← Chapters Ch. 27 / 45

Chapter Twenty Seven

Requiem

POV: Rein Gray

Aku berjalan ke tengah arena.

Aneh, hal-hal yang diingat otak di saat seperti ini. Aku ingat lantai arena yang retak di bawah sepatuku. Aku ingat genggaman Elysia di tangan kiriku, dingin dan mantap. Aku ingat satu kelopak mawar es sisa semifinal yang entah bagaimana masih menempel di tepi arena, bergetar karena guncangan.

Dan aku ingat berpikir, dengan sangat tenang: tiga tahun. Lumayan lama juga aku bertahan.

“PENONTON DIMOHON TENANG! EVAKUASI BERTAHAP DARI TINGKAT SATU—”

Tidak ada yang tenang. Empat ribu orang di tribun timur berdesakan ke tangga yang hanya muat dua ratus. Rantai cahaya para penjaga mulai putus satu per satu. Pilar delapan sudah ikut menjerit.

Enam puluh detik.

Aku berhenti di titik tengah Colosseum Terapung — tepat di atas persilangan arus dua belas pilar — dan menutup mata.

“Rein.” Suara Elysia, dekat sekali. “Apa yang harus kulakukan?”

“Jangan lepaskan tanganku. Apa pun yang terjadi.” Aku menarik napas. “Dan Lys—”

“Jangan minta maaf,” katanya. “Jangan berani-berani minta maaf.”

“...Aku mau bilang, jangan kaget.”

“Aku tidak pernah kaget padamu,” katanya. “Aku cuma kagum terus. Itu beda.”

Aku membuka telingaku.

Sepenuhnya.

Bukan seperti di dungeon. Bukan seperti di babak pertama. Aku membuka semuanya — setiap gerbang, setiap dinding, setiap filter yang kubangun selama tiga tahun untuk bertahan hidup — dan membiarkan seluruh dunia masuk.

Dua belas ribu jantung yang panik. Empat puluh sihir penahan yang meregang. Sebelas pilar yang menjerit dan satu yang sudah mati. Arus liar sebesar sungai bawah tanah yang berputar makin cepat di bawah lantai, memakan segalanya, tiga puluh detik dari memakan pilar kedelapan—

Dan di bawah semua itu, dalam dan tenang, denyut Danau Vellis.

Darah mengalir dari hidungku. Dunia berkedip. Genggaman Elysia mengencang, dan keheningannya mengalir masuk lewat telapak tangannya — bukan memadamkan badai, tapi memberiku satu titik sunyi di tengahnya untuk berdiri.

Satu titik cukup.

Aku pernah membaca, di dunia lama, bahwa konduktor tidak menghasilkan satu pun suara. Dia berdiri di tengah orkestra dan seluruh musik melewatinya, dan tugasnya bukan bermain — tugasnya adalah tahu persis kapan semuanya harus berhenti.

Aku mengangkat tangan kananku.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, di depan dua belas ribu saksi, tiga pengawas Gereja, satu Adipati, dan seluruh artefak perekam kerajaan—

—aku bernyanyi balik kepada dunia.

[Requiem].

Hening.

Bukan hening seperti orang berhenti bicara.

Hening seperti Penciptaan ditarik napasnya.

Arus liar di bawah lantai — berhenti. Sebelas pilar yang menjerit — berhenti. Empat puluh sihir penahan, ratusan artefak perekam, ribuan lampu sihir di sepanjang tribun, sihir pendingin di kotak bangsawan, sihir pengeras suara komentator — berhenti. Setiap aliran mana dalam radius Colosseum Terapung, dari yang sebesar sungai sampai yang sekecil cincin sihir di jari penonton, berhenti bergetar pada detik yang sama.

Dua belas ribu orang yang sedang berteriak mendapati suara mereka sendiri terdengar aneh — telanjang, kecil, manusiawi — di dalam keheningan yang belum pernah dialami siapa pun di dunia ini.

Dan Colosseum Terapung mulai turun.

Bukan jatuh.

Turun.

Tanpa sihir levitasi yang menahannya, jutaan ton batu itu seharusnya jatuh dua puluh meter dalam dua detik. Tapi aku tidak mematikan arus pilar begitu saja — aku memegang mereka, dua belas arus sekaligus, dan melepaskannya sehelai demi sehelai, seperti menurunkan lonceng raksasa dengan dua belas tali.

Cakram batu selebar dua lapangan itu melayang turun ke Danau Vellis dengan kecepatan daun jatuh.

Sepuluh meter. Lima. Dua.

Permukaan danau menyentuh dasar colosseum dengan suara seperti napas panjang, dan gelombang setinggi lutut bergulir ke seluruh penjuru danau, dan Colosseum Terapung — yang tidak lagi terapung — berhenti, utuh, di atas air.

Dua belas ribu orang selamat.

Dan di dalam keheningan mutlak itu, satu-satunya suara di seluruh dunia adalah langkah kakiku — pelan, tidak rata, karena kakiku sudah hampir tidak kuat — dan tetes darah dari daguku yang jatuh ke lantai arena.

Aku membuka mata.

Dua belas ribu wajah menatapku.

Tidak ada yang bersorak. Tidak ada yang berteriak. Empat ribu orang yang dua menit lalu berdesakan panik di tribun miring kini berdiri diam, memandangi seorang murid tahun pertama berseragam Rank E yang berdiri di tengah arena dengan darah di wajahnya dan tangan yang masih terangkat.

Aku mendengar — dengan telinga biasa, karena tidak ada lagi mana yang bersuara — seseorang di tribun berbisik:

“Siapa... dia?”

Dan seseorang lain, lebih pelan lagi:

“Bukan ‘siapa’. Apa.

Aku menurunkan tanganku.

Mana dunia mengalir kembali pelan-pelan — pilar-pilar yang mati tetap mati, tapi lampu, artefak, sihir kecil kembali bernapas satu per satu — dan bersamanya, badai kembali menghantam kepalaku, dan lututku akhirnya menyerah.

Elysia menangkapku. Seperti biasa. Dia selalu berdiri di posisi yang tepat.

“Aku pegang,” bisiknya. “Aku pegang kamu.”

Dan di tribun kehormatan, di tengah keheningan dua belas ribu orang, satu suara akhirnya bergerak.

Tiga jubah putih berdiri serentak.

Yang di tengah — pria berambut abu yang belum pernah kulihat, dengan rantai emas berlapis tiga di lehernya — mengangkat tangannya, dan dari sakunya mengeluarkan sebuah lonceng kecil dari perak.

Dia membunyikannya sekali.

Suaranya kecil. Tipis. Nyaris tidak terdengar.

Tapi telingaku menangkap apa yang dibawa nada itu — frekuensi panggilan, dikirim jauh, ke selatan, ke sebuah menara di ibukota yang penuh dengan jubah putih —

dan di kejauhan, dari arah kota di seberang danau, bel-bel Gereja Choir Suci mulai berdentang menjawab.

Satu. Lalu tiga. Lalu semuanya.

Elysia mendekapku lebih erat, dan di depan dua belas ribu saksi, di atas colosseum yang tidak lagi terapung, kami mendengarkan bel-bel itu berdentang seperti mendengarkan pintu-pintu yang ditutup satu per satu.

“Rein,” bisiknya.

“Hm.”

“Apa pun yang datang,” katanya, “kita duduk di kursi yang sama.”

(Arc 2 — Tamat. Bersambung ke Arc 3: “Bencana atau Manusia”)