← Chapters Ch. 36 / 45

Chapter Thirty Six

Dinding

POV: Rein Gray

Bait pertama [Hymn of Purgation] menghantam pelindung terluar akademi seperti fajar kedua.

Cahaya putih membanjiri lereng bukit. Pelindung lapis pertama — sigil pertahanan berusia empat ratus tahun yang membungkus seluruh kompleks — bergetar, bertahan, dan mulai menipis. Bukan retak. Menipis, seperti es di musim semi, karena himne itu tidak memukul: himne itu melarutkan. Tiga ratus dua belas suara menyanyikan satu perintah sederhana kepada dunia: murnikan. hapus yang tidak seharusnya ada.

“Lapis satu bertahan sebelas menit!” suara Prof. Maren dari cermin komando. “Semua posisi, jangan keluar pelindung! Biarkan mereka menghabiskan napas!”

Itu strategi kami, disusun dalam tujuh hari: akademi tidak bisa menang menyerang, tapi himne butuh napas, dan napas butuh stamina, dan tiga ratus penyanyi yang berdiri di lereng terbuka akan lelah lebih cepat daripada lima ratus pembela di balik dinding. Bertahan. Mengulur. Memaksa Solveig memilih antara mundur atau mengeluarkan tujuh Inquisitornya — dan tujuh lawan bisa dihitung. Tiga ratus tidak.

Sebelas menit kemudian, lapis satu larut seperti gula dalam air.

Dan pasukan perisai Gereja maju ke gerbang.

“GART!” teriak Cedric dari benteng. “TAMU!”

“BIAR!” Gart Oakley mengangkat kedua tangannya, dan dua puluh murid atribut Tanah di kiri-kanannya mengikuti gerakannya seperti satu tubuh. “BARISAN DINDING — [BULWARK]!

Tanah di depan gerbang berdiri.

Bukan satu dinding — dua puluh satu, saling menyilang, membentuk labirin benteng setinggi empat meter yang tumbuh dalam tiga detik. Pasukan perisai Gereja yang berlari dalam formasi rapat mendadak menghadapi sesuatu yang tidak diajarkan di seminari mana pun: arsitektur darurat karya anak petani yang selama seminggu penuh menggambar denah di lantai gudang dengan kapur.

“Mereka belok kiri!” seruku dari menara — telingaku membaca arus mana empat puluh perisai itu seperti membaca peta. “Gart, koridor tiga!”

“KORIDOR TIGA, TUTUP!”

Dinding baru meledak naik. Formasi Gereja terpecah jadi kelompok-kelompok kecil yang tersesat di labirin tanah, dan dari atas benteng, Barisan Kedua Cedric bekerja: bukan menyerang orang — menyerang tanah di bawah kaki, membuat lubang, memaksa mundur, melucuti tanpa membakar siapa pun.

Itu perintah yang kuminta dan yang disepakati semua orang di malam terakhir: tidak ada yang mati hari ini. Tidak satu pun, dari pihak mana pun.

“Kau sadar,” kata Cedric waktu itu, “bahwa bertarung tanpa membunuh itu sepuluh kali lebih sulit.”

“Iya.”

“Bagus.” Dia mengasah fokusnya. “Aku benci pekerjaan mudah.”

Empat puluh menit pertama berjalan seperti itu — himne melarutkan lapis demi lapis, labirin Gart menelan gelombang demi gelombang, dan di menara jurnal, Sera menyiarkan semuanya: dua belas cermin memancarkan gambar ke papan-papan kota Vellis, tempat ribuan warga menonton pengepungan itu secara langsung, dan tempat — menurut laporan anggota klubnya yang di kota — kerumunan mulai berkumpul di gerbang kota sambil membawa apa pun yang bisa dibawa.

Lalu, di menit keempat puluh tiga, semuanya berubah.

Aku mendengarnya sebelum siapa pun: himne tiga ratus suara itu berhenti — bukan kehabisan napas, tapi berhenti serentak, terlatih, seperti orkestra menaati konduktor — dan digantikan tujuh suara saja.

Tujuh Inquisitor lapangan melangkah keluar dari barisan.

Dan mereka menyanyikan bait yang berbeda.

“MAREN!” teriakku ke cermin. “Bait kedua! Mereka melewati pelindung — bukan melarutkan, mereka menyanyi ke dalam—”

Terlambat.

Tujuh suara itu tidak menyerang dinding. Mereka menyerang frekuensi dinding — mencari nada dasar setiap sigil pelindung dan menyanyikannya kembali, terbalik, dan lapis dua, tiga, dan empat pelindung akademi padam serentak seperti lilin ditiup.

Keheningan sesaat yang mengerikan.

“...Mereka punya [Dissonance],” bisikku.

Versi kasar. Versi yang butuh tujuh orang dan formula tiga ratus tahun untuk melakukan apa yang kulakukan dengan satu jentikan. Tapi prinsipnya sama — dan tentu saja sama. Gereja menghabiskan tiga abad mempelajari sisa-sisa The Discordant.

Mereka membangun seluruh senjata mereka dari bangkai orang seperti aku.

“Semua posisi mundur ke garis dua!” perintah Prof. Maren. “Gart, tahan sepuluh detik lalu lepas!”

“DINDING TIDAK—”

“GART OAKLEY, ITU PERINTAH!”

Dan saat pasukan Gereja menembus labirin yang ditinggalkan, saat tujuh Inquisitor berjalan masuk ke halaman akademi dengan himne terbalik di bibir mereka, telingaku menangkap sesuatu yang lain.

Sesuatu di bawah.

Jauh di bawah — di fondasi menara, di kedalaman yang selama lima bulan hanya kudengar sebagai gema mati — sesuatu yang sudah tiga ratus tahun diam mulai bergetar.

The Vault.

Segel kuno di fondasi Arcanum Spire, yang tidak pernah dijelaskan satu pun buku sejarah akademi, yang selama ini kuanggap gudang artefak tua.

Ia bergetar mengikuti himne para Inquisitor.

Bukan melawan. Mengikuti. Seperti senar yang beresonansi dengan senar lain yang distem sama.

Dan dengan kejernihan dingin yang datang terlambat, aku akhirnya mengerti kenapa akademi terbesar di kontinen dibangun persis di titik ini, kenapa dungeon lantai tiga ditutup dua tahun lalu karena “anomali mana”, dan kenapa Kantor Pemeriksaan bersikeras mengirim pengawas ke tempat ini jauh sebelum mereka tahu namaku.

Arcanum Spire bukan akademi yang kebetulan punya segel di bawahnya.

Arcanum Spire adalah penjaga makam.

Dan di dalam makam itu, dibangunkan oleh himne yang dibuat dari ilmunya sendiri, sesuatu yang tersisa dari The Discordant membuka matanya setelah tiga ratus tahun.

“Lys,” kataku, dan suaraku terdengar aneh di telingaku sendiri. “Panggil Prof. Maren. Sekarang.”

“Ada apa?”

Lantai menara bergetar. Halus. Sekali.

Di bawah kami, di halaman, pasukan Gereja yang sedang maju berhenti serentak — karena bahkan mereka merasakannya lewat sepatu mereka — dan di kejauhan, di tengah barisan putih, aku melihat High Inquisitor Solveig mengangkat wajahnya ke arah menara utama dengan ekspresi orang yang ketakutan terbesarnya selama empat puluh tahun baru saja berbisik dari bawah tanah.

“Kita punya masalah yang lebih besar dari perang,” kataku.

(bersambung ke Bab 37)