Chapter Seventeen
Koin Pertama
POV: Clara
Tasya menemukannya di grup WhatsApp Ibu-Ibu Komplek Tantenya.
“Clar,” katanya, berdiri di ambang pintu kamarku pukul sembilan malam, masih memakai blazer kantor, napasnya tersengal seperti habis naik tangga sembilan lantai. Ia memang baru naik tangga. Lift rumah kami sedang diperbaiki. “Clar. Clara. Clara Florentina Kusumadewi.”
“Kenapa?”
Tasya mengangkat ponselnya. Di layar, sebuah file PDF. Sampulnya buatan seseorang yang tidak kukenal, desain murahan dengan gambar telur ceplok dan siluet laki-laki di bawah pohon. Judulnya dengan huruf kuning menyala:
NASI TELUR DAN LAKI-LAKI YANG TIDAK MENOLEH
karya: Sudut Taman
Aku berhenti bernapas.
“Tanteku yang kirim,” kata Tasya. “Ke grup keluarga. Katanya, bagus banget ini, Tante nangis tiga malam. Terus aku baca.” Ia masuk ke kamar dan menutup pintu di belakangnya. “Aku baca sampai bab dua belas di KRL, Clar. Aku nangis di KRL. Ada bapak-bapak nawarin aku tisu.”
“Sya…”
“Bima jualan ikon ke luar negeri.” Tasya menatapku. “Bima punya adik kembar. Bima benerin bangku kampus pakai sandal jepit. Laras numpahin kopi gula aren ke sepatu Bima.” Suaranya bergetar. “Kotak bekal biru. Tutupnya retak. Dari ibunya. Delapan ribu.”
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa.
“Ini kamu,” kata Tasya. “Sudut Taman itu kamu.”
Hening lama. Di luar jendela, suara klakson dari jalan Menteng. Di meja belajarku, laptop yang masih menyala dengan bab tiga puluh satu yang baru setengah jadi.
Aku mengangguk.
Tasya menatapku. Lalu ia melempar ponselnya ke kasur, berjalan ke arahku, dan memelukku keras sekali, sampai aku hampir jatuh dari kursi.
“Dasar bodoh,” katanya ke rambutku. “Dasar bodoh. Dua tahun. Dua tahun kamu nulis ini sendirian, malem-malem, dan kamu nggak bilang aku. Aku sahabatmu dari SMA, Clar. Aku yang nemenin kamu waktu salah masuk toilet cowok di Senayan.”
“Itu gelap.”
“Tandanya gambar orang pakai celana!” Ia melepas pelukannya dan menatapku dengan mata merah. “Kenapa nggak bilang?”
“Aku malu.”
“Malu kenapa?”
“Karena…” Aku menatap laptop. Bab tiga puluh satu. Laras duduk di lantai kamar mandi, memeluk lutut, menatap pesan yang belum dibuka. “Karena ini satu-satunya cara aku bisa ngomong sama dia. Dan dia nggak akan pernah baca.”
Tasya duduk di ujung kasur. Lama ia tidak berkata apa-apa.
“Clar,” katanya akhirnya. “Kamu tahu file ini udah nyebar ke mana aja?”
“Sedikit.”
“Tanteku di Bekasi. Sepupuku di Medan. Grup alumni SMA-ku. Ibu-ibu PKK di Depok. Ada yang jual, Clar. Ada orang yang jual PDF ini di marketplace. Sepuluh ribu satu file. Udah laku tiga ratus.” Tasya mengangkat ponselnya lagi dan menunjukkan tangkapan layar. “Ceritamu dicolong. Dijual. Dan kamu nggak dapat apa-apa.”
“Aku nggak butuh uangnya.”
“Ini bukan soal uang!” Tasya berdiri. “Ini soal ceritamu. Ceritamu tentang dia. Tentang kotak bekal ibunya. Dan ada orang yang nyolong itu dan jual sepuluh ribu satu file kayak jual kaos kaki.”
Aku tidak pernah memikirkannya seperti itu.
Tasya mengambil ponselku dari meja, membuka toko aplikasi, mengetik sesuatu, lalu menyodorkannya ke wajahku.
Sebuah aplikasi. Logo kecil di kiri atas. Bunga lima kelopak, warna oranye kemerahan. Nama aplikasinya empat huruf.
Floo.
“Aplikasi baca-tulis,” kata Tasya. “Baru enam bulan. Lagi naik daun. Penulisnya dapat tujuh puluh persen dari tiap bab yang dibuka pembaca. Nggak bisa di-screenshot. Nggak bisa di-copy. Ada tanda air tak kelihatan di tiap halaman, jadi kalau ada yang bajak, ketahuan dari akun mana.” Ia menatapku. “Teman kantorku nulis di sana. Bulan lalu dia dapat delapan juta. Dari cerita tentang kucingnya yang jadi siluman.”
“Kucing siluman?”
“Kucing siluman, Clar. Delapan juta.” Tasya menunjuk ponselku. “Pindahin ceritamu ke sana. Bukan buat duit. Biar ceritamu punya rumah. Biar nggak ada lagi yang jual sepuluh ribu di marketplace kayak kaos kaki.”
Aku menatap logo bunga lima kelopak itu.
Ada sesuatu yang aneh di dadaku. Seperti déjà vu. Aku tidak tahu kenapa.
“Lucu, ya,” kataku pelan. “Logonya.”
“Kenapa?”
“Kayak jepitku dulu.”
Tasya melirik logo itu. “Jepit bunga abang-abang SD itu?”
“Iya.” Aku tersenyum kecil. “Lima kelopak. Bentuknya mirip.”
“Semua bunga lima kelopak mirip, Clar.”
“Iya.” Aku mengangguk. “Iya, kamu benar.”
Aku memindahkan Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh ke Floo pada malam Minggu, pukul sebelas.
Prosesnya ternyata mudah. Lebih mudah dari yang kuduga. Formulir pendaftaran penulis hanya meminta nama pena, nomor rekening, dan tanda tangan digital di perjanjian yang ditulis dengan bahasa yang sangat jelas, tanpa istilah hukum yang berbelit. Di bagian bawah perjanjian ada satu kalimat yang dicetak tebal:
Hak cipta tetap milik penulis. Selamanya. Floo hanya jalan, bukan pemilik.
Aku membaca kalimat itu tiga kali. Aku belum pernah membaca perjanjian yang kalimatnya seperti itu. Di Kusumadewi Retail, perjanjian dengan pemasok kami tebalnya empat puluh halaman dan isinya kalimat-kalimat yang dirancang supaya pemasok tidak sadar apa yang sedang mereka serahkan.
Aku mengunggah tiga puluh bab. Sepuluh bab pertama gratis. Bab sebelas dan seterusnya dua puluh lima koin per bab. Dua ribu lima ratus rupiah.
Pukul satu pagi, aku menekan tombol Terbitkan.
Pukul satu lewat lima, aku membuka dasbor penulis. Nol pembaca.
Aku menutup laptop dan tidur.
Minggu pertama, dua ratus pembaca. Tiga puluh satu orang membuka bab sebelas. Penghasilan minggu pertama: enam puluh dua ribu rupiah.
Aku menatap angka itu di dasbor penulis, di kantin karyawan lantai empat, saat makan siang. Enam puluh dua ribu. Kurang dari harga satu porsi makan siang di restoran tempat Papa biasa menjamu klien.
Tasya menengok dari balik bahuku dan memekik pelan.
“Clar! Kamu dapat duit!”
“Enam puluh dua ribu.”
“Enam puluh dua ribu!” Ia menepuk-nepuk bahuku. “Itu duit pertama kamu dari nulis! Duit pertama kamu yang bukan dari Papa!”
Aku berhenti mengunyah.
Aku belum pernah memikirkannya seperti itu. Gaji Brand Manager-ku dibayar Kusumadewi Retail, perusahaan keluarga. Kartu kreditku dari Papa. Mobilku dari Papa. Rumahku rumah Papa. Bahkan jepit bunga liar yang hilang itu pemberian ibunya Papa.
Enam puluh dua ribu rupiah ini datang dari tiga puluh satu orang asing yang membuka bab sebelas karena mereka ingin tahu apa yang terjadi pada Bima dan Laras.
Ini milikku. Pertama kalinya, sesuatu yang benar-benar milikku.
Aku memotret layar dasbor itu. Aku menyimpannya di folder baru di ponselku. Aku tidak tahu harus menamai folder itu apa, jadi aku menamainya Pertama.
Rio Hartanto masuk ke ruang rapat lantai sembilan pada hari Rabu, pukul sepuluh pagi, dengan jas abu-abu, rambut yang masih basah oleh pomade, dan senyum yang belum berubah sejak kuliah.
Ia tidak tahu aku yang akan memimpin rapat itu. Aku tahu dari wajahnya, ketika ia melihatku duduk di ujung meja dan senyumnya berhenti di tengah jalan seperti mobil yang direm mendadak.
“Clara,” katanya. “Wow. Clara Kusumadewi. Lama nggak ketemu.”
“Selamat pagi, Pak Rio,” kataku. “Silakan duduk.”
Pak Rio. Aku melihat Gilang, di belakangnya, membawa laptop dan proyektor portabel, menelan ludah dengan suara yang bisa didengar dari ujung ruangan.
Rio sekarang manajer akun di sebuah agensi pemasaran digital. Agensinya ingin menangani kampanye ulang tahun Kusuma Mart yang kedua puluh lima. Anggarannya besar. Rio datang dengan dua puluh delapan slide presentasi dan semangat yang terlihat dibuat-buat.
Aku mendengarkan presentasinya selama dua puluh menit. Aku tidak memotong. Aku tidak tersenyum. Kulkas dua pintu.
Ketika ia selesai, aku membuka catatanku.
“Slide tujuh,” kataku. “Target pasar Anda kelas menengah atas, usia dua puluh lima sampai empat puluh. Tujuh puluh dua persen pelanggan Kusuma Mart kelas menengah bawah. Pekerja harian. Ibu rumah tangga. Mahasiswa yang belanja diskon sayur setelah jam delapan malam.”
Rio membuka mulut.
“Slide empat belas. Anda usulkan influencer gaya hidup dengan pengikut di atas satu juta. Pelanggan kami tidak mengikuti influencer gaya hidup. Pelanggan kami membaca brosur promo di depan pintu toko dan membandingkan harga telur dengan pasar sebelah.”
“Kami bisa sesuaikan…”
“Slide dua puluh dua. Anggaran produksi video Anda empat ratus juta. Itu delapan puluh persen dari total anggaran kampanye. Sisanya dua puluh persen untuk penempatan media.” Aku menutup catatanku. “Anda mau bikin video bagus yang tidak ditonton siapa pun.”
Ruang rapat hening. Dua staf pemasaranku yang duduk di sisi kiri meja menunduk, menahan senyum. Gilang menatap slide dua puluh dua di layar proyektor seperti menatap ular.
Rio tertawa. Tawa yang agak kikuk, tawa orang yang menyiapkan panggung untuk pertunjukan dan mendapati penontonnya pulang. “Clara. Kamu… kamu berubah, ya.”
“Bu Clara,” kataku.
“Bu Clara.” Rio menelan ludah. “Bu Clara berubah.”
“Terima kasih sudah datang, Pak Rio. Tim kami akan mengabari.”
Rio membereskan laptopnya. Gilang mencabut proyektor. Di depan pintu, sebelum keluar, Rio menoleh. Ia menatapku dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca, campuran heran dan sesuatu yang lain.
“Dulu kamu bilang kamu suka di FMIPA,” katanya pelan. “Bangku goyang itu. Sama cowok nasi telur itu. Kamu bilang kamu suka di sana.”
Aku tidak menjawab.
“Kamu masih suka?” tanyanya.
“Selamat siang, Pak Rio.”
Pintu tertutup. Di sisi kiri meja, salah satu staf pemasaranku, anak muda yang baru bergabung tiga bulan lalu, berbisik ke temannya. Bisikannya cukup keras untuk kudengar:
“Gila. Bu Es. Tujuh menit. Rekor baru.”
Temannya menjawab, sama kerasnya: “Itu cowok yang dulu kuliah sama Bu Clara, kan? Kasihan. Kayaknya dia naksir dari dulu.”
“Kayaknya Bu Es naksirnya sama yang lain.”
“Siapa?”
“Nggak tahu. Tapi tadi waktu disebut cowok nasi telur, tangan Bu Es berhenti nulis.”
Aku tidak tersenyum. Aku membuka laptop dan mulai membaca laporan penjualan berikutnya.
Tapi di bawah meja, tanganku gemetar sedikit. Bukan karena Rio. Karena satu kalimatnya.
Kamu masih suka?
Bulan ketiga di Floo, Nasi Telur dan Laki-Laki yang Tidak Menoleh masuk peringkat lima puluh besar.
Bulan keempat, peringkat dua puluh.
Bulan kelima, peringkat sembilan.
Komentar-komentar masuk setiap malam. Ratusan. Pembaca dari Aceh sampai Papua. Mahasiswi yang membacanya di perpustakaan. Ibu-ibu yang membacanya sambil menunggu anak pulang sekolah. Seorang bapak di Pontianak yang menulis saya baca ini diam-diam karena malu ketahuan istri nangis baca novel cinta.
Aku membaca semuanya. Setiap malam, pukul sebelas sampai pukul satu, setelah menulis bab baru.
Penghasilanku di bulan kelima: dua juta delapan ratus ribu rupiah. Aku memindahkan semuanya ke rekening baru yang kubuka atas namaku sendiri di bank yang berbeda dengan bank Papa. Aku tidak memakainya. Aku hanya menyimpannya. Aku tidak tahu untuk apa.
Mungkin untuk sesuatu yang benar-benar milikku, suatu hari nanti.
Suatu pagi, di kantin karyawan lantai empat, Tasya menyodorkan sebuah majalah bisnis ke arahku.
“Lihat,” katanya. “Floo masuk majalah.”
Di halaman dua puluh enam, artikel dua halaman berjudul Floo: Aplikasi Baca-Tulis yang Bikin Penulis Ibu Rumah Tangga Lunasi Cicilan. Fotonya seorang perempuan berusia empat puluhan dengan rambut pendek dan kacamata berbingkai tebal, duduk di ruang kantor kecil yang dindingnya penuh kertas tempel. Di bawah fotonya: Rosalind Halim, Chief Operating Officer Floo.
“Kok cuma dia?” tanyaku. “Foundernya mana?”
Tasya membaca artikel itu. “Katanya foundernya dua orang, tapi nggak mau diwawancara. Nggak mau difoto. Nama mereka juga nggak disebut.” Ia membaca keras-keras: “Ketika ditanya soal pendiri Floo, Rosalind tertawa. ‘Mereka terlalu sibuk bikin aplikasinya. Lagi pula, kalau mereka ketemu wartawan, salah satu dari mereka bakal pingsan.’”
Aku tertawa. “Founder misterius.”
“Kayak cowokmu dulu,” kata Tasya. “Hantu digital.”
Aku berhenti tertawa.
Tasya menyadarinya. Ia menatapku, lalu menatap majalah itu, lalu menatapku lagi. “Clar. Aku bercanda.”
“Aku tahu.”
“Nggak mungkin dia, kan?”
Aku menatap foto Bu Rosa. Ruang kantor kecil. Dinding penuh kertas tempel. Di sudut kanan foto, sebagian terpotong, ada meja kerja dengan laptop dan sesuatu berwarna biru di sebelahnya. Terlalu kecil untuk dilihat jelas. Bisa apa saja. Bisa tempat pensil. Bisa gelas plastik.
“Nggak mungkin,” kataku. “Dia kerja kantoran. Dia mau bikin startup, tapi katanya bisa gagal berkali-kali. Dan Floo…” Aku menunjuk angka di artikel itu. “Floo baru setahun dan udah sebesar ini. Dia bilang butuh bertahun-tahun.”
“Iya, juga sih.”
“Lagi pula, dia nggak mungkin bikin aplikasi baca-tulis.” Aku menutup majalah. “Dia nggak pernah baca novel. Dia baca dokumentasi sistem.”
Tasya mengangguk. Kami melanjutkan makan siang dan membicarakan hal lain: atasan Tasya yang galak, kucing tetangga yang melahirkan di garasi, roti viral yang antreannya tiga jam.
Tapi malam itu, sebelum tidur, aku membuka aplikasi Floo di ponselku dan menatap logonya lama.
Bunga lima kelopak. Oranye kemerahan, warna flamboyan di bulan Januari. Sedikit tidak simetris.
Aku memperbesar logonya dengan dua jari. Di kelopak kiri bawah, ada satu garis tipis yang warnanya sedikit lebih gelap. Hampir tidak terlihat. Mungkin bayangan.
Aku menatap garis itu lama sekali.
Lalu aku menutup aplikasi, mematikan ponsel, dan menarik selimut sampai ke dagu.
Semua bunga lima kelopak mirip, Clar.
Iya. Tasya benar.
Semua bunga lima kelopak mirip.
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama reading
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman