← Chapters Ch. 6 / 45

Chapter Six

Cara Menang Tanpa Menyerang

Cedric Ashford mendatangi kursiku hari Kamis pagi, dan dia membawa penonton.

Aku mendengarnya sebelum melihatnya — dengungan mananya berat, panas, dan sangat teratur; jenis mana yang dilatih sejak umur lima tahun oleh guru privat yang dibayar mahal. Di belakangnya, empat dengungan kecil yang mengekor: teman-teman yang fungsinya jelas bukan berteman.

“Rein Gray.”

Aku mengangkat wajah dari meja. Cowok tinggi, rambut merah bata disisir sempurna, seragam dengan lencana emas Marquis Ashford di dada. Wajahnya, harus kuakui, adalah wajah yang dipahat khusus untuk potret keluarga bangsawan — dan saat ini wajah itu sedang menatapku seolah aku noda di karpetnya.

“Iya?”

“Berdiri kalau bicara dengan—” Dia berhenti, menarik napas, dan mengganti kalimatnya dengan sesuatu yang lebih terkontrol. Rupanya sudah dilatih juga. “Aku menantangmu duel resmi. Sabtu, arena latihan tiga. Wasit dari komite disiplin.”

Kelas 1-C langsung ribut. Gart, di sebelahku, berhenti mengunyah rotinya di tengah gigitan.

“Kenapa?” tanyaku.

Pertanyaan itu tampaknya membuatnya lebih marah daripada penolakan.

Kenapa,” ulangnya. “Karena Partner Bond akademi ini sudah jadi lelucon. Karena seorang Frostheim — peringkat satu, Rank S, penerus rumah Adipati — diikat setahun penuh dengan sampah Rank E yang tidak bisa menyalakan lilin.” Suaranya naik. “Dan karena kotak kristal itu tidak mungkin salah dua kali. Jadi salah satu dari kalian pasti curang.”

Ah.

Jadi dia pintar. Itu merepotkan.

“Aku ingin melihat sendiri,” lanjut Cedric, “apa yang membuatmu ‘kompatibel’. Kalau kau menolak, aku akan mengajukan permohonan resmi audit ulang Partner Bond ke dewan akademi.”

Di baris depan, kepala berambut perak itu berbalik pelan.

Suhu ruangan turun. Bukan kiasan — uap tipis muncul di kaca jendela terdekat, dan telingaku menangkap mana Elysia yang biasanya sunyi mulai membentuk sesuatu yang dingin dan tajam.

“Cedric.” Satu kata. Tenang. Membekukan.

“Aku tidak bicara denganmu, Frostheim.”

“Kamu bicara tentang partnerku.” Dia berdiri. “Kalau kamu ingin duel, duel denganku.”

“Elysia—”

“Aku terima,” kataku.

Seluruh kelas menoleh.

Elysia menoleh paling cepat, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajahnya benar-benar terbaca: kamu gila?

Aku menopang dagu dan menatap Cedric dengan ekspresi paling lelah yang bisa kuproduksi.

“Sabtu, arena tiga. Boleh.” Aku menguap. “Tapi maaf ya, aku Rank E. Kalau nanti aku kalah dalam sepuluh detik, tolong jangan bilang aku curang.”

Cedric mendengus dan pergi.

Gart menepuk bahuku dengan wajah pucat. “Bung. Bung. Kamu tahu [Crimson Edict] itu apa?”

“Sihir api.”

“BUKAN SEKADAR SIHIR API! Itu Named Skill! Dia bisa nyuruh apinya kayak nyuruh pasukan! Tahun lalu dia bikin senior tahun tiga masuk ruang kesehatan tiga hari!”

“Oh.” Aku menutup mata. “Kedengarannya sakit.”


Elysia menyeretku ke perpustakaan bawah tanah sore itu — secara harfiah, pergelangan tanganku ditarik sepanjang tiga koridor, yang membuat setidaknya dua puluh murid melihat pemandangan langka berupa Permaisuri Es menyeret seorang murid Rank E seperti ibu menyeret anak yang mencuri permen.

“Kenapa kamu terima?” Dia melepas tanganku di depan meja baca, lalu berbalik. Wajahnya keras. “Kamu tahu apa yang akan terjadi? Salah satu dari dua hal. Kamu kalah telak dan dipermalukan di depan seluruh akademi—”

“Itu rencananya.”

“—atau kamu menang, dan semua orang melihat apa yang kamu sembunyikan.”

Ruangan sunyi.

Aku menarik kursi dan duduk. “Kamu marah.”

“Aku tidak marah.”

“Manamu tadi hampir membekukan jendela kelas.”

Dia diam. Duduk. Melepas pita rambutnya dengan gerakan yang sedikit lebih kasar dari biasanya, dan rambut peraknya jatuh menutupi separuh wajahnya saat dia menunduk.

“...Kalau kamu menolak, dia mengajukan audit,” katanya pelan. “Kalau audit dilakukan, mereka mengukur Core-mu lagi. Dengan alat yang lebih baru.”

“Iya.”

“Kamu terima duel supaya audit itu tidak terjadi.”

“Iya.”

Dia mengangkat wajahnya. Dan ekspresi di wajah itu — kesal, khawatir, dan sedikit tidak berdaya — adalah ekspresi yang seharusnya tidak boleh ada di wajah peringkat satu akademi.

“Kalau begitu jangan kalah bodoh-bodohan,” katanya akhirnya. “Aku tidak mau melihatmu terbakar.”

“Aku tidak akan kalah.”

“Kamu baru bilang rencananya kalah.”

“Rencananya terlihat kalah.” Aku mengetuk meja dua kali. “Ada bedanya.”

Dia menatapku lama. Lalu — pelan sekali, seperti es yang retak di musim semi — sudut bibirnya naik.

“Jelaskan.”

“Tidak.”

“Rein.”

“Nanti kamu tidak kaget.”

Dia melempar buku kentang itu ke arahku. Aku menangkapnya. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangan, dan suara yang keluar dari balik tangan itu adalah suara tawa yang buru-buru dibunuh.


Sabtu. Arena latihan tiga.

Arena tiga adalah cekungan batu melingkar sedalam dua meter dengan tribun rendah mengelilinginya. Kapasitas seratus orang.

Yang datang tiga ratus.

Kabar duel menyebar seperti api di jerami kering — sebagian karena Cedric memang populer, sebagian besar karena Permaisuri Es duduk di tribun depan, dan itu berarti ada sesuatu yang layak ditonton.

Aku berdiri di garis dengan seragam latihan yang kebesaran, tanpa tongkat, tanpa fokus sihir, dengan postur seseorang yang salah masuk ruangan.

Di seberang, Cedric Ashford mengangkat tongkat pendek berhias rubi.

“Aturan!” seru wasit dari komite disiplin. “Menyerah, pingsan, atau keluar garis. Sihir mematikan dilarang. Mulai!”

[Crimson Edict].

Udara di sekitar Cedric berpijar.

Dan telingaku dipenuhi musik militer.

Itulah kelemahan [Crimson Edict] yang tidak akan pernah dimengerti siapa pun kecuali aku: sihir itu bukan ledakan liar. Itu perintah. Setiap bola api adalah prajurit, dan setiap prajurit menerima aba-aba yang dikirim Cedric lewat frekuensi mana — pola tiga ketuk, satu tarikan panjang, dua ketuk. Berulang. Rapi. Sangat, sangat teratur.

Dan aku sudah mendengarnya tiga minggu terakhir dari bangku pojok kelas, setiap kali Cedric latihan di lapangan bawah jendela.

[Echo Memory] sudah merekam seluruh partitur komandonya.

Dua belas bola api melayang mengelilingi Cedric dalam formasi lingkaran.

“Menyerahlah sekarang,” katanya, “dan aku hanya akan membakar ujung seragammu.”

“Boleh saya lari saja?”

“Apa—”

Aku lari.

Bukan lari heroik. Lari panik, lengan mengibas, jalur zig-zag yang jelek. Tribun tertawa. Aku mendengar seseorang berteriak “AYO REIN E!” dengan nada mengejek dan seseorang lain (Gart, jelas) berteriak “REIN JANGAN MATI!”

Cedric melecutkan tongkatnya. Empat bola api meluncur.

Aku menghitung ketukan aba-abanya — tiga ketuk, tarikan, dua ketuk — dan tepat di jeda antara ketuk kedua dan tarikan, aku menjentikkan jari di dalam saku, di balik kain, tak terlihat.

[Dissonance]. Bukan ke apinya.

Ke aba-abanya.

Satu nada tandingan kecil, tiga kali lipat lebih pelan dari bisikan, menyusup ke pola perintah Cedric dan menggeser ketukannya setengah nada.

Empat bola api itu belok. Sedikit saja — lima belas derajat.

Mereka meleset dariku dan menghantam tanah, meledakkan debu ke udara.

“Ck—” Cedric mengerutkan kening. Angin arena, pasti pikirnya. Dia melecut lagi. Delapan bola api sekaligus, formasi jepit.

Aku menyusup ke aba-abanya lagi. Menggeser lagi. Kali ini bukan asal — aku menggiring.

Delapan bola itu memutar terlalu lebar, saling berdekatan, dan mulai membentuk sesuatu yang tidak diperintahkan siapa pun: sebuah lingkaran api yang mengelilingi bukan aku, melainkan penciptanya.

Debu memenuhi arena. Penonton mulai berteriak bingung. Dari luar, yang terlihat cuma murid Rank E yang berlari-lari panik sementara api Ashford menari kacau — dan di dunia ini, api yang tidak menemukan sasaran adalah pemandangan yang sangat memalukan bagi penggunanya.

“BERHENTI BERLARI DAN LAWAN AKU!” teriak Cedric, wajahnya merah.

“Tidak mau!”

Dia meraung dan melakukan persis apa yang kuharapkan.

Dia menaikkan tingkat.

Seluruh dua belas bola api menyatu di atasnya menjadi satu bola sebesar gerobak — perintah tunggal, aba-aba panjang, kekuatan penuh — dan dia mengarahkannya ke arahku dengan seluruh sisa harga dirinya.

Aku berhenti berlari.

Selama satu detik, di tengah debu, aku berdiri diam menghadap api sebesar gerobak, dan di tribun aku mendengar satu suara menahan napas lebih keras dari yang lain.

Lalu aku menjentik.

Kali ini bukan menggeser. Membalik.

Aba-aba tunggal Cedric — satu nada panjang, mudah dibaca, tidak terlindungi karena dia menuangkan segalanya ke kekuatan — kubalik arahnya seperti membalik kalimat perintah.

Kembali.

Bola api itu berbelok seratus delapan puluh derajat di udara.

Cedric Ashford punya waktu setengah detik untuk melihat serangan terkuatnya sendiri datang menjemputnya, dan dia menggunakan setengah detik itu untuk melakukan satu-satunya hal yang benar: melempar dirinya ke samping sambil membentuk perisai darurat.

Ledakan mengguncang arena. Debu naik setinggi tribun.

Ketika debu turun, Cedric Ashford tergeletak di luar garis batas arena, seragamnya gosong, sadar tapi tidak berdaya, menatap langit dengan ekspresi orang yang seluruh pandangan dunianya baru saja meledak.

Dan aku — yang beberapa detik sebelumnya berdiri gagah di tengah arena — sedang tergeletak telungkup di tanah, karena aku sengaja menjatuhkan diri saat ledakan terjadi.

Hening.

Lalu wasit komite disiplin berdeham, memeriksa garis, dan mengangkat tangan.

“Ashford keluar garis akibat serangan sendiri! Pemenang: Rein Gray!”

Arena meledak — bukan oleh tepuk tangan, tapi oleh kebingungan total.

“Apa yang barusan terjadi?” “Apinya balik sendiri!” “Formulanya kelebihan beban kali—” “Anak Rank E itu cuma lari-lari doang!” “SUMPAH DIA HOKI BANGET—”

Gart melompati pagar tribun dan mengangkatku dari tanah sambil berteriak tentang keajaiban dan takdir.

Dan di tribun depan, di tengah tiga ratus orang yang sedang meributkan keberuntungan seorang murid Rank E, Elysia von Frostheim duduk dengan punggung selurus tombak dan wajah sedingin biasanya.

Kecuali satu hal.

Dia sedang menutupi mulutnya dengan kedua tangan, bahunya bergetar halus, dan matanya — mata biru pucat yang biasanya setenang danau beku — berair karena menahan tawa yang tidak boleh keluar di depan umum.

Mata kami bertemu di seberang arena.

Dia mengangkat satu alis. Hoki, ya?

Aku mengangkat bahu sedikit, masih tergeletak di tanah dalam pelukan Gart.

Dan Permaisuri Es harus berpura-pura terbatuk selama sepuluh detik penuh.

(bersambung ke Bab 7)