← Absolute Resonance

Chapter Thirteen

Hari Pertama Sebagai Sesuatu yang Belum Ada Namanya

Masalah pertama muncul pukul tujuh pagi, di depan pintu asrama laki-laki.

Aku keluar, memakai syal, dan menemukan Elysia von Frostheim berdiri di sana.

Bukan di koridor. Bukan di kelas. Di depan pintu asrama laki-laki, tempat yang secara resmi terlarang bagi murid perempuan, dengan tangan terlipat di depan dan wajah setenang danau beku, sementara sekitar empat puluh murid laki-laki di belakangku mengantre keluar dan tidak satu pun berani lewat.

“Selamat pagi,” katanya.

“...Selamat pagi.”

“Aku menunggumu.”

“Aku lihat.”

“Sudah lima belas menit.”

“Kamu bisa mengetuk.”

“Ini asrama laki-laki. Aku punya tata krama.” Dia berbalik dan mulai berjalan. “Ayo.”

Empat puluh murid laki-laki menyingkir membentuk lorong.

Aku berjalan mengikutinya melewati lorong manusia itu dengan perasaan seseorang yang digiring ke tiang gantungan, dan di belakangku aku mendengar suara Gart yang jelas sekali berkata pada seseorang: “Itu temanku. Itu TEMANKU.


Masalah kedua muncul di koridor utama.

Kami berjalan berdampingan. Cuma itu. Tidak bergandengan, tidak bicara, cuma berjalan dalam jarak yang — kuakui — sekitar dua puluh senti lebih dekat daripada jarak berjalan normal antara dua manusia.

Itu sudah cukup.

Koridor utama Arcanum Spire di jam tujuh pagi berisi sekitar tiga ratus murid, dan aku bisa mendengar reaksi mereka bahkan sebelum melihatnya: gelombang mana yang berdenyut kaget, satu per satu, seperti kartu domino yang jatuh sepanjang koridor.

“Itu Frostheim—” “Sama anak Rank E yang kemarin—” “Mereka jalan bareng?” “Bukannya mereka memang partner—” “Iya tapi LIHAT JARAKNYA—”

Aku menarik syal menutupi separuh wajahku.

“Kamu bisa jalan lebih cepat,” gumamku.

“Tidak.”

“Semua orang melihat.”

“Iya.” Dagunya naik lima derajat. “Bagus.”

“...Bagus?”

Dia tidak menjawab. Tapi aku melihat sudut bibirnya, dan aku sudah cukup lama mengenalnya untuk tahu bahwa satu milimeter itu artinya bukan bagus.

Artinya silakan lihat.


Masalah ketiga menunggu di dalam kelas 1-C, dan masalah ketiga adalah masalah yang mengubah segalanya.

Aku masuk, berjalan ke pojok belakang, duduk di kursi paling belakang deret paling pojok — kursi yang sudah dua bulan ini kupertahankan seperti benteng terakhir peradaban.

Elysia berjalan ke baris depan seperti biasa.

Lalu berhenti.

Lalu berbalik.

Lalu berjalan naik — melewati baris satu, baris dua, baris tiga, baris empat, baris lima — dengan tumpukan bukunya di pelukan dan wajah tenang seseorang yang sedang membeli roti.

Kelas 1-C berhenti bernapas untuk kedua kalinya dalam dua bulan.

Dia berhenti di sebelahku, di bangku kosong yang selama ini jadi wilayah Gart, meletakkan bukunya di meja, dan duduk.

Hening.

“...Itu tempat Gart,” kataku.

“Gart pindah.”

“Gart tidak pindah.”

“Gart,” kata Elysia tanpa menoleh, “pindah.”

Dari tiga baris di bawah, terdengar suara Gart Oakley yang sangat, sangat gembira: “AKU PINDAH!”

Kelas meledak.

Bukan ribut biasa. Ini kekacauan penuh — kursi berderit, orang berdiri, seseorang menjatuhkan tinta, dua orang berlari keluar kelas (untuk apa, aku tidak akan pernah tahu), dan suara satu murid perempuan di baris tiga yang berteriak “AKU SUDAH BILANG! DARI HARI PERTAMA AKU SUDAH BILANG!” dengan nada kemenangan yang mengerikan.

Prof. Maren Vale masuk dua menit kemudian, menatap situasi ruangan, menatap bangku paling belakang, lalu — tanpa berkata apa-apa — membuka bukunya dan mulai mengajar seolah tidak terjadi apa pun.

Aku melirik ke samping.

Elysia sedang menyalin catatan dengan punggung selurus tombak dan ekspresi paling profesional yang pernah dipasang manusia.

Telinganya merah sejak tadi.

Sepanjang dua jam pelajaran, kami tidak bicara satu kata pun.

Tapi di menit ke-empat puluh, tanpa mengalihkan pandangan dari papan tulis, dia menggeser tangan kirinya ke tepi meja — pelan sekali, milimeter demi milimeter, seperti sedang menyelundupkan sesuatu.

Aku menatap tangan itu selama sepuluh detik penuh.

Lalu kugeser tangan kananku dan kukaitkan jari kelingkingku ke jari kelingkingnya, di bawah bayangan meja, di tempat tidak ada yang bisa melihat.

Dunia sunyi.

Dan Prof. Maren Vale, di depan kelas, membalik halaman bukunya dan tersenyum sangat tipis pada halaman itu.


Sera Wyndale mencegatku di koridor timur saat istirahat, dan dia tidak sendirian — dia membawa tiga anggota Klub Jurnal yang semuanya membawa buku catatan.

“Rein Gray!”

“Tidak.”

“Aku belum tanya apa-apa!”

“Jawabannya tetap tidak.”

Dia berlari kecil mengejarku, tumpukan kertasnya berantakan, pensil di rambutnya jatuh dan dia menangkapnya di udara tanpa melihat. “Satu pertanyaan! Satu saja! Sebagai jurnalis, sebagai senior, sebagai orang yang menghapus rekaman—”

Aku berhenti berjalan.

Sera menutup mulutnya dengan kedua tangan.

Tiga anggota klubnya menoleh padanya dengan bingung.

“...Rekaman apa,” kataku pelan.

“Tidak ada.” Dia mengibaskan tangan cepat. “Salah ucap. Bahasa Verdant kuno. Artinya ‘selamat pagi’.”

“Sera.”

“Kalian bertiga, pergi.” Dia mengusir anggota klubnya dengan gerakan tangan. Mereka pergi sambil menoleh-noleh. Sera menunggu sampai koridor kosong, lalu menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke dinding.

Rambut cokelat kemerahannya lepas dari kuncir di beberapa tempat. Ada noda tinta di pipinya. Dia menatap langit-langit koridor beberapa saat sebelum bicara.

“Aku punya rekaman kalian di perpustakaan. Dua minggu lalu. [Zephyr Script], tiga puluh menit, kualitas bagus.” Dia mengangkat bahu. “Aku hapus.”

“Kenapa?”

“Karena isinya jelek.” Dia menoleh, dan senyumnya kembali — tapi lebih kecil dari biasanya. “Aku mencari bukti kecurangan. Yang kudapat: seorang gadis mengeluh soal surat ayahnya, dan seorang cowok bilang nilaimu tidak akan turun dengan nada orang melaporkan cuaca.”

Aku diam.

“Itu bukan berita, Rein. Itu cuma...” Dia mencari kata, gagal, lalu mengibaskan tangannya. “Sudahlah.”

Kami berdiri di koridor kosong beberapa saat.

“Kenapa kamu memberitahuku?” tanyaku akhirnya. “Kamu bisa saja diam. Aku tidak akan pernah tahu.”

Sera menatapku.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya — dua kali, tiga kali? — semua energi berisik itu padam sebentar, dan yang tersisa adalah seorang gadis tahun kedua dengan noda tinta di pipi yang kelihatan sangat lelah.

“Karena aku ingin kamu tahu bahwa aku memilih,” katanya. “Kalau aku diam, aku cuma orang yang belum menemukan buktinya. Kalau aku bilang...” Dia mengangkat bahu lagi. “...aku orang yang menemukannya dan tidak memakainya.”

“Kenapa tidak dipakai?”

“Kamu benar-benar tidak tahu, ya.”

“Tidak.”

Dia menatapku lama sekali. Lalu tertawa — pendek, kesal, dan sedikit sedih — dan mendorong dirinya dari dinding.

“Tidak apa-apa.” Dia berjalan mundur ke arah koridor, melambaikan pena bulunya. “Tapi kalau rahasiamu meledak nanti — dan itu akan meledak, Rein, kamu ini bom yang berjalan-jalan pakai syal orang lain — jangan lupa ada satu jurnalis di akademi ini yang sudah lama tahu dan tidak menulis apa-apa.”

“Kenapa kamu bilang seolah itu ancaman?”

“Karena aku belum memutuskan apakah itu ancaman!” serunya riang dari ujung koridor, lalu menghilang di belokan.

Aku berdiri di sana cukup lama.

Ketika aku berbalik, Elysia sudah berdiri lima langkah di belakangku dengan kotak makan siang di tangan dan ekspresi yang sangat, sangat datar.

“...Sudah lama di situ?”

“Cukup lama.”

“Itu Sera Wyndale. Klub Jurnal. Dia—”

“Aku tahu siapa dia.” Elysia berjalan melewatiku menuju tangga menara timur, dagunya naik lima derajat. “Dia memanggil nama depanmu.”

“...Iya?”

“Kamu memanggil nama depannya.”

“Itu namanya.”

“Hm.” Dia naik tangga lebih cepat dari biasanya.

Aku mengikutinya sambil menghela napas, dan di dalam kepalaku, dengan rasa takjub yang tidak bisa kutahan, aku mencatat satu penemuan ilmiah baru:

Permaisuri Es bisa cemburu.

Dan mananya, saat dia cemburu, berdengung dalam nada yang persis sama dengan kucing yang ekornya terinjak.

Aku memutuskan tidak memberitahunya soal itu.

Belum.

(bersambung ke Bab 14)