← Chapters Ch. 22 / 45

Chapter Twenty Two

Utang Satu Roti

POV: Rein Gray

Gart Oakley menagih janjinya hari Rabu, di gudang alat kebersihan lantai dua, dengan cara paling Gart Oakley yang bisa dibayangkan.

Dia menyeretku ke dalam gudang, menutup pintu, menyalakan lampu sihir kecil, duduk di atas ember terbalik, dan berkata:

“Oke. Aku sudah siap. Kamu iblis, ya?”

“...Apa?”

“Atau dewa. Atau roh menara. Atau salah satu dari tujuh pahlawan legendaris yang tidur seribu tahun.” Dia menghitung dengan jarinya. “Aku sudah mikir tiga hari. Itu tiga kemungkinan terbaik yang kudapat.”

Aku menatapnya untuk waktu yang cukup lama.

“Gart.”

“Ya?”

“Kamu tidak takut?”

“Takut? Ya takut, dong. Waktu di dungeon itu aku hampir pipis.” Dia mengangkat bahu sebesar gerbong. “Tapi itu karena ada sembilan belas monster. Bukan karena kamu.”

“Aku baru saja—”

“Rein.” Gart menaruh kedua tangannya di lutut dan menatapku, dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, wajahnya sepenuhnya serius. “Aku ini Rank C. Tidak jenius, tidak bangsawan, tidak punya bakat aneh. Kakakku sudah bilang dari dulu aku tidak akan lulus akademi.”

“Kamu akan lulus.”

“Dengarkan dulu.” Dia menghela napas. “Di dungeon itu, aku panik total. Gelap, aku tidak bisa lihat apa pun, dan yang kupikirkan cuma aku akan mati di sini dan surat wasiatku isinya sepatu.

Dia mengangkat wajahnya.

“Lalu kamu bilang: Gart, kamu di tengah. Kamu dinding, bukan penyerang.

Hening.

“Kamu tahu apa artinya itu buatku?” katanya. “Selama enam belas tahun tidak ada satu orang pun yang memberiku pekerjaan yang benar-benar penting. Lalu dalam gelap gulita, dengan sembilan belas monster, orang yang bisa mendengar segalanya memilih menaruhku di tengah.” Dia menepuk dadanya. “Aku dindingnya. Aku!”

“Gart—”

“Jadi aku tidak peduli kamu iblis atau dewa atau apa,” katanya. “Aku cuma mau tanya satu hal.”

“...Tanya.”

“Kalau ada yang mau menangkapmu nanti,” katanya, “aku boleh ikut berdiri di depan, kan?”

Gudang alat kebersihan lantai dua bau pemutih dan kain pel basah, ada laba-laba di sudut langit-langit, dan lampu sihirnya berkedip karena manaknya hampir habis.

Dan aku duduk di sana dan tidak bisa bicara selama sekitar sepuluh detik.

“...Kamu tidak tahu apa yang kamu tawarkan.”

“Enggak.” Dia nyengir lebar. “Makanya aku tanya, bukan langsung berdiri.”

Aku menghela napas panjang.

Lalu aku menceritakannya.

Tidak semuanya — bukan tentang Bumi, bukan tentang cara aku sampai di dunia ini. Tapi bagian yang penting: telinga, kebisingan, tiga aturan, dan alasan kenapa Rank E itu bukan kebohongan tapi juga bukan kebenaran.

Gart mendengarkan tanpa memotong sekali pun, yang jujur saja adalah pencapaian terbesarnya sepanjang hidupnya.

Ketika aku selesai, dia diam beberapa saat.

Lalu berkata:

“Jadi... kelas itu berisik banget buat kamu?”

“Iya.”

“Dan aku duduk di sebelahmu selama tiga bulan sambil ngobrol terus.”

“...Iya.”

Wajah Gart Oakley berubah jadi ekspresi horor murni.

“REIN. KENAPA KAMU TIDAK BILANG?!”

“Kamu tidak berisik.”

“AKU BERISIK BANGET!”

“Mana-mu tidak,” kataku. “Suaramu iya. Tapi suara biasa tidak masalah buatku. Yang menyakitkan itu mana.”

Dia berhenti.

“...Mana-ku gimana?”

Aku memikirkannya.

“Stabil,” kataku. “Rendah. Tidak pernah berubah, bahkan waktu kamu panik. Seperti... tanah.”

Gart Oakley, Rank C, atribut Tanah, murid yang menurut kakaknya tidak akan lulus akademi, menatapku dengan mata berkaca-kaca di dalam gudang alat kebersihan.

“Bung.”

“Jangan menangis.”

“AKU TIDAK MENANGIS.”

“Gart—”

“MATAKU CUMA KEMASUKAN PEMUTIH.”


Aku membelikan Sera roti keesokan harinya.

Aku menemukannya di ruang klub jurnal — ruangan sempit di lantai lima yang seluruh dindingnya tertutup kertas tempelan, dengan satu meja yang tenggelam di bawah tumpukan arsip.

Dia sedang tertidur di atas meja itu, pipi menempel di kertas, pena bulunya jatuh di lantai, dan tinta menempel di dahinya dari halaman yang jadi bantal.

Aku menaruh roti di sebelah kepalanya dan berbalik untuk pergi.

“Kalau kamu pergi diam-diam,” gumam suara dari atas meja, “aku akan menulis artikel tentangmu.”

Aku berhenti.

Sera mengangkat kepalanya. Rambut cokelat kemerahannya berantakan total, satu sisi wajahnya bergaris-garis bekas kertas, dan ada tulisan terbalik “—LAPORAN ANGGARAN KLUB” tercetak di dahinya.

Dia menatap roti di sebelahnya.

“...Ini apa?”

“Utang.”

“Aku bercanda soal roti itu.”

“Aku tidak.”

Dia mengambilnya. Membuka bungkusnya. Menggigit.

Dan mengunyah sangat pelan sambil menatap meja.

“Rein.”

“Ya?”

“Boleh aku bertanya satu hal, dan kamu boleh tidak menjawab?”

“Boleh.”

“Kalau aku yang duluan,” katanya, masih menatap meja, “kalau aku yang menemukanmu duluan, sebelum dia — apa akan beda?”

Ruangan klub jurnal sangat sunyi. Kertas tempelan di dinding bergerak sedikit karena angin dari jendela.

Aku memikirkan pertanyaan itu dengan serius, karena dia bertanya dengan serius, dan karena dia pantas mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada jawaban yang enak didengar.

“Tidak,” kataku.

Dia mengangguk pelan, masih menatap meja.

“Kenapa?”

“Karena bukan soal siapa yang duluan,” kataku. “Dia bukan orang pertama yang mendekat. Dia orang pertama yang membuat dunia berhenti berisik.”

“...Itu kiasan?”

“Bukan.”

Sera Wyndale mengangkat wajahnya dan menatapku dengan mata cokelat besar yang berkaca-kaca dan senyum yang sangat, sangat berantakan.

“Ya ampun,” katanya. “Kamu jujur banget, ya. Menyebalkan sekali.”

“Maaf.”

“Jangan minta maaf, itu lebih parah.” Dia menggigit rotinya lagi, keras-keras. “Kamu tahu, aku sudah menyiapkan tiga skenario di kepalaku semalam. Skenario A: kamu bilang mungkin. Skenario B: kamu bilang tidak tahu. Skenario C—” Dia mengunyah. “—kamu bilang tidak, tapi dengan cara yang jelek, jadi aku bisa marah dan merasa lebih baik.”

“Skenario D?”

“Skenario D adalah kamu memberi alasan yang bagus sekali sampai aku malah jadi lebih suka.” Dia menunjuk wajahku dengan roti. “Kamu memilih D. Itu curang. Itu sangat curang, Rein Gray.”

Aku tidak tahu harus menjawab apa.

“Sudah, pergi sana.” Dia mengibaskan tangan. “Aku ada tenggat. Dan kalau kamu berdiri di sini lebih lama, Permaisuri Es akan membekukan pintuku, dan pintu ini sudah rusak dua kali semester ini.”

Aku berjalan ke pintu.

“Rein.”

Aku berhenti.

Sera sudah menunduk lagi ke arsipnya, pena bulunya sudah kembali melayang, dan suaranya sudah kembali seperti biasa — terlalu riang, terlalu keras.

“Menanglah di semifinal,” katanya. “Aku sudah menulis judulnya. Kalau kalian kalah, aku harus menulis ulang, dan aku benci menulis ulang.”

“Judulnya apa?”

“Rahasia jurnalis.”

Aku menutup pintu.

Di koridor, aku berjalan sekitar sepuluh langkah sebelum menyadari bahwa Elysia von Frostheim sedang bersandar di dinding di seberang pintu klub jurnal, dengan tangan terlipat di depan dada dan ekspresi datar sempurna.

“...Sudah lama di situ?”

“Cukup lama.”

“Kamu mendengar?”

“Aku tidak menguping.” Dia mendorong dirinya dari dinding dan mulai berjalan. “Aku menunggu.”

“Menunggu apa?”

“Menunggu kamu keluar,” katanya, dan tangannya menemukan tanganku di koridor kosong tanpa satu pun basa-basi. “Kalau tidak keluar dalam sepuluh menit, aku masuk.”

“Kamu tidak percaya padaku?”

“Aku percaya padamu.” Dagunya naik lima derajat. “Aku tidak percaya pada ruangan.”

Aku memutuskan untuk tidak menanyakan apa artinya itu.

(bersambung ke Bab 23)