Chapter Twenty Four
Satpam Bernama Kanya
POV: Clara
Aku menemukan alamat rumahnya dari TikTok.
Bukan TikTok Saka, karena Saka tidak punya TikTok. Saka tidak punya apa pun. Hantu digital, lima tahun lalu dan sekarang. Tapi adiknya punya. Akun bernama dapurkanya.official, empat puluh dua ribu pengikut, isinya video memasak nasi kotak dalam jumlah besar, tutorial menata lauk di kotak kardus, dan sesekali video Kanya mengomel ke kamera tentang pelanggan yang membatalkan pesanan di menit terakhir.
Di setiap video, di pojok kanan bawah, tulisan kecil: Pemesanan & tasting: Dapur Kanya, Sentul. Hubungi WA.
Di salah satu video, kameranya menyorot sebentar ke luar jendela dapur. Taman kecil. Pohon mangga. Dan di bawah pohon mangga itu, sebuah bangku beton sederhana yang catnya masih baru, menghadap ke rumah.
Aku menonton video itu sembilan kali.
“Kamu gila,” kata Tasya, ketika aku menunjukkan pesan WhatsApp yang baru saja kukirim. “Kamu beneran gila.”
Selamat siang, Dapur Kanya. Saya ingin memesan 500 boks nasi kotak untuk acara internal kantor, tanggal 20. Apakah bisa tasting dulu hari Sabtu? Terima kasih. — Clara K., Kusumadewi Retail.
“Kantor memang ada acara tanggal dua puluh,” kataku. “Ulang tahun divisi. Lima ratus orang.”
“Dan katering langganan kantormu?”
“Kurang enak.”
“Clar, kamu pernah bilang katering kantormu enak banget. Kamu nambah dua kali.”
“Seleraku berubah.”
Tasya menatapku. Lalu ia menutup wajah dengan dua tangan. “Ini nyogok.”
“Ini investasi.”
“Ini nyogok adiknya pakai lima ratus boks nasi kotak.”
“Ini…” Aku berhenti. “Iya. Ini nyogok.”
Tasya menurunkan tangannya. Ia menatapku lama, lalu tertawa sampai terbatuk-batuk. “Malu tapi jalan,” katanya di sela tawa. “Ya Allah. Malu tapi jalan sampai Sentul.”
Balasan dari Dapur Kanya datang empat jam kemudian. Empat jam. Aku memeriksa ponselku setiap lima menit.
Bisa. Sabtu jam 10. Alamat saya kirim. Tasting gratis. — Kanya
Pesan berikutnya datang dua menit kemudian.
Saya tahu siapa Ibu.
Rumah di Sentul tidak seperti yang kubayangkan.
Aku membayangkan rumah besar. Rumah founder Startup of the Year, di kawasan perumahan elit dengan gerbang otomatis dan satpam berseragam. Kawasannya memang elit. Gerbang perumahannya memang otomatis, satpamnya memang berseragam, jalannya lebar dan bersih dengan pohon-pohon palem di kedua sisi.
Tapi rumahnya sendiri tidak besar. Dua lantai, cat putih, atap genteng tanah liat yang kelihatan sudah pernah diganti di beberapa bagian. Tidak ada pagar tinggi. Hanya pagar besi setinggi pinggang, dicat hitam, dengan pintu yang tidak dikunci. Halaman depannya taman kecil dengan rumput yang dipotong rapi dan pohon mangga di sudut kiri.
Dan di bawah pohon mangga, bangku beton.
Bukan bangku yang sama. Bangku ini baru, catnya abu-abu muda, permukaannya halus. Tapi bentuknya sama. Ukurannya sama. Bangku beton panjang tanpa sandaran, seperti bangku di taman FMIPA yang catnya mengelupas.
Aku berdiri di depan pagar besi setinggi pinggang selama satu menit penuh, menatap bangku itu.
Lalu pintu rumah terbuka, dan seorang perempuan berdiri di ambangnya dengan celemek hitam bertuliskan DAPUR KANYA dengan huruf oranye, tangan di pinggang, rambut diikat tinggi seperti pegulat.
Kanya Pradana. Dua puluh satu tahun. Wajahnya tidak berubah banyak dari gadis enam belas tahun dengan karton glitter di Tech Cup. Mata sedikit sipit. Alis tebal. Dagu runcing. Mata Saka.
Tapi caranya menatapku sudah berubah.
Lima tahun lalu, di aula Tech Cup, setelah awalnya curiga, ia memegang tanganku dan meremasnya sampai sakit ketika Lizz 10 crash. Ia memelukku ketika Kinan berbisik uang pangkal FKG lunas. Ia menarikku ke dapur kontrakan dan berdiri di sampingku seperti instruktur mengemudi sementara telurku gosong.
Sekarang ia menatapku seperti satpam menatap pencuri.
“Ibu Clara,” katanya.
“Kanya.”
“Masuk.” Ia minggir dari ambang pintu. “Lepas sepatu. Lantainya baru dipel.”
Dapur Kanya adalah dapur rumah itu, diperbesar ke belakang sampai hampir setengah luas tanah. Meja stainless panjang. Tiga kompor besar. Empat orang ibu-ibu berseragam celemek hitam sedang memotong sayur, menggoreng ayam, dan menata nasi di kotak kardus dengan kecepatan yang membuatku pusing.
Kanya mendudukkanku di meja makan kecil di sudut dapur. Ia meletakkan tiga kotak di depanku. Nasi, ayam goreng, sayur, sambal, kerupuk.
“Paket A, paket B, paket C,” katanya. “Bedanya di lauk. Coba.”
Aku mencoba. Enak. Benar-benar enak. Ayam gorengnya renyah di luar dan lembut di dalam, sambalnya pedas dengan rasa manis di ujung, sayurnya segar.
“Enak,” kataku.
“Saya tahu.” Kanya duduk di seberangku. Tangannya terlipat di atas meja. Ia tidak tersenyum. “Pesan lima ratus boks paket apa?”
“Paket B.”
“Lunas di muka.”
“Oke.”
“Harga nggak bisa ditawar.”
“Oke.”
Kanya menatapku. Lama. Matanya menyipit seperti petugas bea cukai. Lalu ia mencondongkan badan ke depan.
“Ibu ke sini bukan buat nasi kotak,” katanya.
Aku tidak menjawab.
“Ibu ke sini karena Kak Saka sekarang kaya.”
“Bukan.”
“Lima tahun nggak ada kabar. Nggak ada pesan. Nggak ada telepon. Terus Kak Saka naik panggung, menang penghargaan, masuk berita, dan dua minggu kemudian Ibu tiba-tiba pesan nasi kotak lima ratus boks dari adiknya.” Kanya tidak menaikkan suara. Ia hanya bicara dengan nada yang sangat datar. Nada Saka. “Saya nggak bodoh, Bu.”
“Aku tahu kamu nggak bodoh.”
“Terus?”
Aku meletakkan sendok. Aku menatap adik dari laki-laki yang pernah kutinggalkan di bawah pohon flamboyan. Adik yang sekarang punya usaha katering dengan empat karyawan, empat puluh dua ribu pengikut TikTok, dan tatapan yang bisa membuat susu basi.
“Kanya,” kataku. “Lima tahun lalu, aku pergi. Kamu benar. Aku nggak bisa bilang nggak ke Papaku, dan aku pergi, dan aku nggak pernah kasih kabar.” Aku menarik napas. “Aku nggak datang ke sini karena kakakmu kaya. Kalau dia masih di kontrakan dua petak dengan kompor yang kakinya diganjal sandal jepit, aku juga akan datang. Mungkin lebih cepat. Mungkin aku nggak akan nunggu sampai lima tahun, kalau aku tahu dia masih di sana. Tapi aku nggak tahu. Aku nggak berani cari tahu. Karena aku malu.”
Kanya tidak bergerak.
“Aku masih malu,” lanjutku. “Aku malu banget. Aku tahu kamu mikir aku cewek matre. Papaku mungkin juga mikir gitu. Semua orang mungkin mikir gitu.” Suaraku bergetar. Aku menekannya. “Tapi aku capek lima tahun hidup buat apa yang orang lain pikirin. Jadi aku datang. Malu tapi jalan.”
Kanya menatapku. Matanya bergerak, sedikit, seperti mencari sesuatu di wajahku.
“Kakak nggak tahu apa-apa,” katanya.
Pelan. Hampir berbisik. Dan bukan dengan nada yang tadi. Dengan nada yang lain, yang aku tidak bisa membacanya. Bukan marah. Lebih seperti…
Seperti orang yang menahan sesuatu yang sangat berat, sudah lama sekali.
“Kanya, maksudmu…”
“Kak Kanya.” Suara lain, dari arah pintu dapur. “Udah. Biarin Kak Clara makan.”
Kinan Pradana berdiri di ambang pintu dapur dengan kaus putih polos dan celana kain, rambut pendek sebahu, kacamata berbingkai tipis yang dulu tidak ia pakai. Ia memegang buku tebal bersampul biru. Bukan buku tengkorak lagi. Kali ini gambar rahang manusia.
“Kinan,” kataku.
“Kak Clara.” Kinan mengangguk. Wajahnya datar, sama seperti lima tahun lalu. Tapi ia berjalan ke meja makan, menarik kursi di sebelahku, dan duduk. Dekat. Lebih dekat dari Kanya.
Ia menatapku dari samping. Lalu ia berkata, dengan nada orang yang sedang memeriksa pasien:
“Kakak suka gigit bibir, ya?”
Aku berkedip. “Apa?”
“Bibir bawah. Bagian tengah agak kiri. Ada bekas gigitan, udah lama, kebiasaan.” Kinan menunjuk bibirku dengan ujung pulpen. “Kalau Kakak mau ngomong sesuatu yang Kakak khawatirin, Kakak gigit dulu. Barusan, sebelum ngomong ke Kak Kanya, Kakak gigit tiga kali.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
“Kak Saka juga pernah bilang,” lanjut Kinan, tanpa ekspresi, membuka bukunya. “Dulu. Katanya Kak Clara gigit bibir empat belas kali selama pacaran. Dia ngitung.”
Dapur hening. Bahkan ibu-ibu di meja stainless berhenti memotong sayur sebentar.
Kanya menoleh ke kembarannya dengan kecepatan yang bisa mematahkan leher. “Kinan!”
“Apa? Itu fakta.”
“Kamu nggak boleh bilang itu!”
“Kenapa nggak boleh? Itu bukan rahasia medis.” Kinan membalik halaman. “Kak Clara, Kakak nggak usah takut sama Kak Kanya. Kak Kanya itu galaknya cuma di luar. Di dalam, dia nangis tiap nonton iklan susu formula.”
“KINAN!”
Aku tertawa. Aku tidak bisa menahannya. Aku tertawa sampai mataku basah, sampai Kanya melempar serbet ke wajah Kinan, dan Kinan menangkapnya tanpa ekspresi, persis seperti lima tahun lalu di kontrakan dua petak.
Empat belas kali. Ia menghitung.
Ia menghitung bahkan itu.
Kanya menyuruhku menunggu di ruang tamu sementara ia menyiapkan nota pemesanan.
Ruang tamunya kecil, lebih kecil dari ruang tamu mana pun yang pernah kumasuki di kawasan elit. Sofa abu-abu sederhana. Meja kayu. Rak buku yang penuh, buku-buku tentang pemrograman, manajemen, kedokteran gigi, dan satu rak penuh buku resep dengan banyak pembatas warna-warni yang mencuat. Tidak ada televisi. Tidak ada lukisan.
Tapi ada foto. Di dinding, di atas sofa, berjejer dalam bingkai kayu sederhana.
Foto pernikahan. Sepasang suami istri muda di depan pelaminan sederhana, dengan latar kain batik. Laki-lakinya kurus dengan mata yang sama dengan mata Saka. Perempuannya tersenyum lebar dengan gigi yang sedikit maju. Orang tua mereka.
Foto tiga anak kecil di depan kontrakan, yang paling besar menggendong dua bayi kembar sekaligus, wajahnya serius sekali untuk anak berumur lima tahun.
Foto wisuda. Delapan orang di depan tugu kampus. Buket sedap malam yang terlalu besar. Kotak martabak. Seorang bapak tua dengan dua gigi seri yang tanggal. Seorang laki-laki kurus berkacamata dengan mata bengkak. Saka di tengah, toga yang terlalu panjang, tersenyum lebih lebar dari yang pernah kulihat.
Tidak ada aku.
Aku tahu tidak akan ada aku. Aku tahu, karena aku ada di seberang halaman, di depan gedung FEB, dengan buket mawar putih dan fotografer profesional yang mengatur reflektor. Tapi melihatnya, di dinding, dalam bingkai kayu, di rumah ini, rasanya seperti seseorang memotong sesuatu di dadaku dengan pisau yang tumpul.
Aku mengalihkan pandangan ke foto berikutnya.
Dan berhenti bernapas.
Saka. Lebih tua dari foto wisuda, mungkin dua atau tiga tahun lalu. Kemeja batik. Rambut disisir rapi. Ia berdiri di samping seorang perempuan muda, sangat cantik, dengan kebaya putih dan riasan lengkap, rambut disanggul, senyum yang lebar. Lengan Saka melingkar di bahu perempuan itu. Saka tersenyum. Tiga milimeter. Mungkin empat.
Perempuan itu memegang buket bunga. Dan sesuatu yang terlihat seperti… map?
Dadaku runtuh.
Siapa dia?
Pacar? Tunangan? Istri? Tidak. Tidak mungkin. Kalau ia sudah menikah, pasti ada beritanya. Pasti Bu Rosa menyebutnya di majalah. Pasti Kanya tidak akan…
Tapi foto itu di dinding ruang tamu. Di antara foto orang tuanya dan foto wisudanya. Di tempat paling penting di rumah ini.
Kebaya putih. Riasan lengkap. Lengan di bahu. Senyum empat milimeter.
Kepalaku berputar. Aku tidak sadar aku sudah berdiri dari sofa. Aku tidak sadar tanganku sudah meremas tali tas sampai melengkung. Aku tidak sadar napasku sudah pendek-pendek, seperti orang yang baru naik tangga sembilan lantai.
“Itu Kinan.”
Aku berbalik. Kanya berdiri di ambang pintu ruang tamu dengan nota pemesanan di tangan dan ekspresi yang sangat, sangat puas.
“Apa?”
“Itu Kinan,” ulang Kanya, menunjuk foto itu dengan dagu. “Wisuda SMA. Tiga tahun lalu. Juara umum satu sekolah. Kebayanya pinjam dari Bu Darto. Riasannya aku yang bayarin, empat ratus ribu, mahal banget, sampai sekarang aku masih nyesel.” Ia berjalan ke arahku dan berhenti di sebelahku, menatap foto itu bersamaku. “Yang dipegang itu ijazah, bukan map.”
Aku menatap foto itu lagi.
Perempuan dengan kebaya putih dan riasan lengkap. Mata sedikit sipit. Alis tebal. Dagu runcing. Di balik riasan empat ratus ribu, wajah yang sama dengan wajah yang barusan memeriksa bibirku dengan ujung pulpen.
Kinan.
Aku menutup wajah dengan dua tangan.
Di sebelahku, Kanya mengeluarkan suara yang sangat aneh. Pendek. Tertahan. Seperti petasan yang ditutup dengan bantal.
Ia tertawa.
Aku menurunkan tangan dan menatapnya. Kanya Pradana, satpam galak, tertawa sampai bahunya berguncang, sampai ia harus berpegangan ke sandaran sofa, sampai nota pemesanan di tangannya jatuh ke lantai.
“Muka Kakak,” katanya di sela tawa. “Ya Allah, muka Kakak. Kakak kira Kak Saka udah kawin? Sama Kinan?”
“Aku nggak tahu itu Kinan!”
“Kakak kayak orang mau pingsan!”
“Aku nggak mau pingsan!”
“Kakak pucat, Kak!” Kanya menghapus air mata di sudut matanya. “Lima tahun aku nunggu buat lihat muka kayak gitu. Lima tahun!”
Kinan muncul di ambang pintu ruang tamu, buku rahang manusia masih di tangan. Ia menatap Kanya yang tertawa. Menatapku yang merah sampai ke telinga. Menatap fotonya sendiri di dinding.
“Oh,” katanya datar. “Kak Clara kira itu pacar Kak Saka?”
“KINAN, JANGAN DIBAHAS!”
“Itu foto paling cantik aku seumur hidup,” kata Kinan, tanpa ekspresi. “Wajar kalau Kak Clara cemburu.”
Kanya jatuh ke sofa dan tertawa sampai menendang-nendang udara.
Aku membayar lima ratus boks nasi kotak paket B. Lunas di muka. Kanya menerima transfernya, memeriksa ponselnya, mengangguk, dan menulis LUNAS di nota dengan huruf besar.
Lalu ia mengantarku ke pintu depan.
Di ambang pintu, saat aku memakai sepatu, Kanya berdiri di belakangku. Ia tidak berkata apa-apa. Aku bisa merasakan matanya di punggungku.
“Kanya,” kataku, tanpa menoleh. “Tadi. Waktu kamu bilang aku nggak tahu apa-apa.”
Kanya diam.
“Maksudmu apa?”
Hening lama. Di dapur, kompor besar masih menyala. Minyak mendesis. Seseorang tertawa.
“Nggak apa-apa,” kata Kanya akhirnya.
Nggak apa-apa. Nada Saka. Datar. Seperti menutup pintu dengan sopan.
Aku berdiri dan menoleh. Kanya menatapku. Matanya merah. Bukan karena tawa tadi.
“Kak Clara,” katanya pelan. “Kakak beneran nggak akan pergi lagi?”
“Nggak akan.”
“Kakak janji?”
“Aku janji.”
Kanya menatapku lama. Lalu ia mengangguk, sekali, dan membuka pintu lebih lebar.
“Tanggal dua puluh, lima ratus boks, jam sebelas siang,” katanya, kembali ke nada satpam. “Kalau telat bayar sisa ongkos kirim, aku blokir nomor Kakak.”
“Ongkos kirimnya udah aku bayar.”
“Aku tahu. Aku cuma mau ngancem.”
Aku tertawa. Aku melangkah keluar dari pintu, ke taman kecil dengan rumput yang dipotong rapi dan pohon mangga di sudut kiri.
Di bawah pohon mangga, di bangku beton abu-abu muda, duduk seseorang.
Kemeja kotak-kotak. Biru. Lengan digulung sampai siku. Laptop di pangkuan. Di sebelahnya, kotak bekal biru dengan retakan panjang di sudut tutupnya, terbuka, berisi nasi putih dan setengah telur ceplok dengan pinggiran garing kecokelatan.
Ia tidak menoleh.
Ia mengetik. Tangan kirinya menyendok nasi, tangan kanannya mengetik, dengan ritme yang sama, seolah makan dan mengetik adalah satu pekerjaan.
Aku berdiri di ambang pintu dengan sepatu yang baru separuh terpasang.
Di belakangku, Kanya berkata, sangat pelan, cukup pelan supaya hanya aku yang mendengarnya:
“Kak Saka pulang sejam lalu. Aku bilang ada tamu tasting. Aku nggak bilang siapa.” Ia berhenti. “Dia tahu.”
“Gimana dia tahu?”
“Sepatu Kakak di rak depan.” Kanya menghela napas. “Sepatu putih. Kak Saka lihat sepatu itu, berdiri di depan rak sepatu dua menit, terus keluar ke bangku itu. Udah sejam di sana. Belum masuk.”
Aku menatap punggung laki-laki di bangku beton.
Ia masih tidak menoleh. Tapi ia berhenti mengetik. Satu detik. Dua.
Lalu ia mengangkat setengah telur dari kotak bekal biru, dengan sendok, dan meletakkannya di tutup kotak bekal yang retak. Ia mendorong tutup itu dua senti ke ujung bangku beton. Ke sisi yang kosong.
Lalu ia kembali mengetik.
Aku tidak bergerak.
“Kak,” bisik Kanya di belakangku. “Itu… itu telur buat Kakak.”
“Aku tahu.”
“Kakak udah makan tiga kotak nasi.”
“Aku tahu.”
“Kakak masih mau makan?”
Aku memasang sepatuku yang separuh. Aku berjalan melintasi taman kecil, di atas rumput yang dipotong rapi, sampai ke bawah pohon mangga. Aku duduk di ujung bangku beton. Di sisi yang kosong.
Aku mengambil sendok dari tutup kotak bekal. Aku memakan setengah telur itu.
Pinggirnya garing.
Ia tidak menoleh. Ia tidak berkata apa-apa. Ia terus mengetik, dan aku terus mengunyah, dan di ambang pintu rumah, Kanya berdiri dengan tangan menutup mulut, dan di belakang Kanya, Kinan berdiri dengan buku rahang manusia, dan untuk lima menit, di bawah pohon mangga di Sentul, di bangku beton yang bentuknya sama dengan bangku beton di bawah flamboyan, tidak ada yang bicara.
Ketika aku selesai, aku meletakkan sendok kembali di tutup kotak bekal.
“Enak,” kataku.
“Telur biasa,” katanya, tanpa menoleh. “Tiga puluh dua ribu sekilo.”
“Naik?”
“Naik empat ribu.”
Aku tertawa. Basah. Pelan.
Lalu aku berdiri dan berjalan ke mobilku, yang diparkir di depan pagar besi setinggi pinggang. Aku tidak menoleh di langkah kesepuluh.
Aku menoleh di langkah kesebelas.
Ia sedang menatapku.
Hanya sepersekian detik. Lalu ia menunduk ke laptopnya lagi. Tapi aku melihatnya.
Tiga detik, kalau ia yang menghitung.
Aku tidak menghitung. Aku masuk ke mobil, menyalakan mesin, dan menyetir keluar dari perumahan di Sentul sambil tertawa dan menangis sekaligus, sampai satpam di gerbang otomatis menatapku dengan khawatir dan bertanya apakah saya baik-baik saja, Bu.
“Baik, Pak,” kataku. “Saya baru makan telur.”
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya reading
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman