Chapter Thirty Nine
Yang Tersisa Setelah Salju
POV: Rein Gray
Musim panas datang, dan bersamanya, dokumen-dokumen.
Dokumen pertama: hasil sidang ulang di Katedral Agung Vellis — kali ini dengan Solveig di kursi terperiksa, atas permintaannya sendiri. Pakta Choir tahun 731 dicabut oleh Konsili Gereja dan diganti Piagam Resonansi: individu dengan anomali resonansi tidak lagi diklasifikasi sebagai ancaman, melainkan didaftarkan sebagai warga dengan perlindungan khusus, dengan hak atas “pendampingan resonansi” — istilah hukum kaku yang dirumuskan panel untuk sesuatu yang oleh jurnal Sera diterjemahkan lebih jujur: setiap telinga yang mendengar terlalu banyak berhak atas satu keheningan.
Prof. Maren Vale ditunjuk sebagai kepala pertama Kantor Resonansi yang baru. Beliau menerima jabatan itu dengan satu syarat: tetap mengajar teori formula di kelas 1-C setiap pagi. “Aku menunggu sembilan tahun di arsip,” katanya pada dewan. “Kalian bisa menunggu aku selesai mengajar jam sepuluh.”
Solveig sendiri divonis mengabdi seumur hidup — bukan penjara: dia diperintahkan mengunjungi empat puluh tujuh keluarga, satu per satu, membawa berkas yang selama ini disegel, dan pengakuan yang ditulis tangannya sendiri. Kabar terakhir yang kami dengar, dia sudah sampai keluarga kesembilan, berjalan kaki, menolak kereta.
Dokumen kedua: selembar sertifikat dari arsip kerajaan, dikirim ke akademi dengan segel Mahkota, yang kini digantung Kepala Akademi di aula utama dalam bingkai kaca:
┌─ PEMBARUAN CATATAN SIPIL ────────────┐
│ Nama : Rein Gray │
│ Status : Murid, Akademi │
│ Arcanum Spire │
│ Core Rank : UNMEASURABLE │
│ Catatan : (kosong) │
└──────────────────────────────────────┘
Rank pertama dalam sejarah kontinen yang bukan huruf. Sera menulis satu esai penuh hanya tentang kolom catatan yang dibiarkan kosong — “karena beberapa orang,” tulisnya, “akhirnya berhak untuk tidak dicatat apa-apa.”
Dokumen ketiga datang dengan segel istana: tawaran resmi posisi Penyihir Kerajaan, jalur langsung ke Menara Kerajaan, gaji yang membuat Gart tersedak rotinya waktu membacanya.
Aku menolaknya dengan surat dua kalimat.
Terima kasih atas kehormatannya. Saya masih tahun pertama, dan absen kelas teori formula dihitung ke nilai akhir.
Elysia membaca draft surat itu, menatapku lama, lalu berkata bahwa dia akan menikah dengan orang paling tidak berambisi di kontinen dan bahwa dia sudah berdamai dengan itu.
Lalu dia sadar apa yang baru saja dia ucapkan.
Lalu dia mengunci diri di perpustakaan bawah tanah selama dua jam, dan menolak membahasnya, dan mananya berdengung dengan nada kucing yang ekornya terinjak setiap kali aku tersenyum ke arahnya selama seminggu penuh.
Aku tidak membahasnya.
Aku menyimpannya. Aku orang yang menyimpan hal-hal.
Perbaikan akademi berjalan sepanjang musim panas, dan berjalan dengan cara yang tidak diduga siapa pun: pasukan Gereja yang dulu mengepung kami kembali — kali ini membawa palu dan derek, atas perintah pertama Kantor Resonansi yang baru. Selama dua bulan, jubah putih dan seragam akademi membangun ulang benteng yang sama yang dulu mereka perebutkan, dan di titik bekas The Vault, alih-alih menyegel ulang, dewan akademi membangun sesuatu yang diusulkan — dari semua orang — oleh Gart Oakley:
Taman.
Taman kecil dengan bangku-bangku batu, terbuka untuk siapa saja, dengan satu pohon plum muda ditanam di tengahnya — dicangkok dari pohon tua di taman atap menara timur — dan satu prasasti kecil tanpa nama yang bunyinya dirumuskan oleh lima orang selama satu malam penuh di ruang klub jurnal, ditolak tujuh belas kali, dan akhirnya disepakati dalam bentuk paling sederhana:
Untuk yang mendengar terlalu banyak. Duduklah. Di sini sunyi.
Cedric Ashford tidak dicoret dari warisan.
Sebaliknya: Marquis Ashford datang sendiri ke akademi di minggu ketiga musim panas, menyaksikan putranya melatih Barisan Kedua yang kini resmi menjadi unit pertahanan akademi, berdiri di tepi lapangan selama satu jam tanpa bicara, lalu pulang. Seminggu kemudian datang surat berisi satu kalimat: Pulanglah saat libur musim dingin; ibumu ingin mendengar ceritanya darimu sendiri, bukan dari koran.
“Itu,” kata Cedric, melipat surat itu dengan hati-hati, “adalah permintaan maaf paling panjang yang pernah ditulis ayahku.”
Gart Oakley naik dua peringkat di ujian musim panas dan menangis di papan pengumuman. Kakaknya datang berkunjung sebulan kemudian, melihat adiknya memimpin latihan dinding dengan dua puluh murid yang memanggilnya “Kapten”, dan pulang dengan wajah orang yang harus menulis ulang seluruh pemahamannya tentang keluarganya sendiri.
Dan Sera Wyndale menerima tawaran dari tiga surat kabar ibukota.
Dia menolak ketiganya.
“Kenapa?” tanyaku, waktu dia mampir ke taman atap membawa edisi terbarunya — dan roti, karena entah sejak kapan dia ikut sistem roti kami.
“Karena cerita terbaik di kontinen ini belum selesai,” katanya, duduk di rumput tanpa diundang, membuka jurnalnya. “Dan aku wartawan yang menemukannya duluan. Wartawan tidak meninggalkan ceritanya di tengah jalan.”
Dia melirik ke bangku batu — ke Elysia yang duduk di sebelahku dengan kepala di bahuku, yang membalas lirikannya dengan tatapan datar teritorial.
“Lagipula,” Sera menyeringai, “kalau aku pergi, siapa yang membuat Nona Frostheim tetap waspada? Kalian berdua bisa jadi membosankan.”
“Wyndale,” kata Elysia dingin.
“Frostheim,” balas Sera manis.
Dan mereka berdua melanjutkan permusuhan abadi mereka — yang bentuknya, akhir-akhir ini, makin sering terlihat seperti Sera mengoreksi draft surat-surat resmi Elysia dan Elysia diam-diam memastikan anggaran Klub Jurnal tidak pernah dipotong dewan — sementara aku makan rotiku dan memandangi danau dan tidak mengatakan apa-apa, karena beberapa hal lebih baik dibiarkan tidak diberi nama.
Di malam terakhir musim panas, aku menerima surat terakhir musim itu.
Tanpa segel resmi. Tulisan tangan yang belum pernah kulihat: kaku, tua, ditulis dengan pena yang ditekan terlalu keras.
Tuan Gray.
Keluarga kesembilan belas tinggal di desa Halvern, di utara. Mereka punya seorang putri, umur sebelas tahun. Dia mulai menutup telinganya di keramaian sejak musim semi.
Dulu, surat seperti ini berarti aku datang membawa prosedur. Sekarang aku tidak tahu harus membawa apa. Kantor yang baru bilang ada “pendampingan resonansi”, tapi belum ada satu pun orang di kontinen ini yang tahu bagaimana bentuknya, karena belum pernah ada yang mencobanya selain kau.
Aku tidak berhak meminta apa pun darimu. Aku hanya melaporkan, seperti yang seharusnya kulakukan sejak empat puluh tahun lalu: ada seorang anak di Halvern yang bertanya pada pastornya apakah dunia bisa diam barang satu jam.
— S.
Aku membaca surat itu tiga kali.
Lalu aku menunjukkannya pada Elysia, yang membacanya sekali, meletakkannya, dan menatap danau selama beberapa saat.
“Libur musim gugur,” katanya akhirnya. “Empat hari. Halvern bisa ditempuh dua hari naik kereta.”
“Kita?”
“Kamu pikir aku membiarkanmu menemui anak itu sendirian?” Dia menoleh, dan di matanya ada sesuatu yang sudah lama kukenal — nada bertekad yang dulu menakutkan dan sekarang terasa seperti rumah. “Anak itu butuh dua hal, Rein. Seseorang yang mendengar apa yang dia dengar.” Dia menggenggam tanganku. “Dan bukti bahwa keheningannya ada di suatu tempat, sedang menunggunya.”
Kami berangkat di hari pertama libur musim gugur.
Tapi itu cerita lain.
(bersambung ke Bab 40 — Epilog)