Chapter Nineteen
Konduktor
POV: Rein Gray
Lantai satu dan dua persis seperti kata Gart: slime, kelelawar goa, dan satu laba-laba batu yang lebih takut pada kami daripada kami padanya.
Tim 14 menyelesaikan keduanya dalam empat puluh menit.
“Gampang banget!” seru Gart, mengayunkan perisai batunya. “Aku sudah siap-siap mental semalam, tahu. Aku bahkan nulis surat wasiat.”
“Kamu nulis surat wasiat untuk dungeon tingkat satu?”
“Isinya cuma ‘kasih sepatuku ke adikku’. Tapi tetap saja niatnya serius.”
Sera tertawa terbahak sambil mencatat sesuatu di buku jurnalnya. Dia mendapat izin ikut sebagai pendamping tahun kedua — resminya untuk dokumentasi, tidak resminya karena dia mengancam tiga orang di kantor administrasi dengan artikel investigasi.
“Ini bagus,” katanya, pena bulunya melayang mencoret-coret. “‘Empat Murid Menaklukkan Dungeon: Kisah Keberanian’. Judulnya jelek, nanti kuperbaiki.”
Elysia berjalan di sebelahku, tidak bicara, matanya bergerak terus ke dinding goa.
“Kenapa?” tanyaku pelan.
“Terlalu sepi.”
Aku sudah menyadarinya sejak dua puluh menit lalu.
Dungeon punya suara. Bukan suara biasa — suara mana. Setiap dungeon adalah organ hidup yang bernapas, dan telingaku bisa mendengar denyutnya seperti mendengar detak jantung dari balik dinding.
Denyut dungeon ini salah.
Terlalu pelan. Terlalu teratur. Seperti seseorang yang berpura-pura tidur.
“Lantai tiga di depan,” kata Sera, membaca peta. “Ada pengawas menunggu di pintu masuk. Katanya wajib lapor.”
Kami sampai di pintu lantai tiga: lengkungan batu setinggi lima meter dengan sigil kuno terukir di bingkainya.
Dan di depannya berdiri seorang pria berjubah putih dengan lambang paduan suara berlapis emas di dada.
Gereja Choir Suci.
“Tim empat belas,” katanya, membaca daftar tanpa mengangkat wajah. Suaranya halus, sopan, sama sekali tidak mengancam, dan itulah yang membuat tengkukku berdiri. “Frostheim, Oakley, Wyndale, dan... Gray.”
Dia mengangkat wajahnya di nama terakhir.
Matanya abu-abu. Dan mananya — kalau bisa disebut mana — terasa seperti air yang sangat dalam dan sangat dingin.
“Rein Gray,” katanya. “Rank E.”
“Iya, Tuan.”
“Menarik.” Dia tersenyum sopan. “Rank E yang mencapai semifinal turnamen antar akademi. Statistik seperti itu tidak terjadi dalam empat puluh tahun terakhir.”
“Saya beruntung punya partner yang hebat.”
“Tentu.” Matanya bergerak ke Elysia, lalu kembali padaku, dan berlama-lama satu detik terlalu lama. “Silakan masuk. Ujian dimulai saat kalian melewati lengkungan. Ah — dan satu catatan prosedural.”
“Ya, Tuan?”
“Kalau terjadi sesuatu di dalam,” katanya ramah, “artefak pencatat di lengkungan ini akan merekam seluruh aktivitas mana di lantai tiga. Untuk keselamatan kalian.”
Aku melihat artefaknya. Kristal seukuran kepalan tangan, tertanam di puncak lengkungan, berdenyut pelan.
Untuk keselamatan kami.
Tentu saja.
“Terima kasih, Tuan.”
Kami melewati lengkungan.
Lantai tiga gelap dengan cara yang berbeda dari dua lantai sebelumnya.
Lantai satu dan dua punya kristal cahaya alami di dinding. Di sini tidak ada. Cuma terowongan batu hitam yang menyerap cahaya lampu sihir Sera seperti kain menyerap air.
“Aneh,” gumam Sera, menaikkan intensitas lampunya. Cahayanya tetap tidak mencapai lebih dari lima meter. “Ini bukan gelap normal. Ini kayak... dimakan.”
“Formasi peredam cahaya,” kata Elysia. “Bangsawan memakainya di ruang penyimpanan. Mahal sekali.”
“Di dungeon praktikum tingkat satu?”
Tidak ada yang menjawab.
Kami berjalan dua ratus meter. Denyut dungeon makin salah — makin pelan, makin teratur, seperti mesin yang menunggu.
Lalu Gart menginjak sesuatu.
Klik.
“...Aku nggak suka bunyi itu,” katanya.
Sigil merah menyala di seluruh lantai terowongan sekaligus. Bukan satu — ratusan, memanjang ke depan dan ke belakang sejauh mata memandang, semuanya menyala serentak seperti barisan lampu.
Dan seluruh cahaya di terowongan itu mati.
Bukan padam. Ditelan.
Lampu sihir Sera masih menyala di tangannya — aku bisa merasakan mananya bekerja — tapi cahayanya tidak sampai ke mata siapa pun. Gelap total. Gelap yang tidak punya dasar.
“SERA! LAMPUNYA—”
“MASIH NYALA! AKU PEGANG, MASIH NYALA, TAPI—”
“Semuanya diam.”
Suaraku sendiri, dan aku hampir tidak mengenalinya.
Mereka diam.
Dan di dalam kegelapan mutlak itu, aku membuka telingaku.
Dungeon itu berhenti berpura-pura tidur.
Denyut yang tadi pelan dan teratur berubah dalam satu detak — naik, cepat, hidup — dan bersamanya datang suara-suara lain. Puluhan. Dari depan, dari belakang, dari langit-langit.
Cakar di batu. Napas rendah. Dan pola mana yang aku kenal dari buku bestiary: Cave Stalker, level 22. Predator dungeon lantai tujuh ke bawah, yang berburu di kegelapan, yang tidak punya mata sama sekali karena tidak membutuhkannya.
Level 22. Di dungeon yang dijadwalkan level 5 sampai 12.
Empat murid tahun pertama. Satu murid tahun kedua. Tidak ada penglihatan.
“Rein,” suara Elysia, tenang, di sebelah kananku. Tangannya menemukan tanganku dalam gelap dan menggenggam. “Berapa banyak?”
Dunia mati. Keheningan turun. Dan di dalam keheningan itu, semua suara lain jadi jernih seperti kaca.
“Sembilan belas,” kataku. “Dua belas di depan, lima di belakang, dua di langit-langit. Mereka mengepung. Jangan bergerak, mereka menunggu langkah kaki.”
“Sembilan belas?!” Suara Gart pecah. “Sembilan belas apa?!”
“Yang tidak butuh mata,” kataku. “Gart. Sera. Dengarkan baik-baik, karena aku cuma sempat mengatakannya sekali.”
“Rein, kamu tidak bisa melihat apa pun juga—”
“Aku tidak perlu melihat.”
Hening satu detik.
Lalu suara Sera, dari kegelapan, sangat pelan:
“...Oh.”
“Gart. Kamu di tengah. Bentuk [Bulwark] setinggi mungkin dan jangan bergerak dari titikmu apa pun yang terjadi. Kamu dinding, bukan penyerang.”
“OKE!”
“Sera. Kamu di belakang Gart. [Gale Step] hanya kalau aku bilang, ke arah yang aku bilang. Jangan menebak.”
“Siap.”
“Lys.” Kugenggam tangannya lebih erat. “Kamu senjatanya. Aku yang membidik.”
“...Baik.”
“Semuanya—” Aku menarik napas. “Mulai sekarang, jangan percaya apa pun kecuali suaraku.”
Cakar pertama menghantam batu.
“GART, SEKARANG!”
“[BULWARK]!”
Dinding tanah meledak naik dari lantai. Tubrukan. Jeritan makhluk. Sesuatu yang besar terpental.
“Lys — kiri, empat puluh derajat, tinggi dua meter!”
“[Aurora Lance]!”
Tombak es melesat ke dalam kegelapan ke arah yang tidak bisa dilihat siapa pun, dan sesuatu di kejauhan menjerit lalu berhenti menjerit.
“Kanan, dua puluh, rendah! Dua ekor berurutan!”
“[Aurora Lance]!”
“Belakang! Sera, dorong Gart tiga langkah ke kiri — SEKARANG!”
“[Gale Step]!”
Cakar melintas di tempat Gart berdiri setengah detik sebelumnya.
Dan mulai saat itu, aku berhenti berpikir dan mulai mendengar.
Sembilan belas denyut. Enam belas. Tiga belas. Setiap makhluk punya frekuensi sendiri, seperti alat musik dalam orkestra, dan aku menempatkan mereka di ruang tiga dimensi di dalam kepalaku dan menyanyikan koordinat mereka satu per satu ke dalam kegelapan.
“Sepuluh derajat kiri. Lys, lebih rendah. Tahan. Sekarang.”
“Gart, tunduk!”
“Atas! Dua ekor jatuh dari langit-langit — Lys, ke atas, sebar!”
“[Stella Bloom]!”
Ratusan titik es mekar di kegelapan — dan untuk pertama kalinya sejak sigil menyala, ada cahaya: kilau kecil dari kristal es yang berputar, memantulkan mana Elysia sendiri, menerangi terowongan dengan warna biru pucat selama tiga detik.
Tiga detik itu cukup bagi Sera Wyndale untuk melihat.
Dan yang dia lihat adalah ini:
Seorang murid Rank E berdiri di tengah terowongan dengan mata tertutup dan tangan tergenggam di tangan partnernya, mengarahkan sebelas makhluk buas ke kematian mereka satu per satu dengan suara yang tidak sekali pun bergetar.
Es padam. Gelap kembali.
“Sebelas tersisa,” kataku. “Mereka mulai belajar. Mereka berhenti bersuara saat bergerak.”
“Bisa kamu dengar?”
“Aku bisa mendengar jantung mereka.”
Hening satu detik di dalam gelap.
Lalu Elysia tertawa — pendek, tegang, dan sedikit gila.
“Kamu memang tidak masuk akal.”
“Kiri. Tiga puluh. Sekarang.”
“[Aurora Lance].”
Butuh dua puluh menit.
Ketika makhluk terakhir jatuh, aku menutup telingaku dan lututku langsung menyerah. Elysia menangkapku sebelum aku sampai ke lantai — dia sudah belajar untuk berdiri di posisi yang tepat, dan aku memutuskan untuk tidak memikirkan apa artinya itu.
Sigil merah di lantai padam satu per satu. Cahaya lampu Sera perlahan kembali menembus udara.
Gart duduk di tanah dengan punggung bersandar ke [Bulwark]-nya sendiri, wajahnya pucat, dan tertawa dengan suara orang yang belum yakin masih hidup.
“Kita... kita menang?”
“Kita menang,” kata Elysia.
“REIN, KAMU—” Gart berbalik. “KAMU KENAPA BISA—”
Dia berhenti.
Dan aku menyadari, dari posisi setengah tergeletak di lengan Elysia, bahwa Gart Oakley — yang selama tiga bulan ini mempercayai setiap kebohongan yang pernah kuucapkan tanpa satu pun keraguan — sedang menatapku dengan ekspresi yang belum pernah kulihat di wajahnya.
Bukan curiga.
Takut. Sedikit. Dan berusaha keras menyembunyikannya.
“...Rein?”
Aku tidak punya kalimat siap untuk ini.
Tiga tahun menyusun alibi, dan tidak satu pun yang berlaku ketika orang yang bertanya adalah orang yang baru saja kau selamatkan.
“Gart,” kataku pelan. “Nanti aku jelaskan.”
Dia menatapku beberapa saat.
Lalu — karena dia Gart Oakley — dia mengangguk sekali, berdiri, dan mengulurkan tangannya yang sebesar piring.
“Oke,” katanya. “Nanti.”
Dan itu saja.
Aku menerima tangannya dan berdiri.
Di belakang kami, Sera Wyndale berdiri diam di tengah terowongan, memandangi tangannya sendiri.
Pena bulunya melayang di sebelah kepalanya, ujungnya masih basah oleh tinta, dan di halaman jurnal yang terbuka di tangannya tertulis tiga puluh baris catatan yang dia buat selama dua puluh menit terakhir tanpa sadar.
Setiap koordinat. Setiap perintah. Setiap detik.
Bukti paling lengkap yang pernah dikumpulkan siapa pun di kontinen ini.
Dia menatap halaman itu untuk waktu yang sangat lama.
(bersambung ke Bab 20)