← Chapters Ch. 26 / 45

Chapter Twenty Six

Final, Bagian Pertama

POV: Rein Gray

Lawan final kami dari Akademi Solmere, akademi kerajaan selatan: Aldous Wren dan Cassia Morn, pasangan tahun ketiga, juara bertahan turnamen lima tahun lalu.

Aku mempelajari rekaman mereka semalaman.

Aldous Wren, atribut Petir, Named Skill [Stormline] — sihir kilat yang bergerak lebih cepat dari mata. Cassia Morn, atribut Ruang, Named Skill [Fold] — kemampuan melipat jarak pendek, muncul di tempat yang tidak seharusnya.

Kombinasi yang jujur, kuat, dan bersih. Tidak ada trik. Tidak ada kecurangan.

Itu yang membuatku tidak bisa tidur — karena telingaku, yang selama ini selalu menemukan sesuatu yang salah pada semua orang, tidak menemukan apa pun yang salah pada mereka.

Yang salah ada di tempat lain.

Sejak pagi, ada frekuensi asing di Colosseum Terapung. Bukan dari arena. Dari bawahnya — dari salah satu dari dua belas pilar levitasi yang menahan cakram batu raksasa itu di udara.

Pilar ketujuh berdengung sumbang. Sangat pelan. Seperti alat musik yang senarnya diganti orang yang tidak mengerti musik.

“Ada apa?” tanya Elysia di lorong.

“Pilar tujuh. Ada yang menempelkan sesuatu di dalamnya.”

“Artefak?”

“Aku tidak tahu jenisnya. Belum pernah kudengar.” Aku menatap dinding lorong, ke arah suara itu. “Dan itu masalahnya. Aku sudah mendengar semua jenis mana di akademi ini selama lima bulan. Yang ini baru datang minggu ini.”

Elysia diam sebentar.

“Kita lapor?”

“Lapor apa? Saya mendengar suara aneh di pilar, Tuan?” Aku menggeleng. “Satu-satunya orang yang bisa memverifikasi adalah aku, dan aku tidak bisa menjelaskan caranya.”

“Pengawas Gereja ada di tribun kehormatan hari ini,” kata Elysia pelan. “Tiga orang. Bukan satu.”

“Aku tahu. Aku bisa mendengar mereka.”

Kami berdiri di lorong itu, sepuluh menit sebelum final, dengan dua belas ribu penonton di atas kepala dan sesuatu yang salah di bawah kaki.

“Rein.” Elysia menggenggam tanganku. “Kalau terjadi sesuatu hari ini—”

“Tidak akan.”

Kalau,” katanya keras kepala. “Kalau terjadi sesuatu, dan kamu harus memilih antara rahasiamu dan nyawa orang — kamu sudah tahu pilihanmu, kan?”

Aku menatapnya.

“Sudah,” kataku. “Sejak lengan kamu kena panah di babak pertama.”

Dia menghela napas — setengah lega, setengah takut — lalu menyibak poniku, berjinjit, dan menempelkan bibirnya ke dahiku lebih lama dari biasanya.

“Enam generasi,” bisiknya.

“Enam generasi,” jawabku.

Kami berjalan ke cahaya.


“FINAL TURNAMEN ANTAR AKADEMI! ARCANUM SPIRE MELAWAN SOLMERE!”

Suara dua belas ribu orang menghantam seperti dinding. Di tribun kehormatan: Kepala Akademi, para bangsawan, Adipati Frostheim di barisan kedua — dan tiga jubah putih dengan lambang paduan suara emas, duduk berjajar, tidak bertepuk tangan.

“MULAI!”

Aldous Wren tidak membuang waktu.

[Stormline].

Kilat menyambar horizontal setinggi lutut — bukan dari atas, dari samping, merambat di lantai arena seperti ular putih. Elysia menarik kami berdua ke atas dengan pijakan es setengah detik sebelum lantai tempat kami berdiri menghitam.

“Cepat sekali—”

[Fold].

Cassia Morn muncul di belakang kami. Di udara. Di tempat yang tidak mungkin.

[Frostveil]!

Dinding es menahan pukulannya. Retak. Elysia mendaratkan kami dan langsung membalas — [Aurora Lance], tiga tombak beruntun — dan Cassia melipat dirinya keluar dari jalur ketiganya dengan selisih sehelai rambut.

Pertandingan itu, selama sepuluh menit pertama, adalah pertandingan paling jujur yang pernah kami jalani.

Mereka kuat. Sangat kuat. Aldous membaca pola serangan Elysia dalam empat menit. Cassia menghafal ritme pijakan es kami dalam enam. Mereka juara bertahan bukan karena bakat — karena mereka pintar, dan mereka bertarung seperti dua orang yang sudah saling percaya bertahun-tahun.

Dan untuk pertama kalinya dalam turnamen ini, aku menikmatinya.

“Kiri!” — “[Frostveil]!” — “Dia melipat, belakang atas—” — “[Stella Bloom]!

Kilat bertemu es. Ruang terlipat bertemu medan bintang. Dua belas ribu orang berteriak sampai serak, dan komentator sudah lama berhenti mencoba mendeskripsikan apa pun dan hanya berteriak nama-nama skill.

Skor imbang. Napas kami habis. Sync mengalir panas di genggaman kami.

Dan kemudian, di menit kesebelas, pilar ketujuh berhenti berdengung sumbang.

Dan mulai menjerit.

Aku menoleh ke tepi arena sepersekian detik sebelum semuanya terjadi — cukup untuk melihat, cukup untuk tidak sempat berbuat apa-apa.

Artefak di dalam pilar ketujuh pecah.

Mana levitasi dua ratus tahun yang mengalir teratur di dalam pilar itu — arus yang menahan jutaan ton batu di udara — berbalik arah dalam satu detak, dan berubah dari sungai menjadi banjir liar yang menyembur ke atas, menembus lantai arena, mencari jalan keluar.

Lantai Colosseum Terapung retak dari tepi ke tengah.

Dan seluruh sisi timur tribun — sebelas tingkat, empat ribu penonton — miring.

Jeritan dua belas ribu orang menjadi satu suara.

“PILAR TUJUH RUNTUH—!” teriak seseorang dari menara pengawas. “SIHIR PENAHAN DARURAT! SEMUA PENYIHIR PENJAGA, TAHAN TRIBUN TIMUR—!”

Empat puluh penyihir penjaga di sekeliling arena melepas sihir penahan serentak. Rantai cahaya menjerat tribun yang miring. Tertahan — sementara.

Tapi aku sudah tidak mendengarkan itu.

Karena mana liar yang menyembur dari pilar yang pecah itu tidak berhenti. Ia berputar di bawah lantai arena, membesar, memakan arus dari pilar-pilar lain, dan telingaku menghitung dengan kejernihan dingin yang mengerikan:

Dalam empat puluh detik, pilar delapan ikut jatuh.

Dalam sembilan puluh detik, semuanya.

Dan Colosseum Terapung — dengan dua belas ribu orang di atasnya — jatuh dua puluh meter ke Danau Vellis.

“Rein!” Elysia mencengkeram lenganku. “Apa yang—”

“Pilarnya mati. Semuanya. Sembilan puluh detik.”

Wajahnya memutih. “Evakuasi—”

“Tidak sempat. Dua belas ribu orang, satu jembatan keluar.”

Di seberang arena, Aldous Wren dan Cassia Morn sudah berlari ke arah tribun untuk membantu penjaga. Di tribun kehormatan, para bangsawan berdiri panik — kecuali satu orang tua berambut perak yang tetap duduk, mencengkeram lengan kursinya, matanya mencari putrinya di tengah arena.

Dan di sebelahnya, tiga jubah putih juga tidak bergerak.

Mereka tidak melihat tribun.

Mereka melihat aku.

Menunggu.

Sembilan puluh detik. Dua belas ribu nyawa. Tiga pengawas Gereja yang menonton. Dan satu-satunya orang di dunia yang bisa mendengar persis di mana arus liar itu berputar, persis frekuensinya, persis cara menghentikannya.

Aku menatap Elysia.

Dia sudah menatapku.

Dan di wajahnya tidak ada pertanyaan sama sekali — hanya jawaban, yang sudah dia berikan sejak lama, yang tinggal kuambil.

“Lys,” kataku. “Pegang tanganku.”

“Sampai kapan pun,” katanya.

(bersambung ke Bab 27)