← Pria yang Ia Pilih

Chapter Fifteen

Sudut Taman

POV: Clara

Di lantai sembilan kantor pusat Kusumadewi Retail, orang-orang memanggilku Bu Es.

Aku tahu karena Tasya, yang sekarang bekerja di bagian HR gedung yang sama, mendengarnya di pantry. Dua staf marketing sedang membuat kopi dan membicarakan rapat pagi itu. Bu Es tadi nolak tiga konsep kampanye dalam sepuluh menit. Mukanya datar. Nggak senyum sama sekali. Kayak kulkas dua pintu.

“Kulkas dua pintu,” ulang Tasya di meja makan siang kami, di kantin karyawan lantai empat, sambil tertawa sampai tersedak jus jeruk. “Clar. Kulkas dua pintu. Kamu, yang dulu senyum ke satpam, ke tukang parkir, ke kucing liar.”

“Konsepnya jelek.”

“Aku nggak bilang konsepnya bagus. Aku bilang kamu sekarang kulkas.”

Aku menyendok nasi. Aku tidak tertawa. Aku tidak tahu kapan terakhir kali aku tertawa di kantor.

Dua tahun MT berlalu seperti kereta ekspres. Aku dirotasi ke enam divisi: operasional toko, pengadaan, keuangan, pemasaran, logistik, dan pengembangan produk. Aku bekerja dari pukul tujuh pagi sampai pukul sembilan malam. Aku belajar membaca laporan penjualan seperti Papa membacanya, cepat dan tanpa ampun. Aku belajar mengatakan tidak kepada vendor, kepada agensi, kepada manajer toko yang menyembunyikan angka.

Lucu. Aku belajar mengatakan tidak kepada semua orang, kecuali satu.

Bulan lalu, di usia dua puluh tiga, aku diangkat menjadi Brand Manager Kusumadewi Retail. Termuda dalam sejarah perusahaan. Papa mengumumkannya di rapat direksi tanpa senyum, tapi Bram bilang, malamnya, Papa minum segelas anggur, sesuatu yang hanya ia lakukan ketika sangat senang.

Aku menerima jabatan itu dengan wajah datar. Kulkas dua pintu.

Ada satu malam dari masa MT yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun.

Bulan kedua, rotasi operasional toko. Aku ditugaskan menjadi pengawas malam di Kusuma Mart cabang stasiun selama satu minggu, dari pukul sembilan malam sampai pukul enam pagi. Bram tertawa sampai menangis ketika mendengarnya. Putri Kusumadewi jaga minimarket. Ini harus jadi konten.

Malam pertama, pukul sembilan lewat sepuluh, aku berdiri di depan rak sayur.

Raknya penuh. Bayam, kangkung, wortel, tomat, kol yang ditata rapi di bawah lampu putih. Seorang laki-laki berseragam petugas kebersihan stasiun mengambil seikat bayam dan dua butir tomat, menimbangnya, dan berjalan ke kasir dengan wajah lelah tapi lega.

“Mas,” kataku, sebelum aku sempat berpikir. “Sering belanja sayur jam segini?”

Ia menoleh, kaget. “Baru-baru ini, Mbak. Dulu jam segini raknya kosong terus. Saya beli mi instan. Sekarang ada sayur, saya bisa masakin anak saya sayur bening.” Ia tersenyum. “Nggak tahu siapa yang ngubah. Tapi makasih, gitu.”

Aku tidak tahu siapa yang mengubahnya. Aku hanya tahu bahwa malam itu, di depan rak sayur yang penuh, ada sesuatu di dadaku yang bergetar, seperti seseorang memanggil namaku dari jauh dan aku tidak bisa mendengar suaranya.

Dua pendek. Satu panjang.


Satu hal yang tidak diketahui siapa pun di lantai sembilan, termasuk Tasya: setiap malam, setelah pukul sepuluh, aku menulis.

Aku mulai menulis tiga bulan setelah wisuda. Awalnya bukan menulis cerita. Awalnya hanya catatan. Aku membuka catatan Belanja bulanan di ponselku, membaca baris-baris yang sudah kutulis sejak Januari tahun itu, dan menambahkan satu baris baru setiap malam. Hal-hal kecil yang kuingat. Sepatu 89 ribu. Retakan di kaki bangku, satu sampai dua milimeter per hari. Bakwan Pak Darto setiap Jumat. Dua milimeter di sudut bibir.

Lalu satu malam, catatan itu terlalu panjang untuk ponsel.

Jadi aku membuka laptop dan mulai menuliskannya ulang. Bukan sebagai catatan. Sebagai cerita.

Ada satu hal yang tidak pernah kuceritakan kepada siapa pun: aku bisa menghitung berapa kepala yang menoleh setiap kali aku berjalan dari parkiran ke gedung kampus.

Kalimat pertama itu kutulis pukul sebelas malam, di bulan Oktober, dua tahun lalu. Aku menatapnya lama. Lalu aku menulis kalimat kedua. Ketiga. Pukul tiga pagi, aku sudah menulis empat ribu kata, dan mataku basah, dan aku tidak tahu kapan aku mulai menangis.

Aku memberi judul cerita itu Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh.

Aku mengubah semua nama. Aku mengubah nama kampus, nama jurusan, nama aplikasi. Tokoh laki-lakinya kunamai Bima. Tokoh perempuannya kunamai Larasati, dipanggil Laras. Bima menjual ikon digital ke luar negeri. Bima punya adik kembar. Bima memperbaiki bangku kampus dengan sandal jepitnya sendiri. Bima memakan telur gosong buatan Laras sampai habis.

Aku tidak mengubah kotak bekal biru. Aku tidak mengubah retakan di tutupnya. Aku tidak mengubah telur ceplok dengan pinggiran garing.

Aku tidak sanggup.


Aku mengunggahnya ke blog.

Blog gratis, dengan tampilan sederhana, latar putih dan huruf hitam. Aku membuatnya dengan nama pena yang kupikirkan selama tiga malam: Sudut Taman.

Sudut taman. Tempat bangku kayu yang goyang berada. Lima meter di sebelah kiri bangku beton di bawah flamboyan. Tempat aku duduk tiga minggu, berpura-pura membaca, menunggu seseorang menoleh.

Tidak ada yang tahu blog itu milikku. Aku tidak menautkannya ke akun apa pun. Aku tidak memberi tahu Tasya. Aku menulis setiap malam dari pukul sepuluh sampai pukul satu, di kamar tidurku di Menteng, dengan pintu terkunci dan lampu meja yang diredupkan.

Bulan pertama, blog itu punya tiga pembaca. Aku tahu karena ada penghitung kunjungan di pojok kanan bawah. Tiga. Mungkin salah satunya mesin pencari.

Bulan ketiga, dua puluh tujuh pembaca.

Bulan keenam, seseorang meninggalkan komentar pertama di bab sebelas, bab tentang telur gosong:

kenapa aku nangis baca cowok makan telur gosong. kenapa. ini cuma telur. KENAPA.

Aku membaca komentar itu tujuh kali. Lalu aku tertawa sambil menangis di depan laptop, pukul dua pagi, sampai Mama mengetuk pintu dan bertanya apakah aku baik-baik saja.

“Baik, Ma. Nonton drama Korea.”

“Drama apa?”

“Yang… yang cowoknya makan telur gosong.”

Hening sebentar di balik pintu. Lalu Mama berkata pelan, “Oh,” dan pergi.

Aku tidak tahu apakah Mama percaya. Mama tidak pernah bertanya lagi.


Reinhard Tanoto mengajakku makan malam empat kali dalam dua tahun.

Aku menerima undangan pertama karena Papa yang mengatur. Undangan kedua karena Mama yang memohon. Undangan ketiga karena aku tidak punya alasan untuk menolak. Reinhard selalu baik. Selalu sopan. Ia selalu menarikkan kursi, selalu mendengarkan, selalu mengantarku pulang tepat waktu tanpa pernah mencoba apa pun.

Pada undangan keempat, di sebuah restoran Jepang di Senopati, Reinhard meletakkan sumpitnya dan menatapku dengan senyum yang sedikit lelah.

“Clara,” katanya. “Boleh aku jujur?”

“Boleh.”

“Kamu nggak ada di sini.”

Aku berhenti mengunyah.

“Sudah empat kali kita makan malam,” katanya pelan. “Kamu selalu datang. Kamu selalu senyum. Kamu jawab semua pertanyaanku. Tapi kamu nggak ada di sini. Kamu ada di tempat lain. Aku nggak tahu di mana, tapi bukan di sini.”

Aku meletakkan sumpitku. Aku tidak tahu harus berkata apa.

“Aku nggak marah,” lanjut Reinhard. Ia tersenyum lagi, dan kali ini senyumnya tulus. “Aku cuma mau bilang, kamu nggak perlu terus dateng cuma karena orang tua kita senyum-senyum di seberang meja. Aku bisa bilang ke papaku kalau kita nggak cocok. Tanggung jawabnya di aku. Kamu nggak perlu jadi yang nolak.”

Aku menatapnya. Laki-laki yang baik. Laki-laki yang benar-benar baik, yang dengan tenang menawarkan diri untuk menjadi alasan yang gampang, supaya aku tidak perlu menanggung beratnya.

Ada sesuatu di dadaku yang bergetar. Seperti déjà vu. Seperti aku pernah mendengar ini sebelumnya, dari orang lain, dengan kata-kata yang berbeda.

Aku tidak bisa mengingat dari siapa.

“Makasih, Reinhard,” kataku. “Kamu baik banget.”

“Aku tahu.” Ia tertawa kecil. “Itu masalahku dari dulu. Terlalu baik. Mantanku di Melbourne bilang aku kayak golden retriever pakai jas.”

Aku tertawa. Tawa yang sungguhan, pertama kalinya dalam berbulan-bulan.

“Tapi Clara,” kata Reinhard, lebih pelan. “Siapa pun dia, orang yang bikin kamu ada di tempat lain, semoga suatu hari kamu bisa bilang ke dia apa yang kamu nggak bisa bilang sekarang.”

Aku tidak menjawab. Aku tidak sanggup.

Kami menghabiskan makan malam itu dengan membicarakan hal-hal lain: proyek hotel di Labuan Bajo, golden retriever sungguhan milik Reinhard yang bernama Sushi, kenapa orang Jakarta suka antre berjam-jam untuk roti yang sedang viral. Ketika ia mengantarku pulang, ia berkata di depan pagar rumah, “Teman?”, dan aku menjawab, “Teman,” dan itu terasa seperti sesuatu yang lepas dari pundakku.

Papa tidak bertanya apa-apa setelah itu. Om Tanoto tidak mengundang kami makan malam lagi.


Bulan Juni, Papa memanggilku ke ruang kerjanya.

Map putih. Beasiswa S2 London. Pendaftarannya ditutup akhir bulan.

“Kamu sudah Brand Manager,” kata Papa. “Waktu yang tepat untuk S2. Dua tahun di sana, pulang, kamu bisa naik ke direktur divisi.”

Aku menatap map itu. Universitas yang namanya sering muncul di peringkat dunia. Semua biaya ditanggung.

Aku memikirkan blog Sudut Taman. Dua ratus delapan puluh pembaca. Bab dua puluh tiga yang belum selesai. Komentar-komentar yang masuk setiap malam: update dong kak, Bima kapan muncul lagi, aku baca ini di KRL sambil nangis, malu banget.

Aku memikirkan bangku beton di bawah flamboyan.

Aku tidak tahu kenapa aku memikirkannya. Bangku itu tidak ada hubungannya dengan London.

Tapi kalau aku pergi ke London dua tahun, aku akan berada sebelas ribu kilometer dari bangku itu. Dari kampus itu. Dari kota tempat seseorang, entah di mana, mungkin masih memecahkan telur ke wajan setiap pukul empat lewat lima belas pagi.

Aku tidak tahu di mana ia sekarang. Aku tidak pernah mencari. Satu kali, satu kali saja, di bulan keempat setelah wisuda, aku mengetik namanya di mesin pencari. Saka Pradana. Hasilnya: spanduk rektorat, artikel tentang Lizz 10, foto wisuda lulusan terbaik. Setelah itu, tidak ada apa-apa. Tidak ada akun media sosial. Tidak ada profil kerja. Hantu digital.

Aku tidak mencari lagi setelah itu. Aku tidak berhak mencari.

“Nanti, Pa,” kataku.

Papa mengangkat wajah dari laporan yang sedang ia baca.

“Aku belum mau S2 sekarang,” kataku. Suaraku sedikit bergetar. Aku menekannya. “Aku baru jadi Brand Manager. Aku mau buktiin dulu aku bisa. Nanti, kalau sudah ada hasil, baru aku pikirkan S2.”

Papa menatapku. Lama. Matanya bergerak, mengumpulkan data, seperti biasa.

Aku menunggu. Aku menunggu Papa mengatakan sesuatu yang membuatku mengangguk dan berkata iya, Pa.

Papa melepas kacamatanya. Ia melipatnya, meletakkannya di atas meja, sejajar dengan pinggir map putih.

“Itu alasan yang masuk akal,” katanya. “Untuk anak dua puluh tiga tahun.”

Ia menggeser map putih kembali ke sisi mejanya.

Itu saja. Tidak ada argumen. Tidak ada fokus. Tidak ada rasa malu yang tidak bisa diceritakan.

Aku keluar dari ruang kerja dengan tangan gemetar. Di lorong lantai dua, di depan pintu kayu jati, aku berdiri lama, menatap tanganku sendiri.

Nanti, Pa.

Itu bukan tidak. Itu bahkan bukan setengah tidak. Itu nanti, yang dibungkus dengan pita yang sopan, seperti cara Papa membungkus jangan dengan kata fokus.

Tapi untuk pertama kalinya dalam dua puluh tiga tahun, aku tidak mengatakan iya, Pa di ruangan itu.

Aku tertawa pelan di lorong. Lalu aku menangis. Lalu aku tertawa lagi. Lalu aku masuk ke kamar, mengunci pintu, membuka laptop, dan menulis bab dua puluh tiga sampai pukul tiga pagi.

Di bab itu, Laras berdiri di depan pintu kayu jati ruang kerja ayahnya, dan mencoba mengatakan tidak. Ia tidak berhasil. Tapi ia mencoba.

Di kolom komentar, pagi harinya, seseorang menulis:

Laras pengecut. Tapi aku ngerti. Aku juga pengecut di depan bapakku.

Dan seseorang lain membalas:

Laras bukan pengecut. Laras cuma belum. Belum itu beda sama nggak.

Aku membaca balasan itu berkali-kali di kantin karyawan lantai empat, sampai Tasya menepuk bahuku dan bertanya kenapa Bu Es senyum-senyum sendiri ke layar ponsel.

“Bukan apa-apa,” kataku.

“Clar. Kulkas dua pintu nggak senyum ke HP.”

“Kulkasnya rusak.”

Tasya menatapku curiga. Lalu ia merebut ponselku, dan aku merebutnya kembali, dan kami bergulat di kantin karyawan seperti anak SMA sampai seorang staf keuangan memotret kami dan mengunggahnya ke grup kantor dengan caption: Bu Es ternyata bisa ketawa. Ini bukan latihan.

Malam itu, ketika aku membuka blog Sudut Taman, penghitung kunjungan di pojok kanan bawah menunjukkan angka yang membuatku berhenti bernapas sebentar.

Seribu dua ratus empat puluh.

Seseorang membagikan tautan blog itu di sebuah grup WhatsApp pembaca novel. Dari grup itu, seseorang mengubahnya menjadi file PDF dan menyebarkannya ke grup lain. Dari grup lain, ke grup lain lagi.

Aku tidak mendapat apa-apa dari itu. Aku tidak keberatan. Aku bahkan tidak tahu siapa yang pertama kali menyebarkannya. Mungkin seorang ibu di KRL. Mungkin seorang mahasiswi di kos-kosan. Mungkin seseorang yang pernah duduk di bangku kampus dan tidak pernah ditoleh.

Aku hanya ingin seseorang membacanya. Aku tidak tahu siapa. Aku tidak tahu kenapa.

Aku hanya ingin cerita tentang laki-laki yang tidak menoleh itu sampai ke suatu tempat, ke seseorang, seperti bunga liar yang tumbuh di mana saja tanpa ada yang menanam.