redup dan kekuningan, wajahnya tanpa riasan. Bersih. Ada bekas maskara di bawah mata kirinya yang tidak hilang waktu dibersihkan. Bekas gigitan di bibir bawah, bagian tengah agak kiri. Lima belas. Enam belas. Aku sudah berhenti menghitung beberapa bulan lalu, tapi kebiasaannya masih ada.

“Saka,” katanya.

“Hm.”

“Kamu inget waktu kamu bilang kalau gitu kamu harus nginep? Di kantor. Di depan Kinan.”

“Iya.”

“Aku diam lima menit.”

“Aku hitung.”

“Aku tahu kamu hitung.” Ia mengangkat tangannya dan menyentuh dadaku. Di atas kaus abu-abu. Di atas jantung yang, aku menyadari, berdetak terlalu cepat. Seperti mesin motor bebek yang dipaksa melaju di atas empat puluh kilo per jam. “Lima menit itu aku mikirin ini.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku mikirin malam ini,” katanya pelan. Suaranya turun. Lebih dalam. Suara yang ia pakai di ruang kerjaku di lantai lima belas, ketika ia bilang aku mau lihat kamu makan masakanku, pelan-pelan, di depanku. “Aku mikirin kamu. Tanpa kemeja kotak-kotak. Tanpa laptop. Tanpa kotak bekal. Tanpa jangan dulu.”

Tangannya di dadaku turun sedikit. Pelan.

“Dan sekarang aku di sini,” bisiknya. “Dan kamu di sini. Dan kamu gugup. Dan itu…” Ia menggigit bibir bawahnya. Tujuh belas. “Itu bikin aku nggak bisa mikir apa-apa lagi.”

Aku menatapnya.

Lalu aku melakukan satu-satunya hal yang terpikirkan.

Aku mengangkat tanganku. Pelan. Ke rambutnya. Ke sisi kiri. Ke jepit bunga liar.

Aku melepasnya. Hati-hati. Seperti menyolder komponen kecil di papan sirkuit. Pengaitnya setengah milimeter lebih kencang, jadi aku harus menekannya sedikit lebih keras. Klik.

Rambutnya, yang disanggul sejak pagi, tidak langsung jatuh. Aku mencari jepit-jepit kecil lain yang menahan sanggulnya. Satu. Dua. Lima. Sebelas. Aku melepasnya satu per satu, dan meletakkannya di atas meja kecil di samping tempat tidur, di sebelah jepit bunga liar, berjajar rapi.

Clara tidak bergerak. Ia membiarkanku. Matanya terpejam.

Jepit kedua belas. Rambutnya jatuh. Hitam, bergelombang, sampai punggung. Wangi sampo stroberi.

Aku menatap rambutnya di tanganku.

“Kamu bau stroberi,” kataku.

Clara membuka matanya.

“Masih sama,” bisiknya.

“Aku suka.”

Ia tertawa. Pelan. Basah. Lalu ia meraih kerah kaus abu-abuku dan menarikku turun, dan menciumku.

Bukan seperti di parkiran motor dengan atap bocor di tiga tempat, enam tahun lalu. Bukan seperti di bawah hujan bulan Desember. Bukan seperti di bawah pohon mangga, atau di ruang makan empat meter dua puluh di depan empat puluh tamu.

Seperti seseorang yang sudah tidak perlu menahan apa pun lagi.

Aku membalas.

Tangannya di kerahku turun ke dadaku, lalu ke pinggangku, lalu ke bawah ujung kausku. Jari-jarinya dingin di kulitku. Aku menarik napas tajam. Ia tersenyum di bibirku.

“Dingin?” bisiknya.

“Iya.”

“Nanti hangat.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Tanganku, sebelum aku sempat memutuskan apa pun, sudah di bahunya, di bawah cardigan rajut longgar, mendorongnya pelan sampai jatuh ke lantai kayu.

Ia tidak memungutnya.

Aku juga tidak.

Di luar jendela kaca besar, kabut dari kebun teh menempel di kaca, tebal, putih, menutupi lampu-lampu desa di lembah, menutupi bintang-bintang, menutupi semuanya.

Lampu kamar padam.

Aku tidak tahu siapa yang mematikannya.

Aku tidak menghitung apa-apa lagi malam itu.


Pukul dua kurang satu menit, aku terbangun.

Tanpa alarm. Kebiasaan. Sebelas bulan, setiap Senin dan Kamis, pukul dua pagi. Lalu satu bab ekstra seharga lima ratus koin. Lalu, sejak tadi malam pukul dua, satu bab baru dari novel baru yang judulnya membuatku tidak bisa tidur di kasur lipat di samping Ucup yang mendengkur.

Hari ini bukan Senin. Bukan Kamis.

Tapi aku terbangun.

Kamar gelap. Kabut masih menempel di jendela kaca. Udara dingin, tapi di bawah selimut tebal, hangat. Clara tidur di sebelahku, di lekukan lenganku, kepalanya di dadaku, rambutnya tersebar di bahuku. Napasnya pelan dan teratur. Tangannya di dadaku, di atas jantungku. Cincin bunga lima kelopak di jari manisnya berkilat samar di cahaya bulan yang menembus kabut.

Aku tidak bergerak.

Ponselku di meja kecil di samping tempat tidur, di sebelah dua belas jepit rambut yang berjajar rapi dan satu jepit bunga liar. Aku menatapnya. Aku tidak meraihnya.

Pukul dua lewat nol menit. Layarnya menyala sendiri.

Satu notifikasi.

Sudut Taman menerbitkan bab baru.

Aku menatap notifikasi itu. Lalu aku menatap perempuan di dadaku.

Ia tidur. Tentu saja ia tidur. Ia sudah bangun sejak pukul empat lewat sepuluh pagi kemarin. Ia sudah dirias, disanggul, diakad, dicium di depan empat puluh tamu, difoto delapan ratus kali, berdiri di pelaminan di bawah tenda di Sentul selama delapan jam, memeluk sembilan ratus dua puluh enam tamu.

Kapan ia menulis bab baru?

Aku meraih ponsel. Pelan. Supaya tidak membangunkannya. Aku membuka aplikasi Floo. Aplikasi yang kunamai dengan namanya, empat tahun lalu, pukul satu malam, di depan kaleng permen bekas berisi kancing-kancing.

Pria yang Ia Pilih.

Bab 2 — Malam Pertama.

Dijadwalkan oleh penulis. Diterbitkan otomatis pukul 02.00.

Dijadwalkan. Ia sudah menulisnya sebelum hari ini. Ia sudah tahu aku akan bangun pukul dua.

Aku menekan tombol Buka Bab. Dua puluh lima koin. Aku membayar dari rekening pribadi.

Penulis harus dibayar.

Bab dua hanya satu halaman. Seperti bab ekstra Untuk s.p.

Aku menulis ini tiga hari sebelum akad, di ruko di Tebet, di sudut dekat jendela yang menghadap ke tiang listrik. Di tempat ia dulu duduk pukul empat pagi dan membaca bab satu novelku untuk pertama kalinya.

Aku menjadwalkannya terbit pukul dua pagi. Di malam pertama kami.

Karena aku tahu ia akan bangun. Tanpa alarm. Kebiasaan. Dan aku tahu ia akan meraih ponselnya, pelan, supaya tidak membangunkanku. Dan aku tahu ia akan membayar dua puluh lima koin dari rekening pribadinya, karena penulis harus dibayar.

Jadi kalau kamu baca ini, Saka:

Aku nggak tidur.

Aku berhenti bernapas.

Aku menunduk. Ke dadaku. Ke perempuan yang kepalanya di dadaku, rambutnya tersebar di bahuku, tangannya di atas jantungku.

Matanya terbuka.

Ia menatapku dari dadaku. Dalam gelap. Di bawah cahaya bulan yang menembus kabut. Matanya besar, cokelat terang, berkilat. Sudut bibirnya naik.

“Pembaca pertama,” bisiknya. “Jam dua lewat nol.”

Aku tidak bisa bicara.

“Aku nunggu dari jam satu lima puluh,” katanya. “Aku pura-pura tidur. Aku mau lihat kamu bangun.” Ia tersenyum lebih lebar. “Kamu bangun jam dua kurang satu menit. Kamu natap HP-mu satu menit tanpa nyentuh. Kamu natap aku. Terus kamu ambil HP-nya pelan-pelan kayak mau nyolong.”

“Aku nggak nyolong.”

“Kamu bayar?”

“Dua puluh lima koin.”

“Dari rekening pribadi?”

“Penulis harus dibayar.”

Clara tertawa. Pelan, di dadaku, bahunya berguncang. Lalu ia mengangkat kepala dan menatapku dari dekat, lima senti.

“Saka,” katanya. “Kamu baca novelku jam dua pagi. Di malam pertama kita. Dengan aku di sebelahmu.”

“Iya.”

“Kenapa?”

Aku memikirkan pertanyaan itu.

Sebelas bulan. Dua huruf kecil dengan titik. Lima puluh empat bab di urutan pertama. Ruko di Tebet, lantai lima belas, mobil di basemen B5. Selalu sendirian. Selalu dalam gelap. Selalu membaca suara seseorang yang tidak ada di sebelahku.

“Kebiasaan,” kataku.

“Itu doang?”

“Bukan.”

“Terus?”

Aku meletakkan ponsel di meja kecil, di sebelah jepit bunga liar. Layarnya masih menyala. Aku nggak tidur.

“Dulu,” kataku, “aku baca jam dua karena itu satu-satunya cara aku bisa dengar suaramu.”

Clara diam.

“Sekarang,” kataku, “aku baca jam dua karena aku mau tahu apa yang kamu pikirin. Tapi kamu ada di sebelahku. Jadi aku bisa tanya langsung.”

Ia menatapku lama. Matanya basah.

“Tanya,” bisiknya.

Aku menatapnya. Rambut yang tersebar di bantal. Bekas gigitan di bibir bawah. Cincin di jari manis yang ada di atas jantungku.

“Kamu mikirin apa?”

Clara tersenyum. Lalu ia mendekat. Tiga senti. Satu.

“Bab tiga,” bisiknya, di bibirku.

Lalu ia menciumku lagi, dan aku tidak bertanya lagi, karena jawabannya ternyata tidak perlu dibaca.


Pukul empat lewat sepuluh, aku terbangun lagi.

Tanpa alarm. Kebiasaan. Lima menit yang menjadi milikku.

Aku berbaring dalam gelap dan tidak menyusun apa pun.

Tidak ada telur yang harus dipecahkan. Tidak ada adik yang harus dibangunkan. Tidak ada server yang harus diperiksa. Tidak ada rapat, tidak ada dasbor pemantauan, tidak ada laporan.

Hanya kabut di jendela, dan dingin di luar selimut, dan hangat di dalamnya, dan perempuan yang tidur di lekukan lenganku dengan napas pelan dan teratur. Sungguh tidur, kali ini.

Lima menit.

Aku memakai lima menit itu untuk menatapnya.

Lalu, pukul empat lewat lima belas, aku mengambil sesuatu dari tas ransel di kaki tempat tidur. Kotak kecil. Plastik bening. Di dalamnya, pelindung gigi. Baru. Satu juta rupiah. Papa yang membelikannya.

Aku memakainya.

Clara bergerak sedikit di lekukan lenganku. Ia membuka satu mata. Ia menatap wajahku, dalam cahaya subuh yang mulai menembus kabut.

“Kamu pakai pelindung gigi?” gumamnya, setengah tidur.

“Hmm.”

“Sekarang? Jam segini?”

“Hmm.”

“Kenapa?”

Aku melepas pelindung gigi itu sebentar supaya bisa bicara.

“Papamu bilang,” kataku, “Saka, saya mertuamu. Itu bukan pertanyaan.”

Clara tertawa ke dadaku sampai bahunya berguncang, sampai ia terbangun sepenuhnya, sampai ia harus menutup mulut dengan selimut supaya tidak terlalu keras.

Aku memakai pelindung gigi itu lagi. Aku memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya dalam sebelas tahun, aku tidur lagi setelah pukul empat lewat lima belas.

Dan aku tidak gemeretak sama sekali.