Chapter Seven
Tech Cup
POV: Clara
Tidak ada yang tahu.
Itu hal pertama yang kusadari pagi itu, ketika aku berdiri di lobi gedung konvensi di Senayan dan membaca spanduk raksasa di atas pintu masuk aula: GRAND FINAL NUSANTARA TECH CUP. Di bawahnya, logo perusahaan-perusahaan teknologi besar yang biasanya hanya kulihat di iklan bandara.
Tidak ada satu pun anak kampus kami di lobi ini.
Aku sudah bertanya ke Tasya. Tasya ada kondangan sepupu di Bogor dan bilang, “Clar, aku cinta kamu, tapi aku lebih takut sama Tante Mirna kalau nggak dateng.” Aku sudah memeriksa akun resmi kampus, akun BEM, akun himpunan Ilkom. Tidak ada unggahan soal Tech Cup. Tidak ada ucapan semangat. Tidak ada pengumuman bahwa dua mahasiswa kami masuk final kompetisi teknologi tingkat nasional, mengalahkan tiga ratus empat puluh tim dari seluruh Indonesia.
Aku bertanya ke Ucup kemarin, kenapa tidak ada yang tahu.
“Kami nggak bilang siapa-siapa,” jawabnya, sambil menggaruk tengkuk. “Saka bilang nggak usah. Katanya kalau kalah, nggak ada yang perlu kecewa. Kalau menang, ya… nanti orang tahu sendiri.”
“Pak Budiman?”
“Pak Budiman tahu. Dia dateng. Tapi dia juga bukan tipe yang posting di Instagram.”
Jadi di aula yang bisa menampung dua ribu orang ini, di antara rombongan kampus-kampus besar yang membawa spanduk dan seragam warna-warni, hanya ada aku. Aku, dengan blus putih dan celana bahan, duduk di barisan tengah, memegang kertas karton yang kubuat semalam dengan spidol dan sedikit glitter yang kucuri dari kotak prakarya lama Mama:
LIZZ 10 — DENGARKAN!
Glitter-nya terlalu banyak. Setiap kali aku menggerakkan karton itu, pundakku berkilau.
“Kakak siapa?”
Aku menoleh. Di kursi sebelah kiriku, dua anak perempuan berseragam SMA duduk berdampingan. Wajah mereka sama persis: mata sedikit sipit, alis tebal, dagu runcing. Yang satu memegang ponsel dan menatapku dengan curiga. Yang satu lagi membaca buku tebal bersampul biru dengan gambar tengkorak manusia.
Aku tidak perlu bertanya siapa mereka. Mata mereka. Mata mereka sama dengan mata yang kutonton tiga minggu dari bangku kayu.
“Aku Clara,” kataku. “Teman kampus Saka.”
Yang memegang ponsel menyipitkan mata lebih jauh. “Teman kampus Kak Saka?”
“Iya.”
“Kak Saka nggak punya teman kampus. Kak Saka punya Kak Ucup. Kak Ucup itu bukan teman, Kak Ucup itu kayak… kayak jamur di kamar mandi. Udah ada dari dulu, nggak bisa diusir.”
Aku tertawa. Anak itu tidak.
“Kanya,” kata kembarannya tanpa mengangkat mata dari buku. “Jangan galak. Kakak ini yang bantu rekaman suara. Kak Saka cerita.”
Kanya menoleh ke kembarannya dengan kecepatan yang bisa mematahkan leher. “Kak Saka cerita? Kapan? Kok aku nggak tahu?”
“Kamu tidur. Kak Saka cerita waktu masak telur. Dia bilang ada penguji suara perempuan, akurasinya naik dua belas persen.” Kembarannya membalik halaman. “Terus dia bilang penguji suaranya jago niruin logat Medan.”
Kanya menatapku. Aku menatap Kanya. Pipiku terasa hangat, dan bukan karena AC aula yang terlalu dingin.
“Dua belas persen,” ulang Kanya pelan, seperti mengucapkan angka itu membuatnya curiga. “Kak Saka nggak pernah nyebut angka buat orang. Dia nyebut angka buat telur, beras, sama tagihan listrik.”
“Kinan,” kata kembarannya, mengulurkan tangan ke arahku tanpa mengangkat wajah dari buku. “Salam kenal, Kak Clara. Gigi Kakak rapi. Pernah pakai behel?”
“Waktu SMP,” jawabku, bingung.
“Kelihatan. Bagus hasilnya.” Kinan kembali membaca. “Kanya, karton Kakak ini glitter-nya kena rokmu.”
Kanya memekik dan menepuk-nepuk roknya. Glitter menyebar ke mana-mana. Ke rok Kanya, ke buku tengkorak Kinan, ke kursi di depan kami yang diduduki bapak-bapak berkemeja batik yang menoleh dengan tatapan tidak senang.
“Maaf, Pak,” kataku.
“Maaf, Pak,” kata Kanya.
Kinan hanya mengangguk ke bapak itu dengan sopan, lalu berbisik ke arahku tanpa ekspresi: “Bapak itu bruxism. Rahangnya tegang.”
Aku menutup mulut supaya tidak tertawa keras. Kanya menatapku, menatap glitter di roknya, menatap karton di pangkuanku, dan untuk pertama kalinya sejak kami duduk, sudut bibirnya naik sedikit.
“Kakak bikin karton sendiri?” tanyanya.
“Iya.”
“Pakai glitter.”
“Kebanyakan, ya?”
“Banget.” Kanya menghela napas. “Tapi nggak apa-apa. Kak Saka nggak bakal lihat juga. Dia kalau lagi presentasi kayak kuda pakai kacamata samping. Lurus doang.”
Lima tim finalis. Masing-masing dapat lima belas menit: sepuluh menit presentasi dan demo, lima menit tanya jawab dengan juri.
Juri-jurinya duduk di meja panjang di bawah panggung. Empat orang. Seorang direktur teknologi dari perusahaan teknologi global yang kantornya ada di gedung tertinggi di Jakarta. Seorang profesor dari kampus teknik paling terkenal di Bandung. Seorang pendiri startup yang wajahnya sering muncul di majalah bisnis. Dan seorang perempuan tunarungu dari yayasan disabilitas nasional, yang membaca transkrip presentasi dari layar kecil di depannya.
Tim pertama: aplikasi pembayaran untuk pedagang pasar, dari kampus terkenal di Depok. Presentasi mereka mulus, video mereka profesional, dan mereka memakai jas seragam warna biru tua.
Tim kedua: sistem irigasi pintar untuk petani, dari Surabaya. Tim ketiga: aplikasi deteksi dini stunting, dari Yogyakarta. Semuanya bagus. Semuanya membuat jantungku semakin turun ke perut.
Tim keempat: Lizz 10.
Saka dan Ucup naik ke panggung tanpa jas. Saka memakai kemeja kotak-kotak, kali ini yang biru, yang kutahu adalah kemeja terbaiknya karena kerahnya paling tidak tipis. Ucup memakai kemeja putih yang kebesaran dan kacamata yang sudah ia lap tiga kali selama berjalan ke podium.
Kanya meremas tanganku. Aku tidak tahu kapan ia mulai memegang tanganku.
Ucup bicara duluan. Suaranya bergetar di kalimat pertama, selamat pagi para juri yang terhormat, lalu stabil. Ia menjelaskan masalahnya: sebelas juta penyandang disabilitas rungu di Indonesia, mayoritas di kelompok ekonomi bawah, mayoritas memakai ponsel murah, mayoritas tidak punya akses internet stabil. Ia menjelaskan Pak Darto. Di layar raksasa di belakangnya, foto Pak Darto tersenyum di samping gerobaknya.
Lalu Saka maju untuk demo.
Ia mengangkat ponsel Android murah, ponsel yang sama yang tergeletak di samping kotak bekal biru setiap pagi. Layarnya diproyeksikan ke layar raksasa.
“Ini ponsel harga sembilan ratus ribu,” katanya. Suaranya datar, tenang, sama seperti ketika ia bilang nggak apa-apa di bawah flamboyan. “RAM dua giga. Mode pesawat aktif. Tidak ada internet.”
Ia menyalakan Lizz 10.
Layar raksasa menampilkan antarmuka putih sederhana. Ucup mendekat ke mikrofon dan berkata: Pak, bakwannya dua, tahu isinya tiga, sambelnya dipisah, ya.
Layar membeku.
Satu detik. Dua detik. Lingkaran loading berputar. Tiga detik.
Lalu layar menampilkan kotak abu-abu dengan tulisan merah: Lizz 10 telah berhenti.
Aula hening. Dua ribu orang hening. Bapak berkemeja batik di depan kami mengeluarkan suara kecil seperti ck.
Kanya mencengkeram tanganku sampai sakit. Aku mendengar Kinan, di sebelahnya, berbisik sesuatu yang terdengar seperti doa.
Di atas panggung, Ucup berubah pucat. Pucat sekali, seperti kertas yang dicuci. Ia menoleh ke Saka dengan mata yang bergetar di balik kacamata.
Saka tidak menoleh.
Ia menatap layar ponsel di tangannya. Satu tarikan napas. Lalu ia berjalan ke laptop di samping podium, laptop tua dengan baterai empat puluh menit, dan menyambungkan ponselnya dengan kabel.
“Mohon waktu sebentar,” katanya ke mikrofon. Suaranya masih datar. Masih tenang. Seperti ia sedang memesan bakwan.
Layar raksasa kini menampilkan layar laptopnya. Layar hitam dengan huruf warna-warni. Baris demi baris log berjalan dari bawah ke atas, terlalu cepat untuk dibaca.
Saka membacanya.
Aku melihat matanya. Bahkan dari barisan tengah, bahkan dari jarak tiga puluh meter, aku bisa melihatnya. Mata itu menyala. Bukan panik. Bukan takut. Menyala seperti hari Jumat itu di bawah flamboyan, ketika ia mengambil laptop Ucup dan menggambar jalan di tempat yang semua orang anggap buntu.
Dua puluh detik. Ia berhenti menggulir. Ia menunjuk satu baris di layar, seolah berbicara pada dirinya sendiri.
“Lampu panggung,” katanya.
Profesor dari Bandung mencondongkan badan ke depan.
“Panas,” lanjut Saka, masih mengetik. “Suhu ponsel naik di bawah lampu panggung, prosesor menurunkan kecepatan supaya nggak overheat. Model suara kami ada batas waktu muat. Prosesor melambat, model nggak selesai dimuat sebelum batas waktunya habis, aplikasinya menganggap itu gagal, lalu berhenti.” Ia menghapus satu baris, mengetik dua baris baru. “Batas waktunya saya ubah jadi adaptif. Ikut kecepatan prosesor saat ini.”
Empat puluh detik.
Ia menyimpan, mengompilasi. Layar laptop menampilkan bar kemajuan hijau yang merayap terlalu lambat. Seseorang di barisan depan batuk. Bapak berkemeja batik menggeleng-geleng.
Tujuh puluh detik. Bar hijau penuh. Saka memasang ulang aplikasi di ponsel. Lingkaran loading berputar.
Delapan puluh lima detik.
Layar putih Lizz 10 muncul.
Saka mengangguk ke Ucup. Ucup, yang tangannya gemetar begitu hebat sampai aku bisa melihatnya dari sini, mendekat ke mikrofon dan berkata dengan suara pecah:
Pak, bakwannya dua, tahu isinya tiga, sambelnya dipisah, ya.
Kurang dari satu detik kemudian, di layar raksasa, muncul tulisan hitam di atas latar putih:
Pak, bakwannya dua, tahu isinya tiga, sambelnya dipisah, ya.
Sempurna. Tidak ada satu huruf pun yang salah.
Sembilan puluh detik.
Aula masih hening. Lalu juri perempuan dari yayasan disabilitas, yang membaca semuanya dari layar kecil di depannya, mengangkat kedua tangannya ke udara dan menggoyangkannya. Tepuk tangan dalam bahasa isyarat.
Lalu aula meledak.
Aku tidak sadar aku sudah berdiri. Aku tidak sadar aku sudah berteriak. Aku hanya tahu bahwa karton glitter-ku terangkat tinggi di atas kepala, glitter berjatuhan ke rambutku, ke rambut Kanya, ke buku tengkorak Kinan, ke bahu bapak berkemeja batik yang kali ini tidak menoleh karena ia juga sedang bertepuk tangan, dan aku berteriak sampai suaraku pecah:
“LIZZ SEPULUH! LIZZ SEPULUH! SAKAAA!”
Kanya ikut berteriak. Kinan, yang menurut Kanya tidak pernah berteriak seumur hidupnya, berdiri di atas kursi dan mengangkat buku tengkoraknya tinggi-tinggi seperti piala.
Di atas panggung, Saka tidak menoleh.
Lalu ia menoleh.
Hanya sebentar. Ke arah barisan tengah. Ke arah karton glitter dan suara yang meneriakkan namanya. Matanya mencari, berhenti, dan aku tidak tahu apakah ia melihatku atau melihat adik-adiknya atau melihat glitter yang beterbangan seperti salju di bawah lampu panggung.
Tapi aku melihat sesuatu di wajahnya. Dua milimeter di sudut bibir. Mungkin tiga.
Mungkin empat.
Lima menit tanya jawab menjadi dua belas menit. Direktur teknologi bertanya soal arsitektur model, dan Saka menjelaskan model-model kecil spesialis yang bergantian dimuat ke memori, dengan bahasa yang membuat profesor dari Bandung mencatat di buku kecilnya. Pendiri startup bertanya soal model bisnis, dan Saka menjawab bahwa aplikasi ini akan gratis untuk pengguna, dan bahwa mereka akan mencari pendanaan dari program tanggung jawab sosial perusahaan, bukan dari iklan atau dari data pengguna. Juri dari yayasan disabilitas tidak bertanya. Ia hanya menulis satu kalimat di kertas dan mengangkatnya ke arah panggung.
Dari barisanku, aku tidak bisa membaca tulisannya. Tapi aku melihat Ucup membacanya, menutup mulut dengan tangan, dan menangis tanpa suara.
Tim kelima naik. Aku tidak ingat apa aplikasinya. Aku tidak mendengar apa pun.
Pengumuman pemenang pukul empat sore.
Juara tiga: aplikasi deteksi stunting dari Yogyakarta.
Juara dua: Lizz 10.
Juara satu: aplikasi pembayaran pedagang pasar dari Depok, tim dengan jas biru tua.
Kanya menggerutu keras-keras, “Curang, mereka cuma menang di jas,” dan bapak berkemeja batik di depan kami, yang ternyata dosen pembimbing tim dari Surabaya, menoleh dan berkata, “Dik, saya setuju,” lalu tertawa.
Tapi di atas panggung, Saka dan Ucup menerima piala perak dan papan besar bertuliskan angka yang membuatku menahan napas.
Uang pembinaan Rp 300.000.000. Ditambah kredit layanan cloud senilai seratus ribu dolar. Ditambah program mentorship selama satu tahun dengan perusahaan teknologi global yang direkturnya duduk di meja juri.
Tiga ratus juta rupiah.
Aku memikirkan kotak bekal delapan ribu rupiah. Sepatu delapan puluh sembilan ribu. Nasi telur dua ribu tiga ratus. Bakwan Pak Darto yang tidak perlu ia beli tapi tetap ia beli setiap Jumat.
Kinan, di sebelahku, menatap papan itu tanpa berkedip. Bibirnya bergerak, menghitung sesuatu. Lalu ia berbisik, sangat pelan, lebih ke dirinya sendiri:
“Uang pangkal FKG lunas.”
Kanya menoleh ke kembarannya. Wajahnya berubah. Lalu ia memeluk Kinan dan mulai menangis keras-keras, tangis anak enam belas tahun yang tidak peduli siapa yang melihat.
Aku memeluk mereka berdua. Glitter menempel di mana-mana.
Setelah acara, aku menunggu di lorong belakang panggung bersama si kembar. Saka keluar terakhir, setelah Ucup, setelah Pak Budiman yang matanya merah dan yang menepuk bahu Saka empat kali tanpa berkata apa-apa.
Kanya menerjang kakaknya lebih dulu. Lalu Kinan, dengan pelukan yang lebih tenang tapi lebih lama. Saka memeluk mereka berdua dengan satu lengan masing-masing dan menutup mata. Hanya sebentar. Tapi aku melihatnya.
Lalu ia membuka mata, dan matanya menemukanku.
“Mbak Clara.”
“Saka.” Aku tidak tahu harus berkata apa. Semua kata yang sudah kusiapkan menguap. “Selamat. Kamu… sembilan puluh detik. Kamu benerin itu sembilan puluh detik, di depan dua ribu orang…”
“Delapan puluh tujuh,” katanya.
Aku tertawa. Tentu saja ia menghitung.
“Ponsel Mbak,” katanya.
“Hah?”
“Boleh pinjam?”
Bingung, aku menyerahkan ponselku. Ia menyambungkannya ke laptop dengan kabel, mengetik sesuatu, dan menunggu bar hijau merayap. Kanya dan Kinan saling berpandangan. Ucup, di belakang, berhenti mengelap kacamatanya di tengah gerakan.
“Ini versi pertama yang dipasang di ponsel orang selain kami dan Pak Darto,” kata Saka. “Suara Mbak ada di dalam model. Kalimat satu sampai seratus dua belas.”
Ia mengembalikan ponselku. Layarnya menampilkan antarmuka putih Lizz 10.
“Ada satu fungsi,” katanya. “Pengenalan nama. Kalau ada yang manggil nama Mbak, ponselnya getar. Dua pendek, satu panjang.”
“Nama aku?”
“Sudah saya masukkan.”
Ia mundur satu langkah. Lalu, untuk pertama kalinya sejak kopi gula aren tumpah ke sepatunya, Saka Pradana memanggilku dengan namaku saja. Tanpa Mbak. Pelan, jelas, seperti mengetes mikrofon.
“Clara.”
Ponsel di tanganku bergetar.
Dua pendek. Satu panjang.
Aku menatap ponsel itu. Lalu aku menatapnya. Di lorong belakang panggung yang sempit, di bawah lampu neon yang berkedip seperti lampu dapur kontrakan, dengan glitter di rambutku dan si kembar yang menahan napas di belakangku, aku merasakan getaran itu merambat dari telapak tangan ke pergelangan, ke lengan, ke dada.
“Berhasil,” katanya.
Aku tidak bisa bicara. Aku hanya mengangguk.
Di belakangku, Kanya berbisik ke Kinan, keras sekali untuk ukuran bisikan:
“Kinan. Kinan. Kak Saka barusan bikin fitur pakai nama cewek.”
Kinan, tanpa ekspresi, menjawab: “Iya. Aku lihat.”
“Itu nggak pernah terjadi.”
“Iya. Aku tahu.”
“Terus kita harus gimana?”
Kinan memandangku. Lalu memandang kakaknya. Lalu memandang glitter yang menempel di bahu kakaknya dari pelukan Kanya tadi.
“Kita pulang,” katanya. “Kak Saka harus masak telur empat, bukan tiga. Besok kayaknya kita ada tamu.”
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup reading
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman