← Chapters Ch. 28 / 45

Chapter Twenty Eight

Kalimat yang Diucapkan dengan Tenang

POV: Rein Gray

Surat resmi itu tiba tiga hari kemudian, dibawa oleh enam orang berjubah putih yang berdiri di gerbang akademi dan menolak masuk lebih jauh.

PANGGILAN PEMERIKSAAN

Kepada: Rein Gray, murid tahun pertama Akademi Arcanum Spire. Perihal: Dugaan anomali resonansi kelas Discordant-adjacent. Berdasarkan Pakta Choir tahun 731, subjek diwajibkan hadir di Sidang Pemeriksaan, Katedral Agung Vellis, tujuh hari dari tanggal surat ini. Ketidakhadiran akan dianggap sebagai pengakuan atas klasifikasi Bencana, dan Kantor Pemeriksaan berhak melakukan penindakan langsung terhadap subjek beserta institusi yang menaunginya.

Tertanda: High Inquisitor Solveig, Kantor Pemeriksaan Pusat.

Kepala Akademi membacakannya di ruang dewan, di depan para profesor, dengan tangan yang sedikit gemetar.

“‘Beserta institusi yang menaunginya,’” ulang Prof. Maren dari kursinya, datar. “Mereka menyandera akademi.”

“Kita bisa menolak,” kata Kepala Akademi. “Piagam akademi memberi kita otonomi—”

“Otonomi akademik,” potong Prof. Maren. “Bukan kekebalan terhadap Pakta Choir. Kalau anak itu tidak datang, mereka datang ke sini. Dengan pasukan. Dan delapan ratus murid jadi tameng hukum mereka.”

Ruangan itu diam.

Aku berdiri di tengah ruangan — subjek yang dibicarakan, yang untuk pertama kalinya dalam hidupnya berada di ruangan penuh orang yang semuanya menatapnya — dan mengatakan satu-satunya hal yang masuk akal.

“Saya akan datang.”

“Tuan Gray—”

“Tujuh hari lagi, saya akan berdiri di Katedral Agung Vellis.” Aku menatap Kepala Akademi. “Dengan satu syarat. Sampai hari itu, tidak ada satu pun murid akademi ini yang terlibat. Termasuk partner saya.”

“REIN—”

Suara itu dari pintu.

Elysia berdiri di ambang ruang dewan — dia tidak diundang, dia jelas mengancam seseorang untuk bisa masuk — dengan wajah yang memutih.

“Nona Frostheim, rapat ini tertutup—”

“Saya partner terdaftarnya. Pasal sembilan Piagam. Keputusan yang menyangkut satu pihak Partner Bond wajib melibatkan pihak lainnya.” Dia melangkah masuk. “Dan saya menolak syaratnya.”

“Lys.”

“Kamu tidak boleh memutuskan itu sendirian—”

“Bisa kami bicara berdua?” kataku pada ruangan.

Ruangan itu — Kepala Akademi, tujuh profesor, dua administrator — memandang kami berdua, lalu memandang Prof. Maren, yang mengangguk sekali.

Mereka keluar.

Pintu tertutup.


“Jangan,” kata Elysia sebelum aku sempat membuka mulut. “Apa pun yang mau kamu katakan dengan wajah tenang itu — jangan.”

“Lys—”

“Kamu mau bilang ini jalan satu-satunya. Kamu mau bilang kalau kamu tidak datang, mereka menghukum akademi. Kamu mau bilang aku harus tinggal di sini supaya aman.” Suaranya naik dan pecah di ujung. “Aku sudah menghafal caramu berpikir, Rein Gray. Lima bulan. Aku hafal.”

“Kalau begitu kamu tahu aku benar.”

“Aku tahu kamu benar! Itu yang paling kubenci!” Dia menekan matanya dengan punggung tangan, kasar. “Kamu selalu benar dengan cara yang membuatmu sendirian!”

Ruang dewan yang kosong itu sunyi.

Cahaya sore masuk dari jendela tinggi, jatuh di meja panjang, di kursi-kursi kosong, di lambang akademi yang terukir di dinding.

Aku berjalan mendekat.

“Lys. Lihat aku.”

Dia menurunkan tangannya. Matanya merah.

“Aku mau mengatakan sesuatu,” kataku. “Dan aku mau mengatakannya sekarang, di sini, dengan tenang. Bukan besok. Bukan di gerbang katedral. Bukan sambil dikejar apa pun.”

“...Rein—”

“Aku sayang kamu.”

Waktu berhenti.

“Bukan suka,” kataku. “Suka itu kata yang kupakai di ruang kesehatan karena aku belum berani memakai yang ini. Sayang. Aku sayang kamu, Elysia von Frostheim, dan aku sudah sayang kamu cukup lama sampai aku lupa bagaimana rasanya hidup yang sebelumnya.”

Dia menatapku dengan bibir terbuka dan mata membelalak, dan air mata yang sudah setengah jatuh berhenti di tempatnya, seolah ikut mendengarkan.

“Aku menghitung,” lanjutku. “Kamu tahu aku selalu menghitung. Tujuh hari lagi aku berdiri di depan orang-orang yang sudah menetralkan empat puluh tujuh orang seperti aku. Kemungkinan aku pulang dengan bebas: kecil. Kemungkinan sidang itu adil: lebih kecil.” Aku menarik napas. “Dan dari semua hal yang bisa kusesali kalau semuanya salah, cuma satu yang tidak bisa kuterima: kalau aku belum pernah mengatakan kalimat itu padamu dengan tenang. Dengan lengkap. Di hari yang biasa.”

Aku mengangkat tangan dan menyibak sehelai rambut perak dari wajahnya.

“Jadi: aku sayang kamu. Itu saja. Itu yang paling penting, dan sekarang sudah tersimpan di tempat yang tidak bisa disentuh sidang mana pun.”

Elysia von Frostheim berdiri diam selama tiga detik penuh.

Lalu dia memukul dadaku — sekali, tidak keras, dengan sisi kepalan tangannya — dan membenamkan wajahnya di tempat yang sama, dan menangis dengan suara yang untuk pertama kalinya tidak dia coba sembunyikan sama sekali.

“Curang,” katanya di seragamku. “Curang, curang, curang—”

“Iya.”

“Aku juga sayang kamu, bodoh. Sejak lama. Sejak sebelum kamu. Aku duluan. Aku selalu duluan.

“Iya.”

“Dan aku tidak akan tinggal di sini.” Dia mengangkat wajahnya, berantakan dan merah dan sama sekali tidak bisa dibantah. “Kamu boleh menghitung apa pun yang kamu mau. Hitunganku cuma satu: tujuh hari lagi, waktu kamu masuk katedral itu, aku ada di ruangan yang sama. Titik.”

“Sidangnya tertutup—”

“Aku Frostheim.” Dagunya naik lima derajat, dengan air mata masih di pipinya, dan itu adalah pemandangan paling menakutkan sekaligus paling indah yang pernah kulihat. “Tidak ada pintu tertutup di kontinen ini untuk namaku. Sudah waktunya nama itu berguna untuk sesuatu yang kupilih sendiri.”

Aku menatapnya.

Lalu aku memeluknya, dan dia memelukku, dan kami berdiri di tengah ruang dewan yang kosong sampai cahaya sore berubah jadi jingga.

“Tujuh hari,” katanya di bahuku.

“Tujuh hari,” jawabku.

“Kalau begitu kita punya tujuh hari,” katanya, “dan aku mau semuanya.”

(bersambung ke Bab 29)