← Pria yang Ia Pilih

Chapter Twenty

Gala Malam Itu

POV: Clara

Aku mengganti gaun tiga kali.

Gaun pertama, hitam, panjang, punggung terbuka. Mama bilang terlalu formal. Gaun kedua, merah anggur, berpotongan sabrina. Bram bilang aku kelihatan seperti mau menghadiri pemakaman mafia. Gaun ketiga, biru tua, sederhana, dengan lengan tipis yang jatuh di bahu dan potongan yang mengikuti tubuh sampai mata kaki.

“Itu,” kata Tasya, yang sudah duduk di kasurku selama satu jam dengan sekantong keripik kentang, sebagai konsultan mode tidak resmi. “Itu yang paling kamu.”

“Kenapa?”

“Karena kamu kelihatan cantik tanpa kelihatan berusaha.” Tasya mengunyah keripik. “Dan warna biru tua itu warna kemeja terbaik seseorang, kalau aku nggak salah ingat.”

Aku menatapnya lewat cermin.

“Bercanda,” kata Tasya. “Mungkin.”

Aku tidak menggantinya lagi.

Rambutku kugerai, bergelombang sampai punggung. Riasanku tipis. Di sisi kiri rambutku, aku memasang jepit. Bukan jepit hitam polos. Bukan jepit bunga liar, karena jepit itu sudah hilang lima tahun lalu. Jepit perak kecil berbentuk daun, yang kubeli sendiri dengan penghasilan pertama dari Floo, enam puluh dua ribu rupiah.

Tasya melihatnya dan tidak berkata apa-apa. Ia hanya memelukku dari belakang, sebentar, dan berbisik ke bahuku:

“Kalau malam ini ternyata dia, jangan pingsan. Gaunnya mahal.”

“Bukan dia, Sya.”

“Iya. Pasti bukan dia.” Tasya melepas pelukannya. “Tapi jangan pingsan.”


Ballroom hotel bintang lima di kawasan Sudirman itu dipenuhi seribu dua ratus orang.

Lampu gantung kristal sebesar mobil. Meja-meja bundar dengan taplak putih dan rangkaian bunga anggrek ungu. Panggung besar dengan layar LED yang menampilkan logo Indonesia Digital Economy Gala berputar-putar dalam animasi tiga dimensi. Pelayan berseragam hitam membawa nampan berisi gelas sampanye dan jus jeruk.

Meja sponsor utama ada di barisan paling depan, tepat di bawah panggung. Papa di kursi tengah, dengan setelan jas hitam dan dasi abu-abu. Mama di sebelahnya, dengan kebaya brokat warna perak. Bram di sebelah Mama, sudah memotret lampu gantung dari empat sudut. Aku di ujung meja, di sebelah Direktur Pemasaran Kusumadewi Group, seorang laki-laki paruh baya yang sejak tadi membicarakan golf.

Aku tidak mendengar satu kata pun tentang golf.

Aku menghitung kepala.

Bukan kepala yang menoleh ke arahku. Kepala di meja-meja nominasi. Meja nomor sembilan, di barisan ketiga dari depan, bertuliskan FLOO di kartu nama kecil di tengah meja. Lima kursi. Tiga sudah terisi.

Bu Rosa, dengan kacamata berbingkai tebal dan gaun hitam sederhana, persis seperti foto di majalah bisnis. Seorang laki-laki muda dengan rambut dicat abu-abu dan kacamata bundar, yang kelihatan tidak nyaman memakai jas. Seorang perempuan berusia empat puluhan yang memakai kebaya sederhana dan kelihatan seperti baru pertama kali masuk hotel bintang lima, menatap lampu gantung dengan mulut setengah terbuka.

Dua kursi kosong.

“Clar,” bisik Bram dari seberang meja, mencondongkan badan ke depan. “Kamu ngeliatin meja Floo dari tadi.”

“Nggak.”

“Kamu udah ngeliatin empat belas kali.”

“Kakak ngitung?”

“Aku belajar dari seseorang.” Bram mengedipkan sebelah mata. “Anak IT yang benerin aplikasi dalam delapan puluh tujuh detik.”

Aku menendang kakinya di bawah meja. Bram mengaduh dan Mama menoleh. Papa tidak menoleh. Papa sedang membaca daftar nominasi di buku acara, dan aku melihat jarinya berhenti di satu halaman.


Pukul tujuh lewat empat puluh, sebelum acara dimulai, aku pamit ke toilet.

Aku tidak benar-benar ingin ke toilet. Aku hanya butuh lima menit tanpa duduk di meja sponsor utama, tanpa Direktur Pemasaran yang membicarakan golf, tanpa menghitung kursi kosong di meja nomor sembilan.

Toilet ballroom ada di ujung lorong samping, melewati pintu ganda dan koridor panjang berkarpet merah tempat para pelayan lalu-lalang membawa nampan. Di ujung koridor, dekat pintu keluar darurat, ada area kecil untuk kru panggung dan tamu yang terlambat masuk.

Di area itulah aku mendengar suara yang tidak kudengar selama lima tahun.

“Lho? Cowok nasi telur?”

Bukan suara itu. Suara itu suara Rio.

Aku berhenti berjalan. Aku berdiri di balik pilar besar berlapis marmer, sepuluh meter dari area kru, dan aku tidak tahu kenapa aku bersembunyi. Kakiku berhenti sendiri.

Rio Hartanto berdiri dengan jas biru navy dan gelas anggur merah di tangan, rambutnya masih basah oleh pomade seperti lima tahun lalu. Gilang di sebelahnya, juga dengan gelas anggur, juga dengan jas, kelihatan lebih tua dan lebih gemuk. Mereka pasti datang mewakili agensi pemasaran Rio, yang menurut daftar sponsor di buku acara adalah sponsor perak.

Mereka berdiri di depan seseorang.

Laki-laki. Kemeja biru tua, polos, tanpa dasi, lengan digulung sampai siku. Celana bahan hitam. Rambut hitam yang dipotong lebih pendek dari yang kuingat, tapi masih sedikit terlalu panjang di bagian depan. Kulit sawo matang. Bekas luka kecil di dagu kiri.

Sepatu kets abu-abu.

Bukan sepatu yang sama. Aku bisa melihatnya bahkan dari sini. Sepatu ini lebih baru, tidak ada jahitan benang nilon di sisinya. Tapi modelnya sama persis. Warnanya sama persis. Seolah ia membeli sepatu yang sama, dari pasar yang sama, setelah sepatu yang lama akhirnya menyerah.

Ia memegang ponsel Android murah. Di tangan kirinya, sesuatu berwarna biru.

Kotak bekal. Dengan retakan panjang di sudut tutupnya.

Aku berhenti bernapas.

“Kamu kerja di sini?” tanya Rio, sambil memandang kemeja polos itu dari kerah sampai ujung lengan yang digulung. “Bagian apa? IT support, ya? Ngurusin layar LED?”

Gilang tertawa. Sepersekian detik terlambat. Seperti lima tahun lalu.

Laki-laki itu menatap Rio. Tiga detik. Aku kenal tiga detik itu. Aku hafal tiga detik itu seperti hafal namaku sendiri.

“Kurang lebih,” katanya.

Datar. Tenang. Permukaan kolam yang tidak tertiup angin.

“Wah, keren,” kata Rio. Senyumnya melebar. “Lumayan, ya, sekarang. Dulu bangku goyang, sekarang hotel bintang lima. Nanti kalau layar LED-nya mati, aku panggil kamu, ya.”

“Silakan.”

Rio tertawa lagi, menepuk bahu laki-laki itu dua kali, dan berjalan kembali ke ballroom bersama Gilang. Saat melewati pilar tempatku bersembunyi, Rio tidak melihatku. Gilang melihatku. Matanya membelalak. Ia membuka mulut, menoleh ke Rio, lalu menutup mulut lagi dan terus berjalan.

Laki-laki di area kru tidak bergerak. Ia menatap pintu ganda yang baru dilewati Rio. Lalu ia menunduk, menatap kotak bekal biru di tangan kirinya, dan memasukkannya ke dalam tas ransel hitam yang tersandar di dinding.

Lalu ia mengangkat wajah.

Ke arah pilar.

Aku menarik napas dan menempelkan punggungku ke marmer yang dingin. Jantungku berdetak terlalu cepat, terlalu keras, seperti mesin motor bebek yang dipaksa melaju di atas empat puluh kilo per jam.

Aku tidak tahu apakah ia melihatku.

Aku menghitung sampai sepuluh. Lalu aku berjalan ke toilet tanpa menoleh, masuk ke bilik paling ujung, mengunci pintunya, dan duduk di atas kloset yang tertutup dengan kedua tangan menutup mulut.

Nggak mungkin.

Banyak orang bawa bekal dari rumah.

Semua bunga lima kelopak mirip.

Tanganku gemetar. Aku menatapnya. Lima tahun kulkas dua pintu, dan tanganku gemetar seperti tangan Ucup di atas panggung Tech Cup.


Aku kembali ke meja sponsor pukul delapan kurang lima.

Mama menatapku. “Lama sekali, Nak.”

“Antre.”

Di meja nomor sembilan, empat dari lima kursi sudah terisi. Bu Rosa. Laki-laki berambut abu-abu. Perempuan berkebaya sederhana. Dan seorang laki-laki kurus berkacamata yang sedang mengelap kacamatanya dengan ujung dasi untuk kesekian kalinya, sementara Bu Rosa menepuk-nepuk punggungnya seperti menenangkan anak yang mau disuntik.

Ucup.

Aku memejamkan mata.

Kursi kelima masih kosong.


Acara dimulai pukul delapan. Pembawa acara, seorang presenter televisi yang wajahnya sering muncul di iklan sampo, membuka dengan lelucon tentang kecerdasan buatan yang membuat separuh ballroom tertawa sopan. Kata sambutan dari menteri. Kata sambutan dari ketua asosiasi. Kata sambutan dari Papa, sebagai perwakilan sponsor utama, pendek dan tanpa senyum, seperti biasa.

Penghargaan demi penghargaan. Best Fintech Innovation. Best E-Commerce Platform. Digital Inclusion Award.

Aku tidak mendengar satu pun nama pemenang.

Aku menatap kursi kosong di meja nomor sembilan.

Pukul sembilan lewat dua puluh, layar LED menampilkan tulisan besar berwarna emas: STARTUP OF THE YEAR.

Ballroom hening. Ini penghargaan terbesar malam itu. Lima nominasi muncul di layar, masing-masing dengan logo dan video pendek tiga puluh detik. Startup logistik. Startup kesehatan. Startup pertanian. Startup pembayaran.

Lalu bunga lima kelopak.

Video Floo bukan video dengan musik megah dan animasi mahal. Video Floo adalah rekaman wajah-wajah. Seorang ibu di Cirebon yang menangis memegang buku tabungan. Seorang mahasiswa di Kupang yang menulis di ponsel retak. Seorang bapak di Pontianak yang tertawa malu-malu sambil berkata saya penulis sekarang, Mbak, saya penulis. Seorang penjual gorengan tua dengan dua gigi seri yang tanggal, tersenyum ke kamera di samping gerobaknya, ponsel Android murah di saku celemeknya.

Pak Darto.

Aku menutup mulut dengan tangan.

Di akhir video, tulisan putih di atas layar hitam: Floo. Untuk yang menulis tanpa ada yang menoleh.

Ballroom bertepuk tangan. Lebih lama dari untuk nominasi lain.

Pembawa acara membuka amplop emas. Ia membacanya. Ia tersenyum.

“Dan pemenang Startup of the Year tahun ini adalah…”

Aku tidak bernapas.

“… Floo!”

Meja nomor sembilan meledak. Ucup berdiri dan langsung duduk lagi seperti kakinya kehilangan tenaga. Bu Rosa menepuk punggungnya keras-keras. Laki-laki berambut abu-abu memeluk perempuan berkebaya. Perempuan berkebaya menangis.

“Untuk menerima penghargaan,” kata pembawa acara, “kami persilakan, untuk pertama kalinya tampil di depan publik, salah satu pendiri Floo…”

Lampu sorot berputar. Mencari. Berhenti.

Bukan di meja nomor sembilan. Di sisi kanan panggung, di dekat pintu samping. Di area kru.

Seorang laki-laki berjalan keluar dari bayangan ke dalam cahaya. Kemeja biru tua, polos, lengan digulung sampai siku. Sepatu kets abu-abu.

“… Bapak Saka Pradana!”

Gelas jus jeruk di tanganku jatuh.

Aku tidak merasakannya jatuh. Aku hanya mendengar bunyinya, pecah di lantai marmer di bawah meja sponsor utama, dan merasakan dinginnya cairan jeruk di pergelangan kakiku. Seorang pelayan berlari mendekat. Mama memegang lenganku. Direktur Pemasaran berhenti membicarakan golf.

Aku tidak menoleh ke siapa pun.

Aku menatap panggung.


Saka berjalan ke tengah panggung dengan langkah yang sama. Tidak terburu-buru. Tidak gugup. Seperti berjalan dari gedung Ilmu Komputer ke bangku beton di bawah flamboyan.

Ia menerima piala dari menteri. Ia menjabat tangan pembawa acara. Ia berdiri di depan mikrofon.

Seribu dua ratus orang menunggu.

Ia diam sebentar. Tiga detik. Matanya menyapu ballroom, pelan, dari kiri ke kanan, seperti membaca baris-baris log di layar.

Lalu berhenti.

Di barisan paling depan. Di meja sponsor utama. Di kursi paling ujung.

Di aku.

Satu detik. Dua. Tiga.

Matanya masih sama.

Bukan sama seperti dulu. Lebih tenang. Lebih dalam. Ada garis halus di sudut matanya yang dulu tidak ada, garis orang yang terlalu sering begadang. Tapi di dalamnya, di bawah permukaan kolam yang tenang, sesuatu yang sama. Sesuatu yang hidup. Sesuatu yang melihat apa yang belum ada, dan tahu persis bagaimana membuatnya ada.

Ia mengalihkan pandangan ke mikrofon.

“Terima kasih,” katanya.

Suaranya datar. Jelas. Seperti mengetes mikrofon.

“Floo bukan milik kami,” katanya. “Floo milik empat puluh ribu penulis yang setiap malam nulis setelah anak-anaknya tidur, setelah pulang kerja, setelah semua orang bilang nulis itu buang-buang listrik.” Ia menoleh ke meja nomor sembilan. “Mbak Wening. Listriknya sudah lunas.”

Perempuan berkebaya di meja nomor sembilan menutup wajahnya dengan dua tangan dan menangis keras. Ballroom tertawa dan bertepuk tangan.

“Kami cuma bikin jalannya,” lanjut Saka. “Ceritanya mengalir sendiri.”

Ia diam lagi. Satu detik. Matanya, sepersekian detik, kembali ke meja sponsor utama. Lalu kembali ke mikrofon.

“Untuk yang menulis tanpa ada yang menoleh,” katanya pelan. “Kami baca.”

Ia mundur dari mikrofon. Ia membungkuk sedikit, sopan, dan berjalan turun dari panggung.

Ballroom meledak dalam tepuk tangan.

Aku tidak bertepuk tangan. Aku tidak bisa menggerakkan tanganku.

Kami baca.


Dari sudut mataku, di meja sponsor perak di barisan keempat, aku melihat Rio.

Ia masih duduk. Tangannya masih memegang gelas anggur merah. Gelasnya miring, pelan-pelan, sepuluh derajat, lima belas, dua puluh, sampai anggur merah menetes dari bibir gelas ke taplak putih di depannya. Ia tidak menyadarinya. Ia menatap panggung yang sudah kosong dengan mulut setengah terbuka.

Gilang, di sebelahnya, mengambil gelas itu dari tangan Rio dengan hati-hati, seperti mengambil pisau dari tangan anak kecil. Lalu ia membungkuk ke telinga Rio dan berbisik sesuatu. Aku tidak bisa mendengarnya, tapi aku bisa membaca bibirnya. Lima tahun lalu aku belajar membaca bibir dari menonton Pak Darto.

Yo. IT support.

Rio tidak menjawab.


Di sebelahku, Mama meremas lenganku. “Clara. Clara, itu… itu kan…”

Aku tidak menjawab.

Di seberang meja, Bram menatapku dengan mata yang sangat lebar. Ponselnya di tangan, layarnya masih menyala, menampilkan aplikasi Floo yang terbuka di bab tujuh puluh dua. Ia menatap layarnya. Menatap panggung. Menatapku. Menatap layarnya lagi.

“Clar,” bisiknya. “Bima.”

Aku tidak menjawab.

Dan di kursi tengah, Papa.

Papa tidak bergerak. Papa tidak bertepuk tangan. Papa duduk tegak di kursinya dengan setelan jas hitam dan dasi abu-abu, dan wajahnya…

Aku belum pernah melihat wajah Papa seperti itu. Dalam dua puluh enam tahun, tidak sekali pun.

Wajah Papa pucat. Seperti kertas yang dicuci. Bibirnya terkatup rapat. Tangannya, di atas taplak putih, menggenggam buku acara sampai halaman-halamannya kusut.

Ia menatap kursi kelima di meja nomor sembilan, tempat Saka sekarang duduk di sebelah Ucup yang menangis dan Bu Rosa yang menepuk-nepuk punggung mereka berdua.

Lalu Papa menatap kakinya. Kaki Saka. Sepatu kets abu-abu yang menyembul dari bawah taplak meja nomor sembilan.

Lama sekali.


Pelayan sudah membersihkan pecahan gelas. Pergelangan kakiku masih basah oleh jus jeruk. Pembawa acara sudah mengumumkan penghargaan berikutnya. Orang-orang sudah kembali mengobrol.

Aku masih menatap meja nomor sembilan.

Saka duduk di kursi kelima. Bu Rosa membisikkan sesuatu ke telinganya. Ia mengangguk. Ucup memeluk bahunya dari samping dan menangis ke kemeja biru tuanya. Ia membiarkannya.

Ia tidak menoleh ke meja sponsor utama.

Tapi tangannya, tangan kanannya, di atas taplak putih meja nomor sembilan, mencengkeram ujung serbet. Buku-buku jarinya putih.

Aku kenal tangan itu.

Aku pernah melihat tangan itu mencengkeram ujung kotak bekal biru, di bangku beton di bawah flamboyan, lima tahun lalu, ketika aku bilang aku nggak bisa.

Matanya masih sama.

Tangannya masih sama.

Dan aku, Clara Florentina Kusumadewi, dua puluh enam tahun, Brand Manager termuda dalam sejarah Kusumadewi Retail, kulkas dua pintu, penulis novel peringkat satu di aplikasi miliknya tanpa sadar, duduk di meja sponsor utama dengan pergelangan kaki basah oleh jus jeruk dan menyadari satu hal yang membuat dadaku runtuh:

Lima tahun lalu, aku meninggalkannya di bawah pohon flamboyan, dengan kotak bekal retak dan laptop yang terbuka tanpa diketik apa-apa.

Dan malam ini, ia berdiri di atas panggung, di bawah lampu gantung kristal sebesar mobil, dan seluruh dunia bertepuk tangan untuknya.

Dan aku masih orang yang sama yang tidak sanggup mengucapkan tiga kata.