Chapter Eighteen
Tiga Hal yang Terjadi di Hari yang Sama
POV: Rein Gray
Hal pertama terjadi jam tujuh pagi, dan itu adalah kejadian yang membuatku menyadari bahwa aku sudah kalah dalam perang yang bahkan tidak sempat kunyatakan.
Aku bangun. Aku memakai syal. Aku keluar asrama.
Dan tubuhku, tanpa satu pun perintah dari otakku, berjalan ke arah taman atap alih-alih ruang kelas.
Aku baru sadar di tangga lantai dua.
Aku berhenti di anak tangga, menatap ke atas, dan mengevaluasi apa yang baru saja terjadi.
Tiga tahun aku menyusun rute berdasarkan seberapa sedikit manusia yang akan kutemui. Sekarang kakiku punya rute sendiri, dan rute itu menuju satu manusia spesifik.
Ini gawat, pikirku dengan tenang, dan melanjutkan naik.
Dia sudah di sana, tentu saja. Dua roti isi. Bangku batu. Pohon plum yang mulai berbunga lagi karena musim dingin di kontinen ini tidak pernah bertahan lama.
“Kamu telat empat menit.”
“Aku tidak punya jadwal.”
“Kamu punya sekarang.” Dia menepuk bangku di sebelahnya.
Aku duduk.
Bahu ke bahu, seperti sudah dua minggu terakhir. Kami makan dalam diam. Dia menyandarkan kepalanya ke bahuku sekitar menit kesepuluh, tanpa bertanya, tanpa alasan, seolah bahu itu memang tempat kepalanya berada.
“Rein.”
“Hm.”
“Kalau turnamen selesai,” katanya pelan, “kita tetap ke sini, kan?”
Aku menatap pucuk pohon plum.
“Iya.”
“Janji?”
“Janji.”
Dia tidak berkata apa-apa lagi. Tapi mananya — keheningan yang bukan kekosongan itu — bergetar sedikit, riak kecil di permukaan danau beku, dan sekarang aku sudah cukup ahli untuk membacanya.
Nada itu artinya lega.
Hal kedua terjadi jam satu siang, di koridor timur, dan itu adalah bencana.
Aku sedang berjalan sendirian ke perpustakaan ketika Sera Wyndale melompat keluar dari balik pilar.
“REIN!”
“Astaga—”
“Aku butuh bantuanmu dan aku tidak menerima penolakan.” Dia menyodorkan setumpuk kertas ke dadaku. “Klub Jurnal menerbitkan edisi khusus turnamen. Aku butuh kutipan dari peserta semifinal. Dua kalimat. Dua saja.”
“Tidak.”
“Kubilang aku tidak menerima penolakan.”
“Kalau begitu jangan bertanya.”
“Rein Gray.” Dia melangkah maju dan menusuk dadaku dengan pena bulunya. Dari jarak sedekat ini aku bisa melihat noda tinta di tulang pipinya, dan tiga helai rambut cokelat kemerahan yang lepas dari kuncir dan menempel di dahinya karena berkeringat lari-lari sepanjang koridor. “Kamu berutang padaku.”
“Untuk apa?”
“Untuk rekaman.”
“...Itu tidak adil.”
“Aku jurnalis. Adil itu bukan bagian dari pekerjaanku.” Dia nyengir lebar. “Dua kalimat. Ayo. ‘Bagaimana perasaan Anda menghadapi semifinal?’”
Aku menghela napas.
“Saya akan berusaha keras.”
“Itu jelek sekali.”
“Saya akan berusaha sangat keras.”
“REIN.”
“Sera—”
Dan di detik itu, aku merasakan suhu koridor turun tiga derajat.
Kami berdua menoleh bersamaan.
Elysia von Frostheim berdiri di ujung koridor dengan tumpukan buku di pelukan, punggung selurus tombak, wajah sedatar permukaan danau di pagi buta.
Uap tipis keluar dari napasnya.
Di dalam gedung.
“Ah,” kata Sera pelan. “Halo, Nona Frostheim.”
“Wyndale.”
“Aku sedang mewawancarai partnermu.”
“Aku lihat.” Elysia berjalan mendekat. Setiap langkahnya meninggalkan bunga es kecil di lantai batu yang mencair dua detik kemudian. “Dari jarak dua puluh senti.”
“Aku ini pewawancara agresif.”
“Hm.”
Aku berdiri di antara dua orang itu dengan perasaan seseorang yang menyadari bahwa dia adalah tulang di antara dua anjing yang sangat sopan.
“Aku sudah selesai,” kata Sera riang, memutar penanya. “Kutipannya jelek, tapi jelek juga bisa dijual.” Dia mundur beberapa langkah, lalu — dan aku bersumpah dia melakukan ini dengan sengaja — menoleh dan tersenyum lebar. “Sampai besok, Rein!”
Dia menghilang di belokan.
Hening.
“Dua puluh senti,” kata Elysia pada koridor kosong.
“Lys.”
“Dia memanggil nama depanmu.”
“Semua orang punya nama depan.”
“Dia memanggilnya seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Seperti—” Dia berhenti. Menutup mulut. Menatap tumpukan bukunya. Telinganya merah. “...Tidak ada. Lupakan.”
Aku menatapnya beberapa saat.
Lalu — dan aku tidak tahu dari mana keberanian ini datang, mungkin dari tiga bulan yang perlahan menghancurkan seluruh sistem pertahananku — aku mengulurkan tangan dan mengambil setengah tumpukan bukunya.
“Berat.”
“Aku bisa bawa sendiri.”
“Aku tahu.” Aku mulai berjalan. “Ayo.”
Dia mengikuti setengah langkah di belakangku selama sekitar sepuluh detik.
Lalu langkahnya menyamai langkahku, dan punggung tangannya menyentuh punggung tanganku, dan tetap di sana sepanjang koridor.
Tidak bergandengan. Cuma menyentuh.
Entah kenapa itu terasa lebih berani daripada bergandengan.
Hal ketiga terjadi jam empat sore, di aula utama, dan itu mengubah segalanya.
Papan pengumuman baru dipasang.
UJIAN PRAKTIKUM LAPANGAN — DUNGEON TINGKAT SATU Wajib bagi seluruh murid tahun pertama. Pelaksanaan: tiga hari sebelum semifinal turnamen. Tim: empat orang. Komposisi ditentukan akademi. Kedalaman: lantai satu sampai tiga. Level monster: 5–12.
“Dungeon praktikum,” gumam Gart di sebelahku, membaca dengan mulut ikut bergerak. “Aman kok. Kakakku bilang lantai satu sampai tiga itu isinya slime sama kelelawar goa. Anak-anak juga bisa.”
“Kenapa dijadwalkan tiga hari sebelum semifinal?”
“Hah?”
“Turnamen antar akademi itu acara terbesar lima tahunan,” kataku, masih menatap papan. “Peserta semifinal adalah aset akademi. Kenapa akademi mengirim asetnya masuk dungeon tiga hari sebelum pertandingan?”
Gart mengedipkan mata dua kali. “...Karena jadwalnya memang begitu?”
Mungkin.
Mungkin juga tidak.
Daftar tim ditempel di sebelahnya. Aku mencari namaku.
TIM 14: Rein Gray · Elysia von Frostheim · Gart Oakley · Sera Wyndale (tahun 2, pendamping)
“Ha!” Gart menepuk punggungku. “Kita satu tim! Ini bakal seru—”
Aku tidak mendengarkan.
Aku sedang menatap satu nama lain, di baris paling bawah pengumuman, dicetak dengan huruf kecil seperti catatan administratif yang tidak penting:
Pengawas lapangan ujian: perwakilan Kantor Pemeriksaan Gereja Choir Suci, atas permintaan panitia turnamen.
Dunia terasa sangat jauh selama beberapa detik.
Sebuah tangan menyentuh punggung tanganku.
Aku menoleh. Elysia sudah berdiri di sebelahku, membaca papan yang sama, wajahnya tidak berubah sedikit pun kecuali di satu tempat: rahangnya mengeras.
“Kamu lihat,” katanya pelan.
“Iya.”
“Kita bisa minta izin tidak ikut. Aku bisa memakai nama keluargaku—”
“Tidak.” Kugenggam tangannya, di depan tiga ratus murid yang sedang berebut membaca papan, dan tidak satu pun dari mereka menoleh karena mereka semua sibuk. “Kalau kita menghindar, itu justru mencurigakan.”
“Rein—”
“Lagipula,” kataku, menatap satu baris huruf kecil itu, “kalau mereka memang mencariku, aku ingin tahu sedekat apa mereka sudah sampai.”
Di belakang kami, Prof. Maren Vale berjalan melewati aula dengan setumpuk berkas di tangan.
Beliau tidak berhenti. Beliau tidak menoleh.
Tapi saat melewati kami, tanpa memperlambat langkah sedikit pun, beliau berkata — pelan, datar, seperti orang menggumamkan daftar belanja:
“Lantai tiga dungeon itu ditutup dua tahun lalu karena anomali mana. Dibuka kembali bulan lalu. Tidak ada yang mengajukan permohonan pembukaannya.”
Lalu beliau berjalan terus dan menghilang di koridor.
Aku dan Elysia berdiri di depan papan pengumuman untuk waktu yang cukup lama.
“...Kamu masih mau ikut?” tanyanya.
Aku menatap huruf kecil di baris paling bawah.
“Iya.”
Dia menghela napas panjang. Lalu mengencangkan genggamannya.
“Kalau begitu jangan jauh-jauh dariku di bawah sana.”
(bersambung ke Bab 19)
- 1 Tiga Aturan untuk Tidak Dikenal
- 2 Satu Detik yang Menghancurkan Tiga Tahun
- 3 Kursi Paling Belakang, Deret Paling Pojok
- 4 Kebetulan Tingkat Lanjut
- 5 Hening yang Punya Nama
- 6 Cara Menang Tanpa Menyerang
- 7 Syal
- 8 Hal-Hal yang Tidak Dilihat Orang Lain
- 9 Dua Jam yang Tidak Kuceritakan pada Siapa Pun
- 10 Di Dekat Kamu, Dunia Sunyi
- 11 Movement I
- 12 Aku Duluan
- 13 Hari Pertama Sebagai Sesuatu yang Belum Ada Namanya
- 14 Lima Huruf
- 15 Orang yang Bertanya dengan Benar
- 16 Ritual
- 17 Interlude: Es yang Terlalu Sunyi
- 18 Tiga Hal yang Terjadi di Hari yang Sama reading
- 19 Konduktor
- 20 Salju Pertama
- 21 Seratus
- 22 Utang Satu Roti
- 23 Adipati
- 24 Empat Puluh Tujuh Halaman
- 25 Semifinal
- 26 Final, Bagian Pertama
- 27 Requiem
- 28 Kalimat yang Diucapkan dengan Tenang
- 29 Tujuh Hari
- 30 Sidang
- 31 Yang Tidak Ditulis Sejarah
- 32 Kesaksian yang Sunyi
- 33 Dua Himne
- 34 Tujuh Hari Kedua
- 35 Fajar Hari Ketujuh
- 36 Dinding
- 37 Ikrar
- 38 Winter Requiem
- 39 Yang Tersisa Setelah Salju
- 40 Epilog: Kursi Paling Belakang
- 41 Extra 1 — Rumah yang Terlalu Besar
- 42 Extra 2 — Festival (Side Story: Gart & Sera)
- 43 Extra 3 — Kencan yang Direncanakan Terlalu Matang
- 44 Extra 4 — Gudang Penggilingan
- 45 Extra 5 — Tujuh Generasi (Penutup)