Chapter Thirty Four
Tujuh Hari Kedua
POV: Rein Gray
Hari pertama, para diplomat mencoba.
Adipati Frostheim memimpin delegasi sebelas rumah ke ibukota. Kepala Akademi mengirim petisi ke istana. Gilda-gilda dagang Vellis — yang armada, gudang, dan nyawanya diselamatkan di danau itu — mengancam embargo terhadap seluruh properti Gereja di wilayah utara.
Istana menjawab di hari ketiga, dengan kalimat yang jelas ditulis oleh orang yang sangat berhati-hati:
Mahkota menghormati putusan panel terbuka. Namun Pakta Choir tahun 731 berada di luar yurisdiksi Mahkota, dan Mahkota tidak memiliki wewenang untuk menghentikan pelaksanaannya.
“Terjemahannya,” kata Sera, melempar salinan surat itu ke meja ruang klub yang sudah berubah jadi markas, “istana setuju dengan kita, takut pada Gereja, dan akan menonton dari jauh sambil bersimpati. Politisi.”
“Berarti tidak ada yang datang membantu,” kata Gart.
“Berarti,” kata Cedric, “tidak ada yang datang menghentikan kita juga.”
Semua orang menoleh padanya.
Cedric Ashford berdiri di dekat jendela ruang klub, menatap ke arah gerbang akademi, tempat spanduk-spanduk dukungan warga kota mulai bermunculan di pagar sejak putusan panel tersebar.
“Ayahku mengirim surat kemarin,” katanya. “Isinya perintah untuk pulang sebelum hari ketujuh. Jangan berdiri di antara Gereja dan mangsanya, tulisnya. Rumah Ashford tidak mati untuk anak tanpa nama.”
“Cedric—”
“Aku membalasnya tadi pagi.” Dia berbalik, dan wajah bangsawan yang dipahat untuk potret keluarga itu tersenyum — miring, muda, dan sepenuhnya tenang. “Dua kalimat. Anak tanpa nama itu menurunkan colosseum berisi dua belas ribu orang, termasuk putra Ayah. Rumah Ashford boleh tidak mati untuknya, tapi putra Ayah akan berdiri di gerbang.”
Ruangan itu hening.
“Kau akan dicoret dari warisan,” kata Elysia pelan.
“Mungkin.” Cedric mengangkat bahu. “Tapi aku peringkat dua akademi ini. Kalau semuanya selesai, aku bisa mencari pekerjaan.” Dia menatapku. “Lagipula, aku pernah bilang padamu, Gray. Di lapangan gelap itu. Kau ingat?”
Jangan biarkan Frostheim berdiri sendirian saat itu terjadi.
“Aku ingat.”
“Aku orang yang menepati ucapanku sendiri. Itu satu-satunya hal yang kupelajari dari ayahku yang layak disimpan.”
Hari kelima, akademi memilih.
Bukan lewat rapat dewan. Lewat sesuatu yang lebih tua: Kepala Akademi berdiri di aula utama di depan delapan ratus murid dan seluruh staf, membacakan ultimatum Gereja, dan berkata dengan suara yang gemetar tapi tidak berhenti:
“Akademi ini berusia empat ratus tahun. Dalam empat ratus tahun, kami tidak pernah menyerahkan satu pun murid kepada pihak luar tanpa proses yang adil. Panel sudah memutuskan. Putusannya ditolak oleh satu orang.” Dia melipat surat ultimatum itu. “Aku tidak akan memerintahkan siapa pun untuk tinggal. Gerbang selatan terbuka bagi setiap murid dan staf yang ingin pergi ke kota sampai hari ketujuh. Tidak ada catatan, tidak ada penilaian. Kalian anak-anak orang; kalian punya rumah yang menunggu.”
Beliau menatap aula.
“Tapi bagi yang tinggal: Arcanum Spire tidak menyerahkan muridnya. Titik.”
Delapan ratus murid berdiri di aula itu dalam keheningan.
Lalu Gart Oakley — Rank C, atribut Tanah, murid yang menurut kakaknya tidak akan lulus — naik ke atas bangku dan berteriak dengan seluruh isi paru-parunya:
“AKU DINDINGNYA!”
Dan aula itu pecah.
Dalam dua hari berikutnya, tiga ratus murid pulang ke keluarganya — diantar, dipeluk, tanpa satu pun ejekan, karena Prof. Maren mengumpulkan seluruh murid yang tinggal dan berkata bahwa siapa pun yang menghina mereka yang pulang akan berurusan dengannya secara pribadi.
Lima ratus tinggal.
Lima ratus murid, empat puluh staf, dan — di luar gerbang, bertambah setiap hari — warga kota Vellis yang mendirikan tenda di sepanjang jalan menuju akademi, membawa panci, roti, dan spanduk, membentuk sesuatu yang oleh edisi khusus Sera disebut “tembok manusia paling lembut dalam sejarah pengepungan.”
Malam keenam, aku tidak bisa tidur, dan taman atap sudah ada penghuninya.
Semuanya.
Gart duduk bersandar di dinding dengan perisai di pangkuan, mendengkur. Cedric duduk di sebelahnya, mengasah fokus tongkatnya dengan kain, terjaga. Sera tertidur telungkup di atas tumpukan draf artikel, pena bulunya melayang rendah di atas kepalanya seperti burung yang menjaga sarang. Prof. Maren berdiri di pagar pembatas, menatap ke arah selatan, ke titik-titik cahaya jauh di seberang danau yang tidak ada di sana minggu lalu — perkemahan pasukan Gereja yang tumbuh setiap malam.
Dan Elysia duduk di bangku batu di bawah pohon plum, di tempat semuanya dimulai, dengan dua cangkir teh yang mengepul.
Aku duduk di sebelahnya. Bahu ke bahu.
“Tidak bisa tidur?” tanyanya.
“Kamu duluan yang tidak bisa.”
“Aku selalu duluan,” katanya. “Sudah kubilang.”
Kami minum teh. Angin malam lewat. Pohon plum, yang sudah mulai berbunga penuh, menjatuhkan kelopak-kelopak putih ke rambut peraknya, dan dia tidak menyingkirkannya, dan aku juga tidak, karena beberapa pemandangan memang seharusnya dibiarkan.
“Rein.”
“Hm.”
“Aku mau bertanya sesuatu, dan aku mau jawaban jujur.” Dia menatap cangkirnya. “Yang dikatakan Solveig. Tentang gadis bernama Elsa. Tentang... apa yang terjadi kalau keheninganmu direnggut.”
Aku sudah menunggu pertanyaan ini selama enam hari.
“Kamu takut dia benar,” kataku.
“Aku takut kamu berpikir dia benar,” katanya. “Itu beda.”
Aku menatap langit. Bintang-bintang utara, yang tiga tahun lalu masih asing dan sekarang lebih kuhafal daripada bintang-bintang di dunia lamaku.
“Dia benar tentang faktanya,” kataku pelan. “Kalau kamu tidak ada — kalau suatu hari nanti kamu tidak ada — dunia akan berisik lagi. Selamanya. Dan aku tidak akan berpura-pura itu bukan hal yang menakutkan, karena kamu memintaku jujur.”
Tangannya mengencang di cangkir.
“Tapi dia salah tentang satu hal, dan kesalahannya fatal.” Aku menoleh padanya. “Dia pikir keheningan itu adalah kamu berada di dekatku. Seperti obat. Seperti sumbat telinga. Sesuatu yang hilang begitu sumbernya hilang.”
“...Bukan?”
“Tiga ratus tahun lalu, anak itu patah karena dia cuma punya delapan bulan,” kataku. “Delapan bulan duduk di bangku belakang. Tidak sempat lebih. Keheningannya belum sempat jadi apa-apa selain kehadiran gadis itu — jadi waktu gadis itu pergi, keheningannya ikut pergi, dan yang tersisa cuma dunia yang berteriak.”
Aku meletakkan cangkirku dan menggenggam tangannya.
“Aku punya lima bulan yang berbeda. Aku punya syal yang tidak pernah kita bahas. Roti tiga tembaga. Kertas kuis yang disita. Dua jam tidak bergerak di perpustakaan. Ritual enam generasi yang baru berumur tiga bulan. Aku punya Gart yang mananya seperti tanah, dan Sera yang membakar empat judul, dan Cedric yang melawan ayahnya, dan Prof. Maren yang menunggu sembilan tahun untuk bersaksi.” Aku menatap matanya. “Keheninganku bukan cuma kamu lagi, Lys. Kamu yang pertama — kamu pintunya — tapi di baliknya sekarang ada satu ruangan penuh. Dan ruangan itu tidak bisa direnggut oleh demam, atau wabah, atau waktu, karena ruangan itu sudah jadi bagian dari cara aku mendengar dunia.”
Elysia menatapku lama sekali.
Lalu dia meletakkan cangkirnya, mengambil wajahku dengan kedua tangannya, dan menciumku — di bawah pohon plum yang menjatuhkan kelopaknya, di atap akademi yang dikepung, di malam sebelum semuanya — pelan, dalam, dan tanpa satu pun keraguan.
“Besok,” katanya saat kami berpisah, dahinya menempel di dahiku, “apa pun yang terjadi, kamu tidak boleh maju sendirian. Janji.”
“Janji.”
“Dan Rein.”
“Hm.”
“Kalau Solveig menyentuhmu,” bisik Permaisuri Es, dengan nada paling lembut yang pernah kudengar darinya, “aku akan menunjukkan pada seluruh kontinen kenapa es yang sunyi lebih menakutkan daripada es yang bergemuruh.”
Di seberang danau, titik-titik cahaya perkemahan Gereja berkedip.
Tujuh hari habis saat fajar.
(bersambung ke Bab 35)