Chapter Fifteen
Orang yang Bertanya dengan Benar
Papan bracket turnamen dipasang di aula utama pagi itu, dan aku membacanya dua kali sebelum menyadari bahwa aku dalam masalah.
Empat akademi. Tiga puluh dua pasangan di awal. Sekarang tersisa delapan.
Perempat final: Frostheim–Gray vs Ashford–Delacroix.
“Cedric,” kataku.
“Cedric,” ulang Elysia, di sebelahku, dengan nada yang sedikit lebih dingin dari suhu ruangan.
Di seberang aula, di depan papan yang sama, Cedric Ashford berdiri bersama partnernya — Marianne Delacroix, murid kelas A, atribut Cahaya, gadis pendiam yang menurut catatanku belum pernah bicara lebih dari tiga kalimat pada siapa pun.
Cedric membaca papan itu, lalu menoleh.
Mata kami bertemu di seberang aula yang penuh orang.
Dia tidak menyeringai. Dia tidak melotot. Dia cuma mengangguk sekali — pendek, sopan, tanpa kehangatan maupun kebencian — lalu berbalik dan pergi.
Dan itu jauh lebih mengganggu daripada kalau dia berteriak.
Aku menemukan alasannya tiga hari kemudian, di lapangan latihan bawah, jam sebelas malam.
Aku tidak bisa tidur — kepalaku sudah tiga hari berdenyut sejak babak kedua, dan asrama sedang ramai — jadi aku turun mencari koridor kosong dan mendengar sesuatu yang seharusnya tidak ada di jam segitu.
[Crimson Edict]. Tingkat satu. Formula anak sepuluh tahun.
Cedric Ashford berdiri sendirian di lapangan gelap, mengulang formula yang sama untuk — kalau telingaku benar menghitung dari jendela — sekitar keempat ratus kalinya.
Aku berdiri di balik pilar dan menonton.
Setiap kali, dia mengubah aba-abanya. Tiga ketuk jadi dua. Dua jadi satu tarikan. Kadang dia menyisipkan jeda kosong yang tidak berarti apa-apa. Kadang dia mengacaknya sampai apinya gagal terbentuk sama sekali dan dia harus mengulang dari awal.
Dia sedang berlatih untuk tidak bisa ditebak.
“Kalau mau menonton,” katanya tanpa menoleh, “berdiri di tempat yang lebih terang. Pilar itu terlalu jelas.”
Aku keluar dari balik pilar.
Cedric menurunkan tongkatnya dan berbalik. Wajahnya berkeringat, seragam latihannya kotor, dan ada lingkaran hitam di bawah matanya yang sudah lama tidak dia sembunyikan.
“Rein Gray.”
“Ashford.”
Kami berdiri di lapangan gelap yang cuma diterangi dua lampu sihir, dalam jarak dua belas meter, dan tidak satu pun dari kami tahu harus melakukan apa dengan situasi ini.
“Aku minta maaf,” katanya akhirnya.
“Elysia sudah menyampaikan.”
“Aku tahu. Aku mau mengatakannya sendiri.” Dia mengusap wajahnya dengan lengan. “Yang kukatakan di kelas hari itu — sampah Rank E — itu bukan tentangmu. Itu tentang aku. Aku peringkat dua sejak hari pertama, dan aku sudah mulai membenci apa pun yang membuatku merasa peringkat itu tidak berarti.”
“...Oke.”
“‘Oke’?”
“Aku tidak tahu harus jawab apa,” kataku jujur. “Aku tidak punya pengalaman dengan ini.”
Sesuatu yang aneh terjadi di wajah Cedric Ashford. Sudut mulutnya bergerak. Dia jelas berusaha melawannya, dan gagal.
“Kau benar-benar aneh.”
“Aku sering dengar.”
Dia berjalan mendekat, berhenti sekitar lima langkah, dan menancapkan tongkatnya ke tanah.
“Aku sudah membaca ulang duel kita empat puluh kali,” katanya. “Ada tiga artefak perekam di arena hari itu. Aku sudah menyewa semuanya.”
Perutku dingin.
“Dan?”
“Dan tidak ada apa-apa.” Dia menatapku lurus. “Kau berlari. Kau panik. Kau menjatuhkan diri. Apiku belok karena — menurut tiga instruktur senior yang kutanya — angin arena, tekanan udara, dan kesalahanku sendiri dalam mengelola formula rangkap.”
“Kedengarannya masuk akal.”
“Sangat masuk akal,” katanya. “Itu masalahnya.”
Dia mengangkat satu jari.
“Api [Crimson Edict] tidak belok karena angin. Aku sudah menguji. Aku menyuruh empat orang meniupkan sihir angin tingkat tiga ke arah formasiku minggu lalu — formasiku bergeser dua derajat. Dua.” Jari kedua terangkat. “Hari itu, api pertamaku bergeser lima belas derajat. Yang kedua, dua puluh. Yang ketiga berbalik seratus delapan puluh.” Jari ketiga. “Dan setiap kali, pergeserannya terjadi tepat di antara ketukan aba-abaku. Bukan sebelum. Bukan sesudah. Di antara.”
Lapangan terasa sangat sunyi.
“Aku tidak tahu apa yang kaulakukan,” kata Cedric Ashford pelan. “Aku sudah tanya ke enam instruktur dan membaca dua belas buku dan tidak ada satu pun cabang sihir di kontinen ini yang bisa melakukan itu. Jadi aku berhenti bertanya apa.”
Dia menatapku.
“Sekarang aku cuma ingin tahu satu hal, dan aku akan menerima jawaban apa pun.”
Aku menunggu.
“Apakah kau berbahaya?”
Angin malam lewat di antara kami.
Dari semua pertanyaan yang pernah diajukan orang padaku selama tiga tahun — rank berapa, dari mana asalmu, kenapa kau tinggal sendirian, kenapa kau tidak pernah ke pesta — tidak satu pun pernah sedekat itu ke jantung masalahnya.
Dia tidak bertanya apa kau menyembunyikan sesuatu. Dia sudah tahu jawabannya.
Dia bertanya apakah rahasia itu akan melukai orang.
“Aku tidak tahu,” kataku.
Cedric mengangkat alis. “Kau tidak tahu?”
“Kalau aku bilang tidak, kamu tidak punya alasan untuk percaya.” Aku menatap lampu sihir di ujung lapangan. “Dan aku tidak mau berbohong ke orang yang bertanya dengan benar.”
Hening panjang.
Lalu Cedric Ashford melakukan sesuatu yang tidak masuk dalam satu pun skenario yang pernah kususun.
Dia tertawa. Pendek, lelah, dan tulus.
“Ashford tidak percaya jawaban yang rapi,” katanya, mencabut tongkatnya dari tanah. “Ayahku selalu bilang begitu. Orang yang menyembunyikan sesuatu akan menyiapkan jawaban yang bagus.”
Dia berjalan melewatiku menuju gedung asrama, lalu berhenti sejajar dengan bahuku.
“Perempat final lusa,” katanya tanpa menoleh. “Aku tidak akan menahan diri.”
“Aku juga tidak berharap begitu.”
“Bagus.” Dia melangkah lagi. Lalu, dari kegelapan, suaranya kembali — lebih pelan, hampir tidak terdengar: “Dan Gray. Kalau suatu hari rahasiamu itu meledak—”
“Hm?”
“—jangan biarkan Frostheim berdiri sendirian saat itu terjadi.”
Langkahnya menghilang di koridor.
Aku berdiri sendirian di lapangan gelap untuk waktu yang cukup lama, memikirkan bahwa dalam tiga bulan terakhir, jumlah orang di dunia ini yang tahu ada sesuatu yang salah denganku telah bertambah dari nol menjadi tiga.
Dan tidak satu pun dari mereka melapor.
Itu seharusnya melegakan.
Entah kenapa, rasanya justru seperti dinding yang perlahan bergerak mendekat.
Elysia menemukanku di taman atap keesokan paginya, sebelum kelas dimulai, dengan dua roti isi dan wajah yang sudah tahu ada sesuatu.
“Kamu tidak tidur.”
“Aku tidur.”
“Kantung matamu bilang lain.” Dia duduk di sebelahku — tidak lima senti, tapi menempel, bahu ke bahu, seperti yang sudah jadi kebiasaan sejak hari di lantai batu ini. “Cerita.”
Aku menceritakannya. Semuanya. Cedric, empat ratus repetisi, tiga artefak perekam, pertanyaan itu.
Elysia mendengarkan tanpa memotong sekali pun.
Ketika aku selesai, dia diam beberapa saat.
“Dia bertanya apakah kamu berbahaya,” katanya.
“Iya.”
“Dan kamu bilang tidak tahu.”
“Iya.”
Dia menoleh menatapku. Cahaya pagi jatuh di rambut peraknya, dan matanya — biru pucat dengan retakan lebih terang di dekat pupil — sama sekali tidak ragu.
“Aku tahu.”
“Lys—”
“Tiga bulan,” katanya. “Tiga bulan aku duduk di seberang meja yang sama denganmu setiap sore. Aku pernah tertidur di bahumu selama dua jam di ruangan kosong di bawah tanah, dan kamu tidak bergerak satu sentimeter pun.” Dia mengangkat bahu, gerakan kecil yang sama sekali tidak anggun. “Orang berbahaya tidak begitu.”
“Orang berbahaya bisa saja begitu, kalau dia sabar.”
“Rein.” Dia menoleh penuh, dan nadanya berubah — bukan lembut, tapi tegas, dengan kekerasan yang biasanya dia simpan untuk arena. “Aku tidak menanyakan apakah kamu bisa berbahaya. Aku tahu kamu bisa. Aku melihat kamu menghapus sihir tingkat empat dengan satu jentikan jari.”
Dia mendekat sedikit.
“Aku bilang aku tahu kamu tidak akan. Itu dua hal berbeda dan aku memilih yang kedua, dengan sadar, sejak hari pertama. Jadi berhenti menghitung apakah kamu pantas dipercaya. Itu bukan pekerjaanmu. Itu pekerjaanku, dan aku sudah selesai mengerjakannya.”
Aku menatapnya.
Ada sesuatu yang naik ke tenggorokanku dan menyangkut di sana, dan aku harus menunggu beberapa detik sebelum bisa bicara.
“...Kamu ini kadang menakutkan.”
“Aku Frostheim.”
“Itu bukan penjelasan.”
“Itu selalu penjelasan.” Dia menyodorkan roti. “Makan. Kita ada perempat final besok dan aku tidak mau partnerku pingsan karena lapar seperti orang bodoh.”
Aku menerima rotinya.
Di bawah kami, delapan ratus murid mulai berdatangan ke gedung utama, dan dengungan mereka naik pelan-pelan seperti air mengisi bak.
Aku tidak mendengar satu pun dari mereka.
(bersambung ke Bab 16)