← Chapters Ch. 41 / 45

Chapter Forty One

Extra 1 — Rumah yang Terlalu Besar

POV: Elysia von Frostheim

Libur musim dingin tahun kedua, aku pulang ke rumah utama Frostheim.

Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku tidak pulang sendirian.

“Aku harus bilang apa ke ayahmu?” tanya Rein di kereta, untuk kali keempat.

“Selamat siang.”

“Setelah itu.”

“Tidak ada setelah itu. Ayahku bukan orang yang percaya pada ‘setelah itu’.” Aku merapikan syalnya — syal kami — yang melilit lehernya dengan cara yang salah, karena dia gugup, dan dia selalu melilitnya salah kalau gugup. “Rein. Kamu pernah berdiri di depan tujuh Inquisitor dan berbicara dengan duka berumur tiga ratus tahun. Ayahku cuma satu orang tua yang kaku.”

“Orang tua kaku yang bisa membekukan lembah.”

“Itu benar.”

“Kamu seharusnya bilang ‘itu tidak benar’.”

“Aku Frostheim. Kami tidak berbohong tentang kemampuan membekukan lembah.”

Rumah utama Frostheim berdiri di kaki pegunungan utara: benteng pualam abu-abu dengan menara-menara yang lebih tua dari kerajaan, dikelilingi taman es abadi yang dipahat sembilan generasi. Indah dengan cara yang membuat orang berdiri tegak. Dingin dengan cara yang tidak ada hubungannya dengan suhu.

Aku menghabiskan sembilan tahun pertama hidupku di sini.

Aku baru menyadari, saat gerbangnya terbuka dan Rein di sebelahku menarik napas pelan, bahwa aku tidak pernah sekali pun menyebutnya rumah dalam percakapan. Selalu “rumah utama”. Properti. Alamat.

“Kamu dengar apa?” tanyaku pelan. Aku selalu bertanya itu sekarang, di tempat baru. Telinganya adalah peta yang tidak dimiliki siapa pun.

Rein diam sebentar, kepalanya sedikit miring — gestur mendengarkan yang kuhafal.

“Besar,” katanya. “Tua. Sangat teratur.” Jeda. “Dan sunyi dengan cara yang salah. Seperti rumah yang sudah lama tidak ada yang tertawa di dalamnya.”

Aku menatap benteng masa kecilku.

“Iya,” kataku. “Persis begitu.”


Makan malam berlangsung di ruang makan yang bisa memuat empat puluh orang dan malam itu memuat tiga.

Ayahku duduk di kepala meja. Aku di kanannya. Rein di kiri — posisi yang ditetapkan pelayan atas instruksi langsung Ayah, dan yang membuat alis kepala pelayan naik sebelum dia sempat menahannya, karena kursi kiri adalah kursi keluarga.

Percakapan berjalan seperti negosiasi damai antara dua negara yang belum memutuskan apakah mereka berperang: nilai akademik (aku peringkat satu; dicatat tanpa komentar), program pendampingan (Ayah bertanya tiga pertanyaan yang tajam dan tepat tentang pendanaannya, lalu berkata “struktur anggarannya lemah, kirimkan proposalnya padaku” dengan nada menghina yang, dalam bahasa Ayah, adalah tawaran menjadi donor), dan cuaca (dua kalimat, mati dengan tenang).

Lalu, saat hidangan penutup:

“Tuan Gray.”

“Ya, Tuan.”

“Putriku memberitahuku bahwa kalian berencana melanjutkan program kunjungan itu setelah lulus. Membangunnya menjadi lembaga.”

Aku menegang. Rencana itu baru kami bicarakan berdua, sekali, di taman atap.

“Benar, Tuan.”

“Lembaga membutuhkan nama besar untuk berdiri. Nama Frostheim akan tersedia untuk itu.” Ayah memotong hidangannya dengan presisi bedah. “Dengan satu ketentuan yang tidak bisa ditawar.”

“...Ketentuan apa, Tuan?”

Ayahku meletakkan pisaunya, dan untuk pertama kalinya sepanjang makan malam, menatap Rein langsung.

“Nama itu diberikan kepada keluarga,” katanya. “Bukan kepada kolega.”

Ruang makan itu sunyi total.

Aku merasakan wajahku terbakar dari leher sampai ujung telinga. “AYAH—”

“Aku menyatakan ketentuan bisnis, Elysia. Kau yang memberinya makna lain.” Ayah kembali ke hidangannya dengan wajah datar sempurna, tapi aku melihatnya — satu milimeter di sudut bibirnya, gerakan yang kukenal karena aku mewarisinya. “Meskipun aku mencatat bahwa Tuan Gray tidak terlihat keberatan dengan makna mana pun.”

Aku menoleh ke Rein.

Rein — yang bisa menghadapi Inquisitor tanpa berkedip — sedang menatap piringnya dengan telinga merah padam, dan berkata, dengan suara datar yang gagal total:

“Struktur anggarannya akan saya kirim minggu depan, Tuan.”

“Beserta yang lainnya,” kata Ayah, “pada waktunya.”

Dan Adipati Alrik von Frostheim menghabiskan hidangan penutupnya dengan tenang, di ruang makan untuk empat puluh orang yang malam itu, untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, terasa sedikit kurang besar.


Setelah makan malam, aku membawa Rein ke satu tempat.

Bukan aula latihan tempat aku dibesarkan. Bukan perpustakaan keluarga. Tempat yang lebih kecil, di sayap timur, di ujung koridor yang pelayan-pelayan bersihkan setiap hari dan tidak pernah dimasuki siapa pun:

Ruang musik ibuku.

Piano yang tidak pernah dipindahkan. Kursi yang tidak pernah diduduki. Dan di dinding, satu lukisan: perempuan berambut perak dengan mata yang punya retakan cahaya di dekat pupil, tertawa — tertawa, di lukisan resmi keluarga, satu-satunya potret tertawa di seluruh benteng ini.

“Dia meninggal waktu aku sembilan tahun,” kataku. “Demam musim dingin. Sesudahnya, Ayah menutup ruangan ini dan tidak pernah masuk lagi. Aku juga tidak. Sampai sekarang.”

Rein berdiri diam di tengah ruangan, kepala sedikit miring.

Mendengarkan.

“Lys,” katanya pelan. “Piano itu.”

“Kenapa?”

“Masih distem.” Dia menoleh padaku. “Piano yang ditinggalkan tiga belas tahun harusnya sumbang total. Yang ini distem. Rutin. Seseorang menyetemnya diam-diam, bertahun-tahun, mungkin setiap beberapa bulan.”

Aku menatap piano itu.

Dan aku teringat langkah kaki yang kadang kudengar di sayap timur waktu kecil, larut malam, yang kukira pelayan. Aku teringat Ayah yang selalu tahu kapan senar aula latihan mulai turun nadanya. Aku teringat sebelas ahli yang dipanggil diam-diam, dan surat-surat yang tidak pernah menanyakan kabarku tapi tidak pernah berhenti datang.

Ayahku adalah orang yang tidak bisa mengatakan apa pun yang penting.

Jadi selama tiga belas tahun, dia menyetem piano yang tidak dimainkan siapa pun — supaya kalau suatu hari ada yang membuka ruangan ini lagi, musiknya siap.

“Rein.”

“Hm.”

“Kamu bisa memainkan sesuatu?” Aku duduk di kursi yang tidak pernah diduduki, dan menepuk ruang di sebelahku. “Apa saja. Ruangan ini sudah terlalu lama sunyi dengan cara yang salah.”

Dia duduk di sebelahku. Bahu ke bahu.

“Aku cuma bisa satu lagu,” katanya. “Dari dunia lama. Ibu-ibu menyanyikannya untuk anak-anak supaya tidur.”

“Mainkan.”

Dia memainkannya — pelan, sederhana, dengan jari yang kaku karena tiga tahun tidak menyentuh tuts — dan lagu pengantar tidur dari dunia yang tidak ada di peta mana pun mengisi ruang musik ibuku, naik ke koridor sayap timur, lewat pintu-pintu yang terbuka.

Kami tidak pernah tahu pasti.

Tapi kepala pelayan bersumpah, bertahun-tahun kemudian, bahwa malam itu dia melihat Adipati Alrik von Frostheim berdiri di ujung koridor sayap timur selama satu lagu penuh, tidak masuk, tidak pergi.

Dan bahwa keesokan paginya, untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun, pintu ruang musik itu dibiarkan terbuka.

(bersambung ke Extra 2) -e