Chapter Twenty Five
Semifinal
POV: Rein Gray
Lawan semifinal kami dari Akademi Ravenmoor: dua bersaudari kembar bernama Vesta dan Vela Corr.
Aku menghabiskan dua hari mempelajari mereka dari rekaman pertandingan yang dipinjamkan Sera, dan yang kutemukan bukan menenangkan.
Mereka tidak punya Named Skill. Mereka tidak punya atribut langka. Vesta atribut Bayangan, Vela atribut Suara — kombinasi yang di atas kertas biasa saja.
Yang membuat mereka mencapai semifinal adalah ini: dalam empat pertandingan, tidak satu pun lawan mereka berhasil menyerang balik.
Bukan kalah telak. Tidak menyerang balik. Seolah semua lawan mereka mendadak lupa cara bertarung.
“Cedric bilang yang sulung memakai artefak,” kataku, menatap rekaman untuk kesekian kali.
“Aku tidak melihat apa pun di tangan mereka,” kata Elysia.
“Aku juga tidak.”
Yang membuatku tidak bisa tidur adalah bagian ini: di keempat rekaman itu, ada momen di mana lawan mereka berhenti bergerak selama satu setengah detik.
Selalu satu setengah detik.
Selalu tepat sebelum mereka kalah.
Lorong bawah Colosseum. Sepuluh menit sebelum pertandingan.
“Berdiri diam,” kata Elysia.
Aku berdiri diam.
Dia menyibak poniku, berjinjit, dan mengecup dahiku. Dua detik. Wangi udara-setelah-salju.
“Ritual keluarga Frostheim,” katanya, mundur dengan wajah merah. “Enam generasi.”
“Aku tahu.”
“Bagus.”
“Kalau enam generasi,” kataku, “berarti kakek buyutmu juga dicium keningnya sebelum bertempur?”
“...Rein.”
“Aku cuma ingin memastikan tradisinya diterapkan konsisten.”
“Kalau kamu terus bicara aku akan membekukan mulutmu.”
Aku tertawa, dan dia menendang pergelangan kakiku pelan, dan kami berjalan ke arah cahaya di ujung lorong dengan tangan bergandengan seperti orang yang sudah lupa bahwa dulu itu pernah butuh alasan.
Di tribun kehormatan, di kursi paling depan barisan kedua, Adipati Alrik von Frostheim duduk dengan punggung selurus tombak.
Elysia tidak melihat ke arah sana sekali pun.
“SEMIFINAL! ARCANUM SPIRE MELAWAN RAVENMOOR! FROSTHEIM DAN GRAY, MELAWAN VESTA DAN VELA CORR!”
Dua belas ribu orang bersorak.
Si kembar berdiri di seberang arena. Rambut hitam pendek, seragam abu-abu, wajah identik, ekspresi identik.
Dan telinga mereka disumbat.
Bukan kiasan — kedua gadis itu memakai penyumbat telinga dari lilin, terlihat jelas dari jarak lima puluh meter.
“Lys,” kataku pelan. “Jangan dengar apa pun.”
“Apa?”
“MULAI!”
Vela Corr membuka mulutnya.
Dan bernyanyi.
Bukan mantra. Bukan formula. Satu nada panjang, jernih, murni — melodi tanpa kata yang naik dari tenggorokannya dan mengisi seluruh Colosseum Terapung.
Suaranya indah.
Suaranya sangat indah.
Dan di detik pertama nada itu masuk ke telingaku, aku tahu persis apa yang membuat empat lawan mereka berhenti bergerak selama satu setengah detik.
Nada itu masuk lewat telinga dan menyentuh sesuatu di bawah pikiran. Bukan sihir yang menyerang tubuh. Sihir yang menyentuh keinginan. Satu setengah detik di mana otakmu berkata: tidak apa-apa. Diam saja. Dengarkan sebentar lagi.
Untuk orang biasa, satu setengah detik.
Untuk orang yang mendengar mana seumur hidupnya sebagai kebisingan tanpa henti — untuk orang yang belum pernah mendengar satu pun nada murni di dunia ini —
Aku berlutut.
“REIN!”
Suara Elysia terasa jauh. Aku bisa melihat mulutnya bergerak. Aku tidak bisa memaksa diriku untuk peduli.
Nada itu terus naik. Dan telingaku — telinga yang selama tiga tahun disiksa oleh delapan ratus alat musik sumbang sekaligus — meminum nada itu seperti orang kehausan meminum air.
Indah.
Tinggal di sini.
Dengarkan saja.
Di kejauhan, Vesta Corr melangkah keluar dari bayangannya sendiri, tepat di belakang Elysia, dengan tangan terangkat.
Aku melihatnya. Aku tidak bisa bergerak.
Sesuatu menghantam pipiku.
Bukan sihir — telapak tangan. Keras. Dingin.
Dunia mati.
Elysia von Frostheim berlutut di depanku dengan kedua tangan menangkup wajahku, dahi menempel ke dahiku, mata biru pucat lima senti dari mataku, dan seluruh nyanyian di stadion itu lenyap seolah tidak pernah ada.
“Dengar aku,” katanya. “Bukan dia. Aku.”
Keheningan.
Keheningan yang bukan kekosongan. Keheningan yang selama empat bulan ini kupelajari sebagai satu-satunya tempat di dunia tempat aku bisa bernapas.
Dan aku menyadari sesuatu.
Nyanyian Vela Corr indah karena ia murni.
Keheningan Elysia lebih indah karena ia milikku.
“Aku dengar,” kataku.
“Berdiri.”
“Belakangmu.”
“Aku tahu.” Dia bangkit, tanpa melepaskan tanganku. “Aku sudah tahu sejak dia melangkah.”
Dan tanpa menoleh, Elysia von Frostheim mengangkat tangan kirinya ke belakang punggungnya sendiri.
“[Frostveil].”
Dinding es meledak naik tepat di belakangnya. Vesta Corr menabraknya dengan kecepatan penuh dan terpental.
Tribun meledak.
Sisa pertandingan berlangsung empat menit.
Bukan karena kami lebih kuat. Karena kami menemukan aturannya.
“Vela tidak bisa berhenti bernyanyi,” kataku, tangan tergenggam di tangannya. “Nyanyiannya butuh napas berkelanjutan. Setiap kali dia menarik napas, ada jeda 0,4 detik.”
“Berapa jeda sampai berikutnya?”
“Tiga detik. Dengarkan lewat aku.”
Aku mengalirkan.
Dan Elysia von Frostheim — yang kini bisa mendengar dunia lewat telinga orang lain — memiringkan kepalanya dan menutup matanya di tengah arena, seperti orang yang sedang menghitung ketukan lagu.
“Sekarang,” kataku.
“[Aurora Lance].”
Tombak es melesat di dalam jeda napas.
Vela terpaksa berhenti bernyanyi untuk menghindar.
“Sekarang.”
“[Aurora Lance].”
“Sekarang.”
Enam kali. Tujuh. Delapan.
Setiap kali gadis itu membuka mulutnya, sebuah tombak es sudah dalam perjalanan. Setiap kali dia menghindar, dia kehilangan napas. Setiap kali dia kehilangan napas, jedanya makin panjang.
Sampai akhirnya dia berlutut di tengah arena, terengah, dan tidak sanggup mengeluarkan satu nada pun.
Vesta melangkah keluar dari bayangan untuk melindungi saudarinya.
“Lys.”
“Aku tahu.”
Dia mengangkat kedua tangannya, dan untuk pertama kalinya sejak turnamen dimulai, aku merasakan sesuatu yang berbeda mengalir lewat genggaman kami — bukan mana, bukan frekuensi.
Sesuatu yang lebih mirip keputusan.
“[Winter Requiem].”
Kubah es naik dan menyanyi.
Nada rendah itu — nada yang di babak pertama membuat dua belas ribu orang berdiri — mengisi Colosseum Terapung, dan di dalamnya setiap suara lain mati. Nyanyian Vela yang tersisa di udara: hening. Bayangan Vesta yang merambat di lantai: membeku.
Es merambat naik dan menyegel kedua bersaudari itu setinggi tiga meter.
Dan di tengah kubah yang menyanyi, sesuatu yang tidak ada di babak pertama terjadi.
Mawar es mulai bermekaran.
Bukan di lantai. Di udara. Di dinding kubah, di permukaan es, di setiap butiran beku yang melayang — ratusan, ribuan mawar es sebesar telapak tangan yang mekar perlahan di seluruh arena, berkilauan biru pucat di bawah matahari sore.
Dua belas ribu orang berdiri tanpa bersuara.
Dan es itu, dari awal sampai akhir, tidak mengeluarkan satu pun gemuruh.
Sunyi total.
Indah, dan sunyi total.
“KAMI MENYERAH!” — suara teredam dari dalam kubah.
“PEMENANG! ARCANUM SPIRE! FROSTHEIM DAN GRAY MELAJU KE FINAL!”
Colosseum meledak.
Aku melepaskan tangan Elysia dan badai kembali menghantam kepalaku, tapi kali ini aku tetap berdiri, karena aku sedang menonton sesuatu.
Aku sedang menonton Elysia von Frostheim berdiri di tengah taman mawar es yang tidak bersuara, dengan rambut perak melayang dan dua belas ribu orang bersorak untuknya.
Dan aku melihatnya melakukan sesuatu yang belum pernah dia lakukan seumur hidupnya.
Dia mengangkat wajahnya ke tribun kehormatan.
Ke barisan kedua, kursi paling depan.
Dan menatap ayahnya langsung, tanpa berkedip, dengan dagu terangkat lima derajat.
Aku terlalu jauh untuk melihat wajah Adipati Alrik von Frostheim dengan jelas.
Tapi telingaku menangkap sesuatu.
Mana yang sunyi itu — yang sunyi karena ada yang dipaksa diam — bergetar satu kali.
Sekali saja.
Lalu diam lagi.
(bersambung ke Bab 26)