← Pria yang Ia Pilih

Chapter Five

Wawancara Tanpa Izin

POV: Clara

Kalimat ke-47 dalam skrip perekaman Lizz 10 berbunyi: Pak, bakwannya dua, tahu isinya tiga, sambelnya dipisah, ya.

Aku sudah mengucapkannya tiga belas kali dalam tiga belas cara berbeda. Pelan. Cepat. Sambil tertawa. Sambil berbisik. Dengan logat Medan, yang membuat Ucup tersedak air mineral. Dengan logat Bali, yang membuat Ucup tersedak lagi. Dengan nada seperti ibu-ibu menawar di pasar, yang membuat Saka, untuk pertama kalinya, mengangkat sudut bibirnya kira-kira dua milimeter.

Aku menghitungnya. Dua milimeter. Aku mulai tertular kebiasaannya mengukur.

“Bagus,” katanya, menatap layar laptop yang menampilkan gelombang suara warna hijau. “Akurasinya naik. Model belum pernah dengar logat Medan.”

“Aku bisa logat Makassar juga.”

“Besok.”

“Logat Sunda halus?”

“Besok.”

“Logat orang lagi pilek?”

Ia mengangkat wajah dan menatapku. Tiga detik. Aku mulai bisa membaca tatapan tiga detiknya, dan tatapan yang ini berarti: itu sebenarnya ide yang bagus, dan aku kesal karena tidak memikirkannya duluan.

“Itu ide bagus,” katanya. “Orang pilek suaranya berubah. Model perlu tahu.”

Ucup menunjukku dengan sedotan. “Mbak Clara. Kamu sadar nggak barusan kamu kasih edge case yang nggak kepikiran sama kami berdua selama dua bulan?”

“Itu bagus?”

“Itu sangat bagus.” Ucup berbalik ke Saka. “Ka, dia harus jadi tim. Resmi. Kita masukin ke proposal sebagai…”

“Penguji suara,” kata Saka.

“Penguji suara dan konsultan edge case.”

“Penguji suara.”

“Ka!”

Aku tertawa. Aku sudah banyak tertawa minggu ini. Lebih banyak dari sebulan terakhir, mungkin.


Sudah dua minggu aku datang ke bangku flamboyan setiap hari, pukul sepuluh, dengan alasan yang sah dan terhormat: aku penguji suara Lizz 10.

Tasya menyebutnya “kedok paling mulus abad ini”. Aku menyebutnya “kontribusi pada teknologi inklusif”. Kami berdebat soal itu setiap malam lewat chat, dan Tasya selalu menang, karena Tasya selalu mengakhiri perdebatan dengan stiker kucing yang menyipitkan mata.

Tapi kedok atau bukan, aku memang menguji. Setiap hari aku merekam suara selama satu jam. Setiap hari Saka mengubah sesuatu di kodenya malam sebelumnya, dan setiap pagi aplikasinya sedikit lebih pintar. Hari pertama, Lizz 10 menerjemahkan bakwan menjadi bawang. Hari keenam, ia bisa membedakan tahu isi dan tahu sendiri. Hari kesebelas, ia bisa menuliskan kata-kataku dengan logat Medan tanpa satu kesalahan pun.

Aku tidak pernah melihat sesuatu tumbuh secepat itu. Tidak tanaman di halaman rumah, tidak saham yang Papa bicarakan di meja makan. Lizz 10 tumbuh seperti anak yang belajar bicara, dan setiap pagi aku ingin tahu kata baru apa yang sudah ia pelajari semalam.

Dan sambil merekam, aku belajar tentang Saka.

Tidak dari Saka. Saka tidak bercerita apa pun tentang dirinya. Kalau aku bertanya, ia menjawab dengan satu kalimat, kadang setengah. Kamu tinggal di mana? “Dekat stasiun.” Rumahmu jauh? “Lima belas menit naik motor.” Kamu anak keberapa? “Pertama.”

Tapi Ucup bercerita. Ucup bercerita banyak sekali, terutama ketika Saka pergi ke kamar mandi atau mengambil air di galon gedung Ilkom.

“Dia yatim piatu,” kata Ucup suatu siang, pelan, sambil melirik ke arah gedung, memastikan Saka belum kembali. “Bapak ibunya meninggal waktu dia SMA. Kecelakaan bus.”

Aku berhenti memutar tutup botol minumku.

“Dia punya adik kembar. Cewek. Kelas satu SMA. Dia yang biayain semuanya. Sekolah, makan, kontrakan, semuanya.” Ucup menggaruk tengkuk. “Dia kerja dari SMA. Jualan gambar sama kode aplikasi di internet. Buat orang luar negeri. Dibayar dolar.”

“Dolar?”

“Iya. Lumayan, katanya. Nggak kaya, tapi cukup. Makanya dia nggak pernah ke kantin. Bukan karena nggak mampu jajan sekali dua kali, ya, tapi karena dia ngitung. Semua dia itung. Lima ribu sehari, sebulan seratus lima puluh. Seratus lima puluh itu bisa buat beli buku adiknya.” Ucup menghela napas. “Dia nggak pernah ngeluh, Mbak Clara. Nggak pernah. Aku udah temenan sama dia dari semester satu, dan aku belum pernah sekali pun denger dia bilang capek.”

Aku memandang kotak bekal biru di atas bangku beton. Isinya sudah habis, tinggal sisa minyak di sudut. Nasi putih dan sebutir telur ceplok, setiap hari, selama tiga tahun.

“Dia masak sendiri?”

“Tiap subuh. Tiga bungkus. Dua buat adiknya.”

Aku tidak berkata apa-apa. Aku tidak tahu harus berkata apa. Tiga tahun aku makan di kantin FEB atau di kafe depan kampus, kadang memesan makanan yang tidak kuhabiskan karena tidak sesuai selera, dan tidak sekali pun aku berpikir bahwa di ujung lain kampus ada laki-laki seumuranku yang memasak tiga bungkus nasi telur setiap subuh sebelum matahari terbit.

“Jangan bilang Saka aku cerita, ya,” kata Ucup cepat-cepat. “Dia nggak suka dikasihani.”

“Aku nggak kasihan.”

Ucup menatapku dengan ragu.

“Aku nggak kasihan,” ulangku, dan aku sadar itu benar. Yang kurasakan bukan kasihan. Kasihan itu perasaan dari atas ke bawah. Yang kurasakan sekarang lebih mirip orang yang mendongak.


“Kenapa kamu nggak pernah ke kantin?”

Aku menanyakannya keesokan harinya, terang-terangan, ketika Ucup sedang ke kelas dan hanya ada kami berdua di bangku flamboyan. Aku tidak mau bertanya soal orang tuanya. Itu bukan ceritaku untuk diminta. Tapi kantin, kantin boleh.

Saka berhenti mengetik. “Mahal.”

“Nasi rames di kantin Ilkom delapan ribu.”

“Nasi telur saya dua ribu tiga ratus.”

“Kamu ngitung sampai ratusan?”

“Beras sebelas ribu per liter, satu porsi seperenam liter. Telur dua puluh delapan ribu per kilo, satu kilo isi enam belas butir. Minyak, garam, gas, kira-kira empat ratus. Jadi dua ribu tiga ratus.” Ia menyebutkannya tanpa berpikir, seperti menyebutkan alamat rumah. “Selisih lima ribu tujuh ratus sehari. Dua puluh dua hari kuliah sebulan. Seratus dua puluh lima ribu empat ratus sebulan.”

Aku menatapnya. “Kamu pernah nggak, sekali aja, beli sesuatu yang nggak perlu?”

Ia diam lama. Lebih lama dari tiga detik. Matanya menatap layar laptop, tapi aku tahu ia tidak membaca apa pun.

“Pernah,” katanya akhirnya.

“Apa?”

“Bakwan Pak Darto. Tiap Jumat.”

“Kenapa itu nggak perlu?”

“Saya nggak lapar waktu beli.” Ia kembali mengetik. “Tapi Pak Darto perlu pembeli yang nggak marah-marah.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa selama beberapa saat. Angin bertiup, dan beberapa bunga flamboyan gugur di sekitar kami. Satu mendarat di atas kotak bekal birunya. Ia menyingkirkannya dengan ujung jari, hati-hati, seperti menyingkirkan sesuatu yang rapuh.

“Saka.”

“Hm.”

“Kamu nggak capek?”

Ia menatapku. Kali ini lebih dari tiga detik.

“Uang yang ditabung itu bukan uang,” katanya pelan. “Uang yang ditabung itu waktu yang dibeli. Waktu buat adik-adik saya belajar tanpa harus kerja. Waktu buat saya bikin sesuatu yang lebih besar nanti.” Ia mengangkat bahu sedikit. “Kalau dipikir begitu, nggak capek.”

Waktu yang dibeli.

Aku mengulang kalimat itu di kepala. Aku sudah mendengar ratusan nasihat soal uang dari Papa, dari dosen, dari seminar motivasi yang dibayar perusahaan keluarga. Tidak satu pun yang terdengar seperti itu. Papa bicara soal uang seperti bicara soal perang: menang, kalah, rebut, pertahankan. Saka bicara soal uang seperti bicara soal benih.

Aku ingin bertanya lebih banyak. Aku ingin bertanya apa yang lebih besar itu. Aku ingin bertanya apakah ia pernah membayangkan dirinya sepuluh tahun lagi, dan apa yang ia lihat.

Tapi saat itulah tiga orang berjalan masuk ke taman FMIPA, dan suasana di bawah flamboyan langsung berubah, seperti ada yang menutup jendela.


“Clara! Ketemu juga.”

Rio. Lagi. Rambutnya basah oleh pomade, jam tangannya berkilat di bawah matahari. Gilang di sebelah kirinya, senyum setengah terlambat seperti biasa. Dan di sebelah kanannya, seorang perempuan dengan rambut cokelat yang di-blow sempurna, bibir berlapis lip gloss, dan tas yang logonya sengaja dihadapkan keluar.

Sherly Anggraini. Anak Manajemen, satu kelas denganku di dua mata kuliah. Ratu gosip FEB, pemilik akun anonim yang katanya mengunggah foto-foto mahasiswa tanpa izin dengan caption menyindir. Semua orang tahu itu akunnya. Tidak ada yang bisa membuktikannya.

“Ternyata beneran, ya,” kata Sherly. Matanya menyapu bangku flamboyan, laptop tua, kotak bekal biru, dan berhenti di wajah Saka seperti sedang menilai barang di toko loak. “Aku kira gosip doang. Clara Kusumadewi tiap hari nongkrong di FMIPA.”

“Aku bantu uji aplikasi,” kataku.

“Oh, aplikasi.” Sherly tersenyum. Senyum yang membuatku ingin memeriksa apakah dompetku masih di tas. “Aplikasi apa? Aplikasi nyari diskon nasi bungkus?”

Gilang tertawa. Sepersekian detik terlambat, seperti biasa.

Saka tidak mengangkat wajah. Ia terus mengetik.

Rio melangkah lebih dekat. Ia berdiri di samping bangku beton, di samping kotak bekal biru yang sudah kosong. Ia melongok isinya dan tertawa kecil.

“Nasi telur,” katanya. “Tiap hari?”

Saka tidak menjawab.

“Bro.” Rio menepuk bahu Saka. Saka berhenti mengetik. “Aku cuma mau ngingetin, ya, sebagai sesama laki-laki. Clara ini anak orang. Anak orang besar. Jangan dibawa-bawa ke dunia kamu terlalu lama. Nanti dia ketularan.”

“Rio,” kataku. Suaraku keluar lebih tajam dari yang kuduga.

“Ketularan apa?” tanya Gilang, polos.

“Ketularan miskin,” kata Sherly, sambil tersenyum ke arahku.

Lalu Gilang, yang mungkin ingin ikut berkontribusi pada lelucon itu, menyenggol kotak bekal biru dengan ujung sepatunya. Tidak keras. Mungkin ia hanya ingin menggesernya, ingin terlihat santai, ingin terlihat seperti Rio. Tapi kotak bekal itu meluncur dari pinggir bangku beton dan jatuh ke atas paving.

Bunyinya kecil. Tak.

Tutupnya terlepas dan terpental. Ketika berhenti di dekat kaki Sherly, ada retakan panjang di sudutnya, dari satu sisi ke sisi lain, seperti petir kecil yang membeku di plastik biru.

Hening.

Gilang menatap kotak bekal itu. Wajahnya berubah, sedikit. Mungkin ia tidak bermaksud sejauh itu. “Eh,” katanya. “Sori, Bro. Nggak sengaja.”

Saka berdiri.

Aku menahan napas. Kupikir ia akan marah. Kupikir ia akan mengatakan sesuatu, apa saja, sesuatu yang membuat Rio dan Gilang dan Sherly merasa sekecil yang seharusnya mereka rasakan.

Saka berjalan ke tempat tutup kotak bekal itu tergeletak, di dekat sepatu hak Sherly. Ia membungkuk dan memungutnya. Ia memandangi retakan di sudutnya sebentar, mengusapnya dengan ibu jari, seperti mengukur. Lalu ia memungut kotaknya, memasang tutupnya kembali, dan menekannya sampai berbunyi klik. Tutupnya masih menutup. Retakannya masih ada.

“Nggak apa-apa,” katanya. “Masih bisa dipakai.”

Ia kembali ke bangku beton, duduk, meletakkan kotak bekal di sebelah laptopnya, dan melanjutkan mengetik.

Rio tertawa kecil. Tawa yang agak kikuk, tawa orang yang sudah menyiapkan panggung untuk perkelahian dan mendapati lawannya pulang. “Ya udah, Bro. Santai aja. Clar, kalau udah selesai main di sini, kita mau ke lounge, ikut aja.”

“Nggak,” kataku.

“Clar…”

“Nggak, Rio.” Aku berdiri. Aku tidak tahu sejak kapan tanganku mengepal. “Dan kalian bertiga, kalau mau ke lounge, silakan. Tapi jangan pernah lagi ganggu orang yang lagi kerja. Apalagi sampai ngerusak barangnya.”

“Ngerusak apa sih, Clar, itu kotak plastik lima ribuan…”

“Itu bukan punyamu. Mau lima ribu atau lima juta, itu bukan punyamu.”

Sherly mengangkat alis. Ia menatapku, lalu menatap Saka, lalu menatapku lagi, dan senyumnya berubah menjadi sesuatu yang lebih tajam.

“Wah,” katanya pelan. “Clara Kusumadewi belain cowok nasi telur. Ini sih headline.” Ia menyampirkan rambut ke bahu. “Hati-hati, Clar. Turun kelas itu gampang. Naiknya yang susah.”

Mereka pergi. Gilang menoleh sekali lagi ke arah kotak bekal biru, wajahnya masih tidak nyaman, sebelum Rio menarik lengannya.

Aku berdiri di bawah flamboyan dengan napas yang pendek-pendek. Dadaku panas. Tanganku gemetar sedikit. Aku belum pernah membentak siapa pun di kampus. Aku Clara Kusumadewi. Aku tersenyum, aku mengangguk, aku sopan. Aku tidak membentak.

“Mbak.”

Aku menoleh. Saka menatapku. Bukan tiga detik. Lebih lama.

“Duduk,” katanya. “Kalimat ke-48 belum direkam.”

Aku menatapnya, tidak percaya. “Kamu… kamu nggak marah?”

“Marah buat apa?”

“Mereka ngerusak kotak bekalmu. Mereka ngatain kamu. Di depan mukamu.”

Saka diam sebentar. Ia menatap kotak bekal biru di sebelah laptopnya, retakan panjang di sudut tutupnya.

“Ibu saya beli kotak ini enam tahun lalu,” katanya. “Di pasar pagi. Delapan ribu.”

Dadaku mencelos.

“Retak,” lanjutnya. “Tapi masih nutup. Masih bisa dipakai.” Ia mengangkat wajah. “Kalau saya marah, kotaknya nggak jadi utuh lagi. Mereka juga nggak jadi orang yang lebih baik. Yang berkurang cuma waktu saya. Dan Lizz 10 finalnya empat minggu lagi.”

Aku tidak bisa berkata apa-apa.

“Tapi,” katanya, dan suaranya sedikit lebih pelan, sangat sedikit, seperti seseorang yang menurunkan volume radio satu tingkat. “Makasih.”

“Buat apa?”

“Tadi.”

Ia kembali ke laptopnya. Layar menampilkan skrip perekaman. Kalimat ke-48: Mas, kembaliannya kurang dua ribu.

Aku duduk di bangku kayu yang tidak lagi berbunyi krek, bangku yang ia perbaiki dengan sandal jepitnya sendiri. Aku mengambil ponselku, membuka aplikasi perekam Lizz 10, dan menatap layar tanpa melihatnya.

Ibu saya beli kotak ini enam tahun lalu.

Ia tidak marah. Ia tidak membalas. Ia memungut tutup kotak bekal peninggalan ibunya dari kaki orang yang menghinanya, memasangnya kembali, dan bilang nggak apa-apa.

Dan aku, yang tidak pernah membentak siapa pun, membentak tiga orang demi dia.

“Mbak,” katanya. “Kalimat ke-48.”

Aku menekan tombol rekam. “Mas,” kataku, dan suaraku pecah sedikit di tengah, “kembaliannya kurang dua ribu.”

Di layar laptopnya, gelombang suara hijau bergerak naik turun. Di bawahnya, Lizz 10 menuliskan kalimatku dengan sempurna. Tidak ada satu huruf pun yang salah.

Saka menatap layar itu, lalu menatapku. Dua milimeter di sudut bibirnya.

“Bagus,” katanya. “Suaramu gampang dikenali.”


Malam itu aku tidak membalas chat Tasya.

Aku duduk di depan meja rias, memandangi jepit bunga liar di rambutku di cermin, dan memikirkan kotak bekal plastik delapan ribu rupiah dengan retakan seperti petir yang membeku.

Aku membuka catatan Belanja bulanan di ponsel. Aku membaca baris-baris yang sudah kutulis seminggu lalu. Namanya Saka. Bekal nasi telur. Sepatu 89 ribu. Nggak pernah noleh. Aku mau lihat mata itu lagi.

Di bawahnya, aku menambahkan:

Yatim piatu. Adik kembar. Masak tiga bungkus tiap subuh.
Uang yang ditabung itu waktu yang dibeli.
Beli bakwan yang nggak perlu buat orang yang perlu pembeli baik.
Kotak bekal dari ibunya, delapan ribu, retak. Dia bilang masih bisa dipakai.
Dia bilang suaraku gampang dikenali.

Aku berhenti mengetik. Jariku melayang di atas layar.

Selama dua puluh satu tahun, laki-laki mendekatiku karena wajahku, karena nama keluargaku, karena apa yang bisa mereka dapat kalau berdiri di sampingku. Aku sudah terbiasa. Aku sudah tahu cara menghadapinya: tersenyum, mengangguk, menjaga jarak.

Saka tidak mendekatiku. Saka bahkan tidak menoleh. Akulah yang datang setiap hari ke bangku beton itu, akulah yang mencari-cari alasan, akulah yang menghitung dua milimeter di sudut bibirnya seperti menghitung hadiah.

Dan malam ini, di depan cermin, aku akhirnya mengakui sesuatu yang sudah dua minggu kusembunyikan di balik kata penasaran.

Aku sedang jatuh.

Bukan jatuh seperti tersandung paving. Jatuh yang lain. Jatuh yang pelan, yang tidak terasa sampai kamu menyadari bahwa kakimu sudah lama tidak menyentuh tanah.

Dan itu menakutkan.

Karena aku tahu persis apa yang akan dikatakan Papa kalau tahu. Aku tahu persis apa yang akan dikatakan tante-tante di arisan Mama. Aku sudah mendengarnya hari ini dari mulut Sherly: turun kelas itu gampang, naiknya yang susah.

Aku menutup catatan, mematikan lampu, dan berbaring dalam gelap.

Di luar, hujan mulai turun. Aku mendengarkannya, dan entah kenapa aku memikirkan kotak bekal biru itu. Apakah malam ini Saka memeriksa retakannya lagi, mengusapnya dengan ibu jari, mengukurnya?

Apakah ia memikirkan ibunya?

Apakah ia, sekali saja, memikirkanku?

Aku memejamkan mata. Tidak ada jawaban. Hanya hujan, dan kalimat datar yang terus kuputar ulang seperti lagu yang tidak bisa berhenti: suaramu gampang dikenali.