Chapter Fourteen
Sembilan Kuburan
POV: Saka
Di dinding kontrakan, di sebelah kalender dari toko bangunan, ada papan tulis putih bekas yang kubeli di loakan seharga tiga puluh lima ribu.
Ucup menyebutnya Taman Pemakaman Umum.
Setiap kali sebuah aplikasi kami mati, Ucup menulis namanya di papan itu dengan spidol hitam, menggambar nisan kecil di sebelahnya, dan menulis epitaf di bawahnya. Lalu kami berdiri di depan papan itu selama satu menit, dalam diam, sebelum Ucup menyalakan kompor dan merebus mi instan untuk “acara tahlilan”.
Sudah dua tahun sejak wisuda. Papan itu sekarang penuh.
1. PARKIRIN — Aplikasi pemesanan tempat parkir.
Wafat: Bulan ke-4.
Epitaf: “Kalah cepat sama tukang parkir yang muncul dari udara kosong.”
Kami membangunnya dalam tiga bulan, malam hari setelah kerja. Pengguna bisa memesan slot parkir di gedung-gedung perkantoran sebelum tiba. Masalahnya, gedung-gedung itu tidak mau bekerja sama, dan di jalan-jalan yang tidak punya gedung, tukang parkir liar sudah menguasai semuanya. Mereka tidak butuh aplikasi. Mereka butuh peluit.
Tujuh puluh tiga pengguna. Empat transaksi. Satu di antaranya Ucup sendiri, mengetes.
2. LAUNDRIN — Antar-jemput laundry kiloan.
Wafat: Bulan ke-7.
Epitaf: “Ibu-ibu lebih percaya sama Mbak Laundry depan gang.”
3. KOSKITA — Pencarian kos untuk mahasiswa.
Wafat: Bulan ke-9.
Epitaf: “Dibunuh oleh grup Facebook yang isinya foto kamar miring semua.”
4. TUKANG.IN — Pesan tukang bangunan, tukang ledeng, tukang listrik lewat aplikasi.
Wafat: Bulan ke-12.
Epitaf: “Datang terlalu cepat. Dunia belum siap percaya tukang yang datang dari layar.”
Yang ini paling lama. Yang ini paling sakit. Kami punya delapan ratus pengguna, seratus dua puluh tukang terdaftar, dan sistem penilaian yang kurancang tiga minggu tanpa tidur. Tapi orang-orang belum terbiasa memasukkan orang asing ke rumah mereka hanya karena ada bintang lima di layar. Dan tukang-tukang lebih suka dibayar tunai, hari itu juga, tanpa potongan.
Ucup menangis waktu menulis epitafnya. Aku tidak menangis. Aku memotret papan itu dan menyimpan fotonya di folder bernama Nanti.
Ucup bertanya kenapa namanya Nanti.
“Idenya nggak salah,” kataku. “Waktunya yang salah.”
5. RESEPMAKNYAK — Aplikasi resep masakan rumahan dengan video.
Wafat: Bulan ke-14.
Epitaf: “Kalah sama emak-emak yang upload video masak gratis sambil marahin anaknya.”
6. ARISAN.KITA — Arisan digital.
Wafat: Bulan ke-16.
Epitaf: “Ternyata orang ikut arisan bukan buat uangnya. Buat gosipnya.”
7. TITIPIN — Jasa titip barang dari luar kota.
Wafat: Bulan ke-18.
Epitaf: “Ucup titip oleh-oleh Bandung, kurirnya kabur bawa keripik.”
8. LESPRIVATKU — Cari guru les privat.
Wafat: Bulan ke-20.
Epitaf: “Guru-gurunya sibuk. Murid-muridnya sibuk main game.”
9. ANTRE.IN — Antrean digital untuk puskesmas.
Wafat: Bulan ke-23.
Epitaf: “Puskesmasnya nggak punya Wi-Fi.”
Sembilan nisan. Sembilan epitaf. Sembilan kali Ucup menangis, dan sembilan kali aku memotret papan itu dan menyimpannya di folder Nanti.
“Ka,” kata Ucup pada malam kesembilan, setelah tahlilan mi instan untuk Antre.in. Ia duduk bersila di tikar, memeluk lututnya, menatap papan tulis yang sudah penuh dari atas sampai bawah. “Menurutmu kita harus berhenti?”
Aku tidak langsung menjawab.
Dua tahun. Dua puluh tiga bulan. Setiap malam setelah kerja, setiap akhir pekan, setiap libur nasional. Ucup kerja di bagian IT sebuah bank di Sudirman. Aku kerja di perusahaan perangkat lunak di Kuningan. Gaji kami habis untuk server, domain, iklan yang tidak pernah menghasilkan, dan mi instan.
Sisa tabungan Tech Cup sudah dipakai untuk uang pangkal Kinan, yang ternyata masuk FKG lewat jalur prestasi dan cuma perlu membayar sepertiga dari yang kuhitung. Sisanya kumasukkan ke tabungan darurat. Tidak boleh disentuh.
“Kamu mau berhenti?” tanyaku.
Ucup diam lama. “Nggak tahu. Kadang aku mikir, mungkin kita bukan orang yang ditakdirin bikin startup. Mungkin kita ditakdirin jadi karyawan yang baik. Gaji tetap. BPJS. Cuti dua belas hari setahun.” Ia mengelap kacamatanya. “Ibuku udah nanya tiga kali minggu ini, kapan aku nikah. Aku bilang, Bu, aku nikah sama server.”
“Ibumu bilang apa?”
“Ibuku bilang server nggak bisa ngasih cucu.” Ucup memakai kacamatanya lagi. “Terus Ibu nawarin warung lagi. Etalasenya masih ada, katanya.”
Aku menatap papan tulis. Sembilan nama. Sembilan nisan yang digambar Ucup dengan tangan gemetar. Sembilan kali gagal.
“Cup,” kataku. “Kamu tahu bedanya Lizz 10 sama sembilan aplikasi ini?”
Ucup menggeleng.
“Lizz 10 kita bikin buat Pak Darto. Kita kenal orangnya. Kita tahu masalahnya, karena kita lihat sendiri tiap Jumat.” Aku berdiri dan berjalan ke papan tulis. “Sembilan aplikasi ini kita bikin buat… siapa? Orang yang nggak dapat parkir. Orang yang males nyuci. Orang yang cari kos. Kita nggak kenal mereka. Kita cuma bayangin mereka.”
“Jadi?”
“Jadi aplikasi kesepuluh harus buat orang yang kita kenal.” Aku mengambil spidol hitam. “Masalah yang kita lihat sendiri. Tiap hari.”
Ucup menatapku. “Kayak apa?”
“Belum tahu.”
“Ka…”
“Belum tahu, Cup. Tapi bukan berhenti.” Aku menghapus sudut kanan bawah papan tulis, satu-satunya ruang kosong yang tersisa. “Sebanyak yang dibutuhkan.”
Ucup menatapku lama. Lalu ia tertawa. Tawanya pecah, basah, seperti tawa orang yang baru selamat dari tenggelam. “Kamu tuh, Ka. Kamu tuh kayak kecoak. Dibanting sembilan kali, masih jalan.”
“Kecoak itu efisien.”
“Itu bukan pujian!”
Di kantor, aku dikenal sebagai “yang nggak pernah makan siang di luar”.
Perusahaan perangkat lunak tempatku bekerja membangun sistem untuk bank, asuransi, dan perusahaan ritel. Kantornya di lantai dua belas sebuah gedung di Kuningan, dengan pantry yang punya mesin kopi gratis dan kulkas penuh minuman ringan. Aku tidak menyentuh mesin kopinya. Aku membawa termos teh dari rumah dan kotak bekal biru.
Rekan-rekanku menganggapku aneh. Mereka makan siang di mal sebelah, memesan kopi tiga puluh lima ribu, membicarakan gaji dan mobil dan liburan ke Bali. Aku makan nasi telur di meja kerjaku sambil membaca dokumentasi sistem.
Tidak ada yang mengganggu. Itu sebabnya aku menyukainya.
Sampai malam di bulan kedelapan, ketika sistem pembayaran milik klien terbesar kami, sebuah jaringan ritel dengan empat ratus cabang, mati pukul sebelas malam di hari gajian.
Telepon berdering di seluruh lantai dua belas. Manajer proyek, Pak Hendra, berlari dari ruang rapat dengan wajah pucat. Tim senior, enam orang dengan pengalaman total lebih dari lima puluh tahun, berkumpul di depan layar besar di ruang server. Aku masih di mejaku, karena aku memang selalu pulang paling akhir, karena listrik kantor gratis dan listrik kontrakan tidak.
Pukul dua belas, tim senior belum menemukan apa pun. Transaksi di empat ratus cabang gagal. Ribuan orang berdiri di depan kasir dengan belanjaan yang tidak bisa dibayar.
Pukul satu, salah satu senior melempar mouse ke meja. Seorang lagi menelepon istrinya dan bilang ia tidak akan pulang. Pak Hendra berbicara di telepon dengan direktur klien, suaranya bergetar.
Pukul satu lewat dua puluh, aku berjalan ke ruang server dan berdiri di belakang mereka, membaca log yang bergulir di layar besar.
Tidak ada yang menoleh. Aku karyawan baru. Delapan bulan. Junior.
Aku membaca lima menit. Lalu aku melihatnya. Satu baris yang tidak cocok. Bug kecil di antara seribu baris log yang benar.
“Pak Hendra,” kataku.
Pak Hendra tidak menoleh. “Nanti, Saka.”
“Pak, transaksinya gagal bukan karena servernya. Dua permintaan pembayaran masuk di milidetik yang sama, dari kasir yang sama, karena mesin EDC-nya kirim ulang otomatis kalau nggak dapat respons dalam tiga detik. Sistemnya kunci saldo dua kali. Kunci kedua nunggu kunci pertama lepas, kunci pertama nunggu kunci kedua selesai. Saling tunggu. Macet.”
Ruang server hening.
Salah satu senior, Pak Teguh, yang rambutnya sudah putih semua, berbalik dan menatapku. “Race condition?”
“Iya, Pak. Hari gajian, transaksi tiga kali lebih banyak, respons lebih lambat dari tiga detik, mesin EDC kirim ulang, kuncinya bentrok.” Aku menunjuk baris di layar. “Di sini. Dan di sini. Dan di sini. Polanya sama.”
Pak Teguh membaca baris yang kutunjuk. Lama. Lalu ia melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidung, gerakan yang membuatku teringat pada Pak Budiman.
“Bisa kamu perbaiki?” tanyanya.
“Bisa, Pak.”
“Berapa lama?”
Aku berpikir. “Dua jam. Tiga, kalau termasuk tes.”
Pukul empat lewat sepuluh, sistem pembayaran empat ratus cabang kembali hidup. Pak Hendra memeluk Pak Teguh. Pak Teguh menepuk punggungku empat kali tanpa berkata apa-apa.
Pukul empat lewat lima belas, aku mematikan laptop, berjalan ke parkiran motor, dan pulang ke kontrakan. Lima menit yang menjadi milikku sudah lewat, jadi aku langsung memecahkan telur ke wajan.
Tiga butir. Minyak secukupnya. Api sedang.
Seminggu kemudian, Pak Hendra memanggilku ke ruangannya dan menawarkan kenaikan jabatan. Senior Engineer, dua tingkat di atas posisiku, dengan gaji hampir dua kali lipat.
Aku menerimanya. Gaji dua kali lipat berarti server untuk aplikasi kesepuluh tidak perlu dibayar dari tabungan darurat.
“Satu hal lagi, Saka,” kata Pak Hendra, ketika aku sudah berdiri di depan pintu. “Pak Teguh minta saya sampaikan sesuatu.”
“Iya, Pak?”
“Dia bilang, anak itu jangan sampai lama di sini. Sayang.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya mengangguk dan kembali ke mejaku, ke kotak bekal biru dan dokumentasi sistem yang belum selesai kubaca.
Kinan masuk FKG di bulan yang sama ketika Arisan.Kita dimakamkan.
Ia lulus SMA dengan nilai tertinggi di sekolahnya, mengikuti seleksi jalur prestasi, dan diterima di kampus negeri yang ia incar sejak kelas empat SD. Ketika pengumumannya keluar, ia duduk di depan laptop di tikar kontrakan, membaca layar selama satu menit penuh tanpa berkedip, lalu menutup laptop dan berkata:
“Kak. Aku diterima.”
Datar. Tanpa ekspresi. Seperti mengumumkan cuaca.
Lalu ia menangis selama empat puluh menit, dan Kanya menangis bersamanya, dan aku duduk di antara mereka berdua di atas tikar pandan, satu tangan di bahu masing-masing, sampai adzan isya.
Kanya tidak mau kuliah.
“Aku mau jualan, Kak,” katanya, keras kepala seperti biasa. “Nasi kotak. Katering. Aku udah coba bikin buat arisan tetangga, laku semua. Tiga puluh kotak, satu jam habis. Aku mau jadi pengusaha, bukan sarjana.”
“Kuliah dulu.”
“Kak!”
“Kuliah dulu, sambil jualan. Kalau dua-duanya jalan, bagus. Kalau jualannya jalan dan kuliahnya nggak, kamu berhenti kuliah. Kalau kuliahnya jalan dan jualannya nggak, kamu berhenti jualan.” Aku mengambil spidol hitam Ucup dan menggambar tabel di sudut papan tulis yang masih kosong. “Kita lihat datanya.”
Kanya menatap tabel itu. Lalu menatapku. “Kakak tuh, ya. Mau ngomong sama adik sendiri aja pakai tabel.”
“Tabel itu jelas.”
“Tabel itu dingin, Kak.”
Tapi ia masuk D3 Perhotelan di politeknik dekat rumah, sambil jualan nasi kotak. Ia memberi nama usahanya Dapur Kanya. Logonya ia gambar sendiri: panci dengan mata dan senyum yang terlalu lebar.
Bulan pertama, Dapur Kanya menjual dua ratus kotak. Bulan ketiga, lima ratus. Bulan keenam, Kanya menyewa satu orang tetangga untuk membantu memotong sayur.
Ucup mencatat angka-angka itu di papan tulis, di bawah tabelku, dengan tulisan besar dan tanda seru: DAPUR KANYA: BELUM DIMAKAMKAN!!!
Ada satu hal yang tidak berubah sejak wisuda.
Kanya tidak pernah menyebut nama Clara.
Tidak sekali pun dalam dua tahun. Kalau Ucup tidak sengaja menyebutnya, misalnya ketika ia melihat iklan Kusuma Mart di televisi dan berkata eh, itu kan perusahaan keluarganya Clara, Kanya langsung berdiri dan pergi ke dapur, membanting panci dengan keras, dan tidak kembali sampai topiknya berganti.
Ucup belajar untuk tidak menyebutnya.
Suatu malam, setelah Ucup pulang, Kanya duduk di sebelahku di tikar. Aku sedang membaca dokumentasi sistem. Ia memeluk lututnya dan menatap layar laptopku tanpa membacanya.
“Kak,” katanya.
“Hm.”
“Kakak masih…” Ia berhenti. Menggigit bibir. Kebiasaan yang sama dengan orang lain yang dulu kuhitung empat belas kali. Aku tidak tahu sejak kapan Kanya melakukannya.
“Masih apa?”
Kanya menatapku lama. Lalu ia menggeleng.
“Nggak jadi.”
Ia berdiri dan masuk ke kamar. Pintunya ditutup pelan, tidak dibanting.
Aku menatap pintu itu lama. Lalu aku menatap rak di atas kompor, di ujung lorong. Kaleng permen bekas peninggalan Ibu. Kancing-kancing. Kertas kado kuning yang tidak pernah dibuka lipatannya.
Aku tidak berdiri untuk mengambilnya. Aku kembali ke dokumentasi sistem.
Sudah benar.
Pukul dua belas malam, di bulan kedua puluh empat, Ucup meneleponku.
“Ka.” Suaranya aneh. Tidak panik. Tidak senang. Seperti orang yang baru melihat sesuatu dan belum yakin apa yang ia lihat. “Kamu tahu adikmu baca novel di mana?”
“Kanya?”
“Kanya. Aku lagi di kontrakanmu tadi sore, nunggu kamu pulang. Kanya lagi baca di HP, nangis-nangis. Aku tanya baca apa. Dia bilang novel. Soal putri yang dinikahkan kontrak sama CEO galak, terus CEO-nya ternyata pangeran yang menyamar. Aku tanya dari mana. Dia bilang dari file PDF yang disebar di grup WhatsApp. Bajakan.”
“Terus?”
“Terus aku tanya, kenapa nggak beli bukunya? Dia bilang bukunya nggak ada. Novelnya cuma ditulis di blog, terus ada yang ngumpulin jadi PDF, terus disebar. Penulisnya nggak dapat apa-apa.” Ucup berhenti sebentar. “Ka, Kanya bilang dia rela bayar. Dua ribu, tiga ribu per bab. Dia bilang kalau ada cara buat bayar langsung ke penulisnya, dia mau bayar. Teman-temannya juga.”
Aku diam.
“Ka? Kamu masih di situ?”
Aku menatap papan tulis di dinding. Sembilan nisan. Sembilan epitaf. Tabel Kanya di sudut kanan bawah.
Dan satu kalimat dari bangku beton, empat tahun lalu, yang tiba-tiba muncul di kepala seperti baris log yang lewat:
Aplikasi kesepuluh harus buat orang yang kita kenal. Masalah yang kita lihat sendiri.
“Cup,” kataku. “Besok malam. Warung kopi dekat stasiun.”
“Kenapa?”
Aku mengambil spidol hitam. Di papan tulis yang sudah penuh, aku tidak menemukan ruang kosong. Jadi aku menulis di dinding, tepat di bawah papan tulis, di cat kontrakan yang sudah mengelupas:
10.
“Aku nggak tahu,” kataku ke telepon. “Tapi kayaknya aku udah ketemu.”
- 1 Laki-Laki yang Tidak Menoleh
- 2 Kotak Bekal Biru
- 3 Mata yang Hidup
- 4 Ucup dan Lizz 10
- 5 Wawancara Tanpa Izin
- 6 Kenapa Kamu di Sini
- 7 Tech Cup
- 8 Telur Ceplok yang Gosong
- 9 Pacar Paling Hemat Sedunia
- 10 Makan Malam Keluarga Kusumadewi
- 11 Sekufu
- 12 Pulang, Clara
- 13 Wisuda Tanpa Foto Berdua
- 14 Sembilan Kuburan reading
- 15 Sudut Taman
- 16 Aplikasi Kesepuluh
- 17 Koin Pertama
- 18 Dua Ratus Juta Sehari
- 19 Lima Ratus Juta
- 20 Gala Malam Itu
- 21 Apa Kabar, Clara
- 22 Malu Tapi Jalan
- 23 Proposal Investasi Hati
- 24 Satpam Bernama Kanya
- 25 Keluarga yang Malu
- 26 Bekal untuk Founder
- 27 Investor Bernama Nadia
- 28 Pilihan Papa
- 29 Pembaca Jam Dua Pagi
- 30 Bab yang Tidak Ditulis
- 31 Pulang, Clara (Bagian Dua)
- 32 Yang Melepas Duluan
- 33 Arti Sebuah Nama
- 34 Pacar Founder Paling Agresif
- 35 Rumor
- 36 Tidak Goyah
- 37 Kuburan yang Bangkit
- 38 Kursi yang Kosong
- 39 Papa Datang ke Bangku Taman
- 40 Menantu yang Dulu Dihina
- 41 Lizz
- 42 Pulang ke Aku
- 43 WO Paling Galak se-Jabodetabek
- 44 Akad
- 45 Jam Dua Pagi
- 46 Pria yang Ia Pilih
- 47 Epilog — Sudut Taman