← Pria yang Ia Pilih

Chapter Six

Kenapa Kamu di Sini

POV: Saka

“Kak, ini kenapa?”

Kanya berdiri di ujung lorong, di depan kompor dua tungku, memegang tutup kotak bekal biruku di bawah lampu neon yang berkedip. Pukul sembilan malam. Aku sedang mencuci piring, dan aku lupa bahwa adikku punya mata seperti petugas bea cukai.

“Jatuh,” kataku.

“Jatuh di mana?”

“Di kampus.”

“Jatuh sendiri?”

Aku membilas piring terakhir dan meletakkannya di rak. “Jatuh dari bangku.”

Kanya menyipitkan mata. Ia memutar tutup itu di bawah lampu, mengamati retakan panjang di sudutnya seperti detektif mengamati sidik jari. “Kotak ini udah enam tahun, Kak. Udah jatuh dari motor, dari meja, dari tangga kontrakan lama. Nggak pernah retak. Masa jatuh dari bangku doang langsung kayak gini?”

“Bangkunya beton.”

“Kak.”

“Kanya.”

Kami saling menatap. Kanya enam belas tahun, tingginya baru sedaguku, tapi ia menatapku seperti ibu-ibu yang menangkap anaknya pulang dengan baju robek dan bilang jatuh dari sepeda. Ia mewarisi tatapan itu dari Ibu. Kadang aku tidak sanggup menatapnya terlalu lama.

“Ada yang gangguin Kakak?” tanyanya pelan.

“Nggak.”

“Bohong.”

“Nggak ada yang perlu kamu khawatirin.”

Kanya menggigit bibir. Lalu ia meletakkan tutup itu di atas meja dapur, keras, sampai kompor bergetar sedikit di atas ganjalan sandal jepitnya. “Besok aku beliin yang baru. Pakai uang jajanku. Aku udah nabung, ada delapan puluh ribu.”

“Nggak usah.”

“Kak, ini retak.”

“Masih nutup.” Aku mengambil tutup itu, memasangnya ke kotaknya, dan menekan sampai berbunyi klik. “Lihat. Masih nutup. Masih bisa dipakai.”

Kanya menatap kotak itu. Lalu menatapku. Matanya merah tiba-tiba, dan aku tahu ia tidak sedang memikirkan plastik delapan ribu rupiah.

“Itu dari Ibu,” katanya.

“Iya.”

“Kakak nggak mau ganti karena dari Ibu.”

Aku tidak menjawab. Dari kamar, Kinan muncul di ambang pintu dengan buku anatomi di tangan. Ia memandang Kanya, memandang kotak bekal, memandangku, lalu berkata dengan suara datar seperti biasa:

“Kak Kanya. Kalau mau nangis, nangis aja. Menahan tangis bikin otot rahang tegang. Nanti bruxism kayak Kak Saka.”

Kanya melempar serbet ke wajah Kinan. Kinan menangkapnya tanpa ekspresi. Kanya tertawa sambil mengusap mata. Aku membuka kotak bekal, meletakkan sendok di dalamnya, dan menutupnya lagi. Klik.

Masih bisa dipakai.


Di kampus, retakan itu punya konsekuensi yang lain.

“Ka,” kata Ucup keesokan paginya, menyodorkan ponselnya ke depan wajahku sebelum aku sempat duduk. “Lihat.”

Sebuah akun gosip kampus. Bukan akun resmi, akun anonim dengan nama ekonomi.diam.diam dan empat ribu pengikut. Unggahan terbarunya foto dari jarak jauh: bangku flamboyan, aku dengan laptop, dan Clara di bangku kayu dengan buku di pangkuannya. Fotonya diambil dari balik semak kembang sepatu. Wajahku tidak jelas. Wajah Clara jelas sekali.

Caption-nya: Bidadari FEB lagi program KKN, ya? Kuliah Kerja Nyata di FMIPA, bantuin rakyat jelata 🍳🍚 #turunkelas

Di bawahnya, empat ratus komentar.

Aku membaca dua puluh pertama. Sebagian tertawa. Sebagian menebak-nebak siapa aku. Sebagian membela Clara. Sebagian besar menulis hal-hal tentang Clara yang tidak akan kuulang di depan adik-adikku.

Satu komentar berbunyi: kasian clara, pasti kena pelet. cowoknya modal nasi telor doang.

Aku mengembalikan ponsel Ucup.

“Kamu nggak apa-apa?” tanya Ucup.

“Nggak apa-apa.”

“Ka…”

“Saya nggak apa-apa, Cup.” Aku membuka laptop. “Yang kena bukan saya.”

Ucup diam. Ia tahu maksudku. Yang difoto dengan jelas bukan wajahku. Yang namanya ditulis bukan namaku. Yang dibicarakan empat ratus orang di kolom komentar bukan aku.

Aku sudah terbiasa diabaikan. Diabaikan itu aman. Tidak ada yang mau repot-repot menghina sesuatu yang tidak mereka lihat.

Clara tidak pernah diabaikan seumur hidupnya. Dan sekarang, karena duduk lima meter dari bangku betonku, ia dilihat dengan cara yang paling buruk.


Pukul sepuluh lewat empat menit, ia datang.

Aku sudah menghitung rata-ratanya. Selama tiga minggu, Clara datang antara pukul 09.58 dan 10.09, dengan rata-rata 10.03. Hari ini pukul 10.04. Normal. Langkahnya juga normal. Tas di bahu kanan, buku di dada, jepit bunga liar di sisi kiri.

Tapi ia tidak tersenyum ketika duduk di bangku kayu. Biasanya ia tersenyum. Sebelas dari empat belas kali, kalau aku menghitungnya, dan aku memang menghitungnya, meskipun aku tidak tahu kenapa.

Hari ini tidak.

Kami merekam sampai kalimat ke-112. Suaranya agak serak. Lizz 10 salah menerjemahkan kerupuk menjadi keruh, dan Clara tidak tertawa seperti biasanya ketika Lizz salah. Ucup pergi ke kelas pukul sebelas kurang lima belas, setelah melirikku dua kali dengan ekspresi yang jelas berarti ngomong sesuatu, dasar robot.

Aku menyimpan rekaman. Aku menutup laptop.

“Mbak Clara.”

Ia mengangkat wajah.

“Kenapa Mbak di sini?”

Pertanyaan itu keluar lebih lurus dari yang kurencanakan. Aku tidak pandai merencanakan pertanyaan. Biasanya aku menunggu sampai pertanyaannya lengkap di kepala, lalu mengeluarkannya sekaligus, seperti menekan tombol deploy.

Clara menatapku. “Aku penguji suara Lizz 10.”

“Kalimat yang dibutuhkan model sudah cukup sejak kalimat ke-80. Akurasinya sudah stabil.”

Ia berkedip. Mulutnya terbuka sedikit, lalu menutup.

“Mbak datang tiap hari sejak sebelum ada Lizz 10,” lanjutku. “Sejak bangkunya masih goyang. Mbak baca halaman yang sama berkali-kali. Mbak jatuhin pulpen. Mbak telepon ibu Mbak soal croissant pakai suara keras.”

Wajahnya memerah. Dari leher, naik ke pipi, sampai ke ujung telinga. Aku tidak tahu manusia bisa memerah secepat itu. Aku mencatatnya di kepala, seperti mencatat perilaku aneh sebuah sistem.

“Kamu… kamu tahu?”

“Saya duduk lima meter dari Mbak.”

“Tapi kamu nggak pernah noleh!”

“Nggak perlu noleh buat tahu.”

Ia menutup wajahnya dengan dua tangan. Dari balik tangannya keluar suara yang setengah tawa setengah erang. Aku menunggu. Ucup bilang aku harus belajar menunggu ketika orang sedang malu. Ucup bilang aku tidak boleh langsung menyebutkan data berikutnya.

Jadi aku tidak menyebutkan bahwa ia juga tiga kali pura-pura mengikat tali sepatu yang tidak lepas.

Setelah dua puluh detik, Clara menurunkan tangannya. Wajahnya masih merah. Tapi matanya, matanya yang cokelat terang itu, menatapku dengan sesuatu yang belum pernah kulihat dari dekat. Bukan malu lagi. Lebih seperti orang yang memutuskan untuk berhenti bersembunyi.

“Kenapa kamu nanya?” tanyanya.

Aku memikirkan unggahan ekonomi.diam.diam. Empat ratus komentar. #turunkelas. Foto yang diambil dari balik semak, dari bangku tempat ia duduk karena aku.

“Ada yang foto Mbak di sini,” kataku. “Diunggah. Banyak yang komentar jelek.”

“Aku tahu.”

“Itu karena Mbak duduk dekat saya.”

Clara diam.

“Kalau Mbak berhenti datang,” kataku, “mereka berhenti.”

Kalimat itu efisien. Masuk akal. Masalah selesai dengan satu langkah. Aku mengucapkannya dengan nada yang sama seperti aku mengucapkan kembaliannya kurang dua ribu.

Tapi entah kenapa, setelah mengucapkannya, aku merasa ada baris kode yang salah di suatu tempat. Baris yang tidak bisa kutemukan.

Clara menatapku lama. Lebih dari tiga detik. Lebih dari sepuluh. Lalu ia meletakkan bukunya di bangku, berdiri, dan berjalan lima meter, dari bangku kayu ke bangku beton, dan duduk di sebelahku.

Belum pernah ada yang duduk di sebelahku di bangku ini, kecuali Ucup.

“Saka,” katanya. Ia menyebut namaku. Tidak kamu, tidak Mas. Namaku. “Aku mau jawab pertanyaanmu tadi. Jujur. Boleh?”

Aku mengangguk.

“Aku di sini,” katanya pelan, “karena kamu satu-satunya orang yang nggak lihat aku kayak barang pajangan.”

Angin bertiup. Bunga flamboyan gugur di sekitar kami.

“Dari kecil,” lanjutnya, “orang lihat aku kayak lihat etalase. Wajahku. Rambutku. Nama keluargaku. Mereka lihat apa yang ada di kaca, terus mereka mau beli, atau mereka iri, atau mereka mau foto buat diunggah. Nggak ada yang nanya isinya apa.” Ia menunduk, menatap tangannya sendiri. “Kamu numpahin… maksudku, aku numpahin kopi ke sepatumu, dan kamu lihat aku kayak lihat orang yang numpahin kopi. Udah. Itu aja. Bukan Clara Kusumadewi. Cuma orang ceroboh yang kesandung paving.”

“Mbak memang kesandung paving.”

Ia tertawa. Tawanya pecah, basah, seperti tawa yang bercampur dengan sesuatu yang lain. “Iya. Iya, aku memang kesandung paving.”

“Pavingnya sudah saya laporkan dua kali.”

“Aku tahu, kamu udah bilang.” Ia mengusap sudut matanya dengan ujung jari. “Dan aku di sini, Saka, karena di bangku ini aku cuma orang yang kesandung paving. Aku nggak perlu jadi apa-apa. Aku bisa ngomong pakai logat Medan dan kamu cuma bilang bagus, akurasinya naik. Aku bisa salah dan kamu nggak ngeliatin. Aku bisa diam dan kamu nggak nanya kenapa.” Ia menarik napas. “Unggahan itu jahat. Komentarnya jahat. Tapi kalau aku berhenti datang ke sini karena itu, berarti aku milih jadi barang pajangan lagi. Aku nggak mau.”

Aku tidak tahu harus berkata apa.

Aku pandai mencari bug di seribu baris kode. Aku pandai menghitung retakan di kaki bangku. Aku tidak pandai dengan ini. Dengan orang yang duduk di sebelahku dan mengatakan hal-hal yang membuat dadaku terasa seperti laptop yang menjalankan terlalu banyak proses sekaligus.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang terpikirkan.

Aku membuka kotak bekal biru. Isinya tinggal setengah: nasi putih dan setengah telur ceplok, bagian dengan pinggiran paling garing, yang selalu kusisakan untuk terakhir. Aku memotongnya dengan sendok, lebih rapi dari yang perlu, dan menyodorkan kotak itu ke arahnya.

Clara menatap telur itu. Lalu menatapku.

“Ini apa?”

“Setengah telur.”

“Kenapa?”

“Mbak belum makan,” kataku. “Dari tadi Mbak cuma minum es teh. Suara Mbak serak dari kalimat ke-60. Kalau rekaman jam sepuluh terus Mbak belum sarapan, biasanya suara Mbak serak di kalimat ke-60.”

Ia menatapku seperti aku baru saja mengucapkan sesuatu dalam bahasa yang tidak ia mengerti.

Lalu ia mengambil sendok dari tanganku, menyendok setengah telur itu, dan memakannya.

Ia mengunyah pelan. Matanya berkaca-kaca. Ia menelan, lalu tertawa lagi, dan kali ini tawanya benar-benar bercampur tangis.

“Ini enak banget,” katanya.

“Itu telur biasa. Dua puluh delapan ribu sekilo.”

“Pinggirnya garing.”

“Adik saya suka yang garing.”

“Aku juga suka.” Ia menyendok nasi yang tersisa, memakannya juga, lalu mengembalikan kotak bekal yang sekarang kosong. “Aku suka, Saka.”

Aku tidak yakin ia sedang membicarakan telur. Aku tidak menanyakannya. Aku menutup kotak bekal. Klik.


Clara pulang pukul sebelas lewat dua puluh, lebih lama dari biasanya. Ia tersenyum ketika pergi. Itu senyum yang kedua belas dari lima belas, kalau aku menghitungnya.

Aku tetap di bangku sampai pukul satu, menyelesaikan modul getar Lizz 10. Ketika berdiri untuk ke kelas Kecerdasan Buatan, mataku menangkap sesuatu berkilat di rumput, di antara bangku beton dan bangku kayu. Di tempat Clara melangkah ketika berpindah duduk tadi.

Jepit bunga liar.

Aku memungutnya. Lima kelopak. Logam kusam. Goresan halus di kelopak kiri bawah. Pengaitnya agak longgar, mungkin karena terlalu sering dibuka-tutup. Pantas jatuh.

Aku memutarnya di antara jari. Ringan sekali. Mungkin harganya tidak sampai sepuluh ribu waktu baru. Tapi Clara memakainya setiap hari, setiap hari selama tiga minggu aku menghitung, bersama tas yang harganya mungkin sama dengan uang sekolah Kanya dan Kinan setahun.

Barang yang tidak cocok. Bug kecil di dalam sistem yang rapi.

Pasti ada ceritanya.

Aku membuka ponsel untuk mengirim pesan. Lalu aku sadar aku tidak punya nomor Clara. Tiga minggu ia duduk lima meter dariku, dan aku tidak pernah memintanya. Ucup akan memukul kepalaku dengan ransel kalau tahu.

Besok, pikirku. Besok kukembalikan.

Aku memasukkan jepit itu ke dalam kotak bekal biru, di sudut, supaya tidak hilang. Lalu memasukkan kotak bekal ke ransel.


Besoknya, Clara tidak datang. Ucup bilang ada acara keluarga, ia membaca dari Instagram Clara. Aku tidak bertanya bagaimana Ucup bisa tahu. Ucup mengikuti Instagram Clara sejak tahun pertama, seperti setengah laki-laki di kampus ini.

Lusanya, Clara datang pukul 10.01, tersenyum, dan langsung bercerita soal sepupunya yang menikah dengan pesta seribu tamu dan katering yang terlambat dua jam. Ia bercerita dengan tangan bergerak-gerak, dengan logat tante-tante yang ia tirukan, dan Ucup tertawa sampai menumpahkan air mineral ke celananya sendiri.

Aku mendengarkan. Aku tertawa sedikit, kira-kira tiga milimeter.

Jepit itu masih di kotak bekalku. Ketika Clara pulang, aku baru ingat.

Besok, pikirku.

Besoknya, Ucup datang membawa kabar bahwa jadwal final Tech Cup dimajukan satu minggu, dan kami panik sampai malam. Besoknya lagi, Clara datang dengan jepit rambut lain, jepit hitam polos biasa, dan aku memperhatikan bahwa ia beberapa kali menyentuh rambut di sisi kirinya, tempat jepit bunga liar biasa berada, seperti orang yang meraba saku untuk dompet yang tidak ada.

Aku seharusnya mengembalikannya hari itu.

Aku membuka mulut. Aku menatap jepit hitam polos itu. Aku menutup mulut lagi.

Aku tidak tahu kenapa.

Malam itu, setelah Kanya dan Kinan tidur, aku mengeluarkan jepit bunga liar dari kotak bekal dan memeriksanya di bawah lampu neon yang berkedip. Pengaitnya longgar. Pantas jatuh. Kalau dikembalikan begini, akan jatuh lagi.

Aku mengambil tang kecil dari kotak perkakas Bapak. Pelan-pelan, hati-hati, seperti menyolder komponen di papan sirkuit, aku mengencangkan pengaitnya setengah milimeter. Lalu aku membersihkan logamnya dengan kain dan sedikit odol, cara yang dulu dipakai Ibu untuk membersihkan cincin kawinnya. Kusamnya berkurang. Goresannya tetap ada. Goresan memang tidak bisa dihapus.

Aku memasukkan jepit itu ke dalam kotak bekal lagi.

Besok, pikirku.

Aku mengatakannya tiga kali dalam hati, supaya yakin.