← Chapters Ch. 23 / 45

Chapter Twenty Three

Adipati

POV: Rein Gray

Adipati Frostheim datang tiga hari lebih awal.

Aku mengetahuinya bukan dari pengumuman, tapi dari telingaku — jam enam pagi, di kamar asrama, ketika sebuah dengungan mana masuk ke wilayah pendengaranku dari arah gerbang utama dan seluruh akademi mendadak terasa lebih dingin.

Manaku pernah mendengar Elysia sejak hari pertama. Aku hafal frekuensinya lebih baik daripada namaku sendiri: sunyi, dalam, seperti salju turun di malam tanpa angin.

Yang masuk lewat gerbang pagi itu punya frekuensi yang sama.

Kecuali satu hal.

Es Elysia sunyi karena memang begitu sifatnya.

Yang ini sunyi karena ada yang dipaksa diam.


“Rein Gray.”

Aku dipanggil ke ruang tamu utama sebelum kelas dimulai. Bukan lewat surat. Lewat seorang pelayan berlivre biru-perak yang berdiri di depan pintu asrama laki-laki dan menyebut namaku seperti membacakan daftar barang.

Ruang tamu utama Arcanum Spire adalah ruangan yang selama empat bulan ini belum pernah kumasuki: langit-langit tinggi, permadani merah, dan jendela setinggi tiga meter yang menghadap ke danau.

Adipati Alrik von Frostheim duduk di kursi tunggal di tengah ruangan.

Dia lebih tua dari yang kubayangkan dan lebih mirip Elysia dari yang kuinginkan. Rambut perak yang sudah memutih di pelipis, punggung selurus tombak, dan mata biru pucat yang sama persis — kecuali bahwa mata Elysia punya retakan cahaya di dekat pupilnya, dan mata ini tidak punya apa-apa.

Elysia berdiri di sebelah kursinya. Punggung lurus. Tangan terlipat. Wajah kosong sempurna.

Dia tidak menatapku.

“Duduk,” kata Adipati.

Aku duduk.

“Kau tahu siapa aku.”

“Ya, Tuan.”

“Sebutkan.”

“Adipati Alrik von Frostheim. Kepala rumah Frostheim. Anggota Dewan Utara.”

“Baik.” Dia menyilangkan jari. “Kau tahu kenapa kau di sini.”

“Karena saya partner putri Anda.”

“Kau di sini,” katanya, “karena putriku tidak membalas enam belas surat, dan surat ketujuh belas adalah satu-satunya yang dia balas, dan isi balasannya adalah dua kalimat menolak permintaan pembatalan Partner Bond.”

Sesuatu bergerak di dadaku.

Aku melirik Elysia. Dia masih menatap lurus ke depan, tapi telinganya merah.

“Aku sudah membaca berkasmu, Tuan Gray.” Adipati mengeluarkan map tipis dari sisi kursinya dan membukanya. “Rein Gray. Enam belas tahun. Tanpa keluarga tercatat. Tanpa wali. Muncul di catatan sipil Kota Havlen tiga tahun lalu, bekerja di gudang penggilingan Merton selama dua tahun tujuh bulan. Core Rank E. Nilai ujian tulis empat puluh satu.”

Dia menutup map itu.

“Tidak ada apa-apa di sini.”

“Ya, Tuan.”

“Dan itu masalahnya.” Dia menatapku. “Aku sudah menghabiskan tiga puluh tahun berhadapan dengan orang-orang yang ingin sesuatu dari nama keluargaku. Aku tahu bentuk mereka. Pedagang yang butuh izin. Bangsawan kecil yang butuh pernikahan. Pemuda berbakat yang butuh sponsor.” Jarinya mengetuk lengan kursi sekali. “Mereka semua meninggalkan jejak, karena orang yang menginginkan sesuatu selalu bergerak ke arah sesuatu itu.”

Ketukan kedua.

“Kau tidak bergerak ke mana pun. Kau bahkan tidak mencoba masuk kelas A. Kau punya akses ke pewaris Frostheim selama empat bulan dan tidak satu kali pun kau meminta apa pun.” Dia menyipit. “Itu bukan tanda orang tidak berbahaya, Tuan Gray. Itu tanda orang yang menginginkan sesuatu yang tidak bisa diminta.”

Ruangan sangat sunyi.

“Ayah—” kata Elysia.

“Aku belum selesai.”

“Ayah sudah selesai,” katanya.

Aku menoleh.

Elysia von Frostheim melangkah maju satu langkah, keluar dari posisi di sebelah kursi, dan berdiri menghadap ayahnya sendiri di tengah ruangan.

Punggung lurus. Dagu naik lima derajat.

Dan tangannya, di sisi tubuhnya, gemetar.

“Ayah bertanya apa yang dia inginkan,” katanya. “Aku akan menjawab. Dia tidak menginginkan apa-apa. Dia tidak pernah menginginkan apa-apa. Itu sebabnya aku memilih dia.”

“Elysia.”

“Dia satu-satunya orang di akademi ini yang tidak berubah wajahnya saat mendengar namaku.” Suaranya naik. “Ayah tahu bagaimana rasanya? Selama tujuh tahun, setiap orang yang mendekat padaku punya alasan. Setiap orang. Termasuk—”

Dia berhenti.

Ruangan itu sangat, sangat sunyi.

Adipati Alrik von Frostheim menatap putrinya dengan wajah yang tidak berubah sedikit pun.

“Lanjutkan,” katanya.

“...Tidak, Ayah.”

“Kau ingin mengatakan termasuk Ayah.”

Elysia tidak menjawab.

Adipati bersandar ke kursinya. Untuk sesaat — sangat singkat, dan aku mungkin membayangkannya — sesuatu yang lelah lewat di wajahnya.

“Ibumu juga bicara seperti itu,” katanya. “Kalimat panjang, suara naik, tangan gemetar tapi tidak mundur.” Dia mengalihkan pandangan ke jendela. “Kau seperti dia dalam hal-hal yang tidak berguna untuk rumah ini.”

“Ayah—”

“Aku tidak akan membatalkan Partner Bond.” Dia berdiri. “Aku tidak bisa. Kontraknya tercatat di dewan akademi dan pembatalan sepihak akan menurunkan peringkatmu. Aku tidak akan mengorbankan peringkat demi kenyamanan.”

Dia merapikan jubahnya.

“Tapi aku akan menonton final.”

Dia berjalan melewatiku menuju pintu, lalu berhenti sejajar dengan bahuku — persis seperti yang dilakukan Cedric di lapangan gelap itu, dan aku menyadari dengan tidak nyaman bahwa itu adalah kebiasaan orang yang terbiasa mengucapkan hal penting tanpa harus melihat wajah lawan bicaranya.

“Tuan Gray.”

“Ya, Tuan.”

“Es keluarga kami bergemuruh,” katanya. “Sudah sembilan generasi. Setiap Frostheim yang lahir membuat dinding es yang bisa didengar dari seberang lembah.”

Aku tidak bergerak.

“Putriku tidak,” katanya. “Esnya sunyi. Aku sudah memanggil sebelas ahli dari empat negeri dan tidak satu pun bisa memperbaikinya.”

Jeda.

“Aku tidak pernah memberitahunya bahwa aku memanggil mereka.”

Dan Adipati Alrik von Frostheim keluar dari ruangan tanpa menoleh sekali pun.


Kami berdiri di ruang tamu utama yang kosong untuk waktu yang lama.

Elysia tidak bergerak. Punggungnya masih lurus. Tangannya masih gemetar.

“Lys.”

“Jangan.”

“Lys.”

“Kalau kamu bicara sekarang aku akan menangis,” katanya pada permadani, “dan aku sedang berdiri di ruang tamu utama Arcanum Spire dan itu tidak boleh terjadi.”

Aku berjalan ke arahnya.

Dan memeluknya.

Bukan hal yang pernah kulakukan sebelumnya. Bukan hal yang pernah kupikirkan bisa kulakukan. Tapi aku sudah menghabiskan tiga tahun menghitung setiap gerakan sebelum melakukannya, dan malam salju itu mengajariku bahwa ada momen di mana menghitung adalah kesalahan.

Dia menegang selama satu detik penuh.

Lalu seluruh tubuhnya runtuh ke dalam pelukan itu — tangannya mencengkeram punggung seragamku, wajahnya membenam di bahuku — dan dia menangis dengan cara yang tidak bersuara sama sekali, yang jauh lebih buruk daripada kalau dia menangis keras.

Sunyi, lagi.

Bahkan tangisnya sunyi.

“Sebelas ahli,” bisiknya di bahuku. “Sebelas. Selama bertahun-tahun. Dan beliau tidak pernah bilang.”

“Iya.”

“Kenapa beliau memberitahumu?”

Aku memikirkannya sambil mengusap punggungnya.

“Karena beliau tidak bisa memberitahumu,” kataku pelan. “Dan beliau tahu aku akan bilang.”

Dia menangis lebih keras.

Kami berdiri di tengah ruang tamu utama, di bawah langit-langit setinggi tiga meter, dengan permadani merah dan jendela yang menghadap danau, dan aku memeluk peringkat satu Akademi Arcanum Spire sampai bahunya berhenti bergetar.

Ketika dia akhirnya menjauh, matanya merah dan wajahnya berantakan dan dia menyeka wajahnya dengan lengan seragam seperti anak kecil.

“Rein.”

“Hm.”

“Aku mau menang final.”

“Kita akan menang final.”

“Bukan untuk beliau.” Dia menatapku, dan matanya keras. “Aku mau berdiri di tengah arena itu dan membuat es yang sunyi, di depan dua belas ribu orang, dan aku mau semua orang di kontinen ini melihat bahwa yang sunyi bisa menang.”

Aku menatapnya.

Dan menyadari, dengan sesuatu yang hangat dan mengerikan di dadaku, bahwa aku akan membakar seluruh dunia ini untuk memberikan itu padanya.

“Baik,” kataku.

(bersambung ke Bab 24)