← Pria yang Ia Pilih

Chapter Twenty Five

Keluarga yang Malu

POV: Saka

Ponselku bergetar pukul sepuluh lewat empat puluh tiga malam, Jumat, sebelas November.

Nomornya tidak kukenal. Tapi sebelum itu ada pesan dari nomor yang kukenal: Kanya.

Kanya: Kak. Ada yang mau nelpon. Darurat kantor katanya. Aku kasih nomor Kakak. Jangan marah.
Kanya: Dia nangis, Kak.
Kanya: Aku nggak suka dia. Tapi angkat.

Lalu teleponnya masuk.

“Saka.” Suara Clara. Bukan suara Brand Manager. Bukan suara slide dua belas, Terima Kasih, Pertanyaan? Suara yang pecah di tengah, seperti suara di lantai kamar mandi lima tahun lalu yang tidak pernah kudengar tapi selalu kubayangkan. “Maaf. Maaf nelpon malam-malam. Aku nggak tahu harus nelpon siapa lagi.”

“Kenapa?”

“Flash sale. Sebelas-sebelas. Aplikasi Kusuma Mart.” Napasnya pendek-pendek. “Mati, Saka. Dari jam sepuluh. Empat juta orang lagi nunggu di aplikasi. Vendor IT kami udah dua jam nggak bisa benerin. Mereka bilang servernya kurang besar, mereka udah tambah server tiga kali lipat, tetap mati.” Ia berhenti. Aku mendengar suara di belakangnya. Banyak suara. Gelas yang diletakkan terlalu keras. Seseorang tertawa dengan nada yang bukan tawa. “Itu kampanyeku. Kampanye pertamaku sebagai Brand Manager. Semua orang ada di sini. Direksi. Papa. Keluarga besar Mama, karena ada acara peluncuran di lounge. Dan vouchernya cuma berlaku sampai jam dua belas.”

Ia menarik napas, gemetar.

“Ada dua ribu tiga ratus pemasok kecil yang stoknya udah masuk gudang buat malam ini, Saka. Petani sayur. Pembuat keripik. Ibu-ibu yang bikin sambal kemasan. Kalau sampai tengah malam nggak nyala, barangnya nggak kebeli. Mereka udah utang buat produksi.” Suaranya hilang sebentar. “Aku yang ngajak mereka.”

Aku sudah berdiri. Aku sudah mengambil ransel. Aku sudah berjalan ke pintu.

“Di mana?”

“Menara Kusumadewi. Lantai tiga puluh. Ruang komando.”

“Dua puluh lima menit,” kataku. “Minta vendormu siapin akses log basis data. Bukan log server. Log basis data.”

“Saka…”

“Dua puluh lima menit, Clara.”

Di ruang tengah, Kanya berdiri dengan celemek dan spatula di tangan. Kinan di sebelahnya dengan buku anatomi gigi yang terbuka di halaman yang sama sejak sore.

“Kak,” kata Kanya.

“Nanti.”

“Kak.” Ia tidak menyingkir dari depan pintu. Matanya merah. Bukan karena marah. “Bawa jaket. Di Thamrin angin.”

Aku mengambil jaket.


Dua puluh tiga menit. Jalan tol Jagorawi kosong, dan untuk pertama kalinya aku menyetir di lajur paling kanan. Avanza perak tahun 2014 bergetar seperti mau lepas bautnya.

Menara Kusumadewi berdiri di Thamrin, tiga puluh lantai, logo perusahaan berwarna emas di puncaknya. Di lobi depan, petugas valet berseragam merah menghampiri mobilku.

“Valet, Pak? Lima puluh ribu.”

“Parkir sendiri berapa?”

“Basemen, Pak. Lima belas ribu per jam.”

“Saya cuma butuh satu jam. Kalau lebih dari satu jam, dihitung dua jam?”

“Iya, Pak.”

“Kalau satu jam satu menit?”

Petugas valet menatap Avanza perak yang kusam. Lalu menatapku. Lalu menatap kemeja kotak-kotak dan sepatu kets abu-abuku.

“Pak, ini darurat?” tanyanya. “Bapak dari vendor IT, ya? Yang dipanggil Bu Clara?”

“Kurang lebih.”

“Ya udah, Pak, valet aja. Gratis. Saya yang tanggung jawab.” Ia mengambil kunci dari tanganku. “Cepat, Pak. Dari tadi bapak-bapak di atas teriak-teriak terus. Istri saya juga dari jam sepuluh nunggu di aplikasi. Mau beli kulkas setengah harga. Kulkas kami udah bunyi kayak motor.”


Ruang komando di lantai tiga puluh adalah ruang rapat besar yang dinding-dindingnya dipenuhi layar. Grafik merah. Angka-angka merah. Peta Indonesia dengan titik-titik merah di setiap kota. Di tengah, meja oval panjang dengan dua puluh kursi, dan dua puluh orang yang semuanya berdiri. Laki-laki berjas dengan dasi yang sudah dilonggarkan. Perempuan dengan blazer dan wajah tegang. Enam orang dari vendor IT dengan kemeja seragam biru muda, berkumpul di depan satu layar, berbicara dengan suara tinggi.

Di balik dinding kaca di ujung ruangan, ada ruangan lain. Lounge. Lampu kuning hangat, balon perak bertuliskan 11.11 #BelanjaTanpaRagu, meja panjang dengan menara gelas sampanye yang belum dibongkar, dan kue tiga tingkat dengan logo Kusuma Mart dari fondan. Hitungan mundur di layar lounge berhenti di 00:00:00 sejak pukul sepuluh, dan tidak ada yang mematikannya.

Di dalam lounge, tiga puluhan orang berpakaian pesta. Keluarga besar. Aku mengenali beberapa wajah dari foto di ruang tamu rumah di Menteng, lima tahun lalu. Mereka tidak berpesta. Mereka berdiri dalam kelompok-kelompok kecil, memegang gelas yang tidak diminum, menatap ke ruang komando lewat kaca seperti menonton akuarium yang airnya bocor.

Dan di ujung meja oval, satu-satunya yang duduk: Om Hendro.

Ia tidak berteriak. Ia tidak berdiri. Ia duduk dengan tangan terlipat di atas meja, menatap layar besar di dinding seberang, wajahnya tidak bergerak sama sekali.

Clara berdiri di dekat pintu. Blazer abu-abu, rambut yang mulai lepas dari ikatannya, mata merah. Di tangannya, tablet dengan halaman media sosial Kusuma Mart. Aku melihat layarnya sekilas. Komentar bergulir terlalu cepat untuk dibaca, tapi kata-kata yang sama muncul berulang. Penipuan. Kampanye bohong. Siapa yang bikin promo ini?

Ia melihatku masuk, dan sesuatu di wajahnya runtuh, cepat, lalu ia menegakkan punggung lagi.

Sebelum ia sempat bicara, seorang laki-laki paruh baya di sisi meja oval bicara lebih dulu. Jas biru tua, kulit kecokelatan seperti orang yang menghabiskan banyak akhir pekan di lapangan golf. Tanda pengenal di dadanya: Direktur Pemasaran.

“Ini dia,” katanya, tanpa menurunkan suara. “Bu Clara bawa bala bantuan. Mas, dari vendor mana? Kami sudah punya vendor. Yang dari tadi gagal, tapi kami sudah punya.” Ia menoleh ke ruangan, setengah bercanda, setengah tidak. “Kampanyenya terlalu ambisius dari awal. Empat juta orang. Saya sudah bilang di rapat. Anak muda maunya viral, sistemnya nggak ditanya dulu.”

Beberapa orang tidak menanggapi. Beberapa menunduk. Clara tidak membalas. Ia menelan sesuatu dan berdiri lebih tegak. Bahunya sedikit naik, seperti orang yang bersiap dipukul dan memutuskan tidak akan menghindar.

Aku mengenali gerakan itu. Aku melihatnya di bangku beton, lima tahun lalu.

Aku nggak bisa bilang nggak.

“Ini Saka Pradana,” kata Clara akhirnya, dengan suara yang cukup keras untuk membuat semua orang menoleh. “Saya yang panggil.”

Dua puluh pasang mata menatapku. Kemeja kotak-kotak. Ransel hitam. Sepatu kets abu-abu dengan jahitan benang nilon di sisi kanannya.

Dari lounge, pintu kaca terbuka. Seorang perempuan berkebaya hijau zamrud melangkah setengah keluar, gelas sampanye di tangan, dan menatapku dari ujung rambut sampai ujung sepatu. Rambut disanggul tinggi. Senyum lebar yang tidak sampai ke mata. Di belakangnya, Bram, dengan kemeja batik dan wajah yang tiba-tiba sangat waspada.

“Lho,” kata perempuan itu, cukup keras untuk didengar di dua ruangan. “Itu kan anak IT yang dulu, Rat? Yang yatim piatu itu? Yang ngontrak?” Ia menoleh ke belakang, ke dalam lounge. “Clara, Sayang, ini bukan waktunya, lho. Ini acara keluarga.”

Tante Ratna, yang berdiri di dekat menara gelas sampanye, tidak menjawab. Wajahnya pucat.

Aku tidak tahu nama perempuan itu. Tapi aku tahu suaranya. Aku tidak pernah mendengarnya, tapi aku tahu. Suara yang sama dengan pagar dua meter dan satpam yang menghitung harga motor dari ban depan sampai lampu belakang. Suara yang, lima tahun lalu, membuat seorang perempuan duduk di bangku beton dan bilang aku nggak bisa.

Di ujung meja oval, Om Hendro tidak bergerak. Tapi matanya berpindah dari layar ke perempuan berkebaya hijau. Satu detik. Lalu kembali ke layar.

“Tante Wulan,” kata Clara pelan. Hanya itu.

Seorang laki-laki dengan jas abu-abu, yang menurut tanda pengenalnya Direktur Teknologi, mengerutkan dahi. “Bu Clara, ini siapa? Vendor baru?”

Clara menatap Tante Wulan. Lalu menatap Direktur Pemasaran. Lalu menatap ruangan.

“Founder Floo,” katanya.

Ruangan hening.

Lalu seseorang berbisik. Lalu bisikan itu menjalar seperti api di rumput kering, melewati meja oval, menembus pintu kaca, masuk ke lounge. Floo? Yang Startup of the Year? Yang di gala? Yang lima ratus juta sehari?

Tante Wulan menurunkan gelas sampanyenya. Pelan. Seperti gelas itu tiba-tiba menjadi berat.

Direktur Pemasaran membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Aku tidak mendengarkan bisikan itu. Aku berjalan ke layar tempat enam orang vendor IT berkumpul.

“Log basis data,” kataku.


Kepala vendor, laki-laki berumur empat puluhan dengan kacamata tebal, menatapku dengan curiga. “Mas, kami sudah cek. Masalahnya di server. Kapasitasnya kurang. Kami sudah tambah tiga kali lipat, tapi trafiknya…”

“Kalau masalahnya kapasitas, tambah tiga kali lipat harusnya bikin lebih baik,” kataku. “Lebih baik nggak?”

Ia diam. “Nggak, Mas.”

“Malah lebih buruk?”

Ia diam lebih lama. “Sedikit lebih buruk.”

“Log basis data,” kataku lagi.

Ia memberiku akses. Aku membuka laptop di ujung meja oval, di sebelah kursi kosong, tiga kursi dari Om Hendro.

Aku membaca.

Ribuan baris. Bergulir terlalu cepat. Aku memperlambatnya. Aku membacanya seperti membaca log server Floo di malam ketika satu video di kereta membuat semuanya tenggelam. Seperti membaca log sistem pembayaran empat ratus cabang di lantai dua belas gedung Kuningan, di hari gajian.

Mencari satu baris yang tidak cocok.

Di belakangku, ruangan tidak berani bicara keras. Aku mendengar Direktur Keuangan berbisik ke ponselnya, iya, Pak, masih mati. Aku mendengar tablet di tangan Clara berbunyi setiap kali ada notifikasi baru, dan bunyinya tidak berhenti. Aku mendengar seseorang di lounge berkata, terlalu keras, founder kok pakai sepatu kayak gitu, lalu seseorang lain menyuruhnya diam.

Dua belas menit kemudian, aku menemukannya.

“Voucher,” kataku.

Kepala vendor mendekat. “Apa, Mas?”

“Voucher diskon flash sale.” Aku menunjuk layar. “Setiap pengguna yang buka halaman produk, aplikasinya cek apakah vouchernya masih berlaku. Ceknya ke satu tabel. Satu tabel voucher, nggak ada indeks di kolom kode voucher, dan setiap cek baca seluruh tabel dari atas sampai bawah. Empat juta orang. Setiap detik.”

Direktur Teknologi sudah berdiri di belakangku. Ia membaca layar dari balik bahuku.

“Terus,” lanjutku, “setiap transaksi yang berhasil, aplikasinya kurangi stok barang. Kunci barisnya. Di tabel yang sama tempat cek voucher baca. Jadi cek voucher nunggu kunci stok lepas. Kunci stok nunggu cek voucher selesai baca tabel. Saling tunggu.” Aku menggulir ke bawah. “Makin banyak server yang ditambah, makin banyak yang antre di tabel yang sama. Makanya makin buruk.”

Ruangan hening.

Kepala vendor melepas kacamatanya. Ia memijat pangkal hidung. Gerakan Pak Budiman. Gerakan Pak Teguh. Gerakan Bu Rosa.

“Dua jam,” katanya pelan. “Dua jam kami nambah server.”

Aku tidak menoleh. Aku bicara ke layar, tapi cukup keras.

“Kampanyenya nggak salah,” kataku.

Ruangan diam.

“Empat juta orang datang karena kampanyenya bagus,” kataku. “Sistem yang bagus harusnya senang didatangi empat juta orang. Yang salah bukan yang ngundang orang datang. Yang salah satu tabel tanpa indeks.” Aku menggulir lagi. “Dan tabel itu dibuat tiga tahun lalu. Sebelum ada Brand Manager yang namanya Clara.”

Aku tidak melihat ke arah Direktur Pemasaran. Aku tidak perlu. Aku mendengar ia menarik kursinya dan duduk. Pelan.

Di belakangku, Clara tidak bersuara. Tapi tablet di tangannya berhenti berbunyi, karena ia menekan tombol di sisinya sampai layarnya gelap.

“Bisa diperbaiki?” tanya Direktur Teknologi.

Aku berpikir.

“Validasi voucher dipindah ke cache. Disimpan di memori, bukan di basis data, karena isinya sama buat semua orang dan nggak berubah selama flash sale. Itu lima belas menit. Kurangi stok lewat antrean, bukan kunci baris langsung. Itu sepuluh menit. Indeks di kolom kode voucher buat jaga-jaga. Lima menit. Tes, sepuluh menit.” Aku melirik jam di dinding. Sebelas lewat delapan belas. “Sebelum jam dua belas.”

“Empat puluh menit,” kata seseorang. “Itu mepet banget.”

“Iya,” kataku.

Direktur Teknologi menatapku. Lalu ia menoleh ke ujung meja oval.

Ke Om Hendro.

Om Hendro menatapku dari ujung meja, tangan masih terlipat. Matanya bergerak sedikit. Mengumpulkan data. Seperti makan malam lima tahun lalu, di meja empat meter dua puluh, ketika aku membaca bisnisnya dari map plastik berisi struk belanja.

Ia mengangguk. Sekali.


Aku bekerja dengan kepala vendor dan dua orang timnya. Mereka mengetik apa yang kuminta, aku memeriksa setiap baris sebelum dijalankan. Clara berdiri di belakang kursiku. Aku tidak menoleh, tapi aku tahu ia di sana. Aku bisa mendengar napasnya. Aku bisa mencium wangi samponya.

Masih stroberi.

Pukul sebelas lewat empat puluh dua, kami menjalankan cache voucher.

Dan semuanya mati.

Bukan merah. Hitam. Layar-layar di dinding berkedip lalu kosong. Grafik hilang. Peta Indonesia menjadi abu-abu. Aplikasi di ponsel kepala vendor menampilkan satu kalimat: Layanan tidak tersedia.

Ruangan meledak. Tapi bukan ledakan yang baik.

“Dia bikin makin parah!” Direktur Pemasaran sudah berdiri lagi. “Tadi masih bisa dibuka! Sekarang mati total! Matikan! Kembalikan yang tadi!”

“Pak, tadi juga nggak ada yang bisa transaksi…”

“Setidaknya tadi nggak hitam!”

Dari lounge, terdengar suara Tante Wulan, tinggi dan panik: Rat, ini gimana, Rat? Ini anak siapa yang dikasih pegang sistem?

Kepala vendor menatapku. Tangannya sudah di atas papan ketik, siap membatalkan. Dua orang timnya menatap Direktur Pemasaran. Direktur Teknologi menatap Om Hendro.

Aku tidak menatap siapa-siapa. Aku menatap log.

“Tiga puluh detik,” kataku. “Cache-nya lagi diisi. Kalau sekarang dibatalkan, empat juta orang masuk lagi ke tabel yang sama, dan tabelnya nggak bakal bangun sampai pagi.”

“Anak muda,” kata Direktur Pemasaran, “ini sistem enterprise. Bukan aplikasi kampus. Kami tidak bisa ambil risiko dengan…”

“Biarkan dia.”

Suara itu tidak keras. Tapi ruangan berhenti.

Om Hendro masih duduk di ujung meja oval. Tangannya masih terlipat. Ia tidak menoleh ke Direktur Pemasaran. Ia menatapku.

“Biarkan dia,” katanya lagi.

Direktur Pemasaran duduk.

Lalu sesuatu menyentuh bahuku. Tangan. Dari belakang. Hangat, gemetar, dan tidak diangkat lagi.

“Aku percaya kamu,” bisik Clara. Pelan sekali. Hanya untuk telingaku. “Dari dulu.”

Aku tidak menoleh. Tapi aku tidak menyingkirkan tangannya.

Aku menghitung. Bukan dengan suara. Di kepala.

Dua puluh delapan. Dua puluh sembilan.

Di baris terakhir log, satu kalimat muncul. Cache warm: 100%.

Layar-layar di dinding berkedip. Lalu menyala. Grafik muncul lagi, bukan merah, tapi oranye.

Seseorang di belakangku mengembuskan napas seperti orang yang baru keluar dari dasar kolam.

Pukul sebelas lewat lima puluh, antrean stok berjalan. Oranye ke kuning.

Pukul sebelas lewat lima puluh enam, indeks selesai dibangun. Kuning ke hijau.

Pukul dua belas kurang dua menit, kepala vendor membuka aplikasi Kusuma Mart di ponselnya. Tangannya gemetar. Halaman produk dimuat dalam satu detik. Ia menekan tombol Beli. Voucher diskon lima puluh persen terpasang. Transaksi berhasil.

Ia tidak bersorak. Ia hanya menatap layar ponselnya, lalu menyodorkannya ke arahku, seperti anak kecil yang menunjukkan nilai rapor.

Di layar besar, peta Indonesia berubah. Titik-titik abu-abu di setiap kota berubah menjadi hijau, satu per satu, dari Aceh sampai Papua, seperti lampu yang dinyalakan bergiliran di sepanjang jalan pulang.

Di grafik penjualan, garis yang tadinya datar di angka nol mulai naik. Lalu naik lebih cepat. Lalu melonjak, lurus ke atas seperti tembok.


Ruangan meledak. Kali ini ledakan yang baik.

Orang-orang berjas bertepuk tangan. Seorang perempuan berblazer menangis sambil tertawa. Kepala vendor memelukku dari samping, dan aku tidak tahu harus berbuat apa dengan tanganku, jadi aku menepuk punggungnya seperti Pak Budiman menepuk punggung Ucup. Direktur Teknologi menjabat tanganku dengan dua tangan, terlalu keras, terlalu lama.

“Saya dua puluh tiga tahun di bidang ini, Pak Saka,” katanya. Suaranya serak. “Saya belum pernah lihat orang baca log kayak baca koran.”

Di sudut ruangan, seorang staf muda dengan headset di leher membaca pesan di layar komputernya dengan suara keras, karena tidak bisa menahannya.

“Ibu di Kupang berhasil beli rice cooker!” Ia menggulir. “Bapak di Pontianak beli susu formula tiga kaleng, katanya buat sebulan! Ada yang nulis… ada yang nulis terima kasih Kusuma Mart, saya kira saya ditipu lagi.” Ia berhenti. Suaranya pecah. “Pemasok sambal dari Garut… stoknya habis. Habis semua. Dalam empat menit.”

Seseorang bertepuk tangan lagi. Lalu semua orang.

Aku menutup laptop.

Di belakangku, Clara tidak bersuara. Aku menoleh. Ia berdiri dengan dua tangan menutup mulut, mata basah, menatapku seperti delapan tahun lalu di aula Tech Cup, ketika glitter beterbangan seperti salju di bawah lampu panggung.

Bukan. Lima tahun lalu. Aku salah hitung. Aku tidak pernah salah hitung.

Aku mengalihkan pandangan.


Pukul dua belas lewat dua puluh, Direktur Keuangan menghampiriku dengan tablet di tangan. Laki-laki gemuk dengan senyum yang sangat lebar.

“Pak Saka,” katanya. “Dua puluh menit pertama setelah sistem nyala, penjualan kita tiga puluh delapan miliar. Tiga puluh delapan miliar, Pak. Proyeksinya sampai pagi bisa seratus.” Ia menyodorkan tablet. “Kami mau bayar jasa Bapak. Konsultasi darurat. Bapak sebut angkanya.”

Aku menatap tablet itu.

“Nggak usah, Pak.”

Direktur Keuangan berkedip. “Pak, ini… ini standar. Kami bayar vendor ratusan juta per tahun dan mereka nggak bisa benerin. Bapak benerin dalam empat puluh menit. Kami harus bayar.”

“Nggak usah, Pak,” kataku lagi. Aku memakai ransel. “Saya pelanggan Kusuma Mart.”

“Pak…”

“Kamis malam, cabang dekat stasiun, diskon sayur jam delapan,” kataku. “Dulu. Raknya sekarang selalu penuh. Itu sudah cukup.”

“Oh, program sayur malam!” Direktur Operasional, laki-laki kurus berkacamata, tersenyum lebar dari sisi lain meja. “Itu program terbaik kita lima tahun terakhir, Pak. Naik dua puluh tiga persen di cabang percontohan, terus kita gulirkan nasional. Pak Hendro sendiri yang bawa idenya ke rapat. Waktu itu Bapak bilang dapat dari mana, Pak? Konsultan?”

Ruangan menoleh ke ujung meja oval.

Om Hendro tidak menjawab.

Ia menatapku. Lalu matanya turun ke sepatuku. Jahitan benang nilon di sisi kanan. Lalu naik lagi.

Ia tidak menjawab.

Diamnya terlalu panjang. Direktur Operasional mulai merasa ia salah bertanya, dan tersenyum canggung, dan menunduk ke tabletnya.

Aku tahu dari mana idenya. Om Hendro tahu dari mana idenya. Dan dari wajah Clara, yang tiba-tiba memutih di dekat pintu, Clara juga tahu.

Ide itu keluar dari mulut laki-laki yang malam itu, di meja makan empat meter dua puluh, ditolak dengan sopan untuk anaknya. Ide yang dibawa ke ruang rapat, dijalankan di seribu seratus cabang, menghasilkan entah berapa ratus miliar, dan tidak pernah disebut namanya.

Aku tidak keberatan. Aku tidak pernah keberatan. Raknya penuh. Itu sudah cukup.

Tapi Om Hendro sepertinya keberatan.

Ia berdiri dari kursinya di ujung meja oval. Ia berjalan ke arahku. Pelan. Tanpa suara, seperti di lantai marmer rumahnya di Menteng.

Ruangan hening lagi.

Ia berhenti satu meter di depanku. Jarak yang sopan.

Ia menatapku lama. Matanya, untuk pertama kalinya, tidak bergerak mengumpulkan data. Matanya diam. Seperti orang yang sudah selesai membaca laporan, dan angkanya tidak sesuai dengan yang ia duga, dan ia tidak tahu harus berbuat apa dengan itu.

Ia mengulurkan tangan.

Aku menjabatnya. Kering, kuat, seperti lima tahun lalu. Tapi lebih lama.

“Terima kasih,” katanya.

“Sama-sama, Om.”

Ia tidak melepas tanganku. Satu detik. Dua. Tiga. Matanya turun, sepersekian detik, ke pergelangan tangannya sendiri. Ke arloji di pergelangan kirinya.

Aku mengikuti arah pandangnya. Arloji itu tidak cocok. Bug kecil di dalam sistem yang rapi. Semua orang di ruangan ini memakai arloji yang berkilau, berat, dengan merek yang bisa kubaca dari jarak dua meter. Arloji Om Hendro kecil, tipis, tali kulitnya cokelat dan retak di beberapa bagian, kacanya sedikit buram. Tanpa merek yang bisa dibaca. Arloji yang mungkin dulu dibeli di pasar, dua puluh atau tiga puluh tahun lalu.

“Ide sayur itu,” kata Om Hendro. Pelan. Hanya untukku. Tidak ada orang lain yang bisa mendengar.

Ia berhenti. Rahangnya bergerak. Aku menunggu.

Kalimatnya tidak selesai.

Om Hendro melepas tanganku. Ia berbalik, berjalan ke pintu ruang komando, dan keluar. Bukan ke lounge, tempat keluarganya menunggu dengan menara gelas sampanye dan kue tiga tingkat. Ke lorong. Sendirian.


Aku tidak langsung pergi. Aku harus menunggu kepala vendor menyimpan semua perubahan dan menulis catatan supaya tim mereka tidak membatalkan cache besok pagi karena panik.

Bram muncul di sebelahku saat aku menulis catatan itu di papan tulis kecil di sudut ruangan. Ponsel di tangannya, layar masih menyala, merekam.

“Itu buat apa?” tanyaku.

“Arsip keluarga,” katanya. Lalu ia mematikan ponselnya dan memasukkannya ke saku. Wajahnya tidak bercanda. Sangat jarang untuk Bram. “Saka. Aku mau ngomong sesuatu, tapi aku nggak jago ngomong serius, jadi dengerin cepat sebelum aku nyelipin lelucon.”

Aku menunggu.

Ia membungkuk. Bukan menunduk. Membungkuk, dari pinggang, sembilan puluh derajat, di tengah ruang komando, di depan direksi perusahaan ayahnya.

“Atas nama keluarga Kusumadewi,” katanya ke lantai, “maaf. Kami telat lima tahun.”

Aku menatap punggungnya.

“Bram, berdiri.”

“Bentar. Ini pertama kali aku minta maaf atas nama keluarga. Biasanya aku minta maaf atas nama diri sendiri, terus Papa yang bayar.” Ia berdiri. Matanya basah. Ia menyekanya cepat dengan lengan batik. “Oke. Udah. Sekarang leluconnya: kamu tahu nggak, Tante Wulan tadi pesan kulkas di aplikasi, terus pas sistemnya nyala, kulkasnya jadi yang pertama kebeli. Diskon lima puluh persen. Pakai voucher kampanye Clara.” Ia tertawa, basah. “Dia nggak berani ngaku. Aku lihat notifikasinya waktu dia lupa ngunci layar.”

Di balik dinding kaca, di lounge, Tante Wulan duduk sendirian di ujung sofa. Gelas sampanyenya di meja, masih penuh. Ia menatap ponselnya. Lalu menatap ke ruang komando, ke arahku. Lalu buru-buru menatap ponselnya lagi.

Ia tidak keluar dari lounge sampai aku pergi.

Clara sedang dikerumuni. Direktur Teknologi. Direktur Keuangan. Tiga staf pemasaran yang menatapnya seperti menatap orang yang baru selamat dari kecelakaan. Direktur Pemasaran berdiri di pinggir kerumunan, menunggu giliran. Ketika gilirannya tiba, ia berdeham, dan berkata sesuatu yang tidak bisa kudengar, dan Clara mengangguk dengan wajah yang sangat datar. Wajah yang ia pelajari dari Papa.

Ia tidak melihat ke arahku.

Tidak apa-apa. Aku tidak datang supaya ia melihatku.

Aku berjalan ke lift.

Lorong lantai dua puluh sembilan, yang kulewati karena lift eksekutif penuh, adalah lantai layanan pelanggan. Dua ratus meja. Dua ratus orang dengan headset, yang sejak pukul sepuluh malam menerima telepon dari orang-orang yang marah.

Ketika aku keluar dari tangga darurat, mereka berdiri.

Tidak semua sekaligus. Satu orang dulu, di meja paling dekat. Perempuan muda dengan jilbab abu-abu dan mata bengkak. Ia berdiri dan bertepuk tangan, pelan, sendirian. Lalu orang di sebelahnya. Lalu satu baris. Lalu seluruh lantai.

Dua ratus orang dengan headset di leher, bertepuk tangan, di lantai dua puluh sembilan, pukul dua belas lewat empat puluh malam.

Aku tidak tahu harus berbuat apa. Aku berdiri di ujung lorong dengan ransel di punggung, dan menunduk sedikit, dan berjalan ke lift biasa secepat mungkin tanpa berlari.

Pintu lift menutup. Aku berdiri sendirian di dalamnya.

Tanganku gemetar. Aku baru sadar. Mungkin sudah gemetar sejak pukul sebelas lewat empat puluh dua, ketika semua layar menjadi hitam dan dua puluh orang menatapku dan satu-satunya yang berkata biarkan dia adalah laki-laki yang lima tahun lalu tidak membiarkan aku.

Aku memasukkan tangan ke saku jaket.

Jaket yang disuruh Kanya bawa.


Petugas valet berseragam merah sudah menungguku di lobi dengan kunci Avanza di tangan.

“Pak!” Ia tersenyum lebar. “Sudah nyala, ya? Istri saya barusan WA, kulkasnya kebeli! Setengah harga! Pakai voucher!”

“Syukurlah.”

“Bapak hebat, Pak.” Ia menyerahkan kunci. “Tadi bapak-bapak di atas pada turun ke lobi, ngomongin Bapak semua. Katanya Bapak founder? Beneran, Pak?”

“Kurang lebih.”

Aku mengeluarkan lima puluh ribu.

Ia menggeleng. Bukan sopan-sopan. Menggeleng seperti orang yang sudah diberi perintah.

“Nggak bisa, Pak. Maaf.” Ia menunjuk ke depan lobi. “Barusan Pak Hendro telepon saya sendiri. Dari atas. Pak Hendro nggak pernah telepon valet, Pak. Lima tahun saya kerja di sini, belum pernah.” Ia menelan ludah. “Bapak bilang, jangan terima uang dari Bapak. Terus mobil Bapak suruh dipindah.”

Aku mengikuti arah tangannya.

Avanza perak tahun 2014 tidak lagi diparkir di pojok, di antara mobil-mobil tamu. Ia berdiri di tengah, di depan pintu utama lobi, di bawah lampu paling terang. Di satu-satunya tempat parkir dengan papan kecil berwarna emas di tiang di depannya.

DIREKTUR UTAMA.

Sedan hitam panjang yang biasanya berdiri di sana sekarang diparkir di pojok. Sopirnya, laki-laki tua berseragam safari, berdiri di samping sedan itu dan menatap Avanza perak dengan wajah orang yang menyaksikan sesuatu yang tidak akan ia ceritakan ke siapa pun, atau akan ia ceritakan ke semua orang.

“Pak Hendro bilang,” kata petugas valet pelan, “mobil tamu saya diparkir di tempat saya.”

Aku berdiri di lobi lama.

Lalu aku berjalan ke Avanza perak di tempat parkir Direktur Utama.

Di samping mobilku, berdiri seorang perempuan.


Kebaya brokat sederhana warna biru muda. Rambut disanggul rendah. Tas tangan kecil. Mata besar, cokelat terang, sama dengan mata Clara.

Tante Ratna.

“Saka,” katanya.

“Tante.”

“Boleh Tante bicara sebentar?” Ia melirik ke arah pintu lobi, ke arah lift, seperti memastikan tidak ada yang melihat. “Sebentar saja.”

“Boleh, Tante.”

Ia berdiri di samping Avanza perak tahun 2014, di bawah lampu kuning lobi Menara Kusumadewi, di depan papan emas bertuliskan nama jabatan suaminya, dan menatapku lama. Tangannya meremas tali tas kecilnya. Sama seperti Clara, di gala, di dekat pilar. Aku mencatatnya di kepala. Ternyata bukan kebiasaan Clara. Kebiasaan keluarga.

“Tante minta maaf,” katanya.

Aku tidak menjawab. Aku menunggu.

“Lima tahun lalu,” katanya, suaranya pelan dan bergetar, “Tante nggak belain kamu. Di arisan, waktu orang-orang bilang sekufu. Di meja makan. Waktu Om bilang Clara harus fokus. Tante diam aja. Tante cuma pegang tangan Clara di bawah meja dan nggak ngomong apa-apa.” Matanya basah. “Malam Clara tanda tangan map MT, dia nangis di lorong depan ruang kerja Om. Tante peluk dia. Tante bilang maafin Mama. Tapi Tante nggak pernah bilang ke kamu.”

“Tante…”

“Bukan cuma itu.” Ia menggeleng. Air matanya jatuh, satu, di pipi kiri. Ia tidak menghapusnya. “Tadi. Waktu kamu masuk ruangan itu. Kamu tahu yang pertama Tante lihat apa?”

Aku tidak menjawab.

“Sepatumu,” katanya. “Tante lihat sepatumu dulu, Saka. Sebelum Tante lihat mukamu. Lima tahun, dan Tante masih lihat sepatumu dulu.” Suaranya pecah. “Terus Wulan ngomong kayak gitu, di depan semua orang, dan Tante diam lagi. Tante diam lagi. Tante berdiri di sebelah kue tiga tingkat itu dan nggak ngomong apa-apa, sementara kamu jalan ke laptop dan nolongin kami semua.”

Ia menekan tas tangan kecil itu ke dadanya, seperti menahan sesuatu supaya tidak keluar.

“Tante nggak malu karena kamu sekarang kaya,” katanya. “Tante tahu itu yang orang-orang pikir. Wulan pasti mikir gitu. Tapi bukan itu. Tante malu karena lima tahun lalu Tante sudah tahu kamu anak baik. Tante tahu dari cara kamu makan steak pelan-pelan supaya Clara nggak malu. Tante tahu dari cara kamu bilang terima kasih ke pembantu yang angkat piring.” Ia menarik napas. “Tante tahu. Dan Tante tetap diam. Karena diam itu lebih gampang.”

“Tante bukan orang yang berani, Saka. Tante dari kecil diajari jadi anak yang baik. Istri yang baik. Ibu yang baik.” Ia tersenyum, kecil, pahit. “Kadang jadi baik itu artinya diam waktu harusnya bicara.”

Aku menatapnya. Aku memikirkan Clara di bangku beton, lima tahun lalu. Aku nggak bisa bilang nggak ke Papa. Aku memikirkan Clara di ruang komando, satu jam lalu, bahu yang naik sedikit, bersiap dipukul.

Ternyata itu juga bukan kebiasaan Clara. Kebiasaan keluarga.

“Tante nggak perlu minta maaf,” kataku.

“Tante perlu.”

“Nggak perlu, Tante.” Aku diam sebentar, mencari kalimat yang benar. “Tante cuma lakuin yang Tante tahu. Itu bukan hal yang salah.”

“Itu yang salah, Saka.” Ia menatapku. “Kamu masih sama. Lima tahun lalu kamu juga bilang gitu. Waktu Clara nanya kenapa kamu nggak marah sama Om. Clara cerita. Kamu bilang papamu benar.”

“Om memang benar. Waktu itu.”

“Dan sekarang?”

Aku tidak menjawab.

Tante Ratna menunggu. Lalu ia mengangguk pelan, seperti mengerti sesuatu yang tidak kuucapkan. Matanya beralih ke papan emas di depan Avanza. DIREKTUR UTAMA. Ia menatapnya lama.

“Dua puluh delapan tahun Tante nikah sama Om,” katanya pelan. “Belum pernah ada mobil lain di situ.” Ia menelan sesuatu. “Om nggak bisa ngomong, Saka. Om dari dulu nggak bisa ngomong. Kalau Om bangga, dia cerita ke orang lain. Kalau Om malu…” Ia berhenti. “Tante juga baru tahu malam ini, ternyata kalau Om malu, dia mindahin mobilnya.”

Ia mengulurkan tangan dan menepuk bahuku dua kali. Sama seperti malam makan malam di Menteng. Sama seperti Ibu dulu, sebelum aku berangkat sekolah.

“Hati-hati di jalan, Nak,” katanya.

Ia berbalik dan berjalan kembali ke lobi. Langkahnya pelan, sedikit terseret, seperti orang yang baru meletakkan sesuatu yang berat.

Aku masuk ke Avanza dan duduk di kursi pengemudi tanpa menyalakan mesin.

Nak.

Sudah sembilan tahun tidak ada yang memanggilku nak.


Ada yang mengetuk kaca jendela.

Tiga kali. Cepat. Tidak sabar.

Aku menoleh. Clara berdiri di samping pintu pengemudi. Napasnya terengah. Blazer abu-abunya sudah dilepas dan disampirkan di lengan. Rambutnya lepas sepenuhnya dari ikatan, bergelombang, berantakan. Dan ia tidak memakai sepatu. Sepasang sepatu hak tinggi hitam tergantung di jari tangan kirinya, dan telapak kakinya telanjang di atas lantai batu lobi yang dingin.

Aku menurunkan kaca.

“Lift eksekutif penuh direksi,” katanya, sebelum aku sempat bertanya. “Lift biasa berhenti di tiap lantai. Aku turun tangga darurat.” Ia menarik napas. “Tiga puluh lantai. Aku hitung.”

“Kakimu.”

“Nanti.” Ia menatapku lewat jendela yang terbuka. “Kamu mau pulang gitu aja? Tanpa bilang apa-apa?”

“Aku udah bilang ke direksimu.”

“Kamu bilang ke tabel.” Suaranya naik, lalu pecah. “Kamu ngomong sama log, sama vendor, sama Direktur Keuangan. Kamu nolak uang tiga puluh delapan miliar. Kamu belain kampanyeku di depan orang yang dari jam sepuluh nyalahin aku. Terus kamu jalan ke lift kayak orang yang baru selesai benerin printer kantor.”

Aku tidak menjawab.

Clara menatapku lama. Lalu ia menunduk, menatap tangannya sendiri di bingkai jendela mobil. Jari-jarinya putih karena terlalu kencang memegang.

“Lima tahun lalu,” katanya pelan, “aku duduk di meja makan itu dan diam. Waktu Papa ngomong. Waktu orang-orang bilang sekufu. Aku diam terus, Saka. Aku nggak pernah bisa ngomong apa-apa buat kamu di depan mereka.” Ia mengangkat wajah. Matanya basah, tapi ia tidak menangis. Ia menolak menangis. Aku melihat bibir bawahnya digigit di bagian tengah agak kiri. “Malam ini kamu yang ngomong buat aku. Di depan mereka semua. Di depan Tante Wulan. Di depan Papa.”

“Aku cuma bilang yang benar.”

“Itu masalahnya.” Ia tertawa, basah, kecil. “Kamu selalu cuma bilang yang benar. Dan itu selalu cukup buat bikin aku jatuh lagi.”

Aku menatapnya.

Dulu, di bangku beton, aku bisa membaca semua baris di wajahnya. Malam ini juga bisa. Aku hanya tidak mau membaca baris yang terakhir, karena aku tahu kalau kubaca, aku tidak akan bisa menyalakan mesin.

“Clara,” kataku. “Pakai sepatumu. Lantainya dingin.”

Ia tidak bergerak.

Lalu, tanpa peringatan, ia membungkuk masuk lewat jendela yang terbuka dan memelukku.

Canggung. Setengah badannya di luar mobil, setengah di dalam. Sepatu hak tinggi di tangan kirinya membentur pintu. Lengannya melingkar di leherku, dan wajahnya di bahuku, di atas jaket yang disuruh Kanya bawa, dan wangi samponya memenuhi kabin Avanza perak tahun 2014 yang sejak dibeli hanya berbau pengharum mobil rasa jeruk dari minimarket.

Stroberi.

Tanganku masih di setir. Aku menyuruhnya tetap di sana.

Satu detik. Dua.

Tangan kananku tidak menurut. Ia lepas dari setir, naik, dan berhenti di punggung Clara. Tidak memeluk. Hanya berhenti di sana. Telapak tangan terbuka, di antara tulang belikatnya, tempat yang dulu, di bawah hujan di parkiran fakultas, selalu kusentuh.

Clara berhenti bernapas. Aku merasakannya.

“Terima kasih,” bisiknya di bahuku. “Udah dateng.”

“Kamu nelpon.”

“Banyak yang bisa kutelepon.”

“Kamu nelpon aku,” kataku.

Ia diam. Lalu ia tertawa lagi di bahuku, pelan, dan tawanya bergetar, dan aku merasakannya sampai ke telapak tanganku.

Aku menurunkan tanganku. Kembali ke setir. Pelan.

Clara menarik diri dari jendela. Wajahnya merah sampai ke telinga. Tapi matanya tidak lari. Matanya menatapku lurus, terang, keras kepala, seperti waktu presentasi dua belas slidenya kutolak di kantor Floo dan ia bilang revisi minggu depan.

“Itu bukan terima kasih dari Brand Manager Kusumadewi Retail,” katanya. “Biar jelas.”

“Aku tahu.”

“Terus dari siapa?”

Aku tidak menjawab.

Ia tersenyum. Senyum yang membuat orang lupa kalimat. Aku lupa kalimatku.

“Hati-hati di jalan,” katanya. Ia mundur selangkah. Kaki telanjang di lantai batu. Sepatu di tangan. Rambut berantakan, di bawah lampu lobi, di samping papan emas bertuliskan jabatan ayahnya. “Saka Pradana.”

Ia berbalik dan berjalan ke pintu lobi. Ia tidak memakai sepatunya. Di ambang pintu ia berhenti, menoleh sekali, dan menunggu, seperti menunggu aku mengatakan sesuatu.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

Ia masuk.

Aku duduk di sana lama. Di tempat parkir Direktur Utama. Dengan tangan di setir dan mesin mati dan lampu lobi yang terlalu terang. Sopir tua berseragam safari di samping sedan hitam di pojok menatapku dari jauh, lalu, pelan, mengangkat tangan kanannya ke pelipis. Hormat. Seperti satpam kompleks memberi hormat pada mobil pemilik rumah.

Aku membalasnya dengan anggukan. Lalu aku menyalakan mesin.

Avanza perak tahun 2014 batuk dua kali sebelum hidup. Di tempat parkir Direktur Utama, di depan Menara Kusumadewi, bunyinya terdengar sangat keras.


Pukul satu lewat dua puluh, di jalan tol Jagorawi menuju Sentul, ponselku bergetar.

Satu getar. Pesan masuk. Dari nomor yang tidak kusimpan, nomor yang meneleponku pukul sepuluh lewat empat puluh tiga.

Clara: Sudah sampai rumah?

Aku menatap pesan itu di lampu merah gerbang tol.

Empat kata. Pertanyaan yang sama. Pertanyaan yang kukirim lima tahun lalu, pukul sembilan lewat sedikit, di malam setelah bangku beton. Pertanyaan yang dibalas sudah pukul satu pagi, setelah empat jam.

Lampu hijau. Aku menyetir.

Pukul satu lewat empat puluh dua, aku memarkir Avanza di depan rumah di Sentul. Lampu dapur masih menyala. Di jendela, dua siluet. Satu memegang spatula. Satu memegang buku anatomi gigi di halaman yang sama sejak sore.

Mereka menunggu.

Aku membuka ponsel.

Saka: Sudah.

Aku mengirimnya sebelum bisa berpikir lebih lama. Centang dua. Biru, dalam tiga detik.

Ia menunggu. Ia sudah menunggu dari tadi.

Aku menatap layar. Kursornya berkedip di kolom balasan yang kosong.

Aku tidak mengetik apa-apa lagi.

Tapi aku tidak menutup aplikasinya sampai pukul dua lewat satu menit.