Chapter Nine
Dua Jam yang Tidak Kuceritakan pada Siapa Pun
Cedric Ashford tidak masuk kelas selama empat hari.
Ketika akhirnya dia kembali, kelas 1-C menyambutnya dengan keheningan canggung yang khas — jenis keheningan yang lebih menyakitkan daripada ejekan. Dia berjalan ke bangkunya di baris kedua, duduk, dan tidak menoleh ke kanan atau kiri sepanjang pelajaran.
Aku mengamatinya dari pojok belakang selama tiga hari berikutnya, dan yang kutemukan bukan yang kuharapkan.
Aku mengharapkan dendam. Rencana balasan. Bisik-bisik dengan empat pengekornya.
Yang terjadi: keempat pengekor itu perlahan menghilang dari sekelilingnya. Bangsawan lain berhenti menyapanya di koridor. Dan Cedric Ashford — putra Marquis, peringkat dua angkatan — mulai datang ke lapangan latihan setiap sore, sendirian, dan mengulang formula dasar [Crimson Edict] dari tingkat satu.
Tingkat satu. Formula yang diajarkan pada anak sepuluh tahun.
Aku mendengarkan dari jendela perpustakaan. Aba-abanya berubah. Yang dulu tiga ketuk, tarikan, dua ketuk — pola yang sudah kurekam sempurna — sekarang dia acak. Setiap hari berbeda. Kadang jelek, kadang kacau, tapi selalu berbeda.
Dia tidak tahu apa yang kulakukan padanya di arena.
Tapi instingnya tahu bahwa aba-abanya bisa dibaca.
Merepotkan, pikirku, dan untuk pertama kalinya ada sedikit — sedikit sekali — rasa hormat yang menyusup ke dalam rasa repot itu.
“Kamu memperhatikan Ashford.”
Elysia tidak mengangkat wajahnya dari bukunya saat mengatakan itu.
“Aku memperhatikan semua orang. Itu hobiku.”
“Kamu memperhatikan Ashford lebih lama.”
Aku menutup buku. “Dia berubah.”
“Hm.” Halaman dibalik. “Dia menemuiku kemarin.”
Aku berhenti bergerak. “Apa katanya?”
“Dia minta maaf.” Elysia akhirnya mengangkat wajahnya, dan ada kerutan tipis di antara alisnya — ekspresi bingung yang tidak sering muncul di wajah itu. “Bukan padaku. Dia bilang dia ingin minta maaf padamu tapi tidak tahu caranya tanpa terlihat seperti orang kalah yang merengek. Jadi dia menitipkannya padaku.”
“...Itu tetap terdengar seperti orang kalah yang merengek.”
“Dia juga bilang begitu.” Sudut bibirnya naik. “Lalu dia bertanya sesuatu yang aneh.”
“Apa?”
“Dia bertanya apakah kamu benar-benar Rank E.” Elysia menopang dagu. “Dan saat aku bilang itu yang tertulis di catatan akademi, dia menatapku lama sekali, lalu berkata: ‘Aku tidak bertanya apa yang tertulis, Frostheim.’”
Aku menghela napas panjang dan menyandarkan kepala ke sandaran kursi.
“Dia berbahaya.”
“Dia jujur,” koreksi Elysia. “Itu lebih berbahaya.”
Malam itu kami berlatih lebih lama dari biasanya.
Ujian praktik pertama tinggal sembilan hari, dan pengumuman resminya keluar sore itu: ujian akan dinilai per pasangan, dengan bobot Partner Sync sebagai komponen terbesar. Sync rata-rata angkatan saat itu 40%.
Sync kami 61%.
“Kita nomor satu di angkatan,” kata Elysia, membaca papan pengumuman dengan ekspresi datar sempurna sementara mananya, di telingaku, berdengung senang seperti anak kecil.
“Kamu bangga.”
“Aku tidak bangga.”
“Manamu bergetar.”
Dia menoleh cepat. “...Apa?”
Aku baru sadar apa yang kukatakan sekitar setengah detik terlalu lambat.
“Tidak ada.”
“Rein.” Dia melangkah mendekat, dan sekarang matanya menyipit — mata biru pucat yang saat menyipit seperti itu berubah dari indah menjadi tajam, dan aku mendadak paham kenapa tiga ratus murid takut padanya. “Kamu bisa mendengar manaku?”
“Semua orang bisa merasakan mana.”
“Merasakan. Bukan mendengar. Kamu bilang bergetar.”
“Itu kiasan.”
“Bukan.”
“Kiasan.”
Kami saling menatap di depan papan pengumuman selama waktu yang tidak sopan.
Lalu dia mundur selangkah, dan — ini bagian yang membuatku merasa lebih buruk daripada kalau dia memaksa — dia tersenyum tipis dan berkata:
“Baik. Kalau kamu belum mau cerita, aku tidak akan tanya.”
Dan dia berbalik menuju Aula Resonansi.
Aku berdiri di sana dengan perasaan yang aneh dan tidak nyaman: perasaan seseorang yang baru saja diberi pintu keluar oleh orang yang jelas-jelas ingin masuk.
Latihan malam itu berakhir jam sembilan lewat.
Kami turun ke perpustakaan bawah tanah untuk mengerjakan laporan teori — tempat itu buka sampai tengah malam dan penjaganya tua serta setengah tuli, kombinasi yang sempurna. Lampu minyak sudah dimatikan sebagian; cuma satu yang menyala di meja kami, dan sisanya gelap.
Kami menulis dalam diam.
Aku baru menyadari dia berhenti menulis ketika penanya menggelinding ke tepi meja dan jatuh.
Kutoleh.
Elysia sudah tertidur — bukan dengan kepala tersandar ke tangan seperti waktu itu. Kali ini dia sudah miring, tubuhnya condong ke sisiku, dan sebelum aku sempat memutuskan apa pun, kepalanya jatuh ke bahuku.
Aku membeku total.
Rambut peraknya menyapu leherku. Wangi udara-setelah-salju itu. Berat kepalanya di bahuku — ringan sekali, jauh lebih ringan dari yang kuduga, seolah seluruh wibawa Frostheim itu memang cuma pakaian yang dia lepas saat tidur.
Dan dunia, sudah pasti, sunyi total.
Bangunkan dia.
Aku mengangkat tangan.
Bangunkan dia sekarang, Rein. Ini tidak pantas. Ini juga tidak aman. Kalau ada yang masuk—
Napasnya mengembus pelan di leherku.
Kuturunkan tanganku.
Dan selama dua jam berikutnya, aku tidak bergerak satu sentimeter pun.
Aku ingin mencatat, demi kejujuran, apa yang terjadi selama dua jam itu.
Menit ke-10: tanganku mulai kesemutan. Menit ke-25: bahuku mati rasa dari pangkal sampai siku. Menit ke-40: aku menyadari bahwa aku bisa mendengar detak jantungnya. Bukan lewat mana — lewat telinga biasa, karena kepalanya sedekat itu. Tujuh puluh dua ketukan per menit. Sangat teratur. Sangat hidup. Menit ke-55: aku berhenti menghitung karena menghitung terasa seperti mencuri. Menit ke-80: lampu minyak mulai redup. Aku memikirkan hal-hal bodoh, seperti apakah dia kedinginan, dan apakah aku bisa menarik syalnya tanpa menggerakkan bahu (tidak bisa), dan apakah pundakku akan bertahan (juga tidak). Menit ke-100: aku menyadari sesuatu yang membuatku ingin tertawa dan sekaligus ingin lari.
Selama tiga tahun di dunia ini, aku menyusun seluruh hidupku di sekitar satu prinsip: jangan ada yang cukup dekat untuk memperhatikan.
Dan sekarang ada seseorang yang cukup dekat untuk tidur di bahuku, dan hal yang paling kutakutkan bukan lagi ketahuan.
Yang paling kutakutkan adalah dia bangun.
Menit ke-120: dia bangun.
Kepalanya terangkat pelan. Dia mengerjap dua kali, menatap bahuku, menatap wajahku, dan aku bisa melihat kesadaran mendarat di matanya seperti batu jatuh ke danau.
“...Oh.”
“Selamat pagi.”
“Ini jam berapa.”
“Sebelas lewat.”
Wajahnya, dalam cahaya lampu minyak yang tinggal separuh, memerah dari leher naik ke telinga. Dia menjauh dengan cepat, terlalu cepat, sampai kursinya berderit di lantai batu.
“Kenapa tidak dibangunkan!”
“Kamu berat.”
“Aku tidak—” Dia berhenti. Menatapku. “...Aku tidak berat.”
“Tidak. Tidak berat sama sekali.” Aku menggerakkan bahuku dan seluruh lengan kananku menjerit protes. “Bahuku bohong.”
“Rein!”
Dia berdiri, mengambil pena yang jatuh, meletakkannya kembali, memungut bukunya, menjatuhkan bukunya. Aku menonton kekacauan itu dengan perasaan puas yang tidak pantas.
Lalu dia berhenti bergerak dan berkata, sambil menatap meja:
“...Berapa lama?”
“Dua jam.”
“Dua jam.”
“Iya.”
“Kamu tidak bergerak selama dua jam?”
“Ada laporan yang harus kubaca.”
“Bukumu,” katanya pelan, “terbalik dari tadi.”
Kami sama-sama menatap buku itu.
Buku itu, memang, terbalik.
Hening panjang.
Lalu bahunya bergetar, dan dia menutup wajahnya dengan kedua tangan, dan dari balik tangan itu keluar suara tawa yang ditahan mati-matian sampai akhirnya lolos juga — bening, pecah, menggema di antara rak-rak agraria yang selama sebelas tahun tidak pernah mendengar suara manusia.
Dia menurunkan tangannya. Matanya berair. Pipinya merah. Rambut peraknya berantakan di satu sisi karena tertidur di bahuku.
Dan dia menatapku dengan ekspresi yang tidak pernah kulihat di wajah siapa pun, seumur hidupku, di dua dunia.
“Rein Gray,” katanya. “Kamu benar-benar tidak masuk akal.”
Aku ingin menjawab sesuatu yang cerdas.
Yang keluar dari mulutku adalah:
“...Iya.”
Dia tertawa lagi.
Dan aku duduk di sana, di dalam keheningan yang tidak pernah kumiliki sampai dua bulan lalu, dengan bahu kanan yang mati rasa dan dada yang terlalu penuh, dan mengakui pada diriku sendiri — sekali saja, dalam kepalaku, tempat tidak ada yang bisa mendengar — bahwa aku sudah lama sekali berhenti berlatih untuk Sync.
(bersambung ke Bab 10)