← Chapters Ch. 4 / 45

Chapter Four

Kebetulan Tingkat Lanjut

Dua minggu berlalu, dan aku menyusun sebuah teori ilmiah.

Teorinya begini: Elysia von Frostheim, peringkat satu Akademi Arcanum Spire, putri Adipati Frostheim, gadis dengan Core Rank S yang tercatat sekali dalam satu generasi, memiliki satu kelemahan fatal yang tidak diketahui publik.

Dia sangat, sangat, sangat buruk dalam berpura-pura kebetulan.

Hari ke-3. Taman atap. “Kebetulan.”

Hari ke-4. Aku pindah makan siang ke ruang penyimpanan alat lantai dua. Dia sudah di sana, duduk di atas peti kayu, membaca buku. “Aku suka bau kayu tua.”

Hari ke-6. Aku makan siang di dalam gudang sapu.

Dia mengetuk pintu gudang sapu.

“Ini gudang sapu,” kataku dari dalam.

“Iya,” katanya dari luar. “Aku tahu.”

Hari ke-9. Perpustakaan bawah tanah, rak sejarah agraria abad ke-4, subseksi rotasi tanaman umbi. Aku memilih tempat ini karena statistik peminjaman menunjukkan rak tersebut terakhir disentuh manusia sebelas tahun lalu.

Dia sudah duduk di meja baca satu-satunya, dengan tumpukan buku tentang rotasi tanaman umbi.

“Kamu tertarik pertanian?” tanyaku, menyerah pada nada sarkas.

“Sangat.” Dia membalik halaman tanpa membacanya. “Kentang itu... menarik.”

“Sebutkan satu hal yang menarik dari kentang.”

Hening tiga detik.

“Bentuknya,” katanya mantap.

Aku menaruh tasku di kursi seberangnya, karena pada titik itu aku sudah kehabisan gudang.

Dan begitulah, tanpa persetujuan resmi dari siapa pun, perpustakaan bawah tanah rak agraria berubah menjadi tempat kami.


Yang menyebalkan — dan yang kusadari terlalu lambat untuk bisa kuperbaiki — adalah bahwa aku mulai terbiasa.

Di akademi ini, sepanjang hari, telingaku disiksa. Enam puluh Core di kelas, delapan ratus di aula makan, ribuan di sepanjang koridor. Setiap langkahku dari asrama ke ruang kelas adalah berjalan menembus badai suara yang tidak bisa kumatikan. Sakit kepala adalah kondisi normalku. Aku sudah lupa rasanya tidak sakit kepala.

Kecuali di perpustakaan bawah tanah, di seberang meja itu.

Kupikir karena ruangannya di bawah tanah. Kupikir karena dindingnya tebal. Kupikir seribu hal, dan tidak satu pun yang benar, karena kebenarannya duduk di depanku sambil pura-pura membaca buku kentang.

Dan dia — ini bagian yang paling membingungkan — tampaknya juga tidak keberatan.

Aku memperhatikan (secara profesional, sebagai bagian dari analisis ancaman) bahwa Elysia di depan orang lain dan Elysia di ruangan ini adalah dua entitas berbeda.

Di koridor, dia berjalan dengan dagu terangkat, membalas sapaan dengan anggukan sempurna berdurasi tepat, dan meninggalkan jejak bisik-bisik kagum di belakangnya. Sempurna. Dingin. Tidak tersentuh.

Di perpustakaan bawah tanah, dia melepas pita rambutnya.

Cuma itu. Cuma pita. Tapi rambut peraknya yang biasanya terikat rapi akan jatuh terurai ke bahu, dan dia akan menyandarkan pipi ke tangan sambil membaca, dan sesekali kakinya berayun kecil di bawah meja, dan sekali — sekali saja — aku memergokinya menguap dengan menutup mulut pakai punggung tangan, sangat kecil, sangat manusia, dan aku harus menatap dinding selama dua puluh detik untuk mengembalikan tekanan darahku ke angka yang wajar.

Orang-orang di luar sana memujanya seperti patung.

Mereka belum pernah melihat patung itu menguap.

Fokus, Rein. Dia memegang rahasiamu. Ini bukan pertemanan, ini penyanderaan yang wangi.


Bencana berikutnya datang hari Selasa, dan itu murni salahku sendiri.

Prof. Maren Vale — wali kelas kami, wanita empat puluhan dengan kacamata setengah dan tatapan yang selalu terasa lima detik lebih lama dari yang nyaman — mengadakan kuis dadakan.

Aku tidak tidur malam sebelumnya. Asrama sedang ramai; ada yang mengadakan pesta dua lantai di bawah, dan telingaku menerima seluruh acara itu secara pribadi sampai jam empat pagi.

Jadi ketika kertas kuis dibagikan, otakku sedang berjalan dengan mode autopilot yang berbahaya: mode cepat selesai, cepat tidur.

Soal satu: struktur sirkulasi mana pada formula tiga lapis. Kutulis jawabannya. Soal empat: kenapa sihir es lebih hemat mana daripada sihir api pada suhu rendah. Kutulis. Soal delapan: sebutkan kelemahan teoretis dari formula rangkap yang tidak stabil.

Kutulis tiga paragraf.

Aku menyerahkan kertas itu dan tertidur di meja sebelum kertasnya sampai ke depan.

Aku baru sadar apa yang kulakukan dua jam kemudian, saat bangun dengan bekas kayu meja di pipi dan kesadaran mengerikan menghantam tengkukku seperti ember air.

Kertasnya. KERTASNYA.

Aku menemukan Prof. Maren di ruang guru dan bertanya dengan seluruh kesopanan yang bisa dikumpulkan seorang pemuda yang panik, apakah saya boleh — anu — memperbaiki jawaban saya, Bu, karena saya rasa saya banyak salah.

Prof. Maren menatapku dari balik kacamatanya. Lima detik lebih lama dari nyaman.

“Kertasmu sudah diambil.”

“Diambil? Diambil siapa? Bukannya Ibu yang—”

“Frostheim menawarkan diri membantu mengurutkan kertas kuis.” Prof. Maren membalik halaman di mejanya, tenang sekali. “Dia sangat rajin. Kertasmu ada padanya.”

Aku pergi ke perpustakaan bawah tanah dengan kecepatan yang melanggar setidaknya empat peraturan koridor.

Dia sudah di sana. Duduk di kursi biasanya, pita rambut sudah lepas, dan di depannya — di atas meja, sendirian, seperti barang bukti di ruang sidang — sehelai kertas kuis.

Kertasku.

Nilai di pojok kanan atas, ditulis dengan tinta merah oleh tangan Prof. Maren:

100.

“Itu,” kataku, “bukan punyaku.”

“Namamu tertulis di atas.”

“Ada banyak Rein di dunia ini.”

“Di kelas 1-C?”

“Dunia luas, jangan sombong.”

Elysia menopang dagu dengan punggung tangan dan menatapku. Cahaya lampu minyak perpustakaan membuat matanya yang biru pucat tampak lebih hangat daripada seharusnya, dan sudut bibirnya — yang selama dua minggu ini cuma naik satu milimeter — hari itu naik dua.

“Soal delapan,” katanya pelan. “Kelemahan formula rangkap yang tidak stabil. Kamu menulis tiga paragraf.”

Aku diam.

“Tiga paragraf,” ulangnya, “tentang bagaimana formula yang patah di tengah akan memakan dirinya sendiri, membengkak, dan lepas kendali ke arah yang tidak diprediksi.” Dia memiringkan kepala sedikit. “Kamu menulis itu seperti orang yang pernah mendengarnya terjadi.”

Dinding perpustakaan terasa lebih dekat dari sebelumnya.

“Kebetulan,” kataku.

“Ah.” Dia mengangguk, sangat serius. “Kebetulan.”

Lalu dia melipat kertas itu dengan rapi — dua lipatan, presisi seperti semua hal yang dia lakukan — dan memasukkannya ke dalam buku catatannya.

“Kembalikan.”

“Tidak.”

“Itu kertasku.”

“Sekarang kertasku.” Dia menutup buku catatannya dan menepuk sampulnya sekali, pelan, dengan ekspresi seseorang yang baru saja memenangkan sesuatu yang sangat besar. “Anggap saja... jaminan.”

“Jaminan untuk apa?”

Dia tidak menjawab. Dia cuma tersenyum — dua milimeter, penuh, dan sepenuhnya tidak adil — lalu kembali membaca bukunya tentang kentang.

Aku duduk di seberangnya dan menghabiskan sisa sore itu dengan denyut jantung yang tidak bisa kujelaskan dengan variabel mana pun yang kukenal.


Aku pulang lewat rute nomor dua malam itu — koridor tanpa jendela, tangga servis, belokan gelap dekat gudang alat kebersihan.

Dan di belokan gelap itu, aku hampir menabrak seseorang.

“Ups—! Maaf, maaf!”

Cewek. Lebih tinggi sedikit dariku, seragam dengan dasi hijau — tahun kedua. Rambut cokelat kemerahan diikat asal-asalan dengan pensil, beberapa helai lepas menempel di pipi. Wajahnya jenis yang berbeda dari Elysia sepenuhnya: kalau Elysia adalah lukisan katedral, yang ini adalah percikan di kembang api — mata cokelat besar yang berbinar terlalu banyak, hidung kecil, senyum lebar yang sudah terpasang sebelum dia sempat berpikir. Cantik dengan cara yang berisik.

Dia sedang membawa setumpuk kertas dan sebuah pena bulu yang melayang sendiri di udara di sebelahnya, mencoret-coret tanpa dipegang.

“Aku lagi buru-buru — eh.” Dia berhenti. Menatapku. Lalu menyipit. “Tunggu. Kamu anak tahun satu, ya? Kelas 1-C?”

“Bukan.”

“Bohong, dasimu merah.” Pena bulunya berputar sekali di udara, seperti anjing yang mencium sesuatu. “Rein Gray, kan? Rank E, kursi pojok belakang, yang katanya diangguki Permaisuri Es di hari pertama?”

Aku merasakan sesuatu yang dingin merambat di tengkuk.

“Kamu siapa?”

“Sera Wyndale, tahun dua, ketua Klub Jurnal Akademi.” Dia menyodorkan tangan yang penuh noda tinta, senyumnya makin lebar. “Dan kamu, kawan, adalah anomali paling menarik di angkatanmu.

“Saya Rank E.”

“Iya! Itu dia bagian menariknya!” Dia menepuk tumpukan kertasnya dengan gembira. “Rank E, nilai ujian tulis empat puluh satu, tidak pernah menonjol sekali pun — tapi dalam dua minggu terakhir, murid peringkat satu akademi ini menghabiskan waktu makan siangnya di tempat-tempat teraneh di gedung ini. Gudang sapu, Rein. Gudang sapu.

“Kebetulan.”

“Hmm.” Pena bulunya berhenti mencoret. Sera memiringkan kepala, dan untuk sesaat binar di matanya berubah jadi sesuatu yang jauh lebih tajam. “Tahu tidak, di klubku ada satu aturan. Kalau satu hal aneh, itu kebetulan. Kalau dua hal aneh terjadi di orang yang sama...”

Dia mundur selangkah, tersenyum, dan berjalan mundur ke arah koridor sambil melambai.

“...itu namanya cerita.

Aku berdiri sendirian di koridor gelap untuk waktu yang cukup lama.

Lalu aku menghela napas panjang, sangat panjang, dan berkata pada dinding:

“Aturan satu. Jangan menonjol.”

Dinding, seperti pohon plum, tidak membantu sama sekali.

(bersambung ke Bab 5)