Chapter Twenty Four
Empat Puluh Tujuh Halaman
POV: Sera Wyndale
Aku menemukannya jam dua pagi, di lantai empat perpustakaan utama, di rak yang bahkan tidak punya nomor katalog.
Namanya: Catatan Pemeriksaan Kantor Choir Suci, Wilayah Utara, Tahun 1013–1021.
Aku sudah tiga minggu meminta akses ke arsip terbatas. Ditolak empat kali. Akhirnya aku mendapatkannya dengan cara paling tidak terhormat dalam karierku: aku menulis artikel pujian setebal dua halaman tentang kepala perpustakaan, memuat fotonya di sampul, dan menyebutnya “penjaga ingatan akademi”.
Dia menangis. Dia memberiku kunci.
Aku bukan orang baik. Aku cuma jurnalis.
Halaman 212. Berkas kasus nomor 8871.
SUBJEK: Anomali resonansi mana. Kelas: Discordant-adjacent.
Aku membacanya tiga kali sebelum tanganku mulai gemetar.
Isinya laporan tentang seorang perempuan di desa pegunungan utara, tiga puluh empat tahun lalu. Dia bisa mendengar mana. Bukan merasakan — mendengar, dengan detail yang menurut catatan pemeriksa “melampaui batas persepsi manusia yang tercatat”.
Dia dipakai sebagai penerjemah oleh kantor wilayah selama sebelas bulan.
Lalu dia mulai kehilangan pendengarannya terhadap suara biasa. Lalu dia berhenti tidur. Lalu, di bulan ketiga belas, catatan itu mencatat “insiden desa” tanpa satu pun detail, dan dua baris kemudian:
Subjek dinetralkan. Prosedur standar. Tidak ada korban dari pihak Kantor.
Halaman 213. Berkas 8872. Seorang anak laki-laki di kota pelabuhan. Sama.
Halaman 214. Berkas 8873.
Halaman 215.
Ada empat puluh tujuh halaman.
Empat puluh tujuh orang, dalam sembilan tahun, di satu wilayah.
Semuanya berakhir dengan kalimat yang sama.
Subjek dinetralkan. Prosedur standar.
Ada satu berkas yang berbeda.
Halaman 259. Berkas 8919. Tidak ada nama. Tidak ada lokasi. Hanya tiga paragraf, ditulis dengan tulisan tangan yang berbeda dari sisanya — lebih kecil, lebih rapat, seperti orang yang menulis dengan terburu-buru:
Subjek ini tidak menunjukkan degradasi. Empat tahun pengamatan. Tidak ada insomnia, tidak ada kehilangan pendengaran, tidak ada episode kekerasan.
Perbedaan tunggal yang tercatat: subjek menikah pada tahun kedua pengamatan. Pasangan subjek memiliki resonansi mana anomali tipe kedua — “mana sunyi”, garis darah utara, dianggap cacat oleh keluarganya sendiri.
Hipotesis pengamat: degradasi pada subjek-subjek sebelumnya bukan disebabkan oleh kekuatannya, melainkan oleh paparan kebisingan mana tanpa henti selama bertahun-tahun. Dengan kata lain: mereka tidak menjadi gila karena mendengar. Mereka menjadi gila karena tidak pernah bisa berhenti mendengar.
Rekomendasi: hentikan prosedur netralisasi. Cari pasangan resonansi sebagai alternatif.
Dan di bawahnya, dengan tinta merah, tulisan tangan lain:
Rekomendasi ditolak. Pengamat dipindahkan ke divisi arsip. Prosedur dilanjutkan.
Aku menatap dua baris itu selama sangat lama.
Lalu aku membalik ke halaman terakhir berkas untuk mencari tanda tangan pengamat.
M. VALE.
Aku duduk di lantai perpustakaan lantai empat sampai jam empat pagi.
Aku sudah menulis lima ratus artikel dalam hidupku. Aku tahu bentuk sebuah cerita saat aku melihatnya, dan ini bukan sekadar cerita.
Ini adalah cerita yang akan menghancurkan sebuah institusi.
Empat puluh tujuh orang dinetralkan. Sebuah rekomendasi yang ditolak. Seorang pengamat yang dibuang ke arsip dan sekarang mengajar teori formula pada murid tahun pertama di akademi ini dengan kacamata setengah dan tatapan lima detik terlalu lama.
Dan di tengah semuanya, satu berkas tanpa nama tentang seorang subjek yang tidak rusak karena dia menemukan orang yang membuat dunianya sunyi.
Aku sudah punya semuanya.
Tiga puluh baris catatan koordinat dari dungeon. Analisis duel Ashford. Sebelas hari syal. Angka Partner Sync yang tercatat di arsip akademi. Dan sekarang: empat puluh tujuh halaman yang menjelaskan kenapa semua itu penting.
Aku bisa menulisnya malam ini.
Aku bisa menulisnya dan menerbitkannya dan namaku akan dibaca di setiap kota di kontinen ini sebelum musim semi.
Aku duduk di lantai dan membayangkannya dengan sangat detail, karena aku ingin tahu apakah aku menginginkannya.
Ternyata iya. Aku sangat menginginkannya.
Lalu aku membayangkan bagian keduanya.
Aku membayangkan artikel itu terbit. Aku membayangkan Kantor Pemeriksaan membaca nama Rein Gray di halaman depan bersama frasa anomali resonansi kelas Discordant-adjacent. Aku membayangkan empat puluh tujuh berkas yang berakhir dengan kalimat yang sama.
Dan aku membayangkan halaman 259 — satu-satunya berkas yang tidak berakhir seperti itu — dan menyadari bahwa satu-satunya alasan orang itu selamat adalah karena tidak ada yang menulis tentangnya.
Empat puluh tujuh orang mati karena ada catatan tentang mereka.
Satu orang selamat karena catatannya berhenti di sana.
Aku menutup buku itu jam empat pagi.
Aku mengembalikannya ke rak tanpa nomor katalog. Aku merapikan debu di tempatnya. Aku mengunci pintu arsip terbatas dan mengembalikan kunci ke laci kepala perpustakaan, di bawah kotak permennya, tempat aku menemukannya.
Lalu aku turun ke ruang klub, duduk di meja yang tenggelam di bawah arsip, dan menulis selama satu jam.
Judulnya: “Semifinal Malam Ini: Empat Pasangan, Satu Kursi ke Final.”
Isinya statistik pertandingan, kutipan jelek dari peserta, dan satu paragraf tentang bagaimana Nona Frostheim tampaknya sedang dalam performa terbaiknya musim ini.
Aku menerbitkannya pagi itu juga. Dua ratus eksemplar. Habis dalam empat jam.
Anggota klubku bilang itu edisi terbaik semester ini.
Aku ketiduran lagi di meja klub sore itu, dan bangun karena ada yang mengetuk pintu.
Prof. Maren Vale berdiri di ambang pintu dengan setumpuk berkas di tangan.
“Nona Wyndale.”
“Bu Maren.” Aku menegakkan badan, dan selembar kertas menempel di pipiku. “Ada apa, Bu?”
Beliau menatapku dari balik kacamata setengahnya.
Lima detik lebih lama dari yang nyaman.
“Kepala perpustakaan menyebutkan bahwa arsip terbatas dikunjungi tadi malam,” kata beliau. “Antara jam dua dan jam empat pagi.”
Perutku jatuh.
“Oh?”
“Rak barat. Bagian tanpa katalog.”
“Wah,” kataku. “Berani sekali.”
Prof. Maren Vale tidak berkata apa-apa selama beberapa saat.
Lalu beliau meletakkan satu berkas tipis di atas mejaku — jadwal ujian susulan, sama sekali tidak penting — dan berkata, sambil berbalik ke pintu:
“Aku menulis rekomendasi itu waktu berumur dua puluh enam tahun, Nona Wyndale. Mereka menolaknya dalam empat hari.”
Aku tidak bisa bicara.
“Aku menghabiskan sembilan tahun berikutnya di divisi arsip menyalin berkas yang sama berulang-ulang,” lanjut beliau, tangannya di gagang pintu. “Lalu aku keluar, dan aku menjadi guru, karena aku memutuskan bahwa satu-satunya hal yang bisa kulakukan adalah berdiri di dekat mereka lebih awal dari Kantor.”
Beliau membuka pintu.
“Kau memutuskan lebih cepat daripada aku dulu,” kata beliau. “Enam jam. Aku butuh empat hari.”
“Bu—”
“Edisi hari ini bagus,” kata Prof. Maren Vale. “Judulnya jelek. Tapi bagus.”
Pintu tertutup.
Aku duduk di ruang klub yang berantakan dengan kertas menempel di pipi, dan menangis selama sekitar dua menit, dan kemudian berhenti, karena aku punya tenggat.
Aku jurnalis. Adil itu bukan bagian dari pekerjaanku.
Tapi ternyata memilih, iya.
(bersambung ke Bab 25)
- 1 Tiga Aturan untuk Tidak Dikenal
- 2 Satu Detik yang Menghancurkan Tiga Tahun
- 3 Kursi Paling Belakang, Deret Paling Pojok
- 4 Kebetulan Tingkat Lanjut
- 5 Hening yang Punya Nama
- 6 Cara Menang Tanpa Menyerang
- 7 Syal
- 8 Hal-Hal yang Tidak Dilihat Orang Lain
- 9 Dua Jam yang Tidak Kuceritakan pada Siapa Pun
- 10 Di Dekat Kamu, Dunia Sunyi
- 11 Movement I
- 12 Aku Duluan
- 13 Hari Pertama Sebagai Sesuatu yang Belum Ada Namanya
- 14 Lima Huruf
- 15 Orang yang Bertanya dengan Benar
- 16 Ritual
- 17 Interlude: Es yang Terlalu Sunyi
- 18 Tiga Hal yang Terjadi di Hari yang Sama
- 19 Konduktor
- 20 Salju Pertama
- 21 Seratus
- 22 Utang Satu Roti
- 23 Adipati
- 24 Empat Puluh Tujuh Halaman reading
- 25 Semifinal
- 26 Final, Bagian Pertama
- 27 Requiem
- 28 Kalimat yang Diucapkan dengan Tenang
- 29 Tujuh Hari
- 30 Sidang
- 31 Yang Tidak Ditulis Sejarah
- 32 Kesaksian yang Sunyi
- 33 Dua Himne
- 34 Tujuh Hari Kedua
- 35 Fajar Hari Ketujuh
- 36 Dinding
- 37 Ikrar
- 38 Winter Requiem
- 39 Yang Tersisa Setelah Salju
- 40 Epilog: Kursi Paling Belakang
- 41 Extra 1 — Rumah yang Terlalu Besar
- 42 Extra 2 — Festival (Side Story: Gart & Sera)
- 43 Extra 3 — Kencan yang Direncanakan Terlalu Matang
- 44 Extra 4 — Gudang Penggilingan
- 45 Extra 5 — Tujuh Generasi (Penutup)