← Chapters Ch. 43 / 45

Chapter Forty Three

Extra 3 — Kencan yang Direncanakan Terlalu Matang

POV: Rein Gray

Masalahnya dimulai dari satu kalimat Sera di taman atap:

“Tunggu. Kalian belum pernah kencan?”

“Kami ke Halvern bulan lalu,” kataku.

“Itu kunjungan kerja.”

“Kami ke kota waktu tujuh hari itu.”

“Itu tujuh hari menjelang sidang hidup-mati. Tidak dihitung.” Sera meletakkan rotinya dengan wajah ngeri yang tulus. “Rein. Elysia. Kalian melewati confession, first kiss, perang, restu dua keluarga — dan melompati kencan? Kalian membangun rumah tanpa pintu depan!”

Elysia, di sebelahku, berhenti mengunyah.

Dan aku melihat sesuatu menyala di matanya yang membuatku langsung tahu bahwa minggu depanku sudah ditentukan.

“Rein,” katanya, dengan nada rapat dewan. “Sabtu. Kosongkan jadwalmu.”

“Jadwalku memang kosong—”

“KOSONGKAN.”


Yang harus dipahami tentang Elysia von Frostheim: dia tidak melakukan apa pun setengah-setengah, dan dia belum pernah kencan seumur hidupnya, dan kombinasi dua fakta itu menghasilkan sesuatu yang kutemukan hari Jumat malam di perpustakaan bawah tanah:

Sebuah gulungan perencanaan.

Gulungan. Sungguhan. Sepanjang satu meter, dengan jadwal per lima belas menit, rute yang digambar, tiga opsi kontingensi cuaca, dan — aku bersumpah demi dua dunia — sebuah bagan alur percakapan dengan cabang-cabang topik.

“Ini,” kataku, “rencana invasi.”

“Ini itinerari.”

“Ada bagan percakapan, Lys.”

“Itu supaya tidak ada keheningan canggung!”

“Kita duduk diam berdua hampir setiap hari selama setahun. Keheningan itu spesialisasi kita.”

Dia merebut gulungannya, menggulungnya dengan kasar, dan duduk dengan telinga merah. “...Aku belum pernah melakukan ini. Kencan. Yang resmi. Aku membaca tiga buku.”

“Buku apa?”

“Buku.” Dia menatap meja. “Panduan. Untuk. Hal ini.”

“Judulnya?”

Rein.

Aku menyandarkan punggung, menatap gadis yang pernah menatap tujuh Inquisitor tanpa gemetar dan sekarang tidak berani menyebut judul buku panduan kencannya, dan merasakan dadaku penuh dengan cara yang sudah setahun ini kukenal baik.

“Baik,” kataku. “Sabtu. Ikut rencanamu. Semua lima belas menitnya.”

Dia mendongak. “Sungguh?”

“Dengan satu syarat: kalau rencananya hancur, kita ikuti kehancurannya.”

“Rencanaku tidak akan hancur. Aku Frostheim.”


Rencananya hancur di menit keempat puluh.

Bukan salahnya. Rencana itu sempurna: pasar pagi Vellis (dua belas kios teratas sudah disurvei), lalu galeri pahatan es musim dingin (tiket sudah dipesan), makan siang di restoran tepi danau (meja nomor tujuh, pemandangan terbaik, sudah dikonfirmasi dua kali).

Yang tidak masuk hitungan: kami berdua, ternyata, terkenal.

“ITU MEREKA!” — anak kecil di pasar, menarik lengan ibunya. “YANG DI CERMIN! YANG NURUNIN STADION!”

Dalam sepuluh menit, kios kedua yang kami datangi memberi kami manisan gratis dan menolak dibayar. Di kios keempat, seorang nenek memegang tangan Elysia dan bercerita lima menit penuh tentang cucunya yang ada di tribun timur hari itu. Di kios ketujuh, pemilik kios berteriak ke seberang jalan, “MARTHA! PASANGAN SALJU-NYA BELANJA DI TEMPATKU!” dan separuh pasar menoleh.

Elysia berdiri di tengah keramaian itu dengan gulungan rencananya di tas, punggung selurus tombak, menerima setiap sapaan dengan anggukan sempurna —

dan aku, yang mendengar mananya, tahu bahwa di balik wajah anggun itu dia sedang panik total karena jadwal menit keempat puluh sampai lima puluh lima sudah tidak bisa diselamatkan.

Jadi aku melakukan satu-satunya hal yang masuk akal.

Aku menggenggam tangannya, membungkuk sopan ke seluruh pasar, mengumumkan “TERIMA KASIH, KAMI PERMISI DULU” —

dan menarik dia lari.

Kami lari menembus gang samping pasar, belok dua kali, menaiki tangga batu tua, dan berhenti di tempat yang kutemukan dari peta suara kota yang selama ini kudengar tanpa sengaja: sebuah pelataran kecil di atas atap-atap toko, dengan pemandangan danau, jemuran seseorang, dan tiga ekor kucing yang menatap kami dengan tersinggung.

Kami terengah. Berantakan. Rencana lima belas menit itu mati total.

Dan Elysia von Frostheim mulai tertawa — terpingkal, berantakan, sampai harus pegangan ke dinding — dan aku ikut tertawa, dan tiga kucing itu pergi dengan penghinaan yang mendalam.

“Rencanaku,” katanya di sela napas, “menit empat puluh sampai lima puluh lima. Galeri es.”

“Kita di galeri kucing sekarang.”

“Bagannya. Aku buat bagan percakapan, Rein.”

“Kita sedang bercakap tanpa bagan. Sistemnya berjalan.”

Dia menyeka matanya, menyandarkan punggung ke dinding di sebelahku, dan menatap danau di kejauhan. Angin membawa suara pasar dari bawah — jauh, ramah, tidak menuntut apa-apa.

“Ternyata begini rasanya,” katanya pelan.

“Kencan?”

“Hancur rencana.” Dia menoleh, dan senyumnya adalah senyum penuh tanpa satu pun lapisan. “Aku menghabiskan seumur hidup dilatih supaya tidak ada rencana yang hancur. Tidak ada yang bilang bahwa reruntuhannya bisa semenyenangkan ini.”

Kami menghabiskan sisa hari itu tanpa gulungan: makan siang dari kios (roti isi, tiga tembaga, tentu saja), galeri es diganti jalan kaki di tepi danau, dan bagan percakapan diganti keheningan spesialisasi kami — bahu ke bahu di dermaga kayu, kaki hampir menyentuh air, sampai matahari turun.

“Rein.”

“Hm.”

“Kencan kedua,” katanya, menyandarkan kepala ke bahuku, “tanpa gulungan.”

“Kemajuan.”

“Tapi tetap ada satu rencana.”

“Apa?”

Dia mengangkat wajahnya, dan menciumku pelan — di dermaga, di bawah matahari yang tenggelam, di depan tiga kucing yang entah kenapa mengikuti kami dari pelataran —

“Itu,” katanya. “Sisanya improvisasi.”

(bersambung ke Extra 4) -e