← Chapters Ch. 44 / 45

Chapter Forty Four

Extra 4 — Gudang Penggilingan

POV: Rein Gray

Di liburan musim semi tahun kedua, aku mengajak Elysia ke Kota Havlen.

“Ada apa di Havlen?” tanyanya di kereta.

“Tiga tahun pertamaku.”

Dia langsung diam, dan menggenggam tanganku, dan tidak bertanya lagi sepanjang sisa perjalanan. Dia tahu kapan pertanyaan harus menunggu. Itu salah satu dari seribu alasannya.

Kota Havlen tidak berubah: kota penggilingan kecil di tepi sungai, dengan cerobong-cerobong tua dan bau gandum yang menempel di semua hal. Tidak ada yang mengenali kami di sini — Havlen terlalu sibuk untuk cermin siaran dan terlalu kecil untuk koran — dan berjalan di jalanan tanpa satu pun sapaan terasa seperti memakai baju lama yang masih pas.

Gudang penggilingan Merton berdiri di ujung jalan sungai. Lebih kecil dari yang kuingat. Semua tempat masa lalu selalu lebih kecil dari yang diingat.

Dan di depan pintunya, sedang menyapu dengan punggung bungkuk yang kuhafal, seorang lelaki tua.

Pak Merton.

Dia mengangkat wajahnya saat kami mendekat. Menyipit. Meletakkan sapunya.

Lalu, dengan suara keras khas orang yang telinganya tinggal separuh:

“REIN! ANAK GUDANG!”

“Halo, Pak.”

“KUKIRA KAU SUDAH MATI! ATAU LEBIH BURUK — JADI ORANG KOTA!” Dia menepuk lenganku dengan tangan yang masih sekeras batu giling, lalu menyipit ke arah Elysia. “DAN INI SIAPA? RAMBUTNYA BAGUS SEKALI. KAU MENCULIK BANGSAWAN?”

“Dia—”

“SAYA ELYSIA,” kata Elysia, dengan volume yang disesuaikan sempurna dan anggukan hormat yang biasanya dia berikan pada kepala dewan. “PARTNER REIN.”

“PARTNER!” Pak Merton tertawa sampai terbatuk. “DENGAR ITU, GANDUM-GANDUM! ANAK GUDANG PUNYA PARTNER! MASUK, MASUK! AKU BUATKAN TEH! TEHKU JELEK TAPI GRATIS!”


Bagian dalam gudang masih sama: mesin giling tua yang berdengung rendah, karung-karung tersusun, dan di pojok atas, loteng kecil dengan tangga kayu — tempat aku tidur selama dua tahun tujuh bulan.

“Di situ,” kataku pada Elysia, menunjuk loteng. “Kamarku.”

Dia mendongak. Loteng itu seukuran dua meja belajar. Satu jendela kecil. Paku-paku di dinding tempat aku dulu menggantung pakaian.

“LOTENG ITU,” teriak Pak Merton dari tempat teh, “SATU-SATUNYA YANG DIA MINTA! AKU TAWARI KAMAR BELAKANG, DIA TOLAK! ANEH SEKALI ANAK ITU! MAUNYA TIDUR DI SEBELAH MESIN!”

“Mesinnya berdengung stabil,” kataku. “Satu nada. Sepanjang malam.”

Elysia menoleh padaku.

Dan aku melihat dia mengerti — secara penuh, seketika — dengan cara yang membuat matanya berkaca: di dunia yang seluruhnya berisik, anak enam belas tahun yang baru tiba dari dunia lain memilih tidur di sebelah mesin giling karena satu dengungan besar yang stabil bisa menenggelamkan seribu suara kecil yang kacau.

Mesin itu adalah keheningan terbaik yang bisa dibeli tiga tembaga sehari.

Sampai dia menemukan yang asli.

“TEH!” Pak Merton meletakkan tiga cangkir sumbing di atas karung. “DUDUK! CERITA! KAU KE MANA SAJA DUA TAHUN INI? KAU TAHU, SETELAH KAU PERGI, AKU BARU SADAR SESUATU!”

“Apa, Pak?”

“MESINKU!” Dia menepuk mesin giling tua itu dengan sayang. “DUA TAHUN TUJUH BULAN KAU DI SINI, MESIN INI TIDAK PERNAH RUSAK SEKALI PUN! TIDAK SEKALI! PADAHAL SEBELUMNYA RUSAK TIAP DUA BULAN! BEGITU KAU PERGI — SEMINGGU! SEMINGGU KEMUDIAN AS-NYA PATAH!”

Dia menyeruput tehnya.

“TUKANG SERVIS BILANG ANEH SEKALI, KATANYA AS-NYA SUDAH RETAK BERTAHUN-TAHUN, HARUSNYA PATAH DARI DULU! TAPI ADA YANG SELALU...” dia menggerakkan tangannya, mencari kata, “...MENYETEL ULANG BAUTNYA! PAS SEKALI! TIAP KALI! SEPERTI ADA YANG DENGAR AS-NYA MAU PATAH!”

Hening.

Elysia menatapku dari balik cangkir sumbingnya dengan sudut bibir yang naik dua milimeter.

“ANEH KAN!” seru Pak Merton, sepenuhnya bahagia dengan misterinya. “KUBILANG GUDANG INI ADA PENUNGGUNYA! PENUNGGU YANG BAIK! AKU KASIH SESAJEN ROTI TIAP JUMAT!”

“...Pak memberi sesajen roti ke mesin?”

“DAN TIDAK PERNAH RUSAK LAGI SEJAK ITU!” Dia mengangkat cangkirnya penuh kemenangan. “BUKTINYA JALAN!”

Aku menatap lelaki tua yang memberiku pekerjaan tanpa bertanya apa-apa, yang membiarkan anak aneh tidur di lotengnya dua tahun tujuh bulan, yang tidak pernah sekali pun menanyakan kenapa aku selalu tahu kapan hujan datang atau kenapa aku menghindar setiap kali pasar ramai —

dan yang sekarang memberi sesajen roti pada mesin giling untuk menghormati kebaikan yang tidak dia tahu berasal dariku.

“Pak Merton,” kataku. “Terima kasih.”

“UNTUK APA?”

“Untuk tidak pernah bertanya.”

Pak Merton menatapku dengan mata tuanya yang keruh, dan untuk sesaat — sesaat saja — aku curiga telinga separuhnya itu selalu mendengar lebih banyak daripada yang dia akui.

“ANAK GUDANG,” katanya, lebih pelan dari biasanya. “ORANG TUA SEPERTIKU CUMA TAHU SATU HAL. KALAU ADA ANAK BAIK YANG BUTUH TEMPAT SEPI, KAU KASIH TEMPAT SEPI. TIDAK USAH TANYA-TANYA. PERTANYAAN ITU BERISIK.”

Dia menghabiskan tehnya dan berdiri.

“NAH! SEKARANG BANTU AKU ANGKAT KARUNG! PARTNER BANGSAWANMU BOLEH NONTON! ATAU IKUT! TANGAN BANGSAWAN JUGA TANGAN!”

Dan begitulah Elysia von Frostheim, pewaris rumah Adipati, peringkat satu Arcanum Spire, menghabiskan sore musim seminya mengangkat karung gandum di gudang penggilingan tua — dengan lengan baju digulung, rambut diikat pita cadangan, dan tawa yang membuat Pak Merton berteriak “PARTNERMU BERISIK SEKALI! AKU SUKA!”


Sebelum pulang, aku naik ke loteng sekali.

Semua masih di tempatnya: paku-paku, jendela kecil, dan di balok atap, ukiran kecil yang kubuat di malam-malam pertama dengan pisau lipat — tiga baris, dalam huruf dunia lama yang tidak bisa dibaca siapa pun di dunia ini:

Aturan 1: Jangan menonjol. Aturan 2: Jangan menonjol. Aturan 3: Kalau terpaksa, pura-pura pingsan.

Aku menatap ukiran itu lama.

Lalu aku mengambil pisau lipat yang sama dari sakuku — aku orang yang menyimpan hal-hal — dan menambahkan satu baris di bawahnya, untuk siapa pun yang mungkin suatu hari tidur di loteng ini dan butuh membacanya:

Aturan 4: Aturan 1–3 boleh dilanggar untuk orang yang tepat.

“Rein!” panggil Elysia dari bawah. “Keretanya satu jam lagi!”

“Turun!”

Aku menutup pisau lipat, memandang loteng seukuran dua meja itu untuk terakhir kalinya, dan menuruni tangga menuju suara dua orang yang sedang berdebat keras tentang cara terbaik menumpuk karung.

Anak gudang pulang, dan pulangnya sekarang ada di tempat lain.

(bersambung ke Extra 5) -e