← Pria yang Ia Pilih

Chapter Forty Seven

Epilog — Sudut Taman

POV: Clara

Telur ceplok itu sempurna.

Aku menatapnya lama di atas wajan, pukul lima pagi, di dapur Sentul, sebelum mematikan api. Pinggirannya garing kecokelatan, seperti renda yang digoreng. Kuningnya setengah matang, bulat, tidak pecah, mengilap di bawah lampu dapur. Putihnya tidak gosong di bawah, tidak berair di atas.

Sepuluh tahun.

Sepuluh tahun sejak telur pertamaku hitam di bawah dan mentah di atas, di dapur kontrakan dua petak dekat stasiun, dan seorang laki-laki memakannya habis tanpa satu kata pun selain kuningnya pas. Padahal kuningnya pecah. Padahal aku tahu ia berbohong. Itu satu-satunya kebohongan yang pernah kudengar dari mulutnya, dan aku menyimpannya seperti menyimpan jepit di kaleng kancing.

Aku memotret telur itu. Empat kali. Dari empat sudut.

Lalu aku mengirimnya ke grup keluarga bernama Rapat Telur Nasional, yang dibuat Kanya tiga tahun lalu dan sekarang berisi sembilan orang: Saka, aku, Kanya, Kinan, Ucup, Mama, Papa, Bu Rosa, dan Pak Darto, yang hanya mengirim stiker jempol tapi tidak pernah absen.

Balasan pertama datang dalam enam detik. Kanya.

KAK CLARA. ITU TELUR SIAPA. ITU TELUR KAMU?? ITU BUKAN TELUR KAK SAKA YANG DIFOTO ULANG??

Balasan kedua dari Kinan. Diameter kuning simetris. Tidak ada retakan membran. Pinggiran garing tanpa karbonisasi. Secara ilmiah, ini telur yang lulus.

Balasan ketiga dari Papa. Bagus. Papa mau satu. Itu bukan pertanyaan.

Balasan keempat dari Mama. Ratna Kusumadewi menyukai foto ini. Mama masih belum tahu cara membalas pesan tanpa menekan tombol suka.

Saka tidak membalas.

Saka sedang tidur di kamar atas. Untuk pertama kalinya sejak bulan madu, ia tidur sampai pukul lima lewat. Karena aku mematikan alarmnya pukul 04.14, satu menit sebelum berbunyi, dan berbisik di telinganya hari ini aku yang masak, dan ia bilang hm lalu kembali tidur dengan pelindung gigi di mulutnya dan tangan kiri di pinggangku yang sudah tidak ada di sana.

Aku menyendok nasi ke kotak bekal biru muda. Delapan ribu rupiah. Pasar dekat stasiun. Aku meletakkan telur sempurna itu di atasnya, pelan, dengan spatula, seperti meletakkan sesuatu yang bisa pecah.

Lalu aku membuka laci dapur, mengambil selembar sticky note kuning dan pulpen, dan menulis satu kalimat.

Aku menempelkannya di bagian dalam tutup kotak bekal. Lalu aku menutupnya. Klik.

Tanganku gemetar sedikit.

Tidak apa-apa. Kali ini, gemetar itu boleh.


Taman fakultas tidak banyak berubah dalam sepuluh tahun.

Pohon flamboyan masih di tempatnya, sudah lebih tinggi, dahannya lebih lebar. Bulan Januari, dan bunganya oranye kemerahan, berguguran di atas rumput seperti seseorang menumpahkan cat. Jalan setapak paving sudah diperbaiki, tidak ada lagi yang bergelombang. Di dekat bangku, satu paving yang dulu menonjol ditandai plat logam kecil.

Di sini, seseorang kesandung. Dilaporkan tiga kali.

Dan bangku kayu yang patah di hari lamaran sudah diganti. Bangku kayu baru, jati, dengan plat kuningan kecil di sandarannya. Kanya yang memesannya, dan Kanya yang menulis kalimatnya, dan aku menolak membacanya selama satu tahun karena takut menangis.

Untuk enam orang yang bersembunyi di belakang semak. Bangku ini kuat untuk dua belas.

Saka duduk di bangku beton. Tempat duduknya. Sepuluh tahun dan tidak pernah pindah satu sentimeter pun.

Kemeja kotak-kotak biru. Bukan yang lama; yang lama sudah robek di siku tahun lalu, dan Papa yang menjahitnya di mesin jahit di Solo, lalu menyimpannya di lemari bersama kebaya Mama. Ini kemeja baru, motif yang sama persis, karena Saka membeli enam sekaligus di toko yang sama. Sepatu kets abu-abu. Juga baru. Juga enam pasang.

Aku berdiri di ujung jalan setapak, lima meter dari bangku, memegang kotak bekal biru muda dengan dua tangan.

Ia mengangkat kepala dari laptop. Matanya menemukan mataku.

Ia tidak tersenyum. Sudut bibirnya naik. Satu milimeter. Dua.

Aku sudah berhenti menghitung, sebenarnya. Tapi kebiasaan lama susah mati.

“Kamu tidur sampai jam lima lewat,” kataku, berjalan mendekat.

“Ada yang matiin alarmku.”

“Penyusup.”

“Penyusup yang bau stroberi.” Ia menutup laptopnya. “Kamu masak.”

“Aku masak.”

“Gosong?”

Aku duduk di sebelahnya. Di bangku beton. Bahu kami bersentuhan. Aku tidak meletakkan kotak bekal itu di pangkuannya. Aku meletakkannya di antara kami, di atas beton yang dingin, di tempat yang sama tempat kotak bekal biru dengan retakan seperti petir dulu diletakkan setiap hari pukul dua belas lewat sepuluh.

“Buka aja,” kataku.

Saka menatap kotak bekal itu. Lalu menatapku.

“Kamu gemetar,” katanya.

“Udara Januari.”

“Tiga puluh satu derajat.”

“Buka aja, Saka.”


Sebelum ia sempat membukanya, semak di belakang bangku kayu baru bergerak.

Aku menoleh. Saka tidak. Saka hanya menghela napas, panjang, seperti laki-laki yang sudah tahu apa yang akan terjadi sejak minggu lalu.

Ucup keluar dari semak.

Bukan bersembunyi. Keluar. Dengan kemeja putih yang lengan kirinya dua senti lebih panjang, karena ternyata ia membeli kemeja yang sama dengan yang ia pakai di akad kami, dan penjahitnya sama, dan kesalahannya sama. Rambutnya disisir rapi, untuk pertama kalinya dalam sejarah umat manusia. Kacamatanya baru. Tangannya memegang kotak kecil beludru merah, dan tangan itu gemetar lebih hebat dari tanganku.

Di belakangnya, Kanya. Dengan celemek hitam KANYA WEDDING & CATERING, papan klip di tangan, dan wajah kebingungan.

“Cup,” kata Kanya, “kamu bilang ada klien yang mau survei lokasi lamaran di taman kampus. Mana kliennya? Aku udah bawa daftar vendor bunga, tiga opsi tenda, sama—“

Ucup berlutut.

Di rumput. Di bawah pohon flamboyan. Di antara bunga-bunga oranye yang berguguran. Lututnya mendarat di atas satu bunga flamboyan dan menggilasnya, dan ia meringis, dan ia tidak berdiri lagi.

Kanya berhenti bicara.

Papan klipnya jatuh ke rumput.

“Kanya,” kata Ucup. Suaranya naik satu oktaf di tengah nama itu. Ia berdeham. “Kanya Pradana. Aku… saya… aku. Ucup. Eh. Yusuf. Yusuf Ucup. Ramadhan Ucup. Ramadhan—“

“Yusuf Ramadhan,” kata Kanya.

Suaranya bergetar.

“Nama kamu Yusuf Ramadhan,” katanya. “Aku hafal. Aku yang nulis di undangan Kak Saka. Aku yang nulis di daftar saksi akad. Aku yang ngetik di formulir asuransi kesehatan karyawan Kanya Wedding & Catering, padahal kamu bukan karyawan, karena aku—“ Ia berhenti. Wajahnya merah sampai ke leher. “Lanjutin.”

Ucup menatapnya dengan mulut terbuka.

“Lanjutin, Cup,” bisik Kanya. “Sebelum aku nangis kayak sirene. Kamu tahu aku bisa.”

Ucup membuka kotak beludru merah. Tangannya gemetar sampai kotak itu hampir terlepas. Di dalamnya, cincin emas sederhana. Di bagian atasnya, ukiran kecil berbentuk panci dengan dua mata bulat.

Logo Kanya Wedding & Catering. Logo yang Kanya gambar sendiri di kelas tiga SMP, dengan spidol, di kertas karton.

“Kanya,” kata Ucup. “Sembilan tahun lalu kamu kasih aku ayam goreng. Yang kedua. Terus yang ketiga. Terus yang kelima di kantor Floo, waktu Kak Clara nyuapin Kak Saka dan Bu Rosa minta gorden. Aku hitung. Aku programmer. Aku hitung semuanya.” Ia menelan ludah. “Totalnya empat ratus dua belas ayam goreng. Aku nggak pernah bales satu pun. Aku mau bales. Aku mau bales empat ratus dua belas kali. Terus empat ratus dua belas kali lagi. Sampai—“

“Iya,” kata Kanya.

“—sampai aku tua dan nggak bisa—“

“Iya.”

“—ngoding lagi, terus—“

“IYA, Cup! Iya! Udah, iya! Aku bilang iya empat kali kayak Kak Clara! Berdiri!”

Ucup berdiri. Terlalu cepat. Kepalanya pusing, ia oleng, dan Kanya menangkapnya dengan dua tangan, dan mereka berdua hampir jatuh ke rumput, dan Ucup memasangkan cincin itu di jari yang salah, lalu jari yang benar, lalu menangis, dan Kanya menangis lebih keras, seperti sirene ambulans, persis seperti yang ia janjikan.

Dari semak lain, di sisi kanan taman, terdengar suara datar.

“Durasi lamaran empat menit dua belas detik,” kata Kinan, keluar dari balik pohon dengan stopwatch di tangan dan jas putih klinik yang belum dilepas. “Salah sebut nama sendiri lima kali. Rekor baru. Lutut kanan kemungkinan memar karena mendarat di bunga flamboyan dan akar di bawahnya.” Ia menatap kembarannya yang sedang menangis di dada Ucup. Wajahnya tetap datar. Tapi matanya basah. “Selamat, Kanya.”

“KINAN, KAMU NGINTIP?!”

“Kak Saka yang ngasih tahu.”

Kanya menoleh ke arah kami dengan wajah basah dan mata menyala. “KAK SAKA TAHU?!”

Saka mengangkat bahu. “Ucup minta izin minggu lalu,” katanya. “Dia bilang dia mau di sini. Karena bangku ini…” Ia melirikku. “…bawa hoki.”

“Dia minta izin ke Kakak?! Kenapa bukan ke aku?!”

“Kamu nggak bisa ditanya izin buat lamaran kamu sendiri, Nya.”

“BISA! AKU WO! AKU BISA BIKIN RUNDOWN-NYA!”

Ucup, masih memeluk Kanya, mengangkat satu tangan ke arah Saka. Gemetar. Dua jempol. Kacamatanya miring.

Saka membalas dengan satu anggukan. Pelan. Seperti anggukan di aula Tech Cup, sepuluh tahun lalu, ketika dua mahasiswa kurus dengan aplikasi yang membuat ponsel bergetar memenangkan juara dua dan Ucup menangis di depan seluruh negeri.

Aku menatap mereka semua. Kanya dan Ucup di bawah flamboyan. Kinan dengan stopwatch dan mata basah. Laki-laki di sebelahku dengan sudut bibir yang naik lebih dari dua milimeter.

Lalu aku menatap kotak bekal biru muda di antara kami.

Masih tertutup.


“Buka,” kataku, pelan. Kali ini suaraku yang gemetar.

Saka menatapku sebentar. Lalu ia mengambil kotak bekal itu dan membukanya. Klik.

Nasi putih. Telur ceplok sempurna. Pinggiran garing kecokelatan, kuning bulat dan utuh, mengilap di bawah cahaya siang yang menembus daun flamboyan.

Ia menatap telur itu lama.

“Kuningnya pas,” katanya.

Kali ini ia tidak berbohong. Aku tahu, karena suaranya sedikit pecah di kata pas.

Lalu matanya bergerak ke bagian dalam tutup kotak bekal. Ke sticky note kuning. Ke tulisan tanganku, kecil, rapi, sedikit miring ke kanan, yang ia kenal lebih baik dari siapa pun, karena tulisan itu menempel di tutup setiap kotak bekal yang kukirim ke kantornya sejak aku mulai belajar menggoreng telur lagi.

Mulai bulan Agustus, kamu masak telur lima.

Saka membacanya.

Aku melihat matanya bergerak. Sekali. Dua kali. Aku melihat kepalanya menghitung, seperti selalu, karena laki-laki ini menghitung segalanya. Sepatu delapan puluh sembilan ribu. Dua ribu tiga ratus rupiah per porsi. Empat ratus lima puluh ribu untuk kontrakan dua petak. Empat orang di rumah Sentul. Dirinya sendiri. Aku. Kanya. Kinan.

Empat.

“Ucup?” katanya pelan. “Ucup mau tinggal sama kita?”

“Saka.”

“Kanya nikah, terus Ucup pindah ke Sentul, terus—“

“Saka.”

Ia berhenti.

Aku mengambil tangan kirinya. Tangan yang dulu memegang kotak bekal biru dengan retakan seperti petir. Tangan yang memungut jepit bunga liar dari rumput dan menyimpannya lima tahun. Tangan yang menyelipkan bunga kamboja di rambutku di depan dua nisan di Purwokerto.

Aku meletakkannya di perutku.

Masih rata. Belum ada apa-apa yang bisa dirasakan. Tujuh minggu, kata dokter kandungan kemarin, di klinik di Kuningan, dan aku keluar dari klinik itu dan duduk di mobil empat puluh menit dan tidak menelepon siapa pun, karena ada satu orang yang harus tahu pertama kali, dan aku mau ia tahu di sini.

Di bangku beton. Di bawah flamboyan. Di sudut taman.

Saka tidak bergerak.

Tangannya di perutku. Matanya di mataku. Napasnya berhenti, dan aku melihat sesuatu terjadi di wajahnya yang belum pernah kulihat dalam sepuluh tahun. Tidak di aula Tech Cup. Tidak di gala. Tidak di Floo Writers Award ketika aku memanggil namanya dan ponselnya bergetar dua pendek satu panjang. Tidak di akad. Tidak di makam.

Ia berhenti menghitung.

Aku melihatnya. Sungguh. Seperti melihat mesin yang selama empat belas tahun berjalan tanpa henti, setiap jam dengan pemiliknya, setiap rupiah dengan barisnya di spreadsheet, tiba-tiba diam. Bukan rusak. Diam. Seperti laki-laki yang akhirnya sampai di suatu tempat dan tidak perlu lagi menghitung berapa jauh jalannya.

“Clara,” katanya.

Suaranya hampir tidak terdengar.

“Iya.”

“Telur lima.”

“Iya.”

“Agustus.”

“Iya. Akhir Agustus. Atau tanggal empat belas, kalau dia mau nurut sama mamanya.” Aku tertawa, basah. “Ulang tahun kami bisa barengan.”

Saka menatap tangannya di perutku. Lama.

Lalu sesuatu yang basah mendarat di punggung tangannya sendiri. Ia tidak mengusapnya.

Laki-laki yang tidak menangis di depan nisan orang tuanya sampai kalimat terakhir. Laki-laki yang tidak menangis ketika aku pergi, karena ia duduk di lantai sampai pukul satu dan menyimpannya sendiri. Laki-laki yang bertahun-tahun menyembunyikan arti nama aplikasinya dan menangis sendirian di kamar kontrakan sambil membaca novelku pukul dua pagi.

Ia menangis di bangku beton. Di depanku. Tanpa menunduk. Tanpa menekannya.

“Aku nggak tahu cara jadi bapak,” bisiknya.

“Kamu tahu,” kataku. “Kamu udah jadi bapak dari umur tujuh belas. Dua kali.”

Ia tidak menjawab. Tangannya di perutku menekan sedikit, sangat sedikit, seperti menyentuh kaca di atas retakan. Bunga flamboyan gugur di antara kami, dan tidak satu pun dari kami bergerak untuk menyingkirkannya.

Lalu, dari bawah pohon flamboyan, terdengar jeritan.

“TELUR LIMA?!” Kanya. Masih di pelukan Ucup, masih dengan wajah basah, kepala menoleh ke arah kami dengan mata selebar piring. Ternyata volume suaraku tidak sepelan yang kukira. Atau telinga Kanya, setelah sembilan tahun menguping dari balik pintu kontrakan dua petak, sudah terlatih secara profesional. “KAK CLARA HAMIL?! KINAN! KAK CLARA HAMIL! AKU JADI TANTE! AKU JADI TANTE SAMA CALON ISTRI DALAM SATU HARI!”

Kinan tidak menjawab Kanya. Kinan berjalan ke arah bangku beton dengan langkah tenang, mengeluarkan buku catatan kecil dari saku jas putihnya, dan menulis sesuatu.

“Mulai hari ini,” katanya datar, “Kakak ipar wajib asam folat empat ratus mikrogram per hari. Kontrol gigi tiap trimester, karena gingivitis kehamilan itu nyata. Dan Kak Saka—“ Ia menatap kakaknya, yang masih menangis dengan tangan di perutku. Suaranya, untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, pecah di tengah. “Kak Saka wajib pakai pelindung gigi. Tiap malam. Delapan bulan ke depan bakal banyak yang dipikirin.”

“Kinan,” kataku.

“Iya.”

“Kamu nangis.”

“Alergi serbuk flamboyan.” Kinan menutup buku catatannya. Lalu, tanpa peringatan, ia membungkuk dan memeluk kakaknya dari samping, kaku, singkat, dengan satu tangan. “Selamat, Kak,” bisiknya. “Kakak jadi bapak. Lagi.”


Sore datang pelan di taman fakultas.

Kanya dan Ucup sudah pergi, bergandengan tangan, dengan Kanya yang menelepon Mama dan Papa dan Bu Rosa dan, entah bagaimana, kantor redaksi tiga media nasional, dan Ucup yang terus bilang Nya, jangan diumumin dulu, Nya, aku belum ngomong sama pamanku sambil tersenyum seperti orang bodoh. Kinan pergi dengan mobil kecilnya, karena ada pasien pukul empat. Pak Darto, yang entah dari mana sudah tahu dan muncul di gerbang belakang dengan sebungkus bakwan, menepuk dadanya dua kali dan menunjuk perutku sebelum pergi.

Anak baik. Anak itu baik.

Tinggal kami berdua.

Saka sudah menghabiskan nasi telur itu. Pelan. Setiap suap dikunyah lama, seperti dulu, ketika ia makan telur gosongku tanpa sepatah kata pun. Sticky note kuning sudah dilepas dari tutup kotak bekal, dilipat dua, dan dimasukkan ke saku kemeja kotak-kotak birunya. Di sebelah ponsel.

Aku tahu ke mana kertas itu akan pergi. Ke kaleng permen bekas berisi empat puluh tiga kancing, di kamar kami di Sentul, bersama jepit perak berbentuk daun dan kertas kado kuning bertuliskan kembali ke pemiliknya.

Aku menyandarkan kepala di bahunya.

Bunga flamboyan gugur. Satu mendarat di pangkuanku, di atas kotak bekal biru muda yang sudah kosong.

Sepuluh tahun lalu, di bangku ini, aku pindah duduk lima meter dan bilang ia satu-satunya yang tidak melihatku seperti barang pajangan. Sembilan tahun lalu, di bangku ini, ia bilang pulang, Clara, dan aku pulang, dan pulang itu salah. Lima tahun lalu, di bangku ini, aku bilang kamu nggak berhak milih buat aku. Empat tahun lalu, di bangku ini, ia berdiri, tidak berlutut, dengan kotak bekal dan cincin di atas telur, dan bilang pulang ke aku.

Aku menulis semua itu. Delapan puluh enam bab di novel pertama, dengan nama pena yang kupilih karena di sinilah aku menemukan satu-satunya laki-laki yang tidak menoleh. Empat puluh enam bab dan satu epilog di novel kedua, dengan nama asliku di sampulnya.

Novel ketiga sudah tamat. Novel keempat baru dimulai.

Aku belum tahu judulnya. Aku tahu tokoh utamanya belum lahir. Aku tahu ia akan punya kotak bekal sendiri, mungkin kuning, mungkin hijau, dan seorang ayah yang bangun pukul 04.15 untuk menggoreng telurnya, dan seorang ibu yang akhirnya bisa menggoreng telur tanpa membuatnya gosong.

Matahari turun di balik gedung fakultas. Langit berubah oranye kemerahan, warna yang sama dengan bunga di atas kepala kami, warna yang sama dengan logo di puncak gedung dua puluh lima lantai di Mega Kuningan.

Saka bergerak. Ia menutup kotak bekal biru muda di pangkuanku. Klik. Ia memasukkannya ke tasnya, bersama laptop. Ia berdiri.

Lalu ia membungkuk. Wajahnya dekat dengan wajahku. Bau sabun batangan. Bau buku tua. Bau laki-laki yang sudah sepuluh tahun kukenal dan masih bisa membuat jantungku berhenti dengan satu tatapan.

Ia berbisik di telingaku. Pelan. Tiga kata yang dulu ia ucapkan di bangku ini untuk melepaskanku.

“Pulang, Clara.”

Aku menatapnya.

Dulu, kalimat itu berarti pergi. Pergi ke rumah besar di Menteng, ke makan malam keluarga, ke laki-laki yang sekufu, ke hidup yang tidak membuatku capek. Pergi darinya.

Hari ini, ia mengulurkan tangan kirinya. Telapak tangan terbuka. Menunggu.

Hari ini, pulang berarti rumah di Sentul dengan meja kayu kecil yang kakinya diganjal sandal jepit. Pohon mangga dengan lampu-lampu kecil di dahannya. Bangku beton yang bentuknya sama dengan bangku ini. Dua adik yang sudah dewasa dan masih bertengkar soal volume suara. Kaleng permen berisi kancing. Kotak bekal di lobi gedung dengan retakan seperti petir yang membeku.

Hari ini, pulang berarti dia.

Aku menyambut tangannya. Lima jari di antara lima jari. Cincin bunga lima kelopak di jariku menempel di jarinya.

Aku berdiri.

“Iya,” kataku. “Ayo pulang.”

Kami berjalan di jalan setapak paving yang sudah tidak bergelombang lagi, melewati plat logam kecil yang menandai tempat seseorang dulu tersandung, melewati bangku kayu jati yang kuat untuk dua belas orang, menuju gerbang belakang kampus tempat Pak Darto dulu berjualan gorengan.

Kali ini, kami pulang bersama.

Di belakang kami, bunga flamboyan terus berguguran di atas bangku beton yang kosong.

Di sudut taman.

Tempat semuanya dimulai.

— TAMAT —