← Chapters Ch. 3 / 45

Chapter Three

Kursi Paling Belakang, Deret Paling Pojok

Ruang kelas 1-C berbentuk teater kecil: enam baris bangku menanjak menghadap podium profesor. Aku tiba empat puluh menit sebelum bel — bukan karena rajin, tapi karena ada satu properti di ruangan ini yang harus kuamankan sebelum siapa pun sadar nilainya.

Baris paling belakang. Deret paling pojok. Menempel dinding, di bawah bayangan rak arsip, dengan garis pandang lurus ke pintu dan — ini bagian terbaiknya — sudut mati sempurna dari podium. Profesor yang berdiri di depan tidak akan bisa melihat wajahku tanpa memiringkan kepala secara mencurigakan.

Aku duduk. Kuletakkan tas. Kuhela napas panjang.

Rumah.

Tiga tahun perencanaan hidup, dan inilah puncaknya: satu meter persegi kayu tua di pojok ruangan tempat tidak ada seorang pun punya alasan untuk melihat.

Murid-murid mulai berdatangan. Dengungan mana naik pelan-pelan seperti air mengisi bak — dua puluh orang, empat puluh, enam puluh. Kepalaku mulai berdenyut. Aku menyandarkan punggung ke dinding, menarik poni menutupi mata, dan mengaktifkan mode bertahan hidup: bernapas, jangan menonjol, hitung ubin.

“WAH! KOSONG!”

Sesuatu yang besar dan berisik menjatuhkan diri ke bangku sebelahku.

Aku menoleh perlahan, dengan kengerian seorang pertapa yang menemukan festival diadakan di depan guanya.

Cowok. Bertubuh besar, rambut cokelat berantakan, wajah ramah yang jelas-jelas tidak punya konsep “jarak sosial”. Dia sedang menata buku-bukunya dengan semangat orang pindah rumah.

“Untung ada yang kosong. Aku telat bangun. Aku Gart, Gart Oakley, Rank C, atribut tanah.” Dia menyodorkan tangan. “Kamu?”

Jangan jawab. Kalau kau menjawab, dia akan bertanya lagi. Kalau dia bertanya lagi, kau punya teman. Kalau kau punya teman, kau punya orang yang mencarimu, dan orang yang mencarimu adalah—

“...Rein.”

“Rein! Bagus. Rank berapa?”

“E.”

Aku menunggu reaksi standar. Ada tiga jenis: tawa, iba, atau — yang paling sering — mata yang langsung bergeser mencari lawan bicara lain.

Gart cuma mengangguk sambil mengunyah roti yang entah dari mana. “Oke. Duduk di sini enak, ya. Dingin. Kamu pilih tempat bagus.”

...

Kutarik kembali. Ada jenis keempat: tidak peduli sama sekali.

Aku menatapnya beberapa saat, lalu kembali menghadap depan dan berkata pada diriku sendiri bahwa ini masih bisa dikelola. Satu teman berisik itu justru kamuflase yang lumayan. Orang yang duduk sendirian di pojok itu misterius; orang yang duduk di sebelah Gart Oakley itu... perabotan.

Lalu ruangan berubah.

Aku merasakannya sebelum mendengar pintu terbuka: dengungan mana enam puluh murid mendadak tersedak — naik, gugup, lalu menahan diri serentak. Seperti orkestra yang lupa nada saat konduktor masuk.

Dan di antara semua kegugupan itu, mengalir masuk keheningan itu.

Elysia von Frostheim berjalan melewati ambang pintu, dan ruang kelas 1-C berhenti bernapas.

Aku sudah dua kali melihatnya. Aku tetap tidak siap.

Cahaya pagi dari jendela tinggi jatuh tepat saat dia melangkah, dan rambut peraknya menangkap cahaya itu seperti air yang dituang. Seragam akademi — yang di badan kami semua tampak seperti seragam — di badannya tampak seperti sesuatu yang dijahit khusus oleh orang yang jatuh cinta pada pekerjaannya. Punggung lurus, dagu terangkat sedikit, langkah yang tidak terburu-buru sedetik pun. Wajahnya tenang, dingin, tanpa cela; jenis wajah yang membuat orang lupa bahwa dia juga manusia yang harus sarapan.

Di sekelilingnya terbentuk radius kosong dua meter, otomatis, seperti hukum alam.

“Frostheim...” “Peringkat 1 masuk kelas C?!” “Kudengar dia memang minta kelas ini—” “Ssst, jangan keras-keras—”

Dia berhenti di tengah ruangan. Dan — dengan ketenangan seseorang yang memilih apel di pasar — memindai kelas.

Baris depan. Baris dua. Baris tiga.

Aku menunduk lebih dalam ke balik poni dan menjadi satu dengan dinding. Aku lumut. Aku debu. Aku noda air di plafon. Tidak ada apa-apa di pojok ini kecuali kekosongan yang menyedihkan—

Pandangannya berhenti di pojok belakang.

Mata biru pucat itu menemukan mataku di balik poni dengan presisi yang sama sekali tidak adil, dan di sana, di depan enam puluh saksi, satu sudut bibirnya terangkat satu milimeter.

Lalu dia mengangguk. Sangat kecil. Sopan. Seperti menyapa kenalan lama.

Enam puluh kepala berputar mengikuti arah anggukan itu.

Enam puluh pasang mata mendarat di pojok belakang, di atas seorang murid Rank E yang saat itu sedang berdoa dalam dua bahasa dari dua dunia berbeda.

“Siapa itu?” “Yang mana?” “Yang poninya panjang itu?” “Rank berapa dia?” “Katanya E—” “E?!”

“Woah,” bisik Gart takjub, menepuk bahuku dengan tangan sebesar piring. “Kamu kenal Permaisuri Es?”

“Tidak.”

“Tapi dia mengangguk ke kamu.”

“Dia mengangguk ke rak arsip di belakangku. Rak itu antik. Bersejarah.”

Gart menoleh ke rak arsip. Lalu ke aku. Lalu mengangguk penuh pengertian, karena Gart Oakley, seperti yang akan kupelajari selama setahun ke depan, adalah manusia yang mempercayai segalanya.

Elysia duduk di baris paling depan — tempat yang memang disediakan untuk peringkat satu — dan tidak menoleh lagi sepanjang pelajaran.

Tapi kerusakannya sudah terjadi. Sepanjang dua jam, aku bisa mendengar dengungan mana enam puluh orang yang penasaran, dan setiap belasan menit ada satu-dua kepala yang menoleh ke pojok belakang untuk memastikan aku masih ada.

Hari pertama, pikirku sambil menekan pelipis. Hari pertama dan aku sudah masuk daftar gosip. Rekor terburuk sepanjang karierku.


Bel istirahat berbunyi dan aku langsung bergerak.

Rute nomor dua: keluar lewat pintu belakang, koridor pelayan, tangga servis timur, tiga lantai naik, pintu besi yang engselnya kuminyaki sendiri minggu lalu.

Taman Atap Menara Timur.

Dulunya taman resmi, sekarang terlantar sejak menara barat dibangun lebih tinggi. Rumput liar, bangku batu retak, satu pohon plum tua yang bunganya rontok setiap ada angin. Tidak ada murid. Tidak ada dengungan. Cuma langit, angin, dan hening.

Aku menemukan tempat ini di hari kedua kunjungan orientasi, dan sejak itu aku menyusun seluruh jadwal makan siangku di sekitarnya. Ini bukan sekadar tempat sepi. Ini paru-paruku.

Aku mendorong pintu besi, melangkah keluar ke sinar matahari, menghirup napas dalam-dalam—

“Lama sekali.”

Roti di tanganku hampir jatuh dari menara.

Dia duduk di bangku batu di bawah pohon plum. Kaki tertutup rok tertekuk rapi menyamping, kotak makan siang berlapis kain sutra terbuka di pangkuannya, kelopak plum berjatuhan pelan di sekitar rambut peraknya seperti dunia sedang berusaha terlalu keras.

Elysia von Frostheim menoleh ke arahku dengan ekspresi tenang seorang tuan rumah.

“...Kenapa,” tanyaku, dengan sisa-sisa kewarasan, “kamu ada di sini?”

“Kebetulan.” Dia menyendok sesuatu dari kotak makannya. “Aku sedang mencari tempat sepi untuk makan siang. Kelas terlalu ramai.”

“Ini lantai tiga menara timur. Pintunya tersembunyi di balik tangga servis.”

“Iya. Sepi sekali, kan?” Dia mengangguk setuju pada dirinya sendiri. “Tempat yang bagus. Aku suka.”

Aku berdiri di sana selama sepuluh detik penuh, menimbang seluruh pilihan hidupku.

Pilihan A: berbalik dan pergi. Konsekuensi: dia tahu aku menghindar, dan orang yang menghindar itu punya sesuatu untuk disembunyikan.

Pilihan B: duduk. Konsekuensi: semua konsekuensi lainnya.

Aku duduk. Di ujung bangku yang paling jauh, dengan jarak yang menurut perhitunganku merupakan jarak resmi antarmanusia yang tidak saling kenal.

Dia menggeser dirinya. Sepuluh senti. Ke arahku.

Aku menggeser sepuluh senti menjauh. Bangkunya habis. Aku hampir jatuh dari ujungnya.

Kudengar suara yang sangat halus dari arahnya — bukan tawa, terlalu anggun untuk disebut tawa, tapi napas yang keluar sedikit tidak beraturan.

Kami makan dalam diam beberapa saat. Angin bertiup, kelopak plum jatuh, dan telingaku — untuk pertama kalinya sejak masuk gerbang akademi pagi ini — berhenti berdenyut.

Karena di sebelahku ada keheningan yang berjalan.

Aku belum mengerti waktu itu. Kupikir cuma karena tamannya sepi.

“Nomor 157,” katanya tiba-tiba.

“Rein.”

“Rein,” ulangnya, dan entah kenapa namaku terdengar berbeda kalau diucapkan dengan suara sejernih itu. “Kamu belum bertanya.”

“Bertanya apa?”

“Kenapa aku belum melapor.”

Aku berhenti mengunyah.

Angin lewat. Kelopak plum jatuh ke pangkuannya dan dia menyingkirkannya dengan satu gerakan jari yang kecil dan anggun.

“Aku juga tidak akan bertanya,” lanjutnya tenang, menutup kotak makannya. “Untuk sekarang.”

Dia berdiri, merapikan rok, dan berjalan ke pintu besi. Di ambang, dia berhenti — dan kali ini menoleh, cukup untuk membuat cahaya matahari mengenai separuh wajahnya, dan aku dengan sangat tidak profesional lupa mengunyah.

“Besok aku ke sini lagi,” katanya. “Kebetulan.”

Pintu besi menutup.

Aku menatap roti setengah gigit di tanganku, lalu menatap langit, lalu berkata dengan suara yang sangat pelan pada pohon plum tua yang tidak bisa membantuku sama sekali:

“...Aturan satu. Jangan menonjol.”

Pohon itu menjatuhkan satu kelopak lagi, seolah kasihan.

(bersambung ke Bab 4)