Chapter Eight
Hal-Hal yang Tidak Dilihat Orang Lain
Ada dua Elysia von Frostheim, dan aku satu-satunya orang di dunia yang pernah bertemu keduanya.
Elysia yang pertama ada di koridor, aula makan, ruang kelas, dan setiap tempat yang punya lebih dari tiga saksi. Dia berjalan dengan punggung lurus dan dagu terangkat lima derajat. Dia membalas sapaan dengan anggukan berdurasi tepat — tidak lebih hangat untuk bangsawan, tidak lebih dingin untuk rakyat biasa, dan justru keadilan sempurna itulah yang membuat orang takut padanya. Dia tidak pernah tertawa di depan umum. Dia tidak pernah terlihat lelah. Kalau ada murid yang berani mendekat, dia akan mendengarkan dengan sopan sempurna dan menjawab dengan kalimat yang tidak menyisakan celah untuk kalimat berikutnya.
Tiga ratus murid memujanya. Tidak satu pun yang mengenalnya.
Elysia yang kedua ada di perpustakaan bawah tanah, rak agraria abad ke-4, subseksi rotasi tanaman umbi.
Elysia yang kedua melepas pita rambutnya dalam sepuluh detik pertama setiap kali pintu tertutup.
Elysia yang kedua duduk dengan satu kaki ditekuk ke atas kursi kalau merasa tidak ada yang akan masuk.
Elysia yang kedua menopang pipi dengan punggung tangan sampai pipinya penyok sedikit, dan tidak sadar bahwa itu membuat wajahnya kehilangan seluruh wibawa Frostheim-nya.
Elysia yang kedua, kalau bacaannya membosankan, akan mengayunkan kaki pelan di bawah meja dengan ritme yang — setelah kucocokkan selama dua minggu — ternyata mengikuti ketukan mananya sendiri. Berarti dia melakukannya tanpa sadar. Berarti itu bukan gerakan yang pernah diizinkan keluarganya.
Dan Elysia yang kedua, kalau lelah, akan menguap dengan menutup mulut memakai punggung tangan, mata berair sedikit, lalu mengerjap seperti kucing yang baru bangun.
Aku sudah melihat itu empat kali sekarang.
Empat kali, dan setiap kali aku harus menatap dinding selama dua puluh detik untuk alasan yang menolak kuakui.
“Rein.”
“Hm.”
“Kamu punya makanan?”
Aku mengangkat wajah dari buku. Dia sedang menatap bungkus roti isi di sebelah tanganku dengan ekspresi yang, di wajah orang lain, akan disebut mengiler.
“Kamu punya kotak makan sutra dengan tujuh sekat.”
“Sudah habis.”
“Baru jam empat.”
“Ukurannya kecil-kecil.” Dia mengalihkan pandangan ke bukunya, membalik halaman dengan sangat bermartabat, lalu menambahkan dengan suara yang jauh lebih pelan: “...dan itu kelihatan enak.”
Aku menatap roti isi tiga tembaga dari kios koridor bawah. Roti paling murah di akademi. Isinya daging olahan yang komposisinya lebih baik tidak dipertanyakan.
Kusobek jadi dua. Kusodorkan setengah.
Dia menerimanya dengan kedua tangan — kedua tangan, seperti menerima piala — lalu menggigitnya kecil-kecil sambil menatap ke depan, dan wajahnya perlahan berubah.
“...Ini enak sekali.”
“Ini roti tiga tembaga.”
“Ini enak sekali,” ulangnya, lebih tegas, seolah aku sedang menghina hidangan istana.
Dan begitulah, mulai hari itu, aku membeli dua roti isi setiap sore.
Dia tidak pernah memintanya lagi. Dia cuma akan melirik ke arah tasku sekitar jam empat, lalu pura-pura membaca sampai aku mengeluarkannya.
Kalau aku sengaja menunda sepuluh menit — dan aku pernah melakukannya, sekali, murni untuk penelitian — kakinya akan berhenti berayun, dia akan membalik halaman tiga kali dalam sepuluh detik tanpa membaca satu pun, dan akhirnya berkata dengan nada paling dingin yang bisa dia produksi:
“Rein. Bukumu terbalik.”
“Bukuku tidak terbalik.”
“...Roti.”
Peringkat satu Akademi Arcanum Spire, semuanya.
Hari itu — hari kedelapan belas sejak Partner Bond, kalau aku menghitung dengan benar, dan aku selalu menghitung dengan benar — dia tertidur.
Aku tidak menyadarinya sampai halaman berhenti dibalik.
Kuangkat wajahku. Elysia duduk di seberang meja, kepala tersandar ke tangan, buku kentang terbuka di halaman yang sama sejak dua puluh menit lalu, dan matanya terpejam.
Cahaya lampu minyak perpustakaan bergerak pelan di wajahnya.
Aku pernah membaca — di Bumi, dalam kehidupan yang rasanya seperti mimpi orang lain — bahwa manusia terlihat paling jujur saat tidur. Aku selalu menganggap itu kalimat kosong.
Ternyata tidak.
Semua yang membuat Elysia von Frostheim menakutkan hilang saat dia tidur. Dagu yang biasanya terangkat lima derajat sekarang menunduk. Bibirnya sedikit terbuka. Napasnya pelan dan teratur. Satu helai rambut perak jatuh melintang di pipinya dan bergerak tiap kali dia mengembuskan napas.
Yang tersisa cuma anak perempuan berusia enam belas tahun yang kelelahan.
Dia tidur nyenyak sekali, pikirku. Di ruangan terbuka. Di depan orang yang dua bulan lalu belum dikenalnya.
Sesuatu di dadaku terasa terlalu penuh.
Aku berdiri sepelan mungkin, melepas syal biru muda dari leherku, dan menyampirkannya ke bahunya.
Lalu aku duduk kembali dan tidak melakukan apa-apa selama satu jam empat puluh menit.
Aku tidak membaca. Aku tidak bergerak. Aku duduk di sana di dalam keheningan pertama yang pernah kumiliki di dunia ini, mendengarkan napas satu orang, dan menyadari dengan kejelasan yang mengerikan bahwa tiga aturanku sudah lama sekali tidak lagi menjadi aturan.
Mereka sudah jadi kebiasaan.
Dan kebiasaan bisa dilanggar.
Ketika akhirnya dia bangun, dia mengerjap dua kali, melihat syal di bahunya, lalu melihatku.
“...Berapa lama?”
“Sebentar.”
“Rein.”
“...Satu jam empat puluh menit.”
Wajahnya memerah dengan kecepatan yang mengagumkan. Dia menegakkan punggung, merapikan rambut, mencari pitanya, menjatuhkan pitanya, memungut pitanya.
“Kenapa tidak dibangunkan?!”
“Kamu kelihatan lelah.”
“Aku tidak—” Dia berhenti. Menutup mulut. Menatap meja. Lalu, dengan suara yang jauh lebih kecil: “...Aku memang lelah.”
Aku menunggu.
“Ayahku mengirim surat,” katanya akhirnya, jari-jarinya memutar pita rambut. “Setiap dua minggu. Isinya sama. Peringkat, evaluasi, jadwal, daftar keluarga yang harus kusapa saat libur musim dingin, dan pengingat bahwa nama Frostheim tidak boleh berada di urutan kedua dalam hal apa pun.” Dia mendengus pelan. “Kali ini ada tambahan. Dia mendengar tentang Partner Bond-ku.”
Dadaku dingin. “Dan?”
“Dia menulis: pastikan anak itu tidak menurunkan nilaimu.” Elysia mengangkat wajahnya, dan senyumnya tipis dan sama sekali tidak sampai ke mata. “Itu saja. Tidak ada pertanyaan tentang siapa kamu.”
Aku tidak tahu harus berkata apa. Jadi aku berkata hal paling bodoh yang bisa kupikirkan.
“Nilaimu tidak akan turun.”
Dia menatapku.
Lalu tertawa. Bukan tawa yang ditahan di balik tangan — tawa sungguhan, pendek dan pecah, yang menggema di rak-rak buku agraria dan langsung dia bekap dengan kedua tangan karena kaget pada suaranya sendiri.
Aku belum pernah mendengarnya. Tidak sekali pun dalam delapan belas hari.
Suaranya bening. Dan di telingaku, di dalam keheningan itu, suara tawanya adalah satu-satunya nada yang pernah terdengar sejak aku tiba di dunia ini.
“Kamu,” katanya dari balik tangannya, matanya berair, “adalah orang paling aneh yang pernah kutemui.”
“Terima kasih.”
“Itu bukan pujian.”
“Aku terima sebagai pujian.”
Dia menurunkan tangannya. Rambut peraknya berantakan, pipinya merah, dan dia masih tersenyum — senyum penuh, lebar, tanpa satu pun lapisan Frostheim.
Kalau dia yang di koridor membuat orang berhenti bicara, maka yang ini membuat orang lupa cara bernapas.
Aku menunduk ke bukuku dan tidak membaca satu kata pun selama sisa sore itu.
Di lantai atas, di balik rak buku sejarah maritim yang tidak pernah dipinjam siapa pun, Sera Wyndale duduk bersila di lantai dengan pena bulu melayang diam di sebelahnya.
Dia sudah tiga hari melacak rute Rein Gray.
Dia sudah tahu tentang gudang sapu, taman atap, dan rak agraria. Dia sudah menyiapkan [Zephyr Script] — pena angin yang bisa merekam suara dari jarak dua puluh meter, alat terbaiknya, alat yang membuatnya jadi ketua Klub Jurnal di tahun kedua.
Yang dia harapkan: bukti. Percakapan tentang curang, sogokan, artefak terlarang, apa pun yang menjelaskan bagaimana seorang Rank E memenangkan duel melawan Ashford.
Yang dia dapat, selama tiga puluh menit terakhir, adalah:
Suara halaman dibalik. Seorang gadis mengeluh tentang surat ayahnya. Seorang cowok bilang “nilaimu tidak akan turun” dengan nada seperti orang menyebutkan fakta cuaca. Dan tawa Elysia von Frostheim — yang menurut catatan Klub Jurnal selama satu setengah tahun terakhir, belum pernah terdokumentasi satu kali pun.
Sera menatap pena bulunya yang melayang.
Lalu, pelan-pelan, dia menurunkan tangannya dan memutus mana ke [Zephyr Script].
Rekaman itu buyar jadi angin.
“...Ck,” gumamnya, menyandarkan kepala ke rak buku. “Bukan scoop. Payah banget.”
Dia duduk di sana beberapa saat lagi, mendengarkan suara samar dari lantai bawah, dengan ekspresi yang tidak dia sadari sedang dia pasang.
(bersambung ke Bab 9)