← Pria yang Ia Pilih

Chapter Ten

Makan Malam Keluarga Kusumadewi

POV: Saka

Undangannya datang dari ibu Clara.

“Mama lihat berita,” kata Clara di bangku beton, Selasa pagi, sambil memutar-mutar botol air mineral di tangannya. Ia memutarnya tujuh kali sebelum bicara. “Soal Lizz 10. Terus Mama lihat… akun gosip itu juga. Sebelum dihapus.” Ia berhenti memutar botol. “Mama mau ketemu kamu. Makan malam. Sabtu.”

“Di rumahmu?”

“Iya.”

“Sama keluargamu?”

“Mama, Papa, sama Kak Bram.” Ia menggigit bibir bawah. Itu kebiasaan yang sudah kuhitung empat belas kali sejak kami jadian, selalu sebelum ia mengatakan sesuatu yang ia khawatirkan. “Kamu nggak harus dateng. Kalau kamu nggak mau, aku bisa bilang kamu sibuk. Kamu memang sibuk.”

“Aku dateng.”

Ia menatapku. “Kamu yakin?”

“Ibumu yang ngundang.”

“Papa…” Ia berhenti. Botol air mineral mulai berputar lagi. “Papa itu agak… Papa itu orangnya…”

“Keras?”

“Bukan keras. Papa nggak pernah marah-marah. Papa cuma…” Ia mencari kata. “Papa itu kayak auditor. Dia lihat semuanya, dia catat semuanya, dia nggak ngomong apa-apa sampai dia udah punya kesimpulan. Terus kesimpulannya biasanya nggak bisa diubah.”

Aku memikirkan itu.

“Aku dateng,” kataku lagi.

Clara menatapku lama. Lalu ia menyandarkan kepala ke bahuku, seperti yang mulai sering ia lakukan, dan berbisik ke kemejaku: “Pakai kemeja yang biru.”


Rumah keluarga Kusumadewi di Menteng punya pagar besi setinggi dua meter, pos satpam dengan dua orang satpam, dan taman depan yang lebih luas dari seluruh kontrakan kami dikali empat.

Aku memarkir motor bebek di samping pos satpam, karena satpam yang lebih tua bilang motor tidak boleh masuk ke halaman. Ia mengatakannya dengan sopan. Ia juga memandangi motorku dari ban depan sampai lampu belakang yang retak, lalu memandangiku dari rambut sampai sepatu, dan aku tahu ia sedang menghitung sesuatu. Mungkin harga. Mungkin jarak.

Aku memakai kemeja biru, yang terbaik. Celana bahan hitam yang kupakai waktu wawancara beasiswa SMA dulu, sudah agak pendek di pergelangan kaki. Dan sepatu kets abu-abu. Kucuci kemarin sore, kujemur di atas kipas angin. Noda kopi gula aren di ujung kiri sudah hampir hilang.

Aku tidak punya sepatu lain.

Clara menungguku di teras. Ia memakai dress biru tua dan, aku memperhatikan, jepit hitam polos. Ia tersenyum ketika melihatku, tapi senyumnya tidak sampai ke mata. Tangannya meraih tanganku, lalu menariknya lagi sebelum kami melangkah melewati pintu.

Di dalam rumah ada lampu gantung kristal. Ada lukisan besar di dinding, seorang laki-laki tua berjas dengan tatapan tajam. Ada lantai marmer yang membuat langkah sepatu ketsku berbunyi cit-cit di setiap langkah.

“Itu Kakek,” kata Clara pelan, mengikuti arah pandangku ke lukisan. “Ayahnya Mama. Pendiri Kusumadewi Group.”

Aku menatap lukisan itu. Mata laki-laki tua itu menatap balik, dari atas, seperti menghitung harga sepatuku.


Meja makannya terlalu panjang untuk lima orang.

Aku menghitungnya. Empat meter dua puluh. Dua belas kursi. Lima piring di ujung meja, di bawah lampu gantung yang paling kecil. Piringnya putih dengan pinggiran emas tipis. Ada tiga garpu di sebelah kiri dan dua pisau di sebelah kanan, dan aku tidak tahu yang mana untuk apa.

Ibu Clara, Tante Ratna, menyambutku dengan pelukan yang tidak kuduga. Ia wangi bunga dan punya mata yang sama dengan Clara, besar dan cokelat terang. “Saka,” katanya. “Akhirnya. Clara cerita terus.”

“Mama,” desis Clara.

“Lho, kan memang iya. Tiap makan malam, Saka begini, Saka begitu, Lizz sepuluh…”

“Mama.”

Tante Ratna tertawa. Aku menunduk dan mengucapkan terima kasih atas undangannya. Tangan Tante Ratna masih di bahuku ketika ia membimbingku ke kursi, dan aku merasakan sesuatu yang aneh di dada: rasa hangat yang mirip rasa ketika Ibu dulu menepuk bahuku sebelum aku berangkat sekolah.

Kakak Clara, Bram, menjabat tanganku dengan dua tangan dan semangat berlebih. “Saka! Bro! Anak IT! Clara bilang kamu benerin aplikasi di depan dua ribu orang dalam sembilan puluh detik!”

“Delapan puluh tujuh,” kataku.

Bram menatapku. Lalu menatap Clara. Lalu menatapku lagi, dan senyumnya melebar sampai hampir menyentuh telinga.

“Oh, aku suka dia,” katanya ke Clara. “Dia ngoreksi tiga detik. Clar, dia ngoreksi tiga detik.”

Lalu Om Hendro datang.

Ia tidak tinggi. Tidak besar. Rambutnya mulai beruban di pelipis, disisir rapi ke belakang. Ia memakai kemeja batik lengan panjang yang kainnya terlihat mahal, dan ia berjalan tanpa suara di atas lantai marmer, berbeda dengan sepatu ketsku yang berbunyi cit-cit.

Ia menjabat tanganku. Jabatannya singkat, kering, kuat.

“Saka Pradana,” katanya.

“Selamat malam, Om.”

“Duduk.”

Aku duduk.


Hidangan pertama adalah sup krim jamur dalam mangkuk kecil. Aku memperhatikan sendok mana yang diambil Clara, lalu mengambil sendok yang sama.

Om Hendro tidak bicara selama sup. Ia makan pelan, rapi, dan matanya bergerak. Aku melihatnya. Ia memandangi tanganku yang memegang sendok. Ia memandangi kerah kemejaku. Ia memandangi caraku duduk. Clara benar, ia seperti auditor. Ia mengumpulkan data.

Bram yang mengisi keheningan. Ia bertanya tentang Lizz 10, tentang kompetisi, tentang apakah juri dari perusahaan teknologi global itu benar-benar sekeren yang ia lihat di majalah. Aku menjawab sebisaku. Tante Ratna tertawa di tempat-tempat yang tepat. Clara, di sebelahku, hampir tidak menyentuh supnya.

Hidangan kedua adalah steak. Bram memotretnya dari tiga sudut. Om Hendro berkata “Bram” tanpa mengangkat wajah, dan Bram meletakkan ponselnya.

Lalu Om Hendro meletakkan pisau dan garpunya, menyeka bibirnya dengan serbet, dan menatapku.

“Saka,” katanya. “Rencanamu lima tahun ke depan?”

Meja makan hening. Tante Ratna berhenti memotong steak. Bram berhenti mengunyah. Di bawah meja, aku merasakan sesuatu menyentuh lututku. Tangan Clara. Tangannya gemetar.

Aku meletakkan pisau dan garpuku juga.

“Lulus dalam enam bulan,” kataku. “Kerja di perusahaan teknologi untuk pengalaman sistem skala besar, dua sampai tiga tahun. Sambil itu membangun produk sendiri bersama Ucup. Lizz 10 tetap jalan sebagai aplikasi sosial, gratis. Tapi produk yang menghasilkan uang harus produk lain. Kami belum tahu yang mana. Mungkin butuh beberapa kali gagal.”

“Berapa kali?”

“Nggak tahu, Om. Sebanyak yang dibutuhkan.”

“Dan adik-adikmu?”

Aku tidak terkejut ia tahu soal adik-adikku. Clara pasti cerita. Atau ia sudah mencari tahu sendiri. Auditor.

“Lulus SMA dua tahun lagi. Uang pangkal kuliah mereka sudah ada. Biaya kuliah per semester dari pekerjaan saya sekarang. Kalau saya sudah kerja kantoran, lebih aman lagi.”

Om Hendro menatapku. Tidak berkedip.

“Itu rencana yang masuk akal,” katanya. “Untuk anak dua puluh satu tahun.”

Ada sesuatu di cara ia mengucapkan untuk anak dua puluh satu tahun. Seperti ia menaruh bobot di atas angka itu. Seperti ia mengingatkanku bahwa anak dua puluh satu tahun tidak tahu banyak hal.

“Kamu tahu bisnis kami, Saka?”

“Sedikit, Om.”

“Apa yang kamu tahu?”

Aku diam sebentar. Clara mencengkeram lututku lebih keras.

Aku tahu banyak tentang Kusumadewi Retail. Bukan karena aku pernah membaca laporan keuangannya. Karena aku belanja di sana. Kusuma Mart, cabang dekat stasiun, buka dua puluh empat jam. Aku belanja di sana setiap Kamis malam karena ada diskon sayur setelah pukul delapan. Aku menyimpan struknya. Aku menyimpan semua struk, sejak umur tujuh belas, di dalam map plastik, karena struk adalah data.

“Saya pelanggan Kusuma Mart cabang stasiun, Om,” kataku. “Setiap Kamis malam. Dari struk-struk saya, ada beberapa pola.”

Om Hendro mengangkat alis. Sedikit. Satu milimeter.

“Harga telur di Kusuma Mart rata-rata dua belas persen lebih mahal dari pasar tradisional di sebelahnya. Itu wajar, ada biaya pendingin dan kemasan. Tapi harga beras kemasan lima kilo cuma tiga persen lebih mahal. Jadi orang sekitar stasiun beli beras di Kusuma Mart, tapi beli telur dan sayur di pasar. Mereka datang untuk satu barang, keluar dengan satu barang. Nilai transaksi rata-ratanya kecil.”

Tante Ratna meletakkan garpunya.

“Diskon sayur setelah jam delapan malam bikin rak sayur kosong jam sembilan,” lanjutku. “Pengisian ulangnya jam enam pagi. Jadi dari jam sembilan malam sampai jam enam pagi, toko yang buka dua puluh empat jam itu nggak punya sayur. Pelanggan malam, kebanyakan pekerja shift dari stasiun, beli mi instan dan pulang. Mereka sebenarnya mau beli sayur. Saya lihat banyak yang berdiri di depan rak kosong, lalu ambil mi.”

Bram berhenti mengunyah sepenuhnya.

“Kartu member Kusuma Mart kasih poin per transaksi, bukan per nilai belanja,” kataku. “Saya bisa dapat poin yang sama dengan beli satu permen seribu rupiah atau beli belanjaan seratus ribu. Jadi orang yang pintar memecah belanjaannya jadi beberapa transaksi kecil. Saya lihat ibu-ibu di antrean melakukan itu. Kasirnya jadi lambat. Antreannya panjang. Orang yang antre di belakangnya pindah ke minimarket sebelah.”

Aku berhenti. Aku menyadari aku sudah bicara terlalu banyak. Clara bilang aku tidak boleh menyebutkan data berikutnya ketika orang sedang diam. Om Hendro sedang diam.

“Itu dari struk satu cabang,” kataku. “Mungkin cabang lain beda. Maaf, Om. Saya terlalu banyak bicara.”

Meja makan hening sepenuhnya. Yang terdengar hanya dengung AC dan detak jam dinding antik di ujung ruangan.

Om Hendro menatapku. Ekspresinya tidak berubah. Tapi aku melihat sesuatu di matanya, sesuatu yang sangat cepat, seperti satu baris log yang lewat terlalu cepat untuk dibaca. Seperti orang yang baru saja melihat sesuatu yang tidak ia duga, dan tidak suka bahwa ia tidak menduganya.

Ia tidak berkata apa-apa.

Bram yang memecah keheningan. Pelan, hampir berbisik, ke arah ayahnya: “Pa. Rak sayur kosong itu… itu yang dibahas di rapat direksi bulan lalu, kan? Yang konsultannya dibayar…”

“Bram.”

Bram menutup mulut.


Hidangan penutup adalah puding cokelat dengan saus vanila. Tante Ratna bercerita tentang arisan. Bram bercerita tentang klien agensinya yang meminta logo “warna biru tapi yang kayak merah”. Clara tertawa di tempat-tempat yang tepat, tapi tangannya masih dingin di bawah meja.

Om Hendro tidak bicara lagi sepanjang hidangan penutup.

Tapi ketika aku meraih gelas air, aku merasakan tatapannya. Bukan di wajahku. Lebih rendah.

Aku melirik ke bawah. Kakiku. Sepatu kets abu-abu yang menyembul dari bawah taplak meja putih. Noda kopi yang hampir hilang di ujung kiri. Jahitan di sisi kanan yang sudah kujahit ulang dua kali dengan benang nilon.

Om Hendro menatap sepatu itu.

Bukan dengan jijik. Aku tahu wajah orang yang jijik. Satpam di depan, Rio di bawah flamboyan, Sherly dengan lip gloss-nya. Wajah-wajah itu menyempit, mengerut, seperti mencium bau tidak enak.

Wajah Om Hendro tidak begitu. Wajahnya diam. Rahangnya mengeras sedikit. Matanya menatap jahitan benang nilon di sisi kanan sepatuku lama sekali, lebih lama dari yang wajar, dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. Seperti orang yang melihat foto lama yang tidak ingin ia lihat.

Lalu ia mengangkat wajah, dan ekspresi itu hilang.

“Saka,” katanya.

“Iya, Om.”

“Terima kasih sudah datang.”

“Terima kasih atas undangannya, Om.”

Ia meletakkan serbet di samping piringnya. Ia berdiri. Ia menatap Clara, lalu menatapku, dan berkata dengan nada yang sama datarnya dengan nadaku sendiri, nada yang tidak naik, tidak turun, hanya menyatakan:

“Anak saya masih dua puluh satu tahun. Dia harus fokus.”

Lalu ia meninggalkan ruang makan. Langkahnya tanpa suara di atas lantai marmer.


Clara mengantarku sampai ke pos satpam. Ia tidak bicara sepanjang taman depan. Di samping motor bebek, di bawah lampu pos yang kuning, ia akhirnya berhenti dan menatapku.

“Maaf,” katanya.

“Buat apa?”

“Papa.”

“Papamu nggak ngapa-ngapain.”

“Dia bilang harus fokus.” Suaranya pecah sedikit. “Kamu tahu artinya apa. Artinya…”

“Aku tahu.”

Clara menatapku. Matanya merah. Tangannya, yang tadi gemetar di bawah meja, sekarang mengepal di sisi tubuhnya.

“Kamu nggak marah?”

Aku memikirkannya. Aku memikirkan meja makan empat meter dua puluh. Lukisan kakek dengan tatapan tajam. Satpam yang menghitung jarak dari ban depan sampai lampu belakang. Tiga garpu di sebelah kiri.

Aku memikirkan cara Om Hendro menatap sepatuku.

“Papamu benar,” kataku.

“Saka…”

“Kamu memang dua puluh satu tahun. Kamu memang harus fokus.” Aku memakai helm. “Itu bukan hal yang salah buat diomongin seorang ayah.”

“Tapi caranya…”

“Caranya nggak penting.” Aku menyalakan motor. Mesinnya terbatuk dua kali sebelum hidup. “Yang penting kamu masih mau duduk di bangku beton besok jam sepuluh.”

Clara menatapku. Lama. Air matanya jatuh satu, di pipi kiri, di bawah lampu kuning pos satpam yang membuatnya berkilau seperti glitter.

“Masih,” katanya. “Tentu aja masih.”

“Kalau gitu nggak apa-apa.”

Ia tertawa. Tawa basah, pecah. Lalu ia maju dan memelukku, di samping motor bebek, di depan dua satpam yang langsung memalingkan wajah dengan sangat tidak meyakinkan. Aku memeluknya balik dengan satu tangan. Tangan yang lain masih memegang setang.

Waktu ia melepas pelukan, aku merasakan tangannya. Gemetar lagi. Bukan karena dingin.

Aku mencatatnya di kepala. Tangan Clara gemetar di bawah meja makan. Tangan Clara gemetar di samping motor. Dua kali dalam satu malam.

Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan data itu. Jadi aku hanya menyimpannya.


Di jalan pulang, empat puluh kilo per jam, disalip semua orang, aku memikirkan dua hal.

Yang pertama: rak sayur kosong di Kusuma Mart cabang stasiun. Bram bilang itu dibahas di rapat direksi. Bram bilang konsultannya dibayar. Aku penasaran berapa mereka membayar konsultan untuk menemukan sesuatu yang bisa ditemukan dari map plastik berisi struk belanja.

Yang kedua: cara Om Hendro menatap sepatuku.

Aku sudah ditatap dengan banyak cara. Dikasihani. Dihina. Diabaikan. Diukur. Aku kenal semuanya.

Tapi tatapan Om Hendro lain. Ia tidak menatap sepatuku seperti orang kaya menatap sepatu orang miskin.

Ia menatap sepatuku seperti orang yang pernah memakai sepatu yang sama.

Aku tidak tahu kenapa aku berpikir begitu. Itu tidak masuk akal. Laki-laki yang memakai kemeja batik mahal, yang memimpin perusahaan dengan ratusan cabang, yang duduk di ujung meja empat meter dua puluh. Itu tidak masuk akal sama sekali.

Tapi mataku memang begitu. Menangkap hal-hal kecil yang tidak cocok.

Bug kecil di dalam sistem yang rapi.

Pasti ada ceritanya.

Aku tiba di kontrakan pukul sepuluh lewat empat belas. Kanya dan Kinan sudah tidur. Aku melepas sepatu di depan pintu, menatapnya sebentar di bawah lampu neon yang berkedip, jahitan benang nilon di sisi kanan, noda kopi yang hampir hilang di ujung kiri.

Lalu aku masuk, mencuci muka, dan membuka laptop. Masih ada hampir tiga jam sebelum pukul satu. Lizz 10 versi 1.1. Fitur getar khusus untuk cucu Pak Darto.

Waktu yang sedikit itu, sebagian sudah kuberikan pada Clara malam ini.

Sisanya masih ada pemiliknya.