← Pria yang Ia Pilih

Chapter Eleven

Sekufu

POV: Clara

Kata itu pertama kali kudengar di arisan Mama, dari mulut Tante Wulan, sambil menyendok puding mangga.

“Yang penting sekufu, Rat,” kata Tante Wulan. Ia tidak sedang bicara padaku. Ia sedang bicara pada Mama, di ruang tamu rumah kami yang sore itu dipenuhi dua belas perempuan berkebaya modern dan aroma parfum yang bercampur seperti toko kosmetik. “Anakku si Dinda kemarin ngotot mau sama anak band. Anak band, Rat. Aku bilang, Dinda, cinta itu nggak bisa bayar listrik. Cari yang sekufu. Yang setara. Biar nanti nggak ada yang merasa di atas, nggak ada yang merasa di bawah.”

Tante-tante lain mengangguk. Seseorang berkata betul itu. Seseorang lain berkata zaman sekarang anak-anak gampang kena pelet.

Aku duduk di ujung sofa, memegang piring kecil berisi kue lapis yang tidak kumakan.

“Clara gimana, Rat?” tanya Tante Wulan tiba-tiba, menoleh ke arahku dengan senyum lebar yang tidak sampai ke mata. “Udah ada calon? Cantik begini pasti antre, ya?”

Mama melirikku. Hanya sepersekian detik, tapi aku melihatnya.

“Clara masih fokus kuliah,” kata Mama. “Skripsi.”

“Ah, masa. Aku denger dari Sherly, anaknya Jeng Rina, katanya Clara lagi dekat sama anak… anak apa, Rat? Anak IT?” Tante Wulan menyendok puding lagi. “Yang menang lomba itu, ya? Masuk berita. Hebat, katanya. Tapi…” Ia merendahkan suara, seolah akan membocorkan rahasia negara, meskipun semua orang di ruangan bisa mendengarnya. “Katanya yatim piatu, ya? Ngontrak? Punya adik dua, masih sekolah semua?”

Ruang tamu hening. Dua belas pasang mata menoleh ke arahku.

Aku menunggu Mama mengatakan sesuatu. Mama selalu tahu cara mengakhiri percakapan arisan yang tidak enak, dengan menawarkan teh atau tiba-tiba ingat cerita lucu tentang kucing tetangga.

Mama tidak mengatakan apa-apa. Mama menatap cangkir tehnya.

“Kasihan, ya,” kata seseorang. “Anaknya pasti baik.”

“Baik sih baik,” kata Tante Wulan. “Tapi ya itu, Rat. Sekufu. Nanti Clara capek sendiri. Anak kita ini kan dari kecil biasa hidup enak. Nanti disuruh naik motor tiap hari, masak sendiri, nyuci sendiri. Kasihan kulitnya.” Ia tertawa. Beberapa ikut tertawa. “Cinta itu indah di umur dua puluh, Clara. Di umur tiga puluh, cinta itu tagihan.”

Aku tersenyum. Aku selalu tersenyum. Aku Clara Kusumadewi, aku tersenyum, aku mengangguk, aku sopan.

Lalu aku berkata, “Permisi, Tante. Aku mau ke kamar mandi.”

Aku tidak ke kamar mandi. Aku ke taman belakang, duduk di bangku batu di samping kolam ikan koi, dan menatap air selama dua puluh menit sampai suara arisan berubah menjadi suara orang pamit.


Sekufu.

Kata itu menempel di kepalaku seperti lagu iklan yang tidak bisa dihapus. Aku mencarinya di internet malam itu. Asal katanya dari bahasa Arab, kufu, artinya setara. Sepadan. Seimbang. Dalam pernikahan, katanya, sekufu itu penting supaya tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah.

Aku membaca semuanya. Lalu aku memikirkan Saka.

Saka yang menghitung harga telur sampai ke ratusan. Saka yang memperbaiki bangku kampus dengan sandal jepitnya sendiri. Saka yang memperbaiki aplikasi di depan dua ribu orang dalam delapan puluh tujuh detik. Saka yang membaca struk belanja dan menemukan masalah yang dibayar mahal oleh perusahaan Papa untuk dicari konsultan.

Kalau sekufu itu artinya setara, aku tidak yakin siapa yang di bawah.

Tapi aku juga tahu bukan itu yang dimaksud Tante Wulan. Tante Wulan tidak bicara soal kepala. Tante Wulan bicara soal rumah di Menteng, mobil dengan sopir, kartu kredit tanpa batas yang Papa berikan waktu aku tujuh belas tahun. Tante Wulan bicara soal pagar dua meter dan satpam yang menghitung harga motor dari ban depan sampai lampu belakang.

Dan di situ, aku tahu, Saka dan aku memang tidak setara.

Aku memikirkannya sampai pukul dua pagi. Aku tidak menemukan jawabannya. Aku hanya menemukan bahwa aku takut.


Papa memanggilku ke ruang kerjanya dua minggu kemudian.

Ruang kerja Papa ada di lantai dua, di ujung lorong, dengan pintu kayu jati tebal yang selalu tertutup. Waktu kecil, aku dan Bram menyebutnya “Ruang Rahasia” dan menantang satu sama lain untuk mengetuk pintunya. Bram selalu kalah. Aku tidak pernah berani mengetuk.

Malam itu, pintunya terbuka.

Papa duduk di balik meja besar dengan lampu baca hijau, seperti di film-film tentang bankir zaman dulu. Di depannya ada dua map. Satu biru, satu putih.

“Duduk, Clara.”

Aku duduk.

Papa menggeser map biru ke arahku. “Surat penerimaan Management Trainee. Divisi Retail. Mulai September. Tanda tangan sebelum akhir Juni.”

Aku membuka map itu. Kop surat Kusumadewi Group. Namaku diketik dengan huruf tebal. Gaji pokok, tunjangan, jalur karier dua tahun yang akan membawaku ke posisi Brand Manager kalau semuanya lancar.

“Makasih, Pa.”

Papa menggeser map putih. “Ini program beasiswa yayasan keluarga. S2 di London, setelah MT selesai. Kalau kamu mau.”

Aku membuka map putih. Universitas yang namanya sering muncul di peringkat dunia. Jurusan Manajemen Ritel Internasional. Semua biaya ditanggung.

“Papa nggak memaksa yang S2,” kata Papa. “Tapi pilihan itu ada.”

“Iya, Pa.”

Lalu Papa diam. Ia melepas kacamata bacanya, melipatnya, meletakkannya di atas meja dengan sangat rapi, sejajar dengan pinggir map biru. Gerakan itu, aku sudah melihatnya ribuan kali, selalu mendahului sesuatu yang penting.

“Clara.”

“Iya, Pa.”

“Saka itu anak yang cerdas.”

Aku tidak menduga kalimat itu. Aku menatap Papa, dan Papa menatapku, dan untuk sesaat aku pikir, mungkin, mungkin…

“Sangat cerdas,” lanjut Papa. “Papa sudah suruh orang cek. Nilai kuliahnya, prestasinya, pekerjaannya. Rak sayur kosong di Kusuma Mart cabang stasiun, yang dia sebut waktu makan malam, sudah Papa suruh perbaiki. Jadwal pengisian ulangnya diubah. Penjualan sayur malam di cabang itu naik dua puluh tiga persen dalam dua minggu.”

Dadaku mengembang. Aku ingin menelepon Saka sekarang juga. Aku ingin bilang Papa pakai idemu, Papa bilang kamu cerdas.

“Tapi,” kata Papa.

Dadaku berhenti mengembang.

“Cerdas saja tidak cukup, Clara. Kamu tahu berapa banyak orang cerdas yang Papa kenal, yang gagal? Yang berakhir pahit? Yang menyeret orang-orang yang mereka cintai ke dalam kepahitan itu?” Papa tidak menaikkan suara. Papa tidak pernah menaikkan suara. “Dia punya dua adik yang harus dibiayai. Dia mau bikin perusahaan sendiri, katanya bisa gagal berkali-kali. Berkali-kali, Clara. Itu artinya bertahun-tahun hidup tidak pasti. Bertahun-tahun kamu menunggu, kamu menyesuaikan diri, kamu menurunkan apa yang selama ini kamu anggap biasa.”

“Aku nggak keberatan, Pa.”

“Sekarang kamu nggak keberatan.” Papa menatapku. Matanya tidak marah. Matanya lelah. Seperti mata orang yang sedang membaca laporan dengan angka yang sudah ia duga. “Kamu dua puluh satu tahun. Di umur dua puluh satu, semua orang nggak keberatan. Keberatannya datang belakangan. Di umur tiga puluh. Empat puluh. Ketika semuanya sudah terlambat untuk diubah, dan yang tersisa cuma rasa malu yang nggak bisa kamu ceritakan ke siapa-siapa.”

Ada sesuatu di cara Papa mengucapkan rasa malu. Pelan. Berat. Seperti kata itu punya bobot yang lebih dari sekadar kata.

Aku tidak mengerti. Aku hanya merasakan sesuatu yang dingin merambat dari ujung jari.

“Papa nggak minta kamu putus,” kata Papa. “Papa nggak berhak minta itu. Kamu sudah dewasa.” Ia memakai kacamatanya lagi. “Papa cuma minta kamu fokus. MT dua tahun. Itu dua tahun paling penting dalam kariermu. Setelah itu, kalau kamu dan dia masih… masih seperti sekarang, kita bicara lagi.”

“Dua tahun?”

“Dua tahun.”

“Pa, maksudnya aku nggak boleh ketemu dia selama dua tahun?”

“Papa nggak bilang begitu. Papa bilang fokus.” Papa menutup map putih. “Kamu tahu bedanya. Kamu anak Papa yang paling pintar.”

Aku tahu bedanya. Aku tahu persis bedanya. Fokus dalam bahasa Papa artinya jangan. Jangan yang dibungkus dengan pita yang sopan, supaya tidak ada yang bisa bilang Papa pernah melarang.

Aku membuka mulut.

Di kepalaku, kalimatnya sudah lengkap. Nggak, Pa. Aku nggak mau. Aku mau dia. Aku mau waktunya yang sedikit itu, dan aku mau sekarang, bukan dua tahun lagi.

Kalimatnya sudah lengkap. Aku hanya perlu mengeluarkannya, seperti Saka bilang. Seperti menekan tombol deploy.

Papa menatapku. Lampu baca hijau menyinari separuh wajahnya. Di belakangnya, di rak buku, ada foto keluarga kami waktu aku masih SD, kami berempat di depan menara Eiffel, semua tersenyum. Papa menggendongku di bahu.

Papa yang mengajariku naik sepeda. Papa yang menungguiku di rumah sakit tiga malam waktu aku tifus di kelas lima. Papa yang tidak pernah, sekali pun dalam dua puluh satu tahun, menaikkan suara kepadaku.

Kalimatnya sudah lengkap di kepala.

Aku tidak bisa mengeluarkannya.

“Iya, Pa,” kataku.

Papa mengangguk. Ia menggeser map biru sedikit lebih dekat ke arahku. “Tanda tangan sebelum akhir Juni.”

Aku mengambil kedua map itu dan keluar dari ruang kerja. Pintunya kututup pelan. Di lorong, aku berdiri lama di depan pintu kayu jati itu, memeluk dua map di dada, dan membenci diriku sendiri dengan cara yang belum pernah kurasakan sebelumnya.

Iya, Pa.

Dua kata. Seperti dua kata Saka di parkiran hujan. Aku suka. Diucapkan dengan seluruh kode yang ia punya.

Aku mengucapkan dua kataku dengan seluruh ketakutan yang aku punya.


Aku mulai lambat membalas chat Saka.

Tidak sengaja. Atau setengah sengaja. Aku membuka pesannya, membaca, lalu menatapnya lama tanpa tahu harus menjawab apa. Besok jam sepuluh? Aku ingin menjawab iya. Lalu aku memikirkan map biru di laci meja belajarku, dan jariku berhenti.

Saka tidak protes. Saka tidak pernah protes. Ia hanya mengirim pesan yang sama setiap malam, pukul sembilan lewat sedikit, setelah adik-adiknya tidur dan sebelum ia membuka laptop:

Saka: Besok jam sepuluh?

Kadang aku menjawab dalam lima menit. Kadang dalam satu jam. Kadang besok paginya.

Aku datang ke bangku beton, tapi tidak setiap hari lagi. Ketika aku datang, kami duduk bersebelahan seperti biasa. Ia mengetik skripsinya, aku membaca jurnal untuk skripsiku. Kotak bekal biru dengan dua telur di dalamnya. Kadang ia menyodorkan setengah telurnya meskipun aku sudah punya sendiri.

Ia tidak bertanya kenapa aku tidak datang setiap hari. Ia tidak bertanya kenapa balasanku lambat.

Tapi aku tahu ia menghitung. Ia selalu menghitung.


“Kamu kenapa?” tanya Tasya suatu malam, di kamarku, sambil memakan keripik kentang dari bungkus yang sudah hampir kosong. Ia berbaring tengkurap di kasurku, kakinya mengayun-ayun di udara seperti anak SD.

“Nggak apa-apa.”

“Clar. Kamu tadi ngomong nggak apa-apa pakai nada Saka. Datar. Kayak robot. Itu nada yang paling menyeramkan di dunia kalau keluar dari mulut kamu.”

Aku tertawa. Tawanya tidak sampai ke dada.

Tasya meletakkan bungkus keripik. Ia bangun, duduk bersila menghadapku, dan menatapku dengan mata yang biasanya hanya ia pakai ketika ia serius, yang terjadi kira-kira dua kali setahun.

“Papa kamu, ya?”

Aku tidak menjawab. Tasya sudah tahu. Tasya selalu tahu.

“Dia nyuruh kamu putus?”

“Nggak. Papa nggak pernah nyuruh.” Aku menatap langit-langit. “Papa cuma bilang fokus. MT dua tahun.”

“Itu sama aja.”

“Aku tahu.”

“Terus kamu bilang apa?”

“Iya, Pa.”

Tasya diam lama. Lalu ia menghela napas, panjang sekali, dan merebahkan diri di sebelahku, kepalanya di bahuku.

“Clar,” katanya pelan. “Kamu tahu nggak, dari SMA, kamu itu orang paling berani yang aku kenal. Kamu berani pakai jepit abang-abang SD ke pesta ulang tahun anak menteri. Kamu berani nolak Rio di depan seangkatan. Kamu berani duduk di bangku maut FMIPA tiga minggu buat cowok yang nggak noleh. Kamu berani numpahin kopi…”

“Itu nggak sengaja.”

“Kamu berani nggak sengaja.” Tasya menepuk-nepuk lenganku. “Tapi di depan Papa kamu, kamu jadi anak kelas satu SD yang takut nilai merah.”

Aku tidak menjawab. Mataku panas.

“Aku nggak nyalahin kamu,” kata Tasya. “Aku juga takut sama papaku. Semua anak takut sama papanya. Tapi Clar…” Ia berhenti. Ketika ia bicara lagi, suaranya sangat pelan. “Kalau kamu biarin ini berlarut-larut, yang paling capek bukan kamu. Yang paling capek dia. Dia nggak tahu apa-apa, dan dia nunggu tiap malam jam sembilan.”

Aku menutup wajah dengan bantal dan menangis tanpa suara sampai Tasya tertidur di sebelahku, keripik kentang berjatuhan ke seprai.


Pertengahan Juni, Papa mengadakan makan malam bisnis di sebuah restoran di hotel bintang lima milik keluarga Tanoto, mitra lama Kusumadewi Group. Seluruh keluarga diundang. Aku diminta memakai dress terbaik.

Di meja itu, aku diperkenalkan pada Reinhard Tanoto.

Ia dua tahun lebih tua dariku, baru lulus dari universitas di Melbourne, sekarang bekerja di perusahaan ayahnya. Wajahnya tampan dengan cara yang sopan, rambutnya rapi, senyumnya ramah. Ia menarikkan kursi untukku. Ia bertanya tentang skripsiku dan mendengarkan jawabanku dengan sungguh-sungguh. Ia tidak menatapku seperti etalase.

Ia baik. Itu yang paling menyakitkan. Ia benar-benar baik.

“Papa kamu banyak cerita soal kamu,” kata Reinhard, ketika orang tua kami sibuk membahas proyek ekspansi hotel di Labuan Bajo. “Katanya kamu mau masuk MT Retail?”

“Iya.”

“Bagus. Aku dulu juga MT di perusahaan Papa. Dua tahun paling capek dalam hidupku, tapi paling banyak belajar.” Ia tersenyum. “Kalau nanti butuh teman ngobrol soal MT, aku bisa bantu. Serius. Nggak ada maksud apa-apa.”

Aku tahu ia tidak bermaksud apa-apa. Aku bisa melihatnya di matanya. Reinhard Tanoto bukan Rio Hartanto. Ia tidak sedang berburu.

Tapi di seberang meja, Papa dan Om Tanoto saling melirik dan tersenyum. Dan Mama, di sebelahku, meremas tanganku di bawah meja dengan cara yang tidak bisa kuartikan: menenangkan, atau meminta maaf.

Di saku dress-ku, ponselku bergetar.

Bukan dua pendek satu panjang. Itu hanya untuk nama yang diucapkan. Ini getar biasa. Satu. Pesan masuk.

Aku tidak perlu melihatnya untuk tahu. Pukul sembilan lewat sedikit.

Saka: Besok jam sepuluh?

Aku tidak membuka pesannya. Aku membiarkan ponsel itu diam di saku, dan aku tersenyum pada Reinhard Tanoto yang baik hati, dan aku mengangguk ketika ia bercerita tentang Melbourne, dan aku tertawa di tempat-tempat yang tepat.

Aku Clara Kusumadewi. Aku tersenyum, aku mengangguk, aku sopan.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak Januari, aku tidak membalas pesan Saka sama sekali.


Pukul satu dini hari, aku duduk di lantai kamar mandi dengan ponsel di tangan.

Pesannya masih di sana. Besok jam sepuluh? Centang dua, belum biru. Aku belum membukanya. Kalau aku membukanya, ia akan tahu aku membacanya.

Aku membuka catatan Belanja bulanan. Aku menggulir ke atas, membaca semua yang sudah kutulis sejak Januari. Matanya hidup. Uang yang ditabung itu waktu yang dibeli. Kotak bekal dari ibunya, retak, masih bisa dipakai. Dia bilang suaraku gampang dikenali. Telur gosong, dia makan habis. Aku nggak punya banyak waktu, tapi yang ada aku mau kasih ke kamu.

Kamu bau stroberi. Aku suka.

Aku menggulir ke paling bawah dan mengetik satu baris baru:

Aku nggak bisa bilang nggak ke Papa.

Aku menatap kalimat itu lama.

Lalu aku menghapusnya, karena kalimat itu benar, dan aku tidak sanggup membaca sesuatu yang benar tentang diriku sendiri.

Aku membuka pesan Saka. Centang dua berubah biru. Aku mengetik.

Clara: Besok jam sepuluh. Ada yang mau aku omongin.

Aku mengirimnya sebelum bisa menghapusnya. Lalu aku mematikan ponsel, meletakkannya di lantai keramik yang dingin, dan memeluk lututku sampai subuh.

Aku tidak tahu apa yang mau kuomongin.

Aku hanya tahu bahwa map biru di laci meja belajarku harus ditandatangani dalam sebelas hari.