Chapter Thirty One
Yang Tidak Ditulis Sejarah
POV: Rein Gray
Hari kedua sidang, Prof. Maren Vale membawa sebuah peti kayu kecil ke tengah katedral.
“Sebelum aku bersaksi tentang empat puluh tujuh berkas,” katanya, “aku akan bersaksi tentang satu hal yang lebih tua. Dengan izin panel — dan tanpa izin panel juga, sejujurnya, karena aku sudah terlalu tua untuk meminta izin.”
Tawa gugup dari bangku-bangku. Solveig tidak melarang. Kurasa dia tahu melarang justru lebih buruk.
Prof. Maren membuka peti itu dan mengeluarkan sebuah buku — sangat tua, sampul kulitnya retak, halaman-halamannya kecokelatan.
“Selama sembilan tahun di divisi arsip, tugasku menyalin berkas lama sebelum kertasnya hancur. Kebanyakan membosankan. Tapi arsip punya satu sifat yang dilupakan orang yang membuang orang ke sana.” Beliau mengangkat buku itu. “Semua ada di arsip. Semua. Termasuk hal-hal yang diputuskan untuk dilupakan.”
“Marenna,” kata Solveig, dan ada peringatan di suaranya. “Buku itu properti tersegel.”
“Buku ini,” kata Prof. Maren, “adalah jurnal pribadi seorang pastor desa bernama Aldric Vane, tertanggal tahun 719 sampai 721. Aku menyalinnya dengan tanganku sendiri dua belas tahun lalu, halaman demi halaman, dan salinannya sudah berada di tangan tiga notaris berbeda di tiga kota sejak minggu lalu. Menyegelku sekarang hanya mengubah jumlah pembacanya dari satu katedral menjadi satu kontinen.”
Keheningan di panggung tujuh kursi itu berubah jenisnya.
“Tahun 719,” Prof. Maren membuka halaman pertama, “dua tahun sebelum insiden ibukota. Pastor Vane menulis tentang seorang pemuda di parokinya. Pendiam. Bekerja sebagai penyalin naskah — pekerjaan yang dipilihnya, tulis sang pastor, ‘karena skriptorium adalah ruangan paling sunyi di kota’.”
Sesuatu yang dingin merambat di punggungku.
“Pemuda itu punya keanehan yang hanya diketahui pastornya. Dia bisa mendengar hal-hal yang tidak didengar orang lain. Lonceng yang retak dua hari sebelum retakannya terlihat. Jantung jemaat yang sakit sebelum tabib menemukannya. Pastor Vane menyebutnya ‘telinga yang diberkati’ — lalu, di halaman-halaman berikutnya, mulai menyebutnya dengan kata lain.”
Beliau membalik halaman.
“‘Anak itu datang lagi malam ini,’” beliau membaca. “‘Dia bertanya apakah Tuhan bisa membuat dunia diam barang satu jam. Aku tidak punya jawaban. Aku memberinya anggur dan menyuruhnya tidur di ruang bawah gereja, satu-satunya tempat yang menurutnya cukup tebal dindingnya. Dia berumur sembilan belas tahun dan matanya seperti orang berumur enam puluh.’”
Katedral itu sangat sunyi.
Aku menyadari tanganku gemetar. Tangan Elysia menemukan tanganku dari kursi belakang, dan aku menggenggamnya.
Karena aku mengenal pemuda itu.
Aku belum pernah membaca satu pun catatan tentangnya, tapi aku mengenalnya lebih baik daripada siapa pun di ruangan ini. Aku tahu persis bagaimana rasanya bertanya apakah dunia bisa diam barang satu jam. Aku pernah menanyakannya juga — pada langit-langit gudang penggilingan, pada pohon plum tua, pada tidak siapa-siapa.
Bedanya, tiga ratus tahun lalu, tidak ada yang menjawab.
“Tahun 720,” lanjut Prof. Maren. “Pastor Vane menulis bahwa pemuda itu jatuh cinta.”
Bisik-bisik di bangku.
“Putri seorang penenun. Menurut jurnal, gadis itu punya keanehannya sendiri: ‘sihir kecilnya tidak pernah berbunyi, dan ibunya malu karenanya’.” Prof. Maren mengangkat wajah dari buku. “Aku ingin panel mencatat frasa itu. Sihirnya tidak pernah berbunyi.”
Aku mendengar Elysia menarik napas di belakangku.
“Pastor Vane menulis bahwa selama delapan bulan, pemuda itu berubah. Dia mulai tidur. Dia mulai tertawa. Dia duduk di bangku belakang gereja setiap minggu — selalu bangku belakang — bersama gadis itu, dan sang pastor menulis: ‘untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, dia terlihat seperti orang yang mendengar musik alih-alih kebisingan.’”
Prof. Maren membalik ke bagian akhir buku, dan gerakannya melambat.
“Musim gugur 720. Keluarga penenun itu pindah ke ibukota. Dipaksa — ada hutang, ada pernikahan yang diatur dengan pedagang kota. Jurnal mencatat pemuda itu datang ke gereja malam terakhir dan duduk di bangku belakang sampai pagi, sendirian, dan tidak mengatakan apa-apa.”
Beliau berhenti.
“Entri berikutnya berjarak lima bulan. Musim semi 721. Isinya tiga baris.” Beliau membaca pelan. “‘Kabar dari ibukota: gadis penenun itu meninggal saat wabah musim dingin. Aku mencari anak itu untuk memberitahunya dengan baik-baik. Skriptorium bilang dia sudah berangkat ke ibukota tiga hari lalu, begitu kabar pertama sampai.’”
Prof. Maren Vale menutup buku itu.
“Insiden ibukota terjadi empat malam kemudian,” katanya. “Sejarah mencatat tiga puluh ribu korban, empat jam kehancuran, dan satu monster bernama The Discordant. Sejarah tidak mencatat bahwa kehancuran itu berpusat dari satu titik: distrik penenun, blok pemakaman wabah — tempat jenazah para korban wabah dikuburkan massal tanpa nama dan tanpa nisan.”
Beliau meletakkan buku itu di meja panel.
“Dia tidak datang untuk menghancurkan ibukota,” kata Prof. Maren Vale kepada tujuh kursi tinggi, kepada sebelas rumah bangsawan, kepada seluruh katedral yang membeku. “Dia datang untuk mencari makam orang yang membuat dunianya sunyi. Dan dia tidak menemukannya. Dan dunia — yang selama sembilan belas tahun berteriak di telinganya tanpa henti, yang baru delapan bulan memberinya kesunyian lalu merampasnya lagi — dunia itu terus berteriak, dan berteriak, dan berteriak.”
Beliau menatap Solveig.
“Kalian membangun seluruh Pakta di atas pertanyaan yang salah. Selama tiga ratus tahun kalian bertanya: bagaimana menghentikan orang seperti dia? Padahal jurnal ini sudah menjawab pertanyaan yang benar sejak sebelum Pakta ditulis.” Suaranya turun, dan justru karena itu sampai ke setiap sudut katedral. “Apa yang membuatnya bertahan sembilan belas tahun? Jawabannya: delapan bulan duduk di bangku belakang gereja, di sebelah seorang gadis yang sihirnya tidak pernah berbunyi.”
Hening yang panjang.
Lalu, dari bangku pengunjung, satu suara — Sera Wyndale, berdiri, pena bulunya mencatat sendiri di sebelahnya, suaranya jernih menembus katedral:
“Prof. Vale. Satu pertanyaan untuk catatan publik.” Dia mengangkat jurnalnya. “Menurut pengamatan Anda selama sebelas tahun di Kantor, dan sembilan tahun sesudahnya: subjek yang sedang duduk di ruangan ini — apakah dia lebih mirip The Discordant di tahun 721... atau di tahun 720?”
Prof. Maren Vale menoleh padaku.
Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya, beliau tersenyum penuh.
“Tahun 720,” katanya. “Dengan satu perbedaan yang menentukan: kali ini, seluruh kota tahu lebih dulu. Dan seluruh kota bisa memilih untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.”
(bersambung ke Bab 32)